ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN DI INDONESIA

Oleh: Amirul Bakhri
A. Pendahuluan
Pada permulaan abad pertengahan (500 M), bangsa Eropa sudah mengenal hasil bumi dari Dunia Timur, terutama rempah-rempah yang berasal dari Indonesia. Hasil bumi dari Indonesia dan wilayah lain di wilayah di Asia sampai Eropa dilakukan dengan sistem perdagangan berantai. Para pedagang membawa dagangan ke bandar-bandar Indonesia di bagian barat, selanjutnya barang dagangan tersebut dibawa oleh para pedagang India, Persia, dan Arab menuju Teluk Persia dan Laut Merah. Selanjutnya diangkut melalui darat oleh para pedagang Persia dan Arab ke pelabuhan-pelabuhan di pantai Laut Tengah bagian timur seperti Iskandaria, Sudan dan Konstantinopel. Para pedagang Eropa membeli dagangan dari Dunia Timur dan membawanya ke pelabuhan di Eropa Selatan seperti Venesia dan Genoa. Dari Venesia dan Genoa, barang dagangan dipasarkan ke Eropa Barat dan Utara. (Suparman dkk, 2003: 16)
Hubungan dagang antara Eropa dan Asia Barat melalui Laut Tengah mengalami kemunduran setelah terjadi Perang Salib (1096 -1291 M). Pada saat itu terjadi, permusuhan antara Eropa (Kristen) dan Asia Barat (Islam). Sesudah Perang Salib selesai, muncullah kekuasaan baru di daerah Kekhalifahan Timur yaitu kekuasaan Turki Usmani. Bangsa Turki mempersulit kedatangan para pedagang Eropa di daerah kekuasaannya. Akibatnya, perdagangan antara Eropa dan Dunia Timur mengalami kemunduran, bahkan terputus. Wilayah sekitar Laut Tengah yang sebelumnya ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negara menjadi sepi. Hal ini menyebabkan kegoncangan perekomonian di wilayah sekitar Laut Tengah (Mediterania). Kemunduran perdagangan di Laut Tengah dan terputusnya hubungan antara Dunia Timur dan Eropa menimbulkan kesulitan bagi bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah. Rempah-rempah dari Dunia Timur menjadi barang langka dan harganya menjadi sangat mahal. Hal itu menimbulkan kegoncangan perekomonian di Eropa sehingga mendorong bangsa Eropa mencari Dunia Timur sebagai tempat komoditas rempah-rempah melalui penjelajahan samudra. (Suparman dkk, 2003: 17)

