Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) Ari Ginanjar


Oleh: Amirul Bakhri (105112007)

A. Pendahuluan
Dalam Memahami Islam sebagai sebuah ajaran Allah, banyak kalangan intelektual beramai-ramai melakukan penelitian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Islam. Salah satunya yaitu Ari Ginanjar yang mengkaji bagian dari ajaran Islam yakni 1 ihsan, 6 rukun iman, dan 5 rukun Islam yang dia rumuskan dengan “ESQ way 165″. Karya ini merupakan sebuah karya yang sangat menarik karena Ari Ginanjar mengkaji Islam dari segi ihsan, rukun iman dan rukun Islam yang merupakan wilayah aqidah dengan penjelasan yang berisi tentang pemaknaan ihsan, rukun iman dan rukun Islam dalam peningkatan diri manusia menjadi lebih baik. Wilayah aqidah ini biasanya merupakan wilayah yang akan jarang dikaji karena merupakan konsep paling sensitive dalam akidah Islam.
Selain itu, dalam mengkaji ihsan, rukun iman dan rukun Islam ini, Ari Ginanjar tidak hanya merujuk kepada dari prinsip Alquran dan hadis saja, akan tetapi dia juga banyak sekali merujuk kepada tokoh-tokoh yang bukan berasal dari agama Islam untuk menjelaskan ihsan, rukun iman dan rukun Islam dalam upaya menjadikan manusia mencapai kesuksesan dari segi kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Di samping itu, dalam menjelaskan tentang persoalan ihsan, rukun iman dan rukun Islam ini, Ari Ginanjar tidak hanya mengkaji sesuai dengan teks, akan tetapi dengan konteks yang dihubungkan dengan kejadian manusia yang terjadi di kehidupan manusia agar menjadi lebih bermanfaat bagi semua orang seperti yang beliau jelaskan dalam bukunya yakni: ketika dia mengkaji tentang iman kepada Allah, dia mengibaratkan dengan prinsip bintang. Dia mengatakan “prinsip seorang bintang adalah memiliki rasa aman intrinsik, kepercayaan diri yang tinggi, integritas yang kuat, bersikap bijaksana, dan memiliki motivasi yang tinggi, semua dilandasi dan dibangun karena iman kepada Allah”.

Di sisi yang lain, apabila karya ESQ Ari Ginanjar ini dilihat secara psikologi, maka merupakan karya yang sangat menarik untuk dikaji. Karena Ari Ginanjar mengkaji bagian Islam yakni ihsan, rukun iman dan rukun Islam ini dengan pendekatan psikologi. Di antaranya yakni ketika Ari Ginanjar mengkaji tentang syahadat, dia mengatakan bahwa “syahadat akan membangun suatu keyakinan dalam berusaha, syahadat akan menciptakan suatu daya dorong dalam upaya mencapai suatu tujuan, syahadat akan membangkitkan suatu keberanian dan optimisme sekaligus menciptakan ketenangan batiniah dalam menjalankan misi hidup”. Dengan demikian, kami akan berusaha mengkaji karya ESQ Ari Ginanjar ini yang menurut kami sangat menarik. Di antara hal-hal yang akan dikaji di antaranya yakni: bagaimana Ari Ginanjar menjelaskan rumusan ihsan, rukun iman dan rukun Islam dalam aspek kecerdasan emosional dan spiritual yang dia rumuskan dengan “ESQ way 165″.
B. Pembahasan
1. Riwayat Singkat Ari Ginanjar
Ary Ginanjar Agustian lahir di Bandung pada tanggal 24 Maret 1965 adalah seorang praktisi sejati yang berkiprah di dunia usaha dan terjun langsung ke persaingan dunia bisnis yang sangat kompetitif dan penuh tantangan. Seorang otodidak yang belajar langsung di lapangan dan dalam ketatnya persaingan dunia usaha. Menerima penghargaan sebagai Agents of Change 2005 versi koran Republika, dan di tahun 2004 ia dinobatkan sebagai salah satu The Most Powerful People and Ideas in Business 2004 oleh majalah SWA. Kemampuannya dalam bidang pelatihan sumber daya manusia telah sangat teruji di berbagai training, di mana ia tampil sebagai trainer utama. Training ESQ telah melahirkan ratusan ribu alumni, dan telah diadakan di hampir seluruh kota di Indonesia, dan di Malaysia, Brunei, Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.
Pada bulan Maret 2007, Ary Ginanjar juga telah berhasil memperkenalkan ESQ sehingga memukau sejumlah pakar Spiritual Quotient (SQ) dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Denmark, Belanda, Nepal dan India dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh The Oxford Academy of Total Intelligence di Inggris. Hingga kini, Ary Ginanjar telah mencetak kader sekitar 100 trainer. Kepada para kadernya itu, Ary Ginanjar membina dan menurunkan seluruh ilmunya secara simultan melalui berbagai metoda: coaching, ToT, sistem mentor, CBT (computer based training), dll. Hingga awal 2009, bersama seluruh trainer, Ary Ginanjar telah memberikan training kepada lebih dari 600.000 orang. Pada tanggal 17 Desember 2007, Ary Ginanjar dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa di bidang Pendidikan Karakter oleh Universitas Negeri Yogyakarta. Penghargaan ini menjadi indikator bahwa The ESQ way 165 diterima di kalangan akademisi sebagai metoda yang tepat untuk membangun karakter. Pada tahun 28 Oktober 2008, ia mendapat penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) sebagai Pengembang Metoda ESQ dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia Menuju Indonesia Bermartabat. Sedangkan Majalah Biografi Politik menobatkan Ary Ginanjar sebagai Pemimpin Muda Berpengaruh 2008 dan pada akhir 2008, menjadi salah seorang pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) untuk periode 2008 – 2011.
Kini, ia adalah Presiden Direktur PT Arga Bangun Bangsa dan Pendiri ESQ Leadership Center, pusat penyelenggara training ESQ. Pernah menjadi pengajar tetap di Politeknik Universitas Udayana, Jimbaran, Bali selama lima tahun. Kuliah di Universitas Udayana, Bali dan di Tafe College, Adelaide, South Australia juga STP Bandung. ESQ adalah sebuah icon, dan Ary Ginanjar telah mengenalkan paradigma baru dalam bidang SDM yang menyinergikan science, sufisme, psikologi dan manajemen dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan transendental dalam konsep “ESQ Way 165″.

2. Kecerdasan dalam Pandangan Psikologi
a. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi, psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Ada juga yang mengartikan bahwa psikologi adalah studi mengenai bentuk-bentuk teramat komplek tentang tingkah laku dan tentang proses-proses seperti belajar, persepsi atau emosi yang terliput dalam organisme. Dengan demikian, psikologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang jiwa dengan segala macam gejalanya dan juga tentang proses yang terjadi seperti belajar, persepsi atau emosi dalam suatu organisme.

b. Kecerdasan (intelegensi)
Intelegensi adalah persepsi tentang yang nyata dan a fortiori, persepsi tentang yang nyata itu sendiri. Sesuai kenyataannya, ia adalah pembeda antara yang nyata dan yang tidak nyata. Intelegensi tidak hanya membangkitkan penglihatan tetapi juga kesadaran akan superioritas dalam hubungannya dengan mereka yang tidak tahu bagaimana cara melihat.
Dengan intelegensi, fungsi pikir dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi atau untuk mencegah suatu masalah. Dengan kata lain, perkataan intelegensi adalah situasi kecerdasan berpikir, sifat-sifat perbuatan cerdas (intelegensi). Pada umumnya, intelegensi ini dapat dilihat dari kesanggupannya bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah dengan keadaan di luar dirinya yang biasa maupun baru.

3. Kecerdasan Emosional (EQ) dan Spiritual (SQ)
a. Kecerdasan Emosional (EQ)
Dalam bukunya, Ari Ginanjar menjelaskan tentang pengertian kecerdasan emosional (EQ) yang mengutip pendapat Robert K. Cooper Phd. yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi “hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam mengubahnya dari sesuatu yang kita pikirkan menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak atau tidak dapat diketahui pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani”. Ari Ginanjar juga mengatakan bahwa hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah radar hati sebagai pembimbingnya.
Di samping itu, untuk memperoleh kecerdasan emosi ini harus melihat kepada aspek hati sebagai radar dalam hidup manusia dalam melangkah di kehidupan. Seperti dipaparkan Ari Ginanjar dalam bukunya yakni kemampuan melihat sesuatu secara jernih dan objektif harus didahului oleh kemampuan mengenali faktor-faktor yang mempengaruhinya itu. Caranya adalah dengan mengembalikan manusia pada fitrah hatinya atau god spot, sehingga manusia akan mampu melihat dengan mata hati, mampu memilih dengan tepat, memprioritaskan yang benar. Karena kecerdasan emosi menurut Ari Ginanjar meliputi unsur suara hati, kesadaran diri, motivasi, etos kerja, keyakinan, integritas, komitmen, konsistensi, presistensi, kejujuran, daya tahan dan keterbukaan.

b. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Dalam buku ESQ Ari Ginanjar, dia mengungkapkan beberapa definisi para ahli tentang kecerdasan spiritual di antaranya Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka berdua (Danah Zohar dan Ian Marshall) seperti yang dikutip oleh Ari Ginanjar menyebutkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain.
Walaupun demikian, Ari Ginanjar berbeda definisi tentang kecerdasan spiritual (SQ). Dia mengatakan bahwa di dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia seutuhnya dan memiliki pola pemikiran tauhid serta berprinsip hanya karena Allah.
Dengan demikian, kecerdasan spiritual menurut Ari Ginanjar haruslah disandarkan kepada Allah dalam segala aktivitas kehidupan untuk mendapatkan suasana ibadah dalam aktivitas manusia. Inilah yang membedakan pengertian Ari Ginanjar dengan Danah dan Ian yakni adanya unsur ibadah dan penyandaran hanya kepada Allah dalam kehidupan manusia.
4. Rumusan Ari Ginanjar “ESQ way 165″
Dalam buku ESQ, Ari Ginanjar merumuskan ihsan, rukun iman dan rukun Islam dengan “ESQ way 165″. Simbol 165 merupakan jabaran dari 1 ihsan, 6 rukun iman dan 5 rukun Islam. Berikut ini akan kami coba menerangkan bagaimana Ari Ginanjar merumuskan rumusan “ESQ way 165″.

a. Zero Mind Process (ZMP) atau Penjernihan Emosi
Ari Ginanjar ketika menerangkan bagaimana rumusan 1 ihsan, ia menggunakan bahasanya sendiri yakni zero mind process (proses penjernihan emosi). Dalam upaya untuk melakukan penjernihan emosi, Ari Ginanjar mengungkapkan dengan tujuh langkah yang dapat dilakukan untuk menuju sebuah kejernihan emosi yaitu antara lain:
a) Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik terhadap orang.
b) Berprinsiplah selalu kepada Allah yang Maha Abadi.
c) Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berpikirlah merdeka.
d) Dengarlah suara hati, berpeganglah prinsip karena Allah, berpikirlah melingkar sebelum menentukan kepentingan dan prioritas.
e) Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan suara hati yang bersumber dari asmaul husna.
f) Periksa pikiran anda terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran anda tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.
g) Ingatlah bahwa segala ilmu pengetahuan adalah bersumber dari Allah.
Hasil akhir dari zero mind process atau penjernihan emosi adalah seseorang yang telah terbebas dari belenggu prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, pengalaman yang mempengaruhi pikiran, egoisme kepentingan dan prioritas, pembanding-pembanding yang subjektif, dan terbebas dari pengaruh belenggu literatur-literatur yang menyesatkan. Pemaknaan ihsan seperti ini jelas berbeda dengan seperti pemaknaan yang telah dikenal sebelumnya. Karena makna ihsan yang dikenal sebelumnya merupakan bentuk ibadah yang kita lakukan sepenuhnya diperhatikan oleh Allah dan Allah akan selalu mengawasi kita di manapun kita berada. Rumusan Ari Ginanjar tentang ihsan ini merupakan rumusan prinsip dari makna ihsan dihubungkan dengan realita kehidupan masyarakat yang ada.

b. 6 Asas Pembangunan Mental
Langkah selanjutnya untuk menjadi seorang yang paripurna atau sempurna melalui ESQ menurut Ari Ginanjar adalah dengan melakukan 6 asas pembangunan mental. 6 asas ini merupakan pemaknaan dari 6 rukun iman yang merupakan bagian dari ajaran Islam. 6 asas pembangunan mental tersebut antara lain:

i. Prinsip Bintang (Iman Kepada Allah)
Asas yang pertama ini merupakan penjabaran dari makna iman kepada Allah dalam rukun iman. Menurut Ari Ginanjar, prinsip seorang bintang adalah memiliki rasa aman intrinsik, kepercayaan diri yang tinggi, integritas yang kuat, bersikap bijaksana, dan memiliki motivasi yang tinggi, semua dilandasi dan dibangun karena iman kepada Allah. Penjelasan ini merupakan didasarkan kepada prinsip makna iman kepada Allah dengan dihubungkan dengan realita yang ada sehingga makna iman kepada Allah menjadi hidup dalam kehidupan manusia.

ii. Prinsip Malaikat (Iman Kepada Malaikat)
Asas yang kedua ini merupakan penjabaran dari makna iman kepada malaikat dalam rukun iman. Menurut Ari Ginanjar, orang yang berprinsip seperti malaikat akan menghasil orang yang sebagai berikut yakni seseorang yang memiliki tingkat loyalitas tinggi, komitmen yang kuat, memiliki kebiasaan untuk mengawali dan memberi, suka menolong dan memiliki sikap saling percaya. Dengan demikian, Ari Ginanjar menyatakan bahwa untuk menjadi seorang seperti malaikat, maka dia harus bisa mempraktekkan kebaikan dan ciri-ciri yang malaikat punya di dalam kehidupan sehingga orang tersebut akan menjadi manusia yang paripurna.

iii. Prinsip Kepemimpinan (Iman Kepada Rasul Allah)
Asas yang ketiga ini merupakan makna penjabaran dari iman kepada rasul atau utusan Allah dalam rukun iman. Pemimpin sejati menurut Ari Ginanjar adalah seorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mempelajari pengikutnya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Memimpin berdasarkan atas suara hati yang fitrah. Dengan meneladani sifat-sifat dari rasul, maka akan membuat kita memiliki prinsip kepemimpinan yang menentramkan masyarakat.

iv. Prinsip Pembelajaran (Iman Kepada Kitab Allah)
Asas yang keempat ini merupakan makna penjabaran dari iman kepada kitab-kitab Allah dalam rukun iman. Menurut Ari Ginanjar, hasil dari proses pembelajaran antara lain:
• Memiliki kebiasaan membaca buku dan situasi dengan cermat.
• Selalu berpikir kritis dan mendalam.
• Selalu mengevaluasi pemikirannya kembali.
• Bersikap terbuka untuk mengadakan penyempurnaan.
• Memiliki pedoman yang kuat dalam belajar yaitu berpegang hanya kepada Allah.
Hasil dari proses pembelajaran di atas merupakan sebuah pemikiran yang sesuai dengan konteks yang harus dilakukan oleh semua orang dalam mempraktekkan iman kepada kitab-kitab Allah, sehingga kitab-kitab Allah menjadi lebih membumi di dalam kehidupan manusia.

v. Prinsip Visi ke Depan (Iman Kepada Hari Akhir)
Asas yang kelima ini merupakan makna penjabaran dari iman kepada hari akhir (kiamat) dalam rukun iman. Hasil dari prinsip masa depan menurut Ari Ginanjar yakni selalu berorientasi kepada tujuan akhir dalam setiap langkah yang dibuat, melakukan setiap langkah secara optimal dan sungguh-sungguh, memiliki kendali diri dan sosial karena telah memiliki kesadaran akan adanya hari kemudian, memiliki kepastian akan masa depan dan memiliki ketenangan batiniah yang tinggi yang tercipta oleh keyakinannya akan adanya hari pembalasan.
Dengan kesadaran visi akan hari akhir tersebut, akan mendorong manusia terus berbuat dan berjuang dengan sebaik-baiknya di muka bumi hingga akhir hayat tanpa perlu diri merasa berhenti.

vi. Prinsip Keteraturan (Iman Kepada Qadha dan Qadar)
Asas yang keenam ini merupakan penjabaran dari iman kepada qadha dan qadar dalam rukun iman. Menurut Ari Ginanjar, hasil dari prinsip keteraturan akan memiliki kesadaran, ketenangan dan keyakinan dalam berusaha karena pengetahuan akan kepastian hukum alam dan hukum sosial, memahami akan arti penting sebuah proses yang harus dilalui, selalu berorientasi kepada pembentukan sistem dan selalu berupaya menjaga sistem yang telah dibentuk. Inilah yang akan didapat oleh orang yang menjalankan prinsip keteraturan, sehingga hidupnya menjadi lebih bermakna karena sadar bahwa hidup ini sudah ada keteraturannya dari Allah.

c. 5 Prinsip Ketangguhan
Setelah melakukan 6 asas pembentukan mental, langkah selanjutnya untuk menjadi manusia yang paripurna menurut ESQ Ari Ginanjar yakni dengan melakukan 5 prinsip ketangguhan. 5 Prinsip Ketangguhan ini merupakan penjabaran makna dari 5 rukun Iman yang ada dalam ajaran Islam. Ari Ginanjar membagi 5 prinsip ketangguhan ini menjadi dua bagian yakni 3 prinsip ketangguhan pribadi dan 2 prinsip ketangguhan sosial.

a) 3 Prinsip Ketangguhan Pribadi
Menurut Ari Ginanjar, ketengguhan pribadi adalah seseorang yang telah memiliki prinsip 6 asas pembentukan mental. Kemudian untuk menjadi pribadi yang sukses, ditambah dengan 3 langkah sukses yaitu:

i. Prinsip Penetapan Misi (Syahadat)
Prinsip ketangguhan pribadi yang pertama ini merupakan penjabaran makna dari syahadat dalam rukun Islam. Menurut Ari Ginanjar, penetapan misi melalui syahadat akan menciptakan suatu dorongan kekuatan untuk mencapai keberhasilan. Hasil dari penetapan misi ini menurut Ari Ginanjar antara lain bahwa syahadat akan membangun suatu keyakinan dalam berusaha, syahadat akan menciptakan suatu daya dorong dalam upaya mencapai suatu tujuan, syahadat akan membangkitkan suatu keberanian dan optimisme sekaligus menciptakan ketenangan batiniah dalam menjalankan misi hidup.

ii. Prinsip Pembangunan Karakter (Shalat)
Prinsip pembangunan karakter merupakan makna penjabaran dari rukun Islam yang kedua yakni shalat. Menurut Ari Ginanjar, shalat sebagai tempat untuk menyeimbangkan dan menyelaraskan pikiran, dan pelaksanaan shalat juga suatu mekanisme yang bisa menambah energi baru yang terakumulasi sehingga menjadi suatu kumpulan dorongan dahsyat untuk segera berkarya dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam alam realita.
Menurut Ari Ginanjar, hasil dari pembangunan karakter: shalat adalah suatu metode relaksasi untuk menjaga kesadaran diri agar tetap memiliki cara berpikir fitrah, shalat adalah suatu langkah untuk membangun kekuatan afirmasi, shalat adalah sebuah metode yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual secara terus menerus, shalat adalah suatu teknik pembentukan pengalaman yang membangun suatu paradigma positif, dan shalat adalah suatu cara untuk terus mengasah dan mempertajam kecerdasan emosi dan spiritual yang diperoleh dari rukun iman.

iii. Prinsip Pengendalian Diri (Puasa)
Prinsip yang ketiga ini dari ketangguhan pribadi yakni prinsip pengendalian diri merupakan penjabaran makna dari rukun Islam ketiga yakni shalat. Menurut Ari Ginanjar, puasa adalah kemampuan menahan dan mengendalikan diri untuk tidak hanya berkeinginan menjadi seorang pemimpin dengan mengatasnamakan orang lain untuk tujuan pribadi serta keuntungan tertentu. Akan tetapi menyadari bahwa pemimpin adalah salah satu tugas yang maha berat untuk membawa umat ke arah kebahagiaan dengan hati nurani.
Ari Ginanjar mengungkapkan, bahwa hasil pengendalian diri: puasa adalah suatu metodepelatian untuk pengendalian diri, puasa bertujuan untuk meraih kemerdekaan sejati dan pembebasan belenggu nafsu yang tisak terkendali, puasa yang baik akan memelihara aset kita yang paling berharga yakni fitrah diri, tujuan puasa lainnya untuk mengendalikan suasana hati, juga pelatihan untuk mengendalikan suasana hati, juga pelatihan untuk menjaga prinsip-prinsip yang telah dianut berdasarkan rukun iman.

b) 2 Prinsip Ketangguhan Sosial
Setelah Ari Ginanjar membahas 3 prinsip ketangguhan pribadi, dia menjelaskan bahwa untuk menjadi manusia sempurna secara kecerdasan emosi dan spiritual juga membutuhkan kepada sosial. Oleh karena itu, untuk melengkapi ketangguhan diri perlu adanya ketangguhan sosial. Maka dari itu, Ari Ginanjar membagi 2 prinsip ketangguhan sosial yang merupakan penjabaran dari prinsip zakat dan haji di dalam rukun Islam.

i. Prinsip Stategi Kolaborasi (Zakat)
Strategi kolaborasi merupakan penjabaran dari rukun Islam keempat yakni zakat. Menurut Ari Ginanjar, zakat adalah suatu upaya untuk memanggil dan mengangkat ke permukaan suara hati untuk menjadi dermawan dan untuk memberi rezeki kepada orang lain. Selanjutnya Ari Ginanjar berpendapat bahwa pada prinsipnya, zakat bukan hanya sebatas memberi 2,5 % dari penghasilan bersih yang kita miliki. Akan tetapi, prinsip zakat dalam arti luas seperti memberi penghargaan dan perhatian kepada orang lain, menepati janji yang sudah anda berikan, bersikap toleran, mau mendengar orang lain, bersikap empati, menunjukkan integritas, menunjukkan sikap rahman dan rahim kepada orang lain.

ii. Prinsip Aplikasi Total (Haji)
Prinsip ini merupakan penjabaran dari rukun Islam kelima yakni haji. Menurut Ari Ginanjar, haji adalah suatu wujud kesalarasan antara idealisme dan praktek, keselarasan antara iman dan Islam. Haji adalah suatu transformasi prinsip dan langkah secara total (thawaf), konsistensi dan persistensi perjuangan (sa`i), evaluasi dari prinsip dan langkah yang telah dibuat dan visualisasi masa depan melalui prinsip berpikir dan cara melangkah yang fitrah (wukuf). Haji juga merupakan suatu pelatihan sinergi dalam skala tertinggi dan haji adalah persiapan fisik secara mental dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan (lontar jumrah).
C. Kesimpulan
Dalam membahas ihsan, rukun iman dan rukun Islam, Ari Ginanjar membahasnya dengan berbeda dan merefleksikan bagaimana ketiga hal tersebut dapat diterapkan di kehidupan manusia sehingga manusia menjadi manusia yang memiliki kecerdasan, tidak hanya IQ (kecerdasan intelektual) akan tetapi memiliki kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) sehingga menjadi manusia yang sempurna yang dapat mengambil keputusan dalam hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan, kehendak manusia, dan kehendak alam.

D. Daftar Pustaka
Ginanjar, Ari. Rahasia Sukses Membngun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ. Cet. 33. Jakarta: Arga. Maret 2007.
Hebb, Donald Olding. Psikologi, terj. Andi Mapputre. Cet. 1. Surabaya: Usaha Nasional. t.th.
Http: id.wikipedia.org/wiki/Ary_Ginanjar_Agustian, di akses pada hari sabtu tanggal 25 September 2010.
Http://ogmalinzero165.blogspot.com/2009/05/sang-maestro-dr-hc-ary ginanjar.html, di akses pada hari sabtu tanggal 25 September 2010.
Umar, Abu Ahmadi dan M. Psikologi Umum. Surabaya: Bina Ilmu. 1982.
Schuon, Frithjof. Hakekat Manusia, terj. Ahmad Norma Permata. Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. November 1997.

MENEMUKAN HADIS TENTANG TAKWA DAN AKHLAK MULIA DALAM KITAB SANAD DAN KITAB SYARAH


Oleh: Amirul Bakhri

  1. A. Pendahuluan

Agama Islam merupakan agama yang mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia yang dibawa oleh Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril yang membawa risalah dari Allah swt. Di dalam Agama Islam, terdapat beberapa sumber hukum yang menjadi patokan umat dalam mengambil sebuah hukum mengenai berbagai macam hal yakni: Alquran, Hadis, Ijma` dan Qiyas. Salah satu sumber hukum yang sangat penting dari sumber-sumber tersebut yakni hadis yang  merupakan penjelas dari Alquran. Alquran dan hadis merupakan seperti mata uang yang tidak bisa dipisah-pisahkan dalam kehidupan umat. Karena dari kedua sumber tersebut (Alquran dan hadis), permalahan tentang hukum Islam bisa dan akan ditemukan. Salah satu masalah yang akan ditemukan dalam keduanya adalah masalah taqwa dan akhlak mulia.

Dalam makalah ini penulis akan membahas bagaimana cara menemukan masalah taqwa dan akhlak mulia dalam hadis yang termuat dan telah ditulis oleh para ulama` hadis dalam kitab-kitab hadis dan kitab–kitab syarah dari kitab-kitab hadis tersebut. Sehingga akan menjadi sebuah acuan bagaimana menemukan permasalahan-permasalahan yang lainnya dalam kitab-kitab hadis beserta kitab-kitab sanadnya. Dalam makalah ini hanya akan dibahas bagaimana menemukan kitab-kitab hadis di al-kutubus al-sittah (kitab induk yang enam). Karena al-kutubus al-sittah ini merupakan enam kitab yang menurut penulis layak menjadi sandaran utama dalam kitab-kitab hadis meskipun sebenarnya banyak sekali kitab-kitab hadis yang dikarang oleh para ulama`-ulama` hadis lainnya. Adapun dalam aplikasi pencarian hadis tersebut, penulis akan menyuguhkan dua model pencarian yakni model klasik dan model modern. Model klasik tersebut adalah dengan mencari hadis Nabi melalui takhrij hadis yang telah dikarang oleh berbagai ulama hadis. Sedangkan model modern adalah dengan perangkat software. Karena di zaman sekarang teknologi sangat banyak sekali membantu kita dalam mencari berbagai solusi permasalahan yang salah satunya adalah masalah dalam mencari hadis Nabi.

 

  1. B. Pengertian Hadis

Beberapa istilah yang digunakan umat Islam untuk menyebut sesuatu yang bersumber dari Nabi di antaranya yaitu: al-hadîts, al-sunnah, al-khabar dan al-atsar. Kata hadis merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu al-hadîts, jamaknya al-ahâdîts, al-hidsân dan al-hudsân dan memiliki banyak arti di antaranya al-jadîd (yang baru) lawan dari al-qadîm (yang lama) dan al-khabar (berita).[1] Menurut Shubhi Shâlih, hadis secara bahasa berarti sesuatu yang baru.[2] Menurut Badrân, hadis secara bahasa adalah lawan kata al-qadîm atau lama.[3] Adapun menurut `Ajâj al-Khathîb, hadis secara bahasa adalah sesuatu yang baru atau khabar baik sedikit ataupun banyak.[4]

Adapun pengertian hadis secara istilah, menurut `Ajâj al-Khathîb adalah segala yang disandarkan kepada Nabi berupa ucapan, perbuatan, taqrir, sifat fisik dan akhlak beliau.[5] Menurut Shubhi Shâlih istilah hadis merupakan perkataan, perbuatan atau suatu persetujuan yang disandarkan kepada Nabi.[6] Menurut Mushthafa `Azami, kata hadis menunjukkan kepada makna atau sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi baik berupa perilaku, perkataan, persetujuan beliau akan tindakan sahabat atau deskripsi tentang sifat dan karakternya.[7] Adapun menurut Badrân, hadis adalah apa yang disandarkan kepada Nabi dari perkataan, perbuatan, persetujuan.[8] Dari berbagai pengertian di atas, hadis secara istilah merupakan segala yang disandarkan kepada Nabi berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan beliau.  

Menurut Mushthafa `Azami, kebanyakan para ahli menggunakan kata hadis, khabar dan atsar sebagai sinonim. Walaupun demikian, masih ada para ahli terutama penduduk Khurasan dulu menggunakan kata hadis dalam makna yang berbeda. Mereka menggunakan kata khabar semakna dengan istilah hadis, dan kata atsar untuk menunjukkan perkataan atau keputusan para sahabat.[9] Menurut Mahmud Thahhan, al-khabar secara istilah mempunyai tiga arti yaitu: 1) sama seperti makna hadis, 2) apa-apa yang datang dari selain Nabi, dan 3) apa-apa yang datang dari Nabi atau selainnya.[10]

Adapun pengertian al-sunnah menurut `Ajâj al-Khathîb adalah segala hal yang berhubungan dengan diri Nabi meliputi perjalanan, akhlak, tabiat, khabar, ucapan, dan perbuatan beliau, baik yang menetapkan hukum syara’ ataupun tidak.[11] Menurut Badrân al-`Ainain, al-sunnah adalah perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat kemakhlukan, jalan hidup, peperangan, sebagian kabar sebelum kenabian yang dilakukan oleh Nabi.[12] Menurut Abû al-Baqa’, istilah sunah hanya dibatasi pada sunah (kebiasaan) Nabi atau sahabat.[13] Adapun al-khabar secara bahasa serupa dengan makna hadis yakni segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sedangkan secara istilah, al-khabar adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi, sahabat dan tabi`n baik perkataan, perbuatan maupun ketetapannya. Begitu juga al-atsar, secara bahasa berarti sama maknanya dengan khabar, hadis dan sunnah. Sedangkan menurut istilah, al-atsar adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat, boleh juga disandarkan kepada perkataan Nabi.[14] Dari berbagai pengertian tentang sunah, khabar, dan atsar, dapat ditarik satu pengertian bahwa keempat istilah tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan maksud akan tetapi hanya yang mengandung sabda Nabi saja yang dikatakan sebagai hadis Nabi.[15]

 

 

  1. C. Metode Klasik Dalam Pencarian Hadis

Dalam mencari hadis dengan metode klasik ini, para ulama salaf telah menyusun kerangka supaya mempermudah dalam menemukan hadis Nabi yang telah dibukukan oleh berbagai ulama hadis. Metode klasik tersebut yaitu dengan takhrij hadis.

 

  1. 1. Takhrîj al-Hadîts Sebagai Langkah Menemukan Hadis Dalam Kitab Hadis
    1. a. Pengertian Takhrîj al-Hadîts

Menurut bahasa, kata takhrîj adalah bentuk mashdar dari kata kharaja-yukhriju yang berarti al-istinbath (mengeluarkan), al-tadrîb (meneliti, melatih) dan al-taujih (menerangkan, memperhadapkan).[16] Menurut Arifuddin yang mengutip pendapat dari Mahmûd Thahhan mengatakan bahwa kata takhrîj mempunyai beberapa arti antara lain:

a)    Menjelaskan hadis pada orang lain dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad hadis dengan metode periwayatan yang mereka tempuh.

b)   Mengeluarkan dan meriwayatkan hadis dari beberapa kitab.

c)    Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij-nya dan menisbatkannya dengan cara menyebutkan metode periwayatan dan sanad-sanadnya masing-masing.

d)   Menunjukkan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, di dalamnya dikemukakan secara lengkap dengan sanad-sanadnya masing-masing, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.[17]

Dari berbagai pengertian tentang takhîj di atas, pengertian yang terakhir lebih dapat dikatakan sebagai takhrîj al-hadîts karena dalam pelaksanaannya kegiatan takhrîj merupakan kegiatan yang menunjukkan letak sumber sebuah hadis yang di dalamnya dikemukakan tentang sanad-sanadnya sampai kepada penjelasan tentang derajat sebuah hadis.

 

  1. b. Metode Takhrîjal-Hadîts

Jumlah kitab hadis yang disusun oleh para ulama periwayat hadis cukup banyak. Jumlahnya sangat sulit untuk dipastikan angkanya, sebab mukharrij al-hadîts (ulama yang meriwayatkan hadis dan sekaligus melakukan penghimpunan hadis) tidak terhitung banyaknya. Apalagi sebagian dari para penghimpun itu ada yang menghasilkan karya himpunan hadis lebih dari satu kitab. Metode penyusunan kitab-kitab hadis tersebut ternyata tidak seragam. Hal tersebut sangatlah logis karena yang lebih ditekankan dalam kegiatan penulisan itu bukanlah metode penyusunannya, melainkan penghimpunan hadisnya. Masing-masing mukharrij memiliki metode sendiri-sendiri baik dalam penyusunan sistematikanya dan topik yang dikemukakannya oleh hadis yang dihimpunnya, maupun kriteria kualitas hadisnya.[18] Walaupun demikian, para ulama telah merumuskan metode takhrîj al-hadîts dengan lima metode takhrîj untuk membantu melacak hadis Nabi dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para mukharrij hadis. Lima metode takhrîj tersebut antara lain yaitu:

 

a)  Takhrîj menurut lafazh pertama hadis

Penggunaan metode ini tergantung dari lafazh pertama matan hadis. Bagi yang akan menggunakan metode ini diharuskan untuk mengetahui dengan pasti awal hadis yang ingin di-takhrîj. Kemudian melihat awal dari huruf pertama hadis tersebut. Misalnya ingin men-takhrîj hadis  من غشنا فليس منا  , maka yang pertama dilihat adalah huruf mim dengan huruf nun kemudian ghin, syin, dan nun ( من غشنا ).[19]

Kitab-kitab yang ditulis dengan metode pertama ini antara lain: kitab al-Jâmi` al-Kabîr karya al-Suyûthî, kitab al-Jâmi` al-Azhar karya al-Manâwâ dan lain sebagainya.[20]

 

b) Takhrîj menurut lafazh dari bagian sebuah hadis

Penggunaan metode ini dengan cara mengambil satu kata dari banyak kata yang terdapat dalam sebuah hadis, dan harus merupakan kata kerja atau kata benda. Banyak para pengarang yang menulis kitabnya dengan metode ini melalui kata-kata yang asing (gharîb). Dengan demikian jika kata yang ingin dicari merupakan kata yang asing, maka semakin mudah dan cepat  untuk mendapatkan hadis tersebut.[21]

Misalnya ingin melakukan takhrîj hadis ان النبى نهى عن طعام المتباريين ان يؤكل, maka yang pertama dicari adalah kata  المتباريين karena kata ini paling asing di antara kata-kata yang terdapat dalam hadis tersebut. Kitab yang menggunakan metode ini antara lain: kitab al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadîts al-Nabawî karya Arent Jan Wensinck.[22]

 

c)  Takhrîj menurut periwayat pertama

Penggunaan metode ini dengan mengetahui periwayat yang pertama. Periwayat pertama dalam hadis merupakan sahabat Nabi apabila hadisnya muttashil al-isnâd. Akan tetapi bisa juga seorang tabi`in apabila hadisnya mursal. Pengarang kitab yang menggunakan metode ini menyusun kitabnya dengan menyusunnya melalui periwayat pertama yakni sahabat atau tabi`in. Para pengarang tersebut meletakkan hadis-hadis Nabi setelah nama-nama para periwayat pertama tersebut.[23]

Kitab-kitab yang menggunakan metode ini sangat banyak sekali, akan tetapi kitab-kitab tersebut dapat digolongkan menjadi dua bagian kitab yakni: Kutub al-Athrâf, di antaranya yaitu kitab Tuhfat al-Asyrâf bi Ma`rifat al-Athrâf karya Jamâl al-Dîn al-Syâfi`î, kitab al-Nukat al-Zharâf `ala al-Athrâf karya Ibnu Hajar dan Kutub al-Masânîd, di antaranya yaitu Musnad Ahmad ibn Hanbal karya Ahmad ibn Hanbal.[24]

 

d) Takhrîj menurut tema hadis

Penggunaan metode ini dengan mengetahui tema dari sebuah hadis. Dalam sebuah hadis dimungkinkan memiliki banyak tema. Dengan demikian haruslah dicari disetiap tema tersebut. Misalnya hadis

بنى الاسلام على خمس : شهادة ان لا اله الا الله و ان محمدا رسول الله , و اقام الصلاة , و ايتاء الزكاة , و صوم رمضان , و حج البيت لمن استطاع اليه سبيلا.

Untuk mencari hadis di atas, maka kita mencarinya dalam bab iman, bab tauhid, bab shalat, bab zakat, bab puasa, dan bab haji.[25]

Kitab-kitab yang menggunakan metode ini sangat banyak sekali, di antaranya yaitu: kitab Kunuz al-`Amal fî Sunan al-Aqwâl wa al-Af`âl karya Muttaqî al-Hindî, kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb karya al-Mundzirî, kitab Tafsîr al-Qur’ân al-`Azhîm karya Ibnu Katsîr dan lain sebagainya.[26]

 

 

e)  Takhrîj menurut keadaan sifat yang muncul dalam hadis

Penggunaan metode ini adalah dengan melihat keadaan sifat yang jelas dalam sebuah hadis. Para ulama telah mengumpulkan berbagai macam hadis dalam satu sifat yang terdapat dalam hadis.Misalnya hadis mutawatir, hadis qudsi, hadis masyhûr, hadis mursal. Kitab-kitab yang menggunakan metode ini antara lain: kitab al-Azhâr al-Mutanâtsirah fî al-Akhbâr al-Mutawâtirah karya al-Suyûthî, kitab al-Ittihâfât al-Sunnat fî al-Ahâdîts al-Qudsiyyah karya al-Madanî, kitab al-Marâsîl karya Abû Dâwûd dan lain sebagainya.[27]

Kelima metode takhrîj al-hadîts di atas membantu kita dalam mencari hadis Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para mukharrij hadis. Dilihat dari keefektifan dalam mencari hadis, kami menggunakan metode yang kedua yaitu metode takhrîj al-hadîts dengan melalui lafazh dari hadis yakni melalui kitab al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadîts al-Nabawî karya Arent Jan Wensinck.

 

  1. 2. Mengenal al-Kutub al-Sittah

Kegiatan penghimpunan hadis tidak sama prosesnya dengan penghimpunan Alquran. Kalau penghimpunan Alquran sejak awal turunnya sudah dihimpun secara bertahap oleh sahabat dibawah perintah Rasul saw yang akhirnya terbukukan dalam suatu versi kitab yakni versi Mushhaf `Ushmanî, namun penghimpunan hadis tidak demikian. Penghimpunan hadis sejak awalnya dilakukan oleh para sahabat secara personal dengan kesadarannya untuk hujah keagamaan, ada ketersambungan dalam proses pembukuan itu, dan akhirnya terhimpunlah hadis itu melalui kesadaran individual yang karena dapat dipahami bila menghasilkan kitab dengan banyak versi, dengan beragam kriteria, beragam metode penyusunan, beragam jenis hadis yang termuat.[28]

Pada abad ke-tiga Hijriyah merupakan zaman keemasan sejarah dan pengumpulan hadis. Pada masa itu terbitlah “al-kutub al-sittah (enam kitab hadis induk)” dan kitab semisal yang memuat hampir seluruh hadis Nabi saw yang menjadi pegangan bagi para ulama fiqih, mujtahid dan sebagainya.[29] Kitab-kitab hadis yang induk atau standar, dalam perjalanan sejarah terbagi dalam tiga kategori yakni a) kitab induk yang lima (al-kutub al-khamsah), b) kitab induk yang enam (al-kutub al-sittah), c) kitab induk yang tujuh (al-kutub al-sab`ah).[30] Dari ketiga macam kitab induk tersebut, yang terkenal di antaranya adalah al-kutub al-sittah (kitab induk yang enam). Kitab induk yang enam (al-kutub al-sittah) tersebut antara lain:

 

  1. a. Sha­hîh al-Bukhârî

Kitab ini disusun oleh al-Imâm Abû `Abdillâh Muhammad bin Isma`îl bin Bardizbah al-Bukhârî atau yang terkenal dengan sebutan Imâm al-Bukhârî (w. 256 H. / 870 M.). Judul kitab karya beliau ini bernama al-Jâmi` al-Shahîh al-Musnad min Hadîts Rasûlillâh Shallallâhu `Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyâmih. Status kitab Sha­hîh al-Bukhârî ini oleh Jumhur Ulama hadis ditempatkan sebagai kitab hadis yang berstatus standar peringkat pertama. Karena itu, kitab tersebut oleh umat Islam banyak dijadikan rujukan dalam rangka mengamalkan ibadah (hujjah) dalam kehidupan beagama.[31]

 

 

 

  1. b. Sha­hîh Muslim

Penyusun kitab ini adalah al-Imâm Abû al-Husain Muslim bin al-Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî atau yang dikenal dengan nama Imâm Muslim (w. 261 H. / 875 M.). Judul kitab karya beliau ini adalah al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar min al-Sunani bi al-Naql al-`Adl `an Rasûlillâh saw. Jumhur Ulama hadis menempatkan kitab hadis Sha­hîh Muslim sebagai kitab hadis yang berstatus induk atau standar pada peringkat ke-dua.[32]

 

  1. c. Sunan Abû Dâwûd

Penyusun kitab ini adalah al-Imâm Abû Dâwûd Sulaimân bin al-Asy`ârî al-Azdî al-Sijistânî atau yang dikenal dengan nama Abû Dâwûd (w. 275 H. / 889 M.). Kitab hadis yang disusun oleh Abû Dâwûd ini dinamakan dengan al-Sunan, atau yang dikenal dengan nama Sunan Abû Dâwûd. Jumhur Ulama` hadis memberi tempat kitab hadis Sunan Abû Dâwûd sebagai kitab hadis yang berstatus kitab induk atau standar pada peringkat ke-tiga.[33]

 

  1. d. Sunan al-Turmudzî

Penyusun kitab ini adalah al-Imâm Abû `Îsa Muhammad bin `Îsa bin Tsaurah bin Mûsa bin al-Dahak al-Salmî al-Turmudzî atau yang dikenal dengan sebutan al-Turmudzî (w. 279 H. / 892 M.). Banyak sebutan yang ditemukan bagi kitab ini, misalnya: al-Jâmi` al-Shahîh, Sha­hîh al-Turmudzî, Sunan al-Turmudzî. Namun, sebutan lengkap kitab ini adalah al-Jâmi` al-Mukhtashar min al-Sunan `an Rasûlillâhi Shallallâhu `Alaihi wa Sallam. Kitab Sunan al-Turmudzî ini oleh Jumhur Ulama` ditempatkan sebagai kitab hadis yang berstatus induk atau standar pada peringkat ke-empat.[34]

 

  1. e. Sunan al-Nasâi

Penyusun kitab hadis ini adalah al-Imâm Abû `Abd al-Rahmân Ahmad bin Syu`aib bin `Alî bin Sinân bin Bahrân al-Nasâi (w. 303 H. / 915 M.). Di kalangan masyarakat, judul kitab ini dikenal dengan nama al-Sunan al-Mujtaba serta Sunan al-Nasâi. Namun judul kitab yang sebenarnya adalah al-Sunan al-Sughra wa Hiya al-Musammatu bi al-Mujtaba. Jumhur Ulama` hadis menempatkan kitab Sunan al-Nasâi sebagai kitab hadis induk atau standar yang berperingkat ke-lima. Ke-lima kitab hadis ini dinamakan al-kutub al-khamsah (lima kitab hadis induk).[35]

 

  1. f. Sunan Ibnu Mâjah

Penyusun kitab ini adalah al-Imâm Abû `Abdillâh Muhammad bin Yazîd Ibnu Mâjah al-Qazwinî atau yang biasa dikenal dengan nama Ibnu Mâjah (w. 273 H. / 887 M.). Judul kitab karya Ibnu Mâjah dinamakan dengan al-Sunan dan dikenal dengan nama Sunan Ibnu Mâjah. Ulama hadis, misalnya Abû Fadhl Muhammad bin Thâhir al-Maqdisî (w. 507 H.) menempatkan kitab Sunan Ibnu Mâjah sebagai kitab hadis yang berstatus induk atau standar dengan peringkat ke-enam.[36]

 

  1. 3. Mengenal Kitab-Kitab Syarah Dari al-Kutub al-Sittah

Kitab syarah hadis adalah kitab yang memberi keterangan, ulasan, atau penjelasan tentang hadis dari suatu kitab tertentu.[37] Di antara berbagai macam kitab syarah hadis yang dihasilkan oleh para `ulama hadis, terdapat kitab-kitab syarah yang menjelaskan hadis-hadis yang terdapat dalam al-kutub al-sittah (enam kitab induk hadis). Kitab-kitab syarah tersebut antara lain:

 

  1. a. Syarah Kitab Shahîh al-Bukhârî

a)  Al-Kawâkib al-Durarî oleh al-Kirmânî (w. 775 H.).

b) Syawâhid al-Taudhîh oleh `Umar bin `Alî (w. 804 H.).

c)  `Umadat al-Qâri` oleh Muhammad bin Ahmad al-Aini (w. 815 H.).

d) Fath al-Bârî oleh Ibnu Hajar al-Asqalânî (w. 852 H.).

e)  Irsyâd al-Sârî oleh Muhammad al-Qasthalânî (w. 923 H.).[38]

 

  1. b. Syarah Kitab Sha­hîh Muslim

a)    Sha­hîh Muslim `ala Syarh al-Nawâwî oleh Muhyiddîn al-Nawâwî.

b)   Al-Minhâj oleh al-Nawâwî (w. 676 H.).

c)    Al-Ikmâl oleh Qâdhî `Iyâdh.

d)   Ikmâl al-Ikmâl oleh al-Zawâwî (w. 743 H.).

e)    Ikmâl al-I`mâl al-Mubîn oleh Abû `Abdillâh Muhammad Khalaf al-Abî al-Malikî (w. 827 H.).[39]

 

  1. c. Syarah Kitab Sunan Abû Dâwûd

a)  `Awn al-Ma`bûd oleh Syams al-Haq al-`Adhîm al-Abadî.

b) Syarah Zawâhid Abû Dawûd oleh Ibnu al-Mulaqqîn (w. 804 H.).[40]

 

  1. d. Syarah Kitab Sunan al-Turmudzî

a)    Tuhfat al-Ahwadzî bi Syarh Jâmi` al-Turmudzî oleh al-Imâm Muhammad `Abdurrahîm al-Mubarakfûrî.

b)   Syarh Zawâhid Jâmi` al-Turmudzî oleh Ibnu al-Mulaqqîn (w. 804 H.).

c)    Al-Quthb al-Mughtadî oleh al-Suyûthî (w. 911 H.).

d)   `Aridhat al-Ahwadzî fi Syarh al-Turmudzî oleh Ibnu `Arabî (w. 596 H.).[41]

  1. e. Syarah Kitab Sunan al-Nasâi

a)    Syarh (Ta`liq) oleh al-Suyûthî (w. 911 H.).

b)   Syarh (Ta`liq) oleh al-Sindi.[42]

 

  1. f. Syarah Kitab Ibnu Mâjah

a)    Al-Dibajat oleh Kamâl al-Dîn al-Damirî (w. 808 H.).

b)   Al-Mishbâh al-Zujâjah oleh al-Suyûthî (w. 911 H.).

c)    Syarh Zawâhid Sunan Ibnu Mâjah oleh Ibnu al-Mulaqqîn (w. 804 H.).[43]

 

  1. 4. Menemukan Hadis Tentang Taqwa Dan Akhlak Mulia Dalam Kitab Hadis Dan Kitab Syarah
    1. a. Menemukan Hadis Tentang Taqwa dan Akhlak Mulia dalam Kitab Hadis

Untuk menemukan hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab induk hadis, kita harus melacak salah satu dari arti takwa dan akhlak mulia dalam bahasa Arab dalam kamus hadis yakni kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawî. Takwa dalam bahasa Arab berasal dari وقي –ِ وقاية yang berarti menjaga atau melindungi.[44] Setelah kita mengetahui asal kata takwa dalam bahasa Arab, maka selanjutnya kita melacak asal kata takwa tersebut dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawî karya tim orientalis, salah satunya yakni Dr. Arnold John Wensinck (w. 1939 M.) yang merupakan profesor bahasa Semit di Universitas Leiden Belanda. Setelah kita melacak asal kata takwa dalam bahasa Arab (وقي –ِ وقاية) di dalam kitab al-Mu`jam al-Mufahras, maka kita akan menemukan berbagai macam kode-kode kitab rujukan di mana masalah tentang hadis takwa tersebut.[45] Kode-kode kitab rujukan dalam kitab al-Mu`jam al-Mufahras tersebut antara lain:

a)    خ  (kha`)                                          Shahîh al-Bukhârî

b)   م  (mim)                                            Shahîh Muslim

c)    د  (dal)                                             Sunan Abû Dâwûd

d)   ت  (ta`)                                            Sunan al-Turmudzî

e)    ن  (nun)                                            Sunan al-Nasâ`i

f)     ق – جه  (qaf-jah)                               Sunan Ibnu Mâjah

g)    دي  (di)                                             Sunan al-Dârimî

h)    ط  (tha`)                                           Muwatha` Mâlik

i)      حل (ha` lam) / حم (ha` mim)   Musnad Ahmad.[46]

Salah satu di antara berbagai macam kode kitab rujukan dalam kitab al-Mu`jam al-Mufahras tentang kata takwa yakni قال تقوى الله و حسن الخلق ت : بر62.[47] Kode tersebut menunjukkan hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab hadis Sunan al-Turmudzî di bab ke-62 yakni بر. Setelah kita mengetahui bahwa kode tersebut menunjukkan kepada kitab Sunan al-Turmudzî, maka kita lacak kode tersebut ke kitab induk Sunan al-Turmudzî. Hasilnya akan memunculkan hadis tentang takwa dan akhlak mulia secara utuh dalam kitab Sunan al-Turmudzî yaitu seperti berikut:

 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ جَدِّى عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ هُوَ ابْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَوْدِىُّ.[48]

Artinya:

Menceritakan kepada kami Abû Kuraib Muhammad bin al-`Ulâ`, menceritakan kepada kami `Abdullâh bin Idrîs, menceritakan kepada saya ayah saya dari kakek saya dari Abû Hurairah berkata: ditanyakan kepada Rasulullâh saw tentang perkara yang banyak menyebabkan manusia masuk surga, maka Rasûlullâh bersabda: takwa kepada Allah swt dan akhlak mulia. Dan ditanyakan pula tentang perkara yang banyak menyebabkan manusia masuk neraka, maka Rasûlullâh bersabda: mulut dan kemaluan. Berkata Abû `Îsa hadis ini shahîh gharîb, dan `Abdullâh bin Idrîs yakni Ibnu Yazîd bin `Abd al-Rahmân al-Audzî.[49]

 

 

Setelah melacak dalam kitab hadis Sunan al-Turmudzî tentang hadis takwa dan akhlak mulia, kita mendapati bahwa hadis tentang takwa dan akhlak mulia terdapat dalam kitab hadis Sunan al-Turmudzî karya Abû `Îsa Muhammad bin Sûrah al-Tirmidzî atau yang dikenal dengan nama al-Turmudzî pada juz ke-8 bab ما جاء في حسن الخلق di halaman ke-15. Dengan demikian, selesailah proses kita dalam menemukan hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab-kitab hadis khususnya di kitab induk yang enam (al-kutub al-sittah).

 

  1. b. Menemukan Hadis Tentang Taqwa dan Akhlak Mulia dalam Kitab Syarah Hadis

Setelah kita menemukan hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab induk hadis yakni kitab Sunan al-Turmudzî pada juz ke-8 di halaman ke-15, kita membutuhkan penjelasan tentang maksud hadis tersebut dalam kitab syarah hadis sehingga pemahaman kita akan hadis tersebut menjadi sempurna. Setelah kita menemukan hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab Sunan al-Turmudzî bab  ما جاء في حسن الخلق, kita kemudian melacak syarah hadis tersebut dalam salah satu dari kitab syarah hadis Sunan al-Turmudzî yakni Tuhfat al-Ahwadzî bi Syarh Jâmi` al-Turmudzî oleh al-Imâm Muhammad `Abdurrahîm al-Mubarakfûrî melalui bab yang tertera di kitab induk Sunan al-Turmudzî yakni  ما جاء في حسن الخلق, maka kita akan menemukan syarah hadis tersebut sebagai berikut:

 

قَوْلُهُ : (حَدَّثَنِي أَبِي) أَيْ إِدْرِيسُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْدِيُّ ثِقَةٌ مِنْ السَّابِعَةِ (عَنْ جَدِّي) أَيْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ الزَّعَافِرِيِّ أَبِي دَاوُدَ الْأَوْدِيِّ مَقْبُولٌ مِنْ الثَّالِثَةِ . قَوْلُهُ : (عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ) أَيْ عَنْ أَكْثَرِ أَسْبَابِ إِدْخَالِهِمْ الْجَنَّةَ مَعَ الْفَائِزِينَ (تَقْوَى اللَّهِ) وَلَهُ مَرَاتِبُ أَدْنَاهَا التَّقْوَى عَنْ الشِّرْكِ (وَحُسْنُ الْخُلُقِ) أَيْ مَعَ الْخَلْقِ ، وَأَدْنَاهُ تَرْكُ أَذَاهُمْ وَأَعْلَاهُ الْإِحْسَانُ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهِ مِنْهُمْ (الْفَمُ وَالْفَرْجُ) لِأَنَّ الْمَرْءَ غَالِبًا بِسَبَبِهِمَا يَقَعُ فِي مُخَالَفَةِ الْخَالِقِ وَتَرْكِ الْمُخَالَفَةِ مَعَ الْمَخْلُوقِ . قَالَ الطِّيبِيُّ قَوْلُهُ : تَقْوَى اللَّهِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَالِقِ بِأَنْ يَأْتِيَ جَمِيعَ مَا أَمَرَهُ بِهِ وَيَنْتَهِيَ عَنْ مَا نَهَى عَنْهُ وَحُسْنُ الْخَلْقِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَهَاتَانِ الْخَصْلَتَانِ مُوجِبَتَانِ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَنَقِيضُهُمَا لِدُخُولِ النَّارِ فَأَوْقَعَ الْفَمَ وَالْفَرْجَ مُقَابِلًا لَهُمَا . أَمَّا الْفَمُ فَمُشْتَمِلٌ عَلَى اللِّسَانِ ، وَحِفْظُهُ مِلَاكُ أَمْرِ الدِّينِ كُلِّهِ وَأَكْلُ الْحَلَالِ رَأْسُ التَّقْوَى كُلِّهِ . وَأَمَّا الْفَرْجُ فَصَوْنُهُ مِنْ أَعْظَمِ مَرَاتِبِ الدِّينِ قَالَ تَعَالَى : {وَاَلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ} لِأَنَّ هَذِهِ الشَّهْوَةَ أَغْلِبُ الشَّهَوَاتِ عَلَى الْإِنْسَانِ وَأَعْصَاهَا عَلَى الْعَقْلِ عِنْدَ الْهَيَجَانِ ، وَمَنْ تَرَكَ الزِّنَا خَوْفًا مِنْ اللَّهِ تَعَالَى مَعَ الْقُدْرَةِ وَارْتِفَاعِ الْمَوَانِعِ وَتَيَسُّرِ الْأَسْبَابِ لَا سِيَّمَا عِنْدَ صِدْقِ الشَّهْوَةِ وَصَلَ إِلَى دَرَجَةِ الصِّدِّيقِينَ قَالَ تَعَالَى {وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنْ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى} وَمَعْنَى الْأَكْثَرِيَّةِ فِي الْجُمْلَتَيْنِ أَنَّ أَكْثَرَ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْأَبَدِيَّةِ الْجَمْعُ بَيْنَ الْخَصْلَتَيْنِ وَأَنَّ أَكْثَرَ أَسْبَابِ الشَّقَاوَةِ السَّرْمَدِيَّةِ الْجَمْعُ بَيْنَ هَاتَيْنِ الْخَصْلَتَيْنِ . قَوْلُهُ : (هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ) وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الزُّهْدِ وَغَيْرُهُ وَكَذَا فِي التَّرْغِيبِ .[50]

Artinya:

Perkataan Beliau: (menceritakan kepada saya yakni ayah saya) yakni Idrîs bin Yazîd bin `Abd al-Rahmân al-Audî yang merupakan seorang tsiqah dari tujuh orang (dari kakek saya) yakni Yazîd bin `Abd al-Rahmân al-Aswadi al-Za`âfirî Abû Dâwud al-Audî seorang yang maqbul dari tiga orang. Perkataan beliau: (tentang perkara yang banyak menyebabkan manusia masuk surga) yakni perkara yang banyak menyebabkan manusia masuk surga bersama orang-orang yang beruntung (takwa kepada Allah swt) dan ini mempunyai beberapa tingkatan derajat, yang paling rendah adalah takwa dari perkara syirik (dan akhlak yang mulia) yakni yang mempunyai akhlak, yang terendah adalah meninggalkan siksa atau musibah kepada mereka dan yang tertinggi adalah berbuat baik terhadap mereka yang berbuat jelek pada kita (mulut dan kemaluan) karena manusia kebanyakan sebab yang menjadikan dia ingkar kepada Tuhan dan berbuat maksiat pada sesama karena kedua hal ini. Berkata al-Thîbî: perkataan beliau (takwa kepada Allah swt) merupakan sebuah isyarat untuk berbuat baik dalam muamalah dengan Allah swt baik yakni dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dan (akhlak mulia) merupakan sebuah isyarat untuk berbuat baik terhadap sesama makhlukNya, dan kedua hal ini merupakan penyebab dari masuknya manusia tersebut ke surga dan dengan tanpa keduanya menyebabkan manusia masuk ke neraka dengan perantara mulut dan kemaluannya. Adapun mulut merupakan bagian dari lisan. Menjaganya dengan mempunyai pengetahuan perkara agama secara sempurna dan memakan barang yang halal merupakan pangkal dari ketakwaan yang sempurna. Adapun kemaluan, menjaganya adalah perkara yang agung dalam tingkatan keagamaan. Allah swt berfirman: (dan mereka yang menjaga kemaluan mereka) karena syahwat ini merupakan syahwat yang terbesar bagi manusia dan menghilangkan kesadaran akal ketika dirinya terpengaruh oleh kenikmatannya. Dan barang siapa yang meninggalkan zina karena takut kepada Allah swt disertai kemampuan untuk meninggalkan larangannya serta sebab-sebab yang mendekatinya walaupun sebenarnya dalam keadaan yang dipenuhi dengan syahwat, maka dia dapat digolongkan menjadi orang-orang yang terpercaya. Allah swt berfirman: (Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya). Dan makna dari kebanyakan dari kedua hal tersebut yakni banyak perkara adalah sesungguhnya yang paling banyak sebab yang membawa kesenangan abadi adalah melakukan jalan kebaikan keduanya yakni takwa dan akhlak mulia sedangkan sebab paling banyak yang menyebabkan kesengsaraan abadi adalah melakukan jalan kejelekan keduanya yakni kejelekan mulut dan kemaluan. Perkataan beliau: (hadis ini shahih gharib) diriwayatkan Ibnu Hibbân dalam kitab shahihnya dan juga al-Baihaqî dalam bab Zuhud dan banyak lainnya yang semuanya menggolongkan dalam hadis gharib.[51]

 

Syarah hadis tentang hadis takwa dan akhlak mulia di atas terdapat dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzî yang merupakan salah satu dari kitab syarah Sunan al-Turmudzî karya Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman al-Mubârakfûrî yang terdapat di juz 5 pada bab ما جاء في حسن الخلق pada halaman 252. Dengan demikian selesailah bagi kita dalam menemukan hadis tentang takwa dan akhlak mulia yang terdapat dalam kitab syarah Tuhfat al-Ahwadzî.

 

  1. D. Metode Modern Dalam Pencarian Hadis

Dalam mencari hadis Nabi dalam era modern ini telah terdapat berbagai macam software atau perangkat lunak dari komputer yang dapat membantu kita dalam menemukan hadis Nabi seperti masalah takwa dan akhlak mulia. Di antara berbagai macam software tersebut, penulis memilih Maktabah Syamilah. Karena software ini menurut penulis lebih cepat dan mudah dalam aplikasi mencari hadis Nabi.

 

  1. 1. Pengenalan Terhadap Maktabah Syamilah

Salah satu software yang menurut penulis paling mudah dalam mencari hadis Nabi adalah software Maktabah Syamilah. Dalam software ini mencakup berbagai macam kitab di antaranya: Tafsir (70 kitab), Ulumul Qur`an (116 kitab), Matan Hadis (137 kitab), Takhrij wa Maudhu`at (56 kitab), Syarh Hadis (62 kitab), Ulum al-Hadis (96 kitab), Aqidah, Milal wa al-Nihal (128 kitab), Fiqih (Fiqih Syafi`I, Maliki, Hanafi, Hambali dan Umum), Masail Fiqhiyah dan Ushuliyah (132 kitab) Tasawuf, Adab wa al-Syar`iyah (124 kitab), dan berbagai kitab lainnya (Ghairu Mushannafah) atau yang tidak dibukukan.

Maktabah Syamilah ini dapat dioperasikan di berbagai model spesifikasi windows. Di antaranya yaitu win 95 arabic, win 98 arabic, window XP yang di-enable arabic di bahasanya (language-nya). Berikut ini cara untuk instalasi arabic di window XP:

  1. Buka control panel, lalu pilih regional and language options.
  2. Setelah kotak regional and language options terbuka, klik tab languages.
  3. Pada suplemental language support, klik install files for complex sript dan kemudian klik tab apply.
  4. Setelah itu, klik pula tab details, setelah terbuka klik tab add untuk memasukan bahasa. Pilihlah bahasa Arab.
  5. Untuk menampilkannya pilihan bahasa yang dapat digunakan pada dekstop, klik tab language bar.
  6. Setelah terbuka klik pilihan show language bar on the dekstop, lalu klik ok.
  7. Booting kembali komputer, maka setelah itu Arabicnya sudah dapat digunakan.

 

  1. 2. Cara Mencari Hadis Tentang Takwa dan Akhlak Mulia Dalam Maktabah Syamilah

Sebelum kita melakukan aplikasi untuk mencari hadis takwa dan akhlak mulia, penulis tampilkan gambar dari Maktabah Syamilah yang tipe ke-dua:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam tampilan tersebut akan terdapat berbagai macam tombol yang penulis anggap penting dalam mencari hadis  yang tertera ditampilan tersebut. Berikut ini berbagai macam tombol dan fungsinya:

  1. Tombol ini terletak di pojok kanan baris ke tiga dari toolbar Maktabah Syamilah. Tombol ini berfungsi untuk menampilkan berbagai macam kitab yang ada dalam Maktabah Syamilah.[52] Berikut ini adalah tampilan ketika tombol ini di klik satu kali:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tombol ini terletak di baris ketika dari toolbar tampilan awal Maktabah Syamilah yang berfungsi untuk mencari berbagai macam bagian dari macam-macam hal yang terdapat dalam kitab Maktabah Syamiah termasuk hadis Nabi yang ingin kita cari. Berikut ini adalah tampilan dari tombol tersebut ketika di klik:

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari tampilan di atas, pada kolom sebelah kanan merupakan bagian kata, atau kalimat yang bisa digunakan oleh kita ketika mencari sesuatu di Maktabah Syamilah.[53] Misalnya ketika kita ingin mencari Hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab hadis, maka kita cukup menuliskan kata, atau kalimat yang tertera dalam hadis, contoh: mencari hadis nabi tentang takwa dan akhlak mulia seperti yang tertera dalam kitab Sunan al-Turmudzi di atas, maka cukup kita tulis penggalan dari hadis tersebut yakni تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. Setelah itu pada kolom tengah dari tampilan hadis tersebut, kita cari kitab-kitab yang berkenaan dengan hadis yakni di bagian كتب المتن dan kita klik bagian tersebut. Setelah itu akan tampilah sisebelah kiri kolom berbagai macam kitab-kitab hadis, maka kita pilih kitab Sunan al-Turmudzi. Setelah itu pilihlah tombol          dan klik. Maka akan terteralah hadis Nabi seperti model yang kita cari lewat mencari hadis dengan cara klasik. Begitu juga ketika kita mencari syarah dari hadis takwa dan akhlak mulia dalam hadis Sunan al-Turmudzi tersebut. Caranya sama, hanya saja pada kolom kedua yang kita cari adalah di bagian شروح الحديث . Kemudian akan tampil berbagai macam syarah hadis yang tertera di kolom kiri dari tampilan gambar tersebut. Setelah itu kita pilih di kolm kiri itu kitab Tuhfat al-Ahwadzî bi Syarh Jâmi` al-Turmudzî, dan kemudian kita klik tombol             , maka akan tertera syarah hadis tentang takwa dan akhlak mulia dalam kitab syarah tersebut. Dengan demikian selesailah proses kita dalam mencari hadis dalam Maktabah Syamilah.

 

  1. E. Kesimpulan

Dari kedua metode yang digunakan dalam mencari hadis di atas, menurut penulis punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan ini ketika seseorang itu hendak mencari hadis yang sama sekali dia belum mengetahui bagaimana bunyi atau tulisan hadis tersebut, maka metode klasik adalah cara yang tepat. Akan tetapi ketika seseorang itu telah mengetahui bagaimana tulisan hadis tersebut, maka metode dengan Maktabah Syamilah merupakan cara yang paling cepat dalam menemukan hadis beserta syarahnya.

Dengan mengetahui cara menemukan hadis dalam kitab hadis dan kitab-kitab syarah hadis tentang takwa dan akhlak mulia melalui metode takhrij melalui kitab Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawi maupun melalui software Maktabah Syamilah di atas, bisa menjadi sandaran bagi kita dalam menemukan berbagai masalah misalnya shalat dan lain sebagainya dalam kitab hadis dan kitab-kitab syarah hadis yang dikarang para ulama` hadis. Sehingga akan membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan tentang pencarian hadis dalam kitab hadis beserta syarah hadis tersebut melalui kitab-kitab syarah hadis.

 

  1. F. Daftar Pustaka

Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Mamahami Hadis Nabi. Cet. 1. Jakarta Timur: Insan Cemerlang dan PT. Inti Media Cipta Nusantara, t.th..

Ali, Nizar. Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan). Cet 1. Yogyakarta: CESaD YPI al-Rahmah, Mei 2001.

`Azami, Muhammad Mushthafa. Metodologi Kritik hadis. Terj. A. Yamin. Cet. 2. Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Badrân, Badrân al-`Ainain. Al-Hadîts al-Nabawi al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalahuhu). Iskandaria: Muassasah Syabâb al-Jâmi`ah, 1983.

Bishri, Munawir dan Mushthafa. Kamus al-Bishri (Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab). Cet 1. Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.

Al-Hâdî, Abu Muhammad `Abd al-Mahdî ibn `Abd al-Qâdir ibn `Abd. Thuruq Takhrîj Hadîts. Mesir: Dâr al-I`tishâm, t.th..

Hasan, A. Qadir. Ilmu Mushthalah Hadis. Cet 3. Bandung: CV. Diponegoro, 1987.

Ismail, M. Syuhudi. Kaedah Keshahihan Hadis (Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah). Cet. 2. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.

Al-Khathîb, M. `Ajâj. Hadis Nabi Sebelum Dibukukan. Terj. Akrom Fahmi. Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press, Juni 1999.

Al-Mubârakfûrî, Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman. Tuhfat al-Ahwadzî. J. 5. Bairut: Dâr al-Fikr, 1995.

Al-Sa`idi, Sa`dullâh. Hadis-Hadis Sekte. Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Shâlih, Shubhi. `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalahuhu. Cet.17. Bairut: Dâr al-`Ilm li al-Malâyîn, t.th.

Soebahar, Erfan. Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi. Cet 2. Semarang: RaSAIL Media Group, Februari 2010.

Suparta, Munzier. Ilmu Hadis. Cet. 3. Raja Grafindo Persada, 2002.

Syuhbah, Muhammad Abu. Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya). Terj. Ahmad Utsman. Cet 1. Surabaya: Pustaka Progressif, April 1993.

Al-Thahhan, Mahmud. Mushthalah al-Hadîts. Bairut: Dâr al-Fikr, t.th.

_________, Mahmûd. Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim. Cet. 1. Semarang: Dina Utama, 1995.

Al-Tirmidzî, Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah. Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al-Shahîh). J. 8. Semarang: Toha Putra, t.th.

Wensinck, Arent John. Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawi. J. 7. Leiden: Breil, 1943.

 

 


[1] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Hadis (Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), cet. 2, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 26. Lihat Sa`dullâh al-Sa`idi, Hadis-Hadis Sekte, cet. 1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 1. Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan), cet 1, (Yogyakarta: CESaD YPI al-Rahmah, Mei 2001), h. 9-15.

[2] Lihat Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalahuhu, cet.17, (Bairut: Dâr al-`Ilm li al-Malâyîn, t.th.), h. 3-4. Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadis, cet 3, (Bandung: CV. Diponegoro, 1987), h. 17. Lihat Mahmud al-Thahhan, Mushthalah al-Hadîts, (Bairut: Dâr al-Fikr, t.th.), h. 14.

[3] Lihat Badrân al-`Ainain Badrân, Al-Hadîts al-Nabawi al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalahuhu), (Iskandaria: Muassasah Syabâb al-Jâmi`ah, 1983), h. 5.

[4] Lihat M. `Ajâj al-Khathîb, Hadis Nabi Sebelum Dibukukan, terj. Akrom Fahmi, cet. 1, (Jakarta: Gema Insani Press, Juni 1999), h. 43.

[5] Ibid., h. 43.

[6] Shubhi Shalih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalahuhu, h. 3-4.

[7] Muhammad Mushthafa `Azami, Metodologi Kritik hadis, terj. A. Yamin, cet. 2, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), h. 19.

[8] Badran al-`Ainain Badran, Al-Hadîts al-Nabawi al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalahuhu), h. 5

[9] Muhammad Mushthafa `Azami, Metodologi Kritik Hadis, terj. A. Yamin, h. 19.

[10] Mahmud al-Thahhan, Mushthalah al-Hadîts, h. 14.

[11] M. `Ajâj al-Khathîb, Hadis Nabi Sebelum Dibukukan, terj. Akrom Fahmi, h. 36.

[12] Badrân al-`Ainain Badrân, Al-Hadîts al-Nabawi al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalahuhu), h. 7.

[13] Muhammad Mushthafa `Azami, Metodologi Kritik hadis, terj. A. Yamin, h. 20.

[14] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, cet. 3, (Raja Grafindo Persada, 2002), h. 15. Lihat Mahmud al-Thahhan, Mushthalah al-Hadîts, h. 15.

[15] A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadis, h. 18.

[16] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Mamahami Hadis Nabi, cet. 1, (Jakarta Timur: Insan Cemerlang dan PT. Inti Media Cipta Nusantara, t.th.), h. 84.

[17]Ibid.,h. 84-85.

[18] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 18-19.

[19] Abu Muhammad `Abd al-Mahdî ibn `Abd al-Qâdir ibn `Abd al-Hâdî, Thuruq Takhrîj Hadîts, (Mesir: Dâr al-I`tishâm, t.th.), h. 27.

[20] Ibid.,h. 27-28. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, cet. 1, (Semarang: Dina Utama, 1995), h. 55-73.

[21] Ibid.,h. 83.

[22] Ibid.,h. 83-84. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, h. 74-86.

[23] Ibid.,h. 105.

[24] Ibid.,h. 106. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, h. 40-54.

[25] Ibid.,h. 151.

[26] Ibid.,h. 152.

[27] Ibid.,h. 243-244.

[28] Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi, cet 2, (Semarang: RaSAIL Media Group, Februari 2010), h. 151.

[29] Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, cet 1, (Surabaya: Pustaka Progressif, April 1993), h. 27.

[30] Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi, h. 150.

[31] Ibid., h. 152. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 37-58.

[32] Ibid., h. 153. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 59-72.

[33] Ibid., h. 153. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 73-82.

[34] Ibid., h. 153-154. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 83-90.

[35] Ibid., h. 154-155. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 91-96.

[36] Ibid., h. 155. Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahih dan Biografi Para Penulisnya), terj. Ahmad Utsman, h. 97-101.

[37] Ibid., h. 164.

[38] Ibid., h. 165.

[39] Ibid., h. 165.

[40] Ibid., h. 165.

[41] Ibid., h. 165-166.

[42] Ibid., h. 166.

[43] Ibid., h. 166.

[44] Munawir dan Mushthafa Bishri, Kamus al-Bishri (Arab- Indonesia dan Indonesia-Arab), cet 1, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), h. 785.

[45] Kode-kode hadis dalam kitab rujukan tentang asal kata takwa yakni (وقي –ِ وقاية) terdapat dalam kitab al-Mu`jam al-Mufahras dari halaman 294 sampai halaman 301. Lihat Arent Jan Wensinck, Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawi, j. 7, h. 294-301.

[46] Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi, h.158.

[47] Arent John Wensinck, Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawi, j. 7, (Leiden: Breil, 1943), h. 300.

[48] Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al-Shahîh), j. 8, (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 15.

[49] Terjemahan hadis diterjemahkan oleh penulis.

[50] Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman al-Mubârakfûrî, Tuhfat al-Ahwadzî, j. 5, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1995), h. 252.

[51] Terjemahan syarah hadis diterjemahkan oleh penulis.

[52] Lihalah dalam pedoman penggunaan Maktabah Syamilah yang terdapat dalam software.

[53] Lihalah dalam pedoman penggunaan Maktabah Syamilah yang terdapat dalam software.