B. Bangsa Belanda Datang ke Indonesia
Sebelum datang ke Indonesia untuk membeli rempah-rempah, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah hasil kekayaan alam Indonesia di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada masa itu, Belanda masih dalam penjajahan bangsa Spanyol. Pada tahun 1585 M, Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai Spanyol. Putusnya perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Lisabon mengakibatkan Belanda banyak menderita kerugian. (Suparman dkk, 2003: 21)
Orang-orang Portugis berusaha merahasiakan rincian-rincian jalur pelayaran samudranya. Akan tetapi Jan Huygen Van Linschoten, seorang Belanda yang bekerja pada Portugis mengetahui rahasia itu. Pada tahun 1595 sampai 1596 M, Linschoten menerbitkan bukunya yang berjudul Inverarium Naer Oost Ofte Portugaels (Catatan Perjalanan ke Timur tau Hindia Portugis). Buku ini memuat peta dan deskripsi tentang penemuan-penemuan Portugis dalam perjalanan ke Timur. Dengan bantuan buku tersebut, orang-orang Belanda tidak hanya mengetahui kekayaan Asia yang melimpah ruah, tetapi juga persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Portugis di Timur. (Sewang, 2003: 60) Sejak saat itulah bangsa Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudra untuk mencari daerah asal rempah-rempah yaitu Indonesia. Pada tahun 1595 M, Belanda memulai pelayarannya menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan De Keyzer. Pelayaran menuju ke timur menempuh rute Belanda – Pantai Barat Afrika – Tanjung Harapan – Samudra Hindia – Selat Sunda – Banten. (Suparman dkk, 2003: 21)
Pada bulan Juni 1596 M, Belanda berhasil mendarat di Banten. Pada awal kedatangannya, Belanda mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Banten dan mendapat izin untuk berdagang di Banten. Akan tetapi bangsa Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman melakukan penekanan sehingga rakyat Banten berbalik memusuhi dan mengusirnya. Beberapa orang Belanda ditangkap dan barang dagangannya disita. Armada Belanda yang belum mendapat barang dagangan harus mundur dari Banten dan menuju ke Sumatra Selatan. Pada tanggal 2 Oktober 1596 M, Belanda kembali lagi ke Banten untuk mengadakan perjanjian persahabatan dan ingin menebus kawan-kawannya yang ditahan. Tawanan ini berhasil dibebaskan setelah orang-orang Belanda itu membayar mahal. Suasana damaipun tidak berlangsung lama karena sejak tanggal 28 Oktober 1596 M sudah terjadi ketegangan antara Belanda dan Portugis. Keduanya saling berebut pengaruh terhadap Sultan Banten. Portugis berhasil mendekati Banten dan merusak hubungan Banten dan Belanda. Dengan demikian terjadilah perang antara Belanda dengan Banten dan Portugis. Belanda diusir dari Banten, kemudian berlayar ke arah timur. Sesampainya di Bali, mereka berlabuh dan melakukan perdagangan. Masyarakat di Bali pada saat itu tidak melakukan pengusiran karena Belanda mengubah sikapnya. (Suparman dkk, 2003: 20)
Di Banjarmasin, pada mulanya Belanda datang dengan susah payah dan kemudian mendapat ijin dari Sultan Tahlilillah. Perebutan kekuasaan antara pangeran Amir dan pangeran Nata yang mana dimenangkan pangeran Nata dengan bantuan Belanda, membuat kekuasaan Belanda semakin besar dan kokoh. Akhirnya secara defakto, Belanda menjadi penguasa politik di Banjarmasin. Di Sumatera, kerajaan-kerajaan Islam dengan cepat dikuasai Belanda kecuali Aceh. Setelah Malaka jatuh ke tangan Belanda tahun 1641 M, terbentuk aliansi-aliansi baru antara lain: Jambi, Palembang dan Makasar. Namun aliansi-aliansi ini bubar ketika VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) ikut campur dan meminta untuk tanda tangan kontrak dengan Belanda. Di Makasar terjadi perlawanan terhadap VOC yang berlanjut sampai tahun 1656 M, perjuangan pahit yang dipimpin oleh Laksamana Cornelis Speelman ini diakhiri untuk sementara waktu dengan penandatanganan perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667 M. Perjanjian ini mengakhiri dominasi Makasar dalam pegangan dan politik Indonesia Timur. (Yaqub, 1984: 49)
Kedatangan Belanda ini mendapatkan reaksi yang negatif karena kedatanganya membawa kesengsaraan rakyat dengan berbagai macam tindakan kesewenang-wenangan di antaranya sistem tanam paksa, kerja rodi dalam pembangunan berbagai macam infrastruktur seperti jalan raya dari Anyer sampai Panarukan, mendirikan benteng-benteng, mendirikan pangkalan laut di Merak dan Ujung Kulon dan lain sebagainya. (Brenda, 1985: 54) Hal ini menimbulkan berbagai macam perlawanan dari rakyat. Perlawanan dari rakyat ini terbagi menjadi dua yaitu pada masa klasik dan masa modern:

1. Perjuangan Pada Masa Klasik
a. Perang Jawa (1825-1830 M)
Setelah Mataram Jatuh ke tangan Belanda, satu demi satu daerah pesisir utara Jawa dan daerah-daerah pedalaman dianeksasi oleh Belanda. Kemiskinan semakin meluas karena rakyat dibebani berbagai jenis pajak dan kerja paksa. Para bupati dan pejabat ke kerajaan lainnya dijadikan alat untuk memperlancar pengaliran produksi agraris ke gudang-gudang VOC. Pada abad ke-19 pengaruh Belanda terhadap kerajaan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta semakin mendalam. Daendels meminta kedudukan atau pelakuan yang sejajar dengan sultan dalam berbagai upacara resmi. Belanda dengan sengaja memperluas peredaran minuman keras di kalangan para bangsawan dan masyarakat umum. Kaum bangsawan yang taat beragama Islam menentangnya. Kelompok yang kontra ini diprakarsai oleh Pangeran Diponegoro yang berkedudukan sebagai wali (pendamping) Sultan Hamengku Buwana IV. Pangeran Diponegoro yang tidak senang melihat perkembangan di istana yang makin merosot keamanannnya menyingkir ke Tegalrejo. Sebaliknya, pihak Belanda tidak menyukai dan mencurigai Pangeran Diponegoro. (Suparman dkk, 2003: 42)
Pada bulan Juli 1825 M, Belanda bermaksud membuat jalan yang melintasi tanah makan leluhur Diponegoro. Patih Danureja IV atas perintah Belanda langsung menancapkan tonggak-tonggak pada tanah tersebut. Tindakan sewenang-wenang itu menimbulkan amarah Pangeran Diponegoro. Pancang-pancang tersebut segera diganti dengan tombak. Belanda memerintahkan untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Pasukan Belanda menyerbu Tegalrejo dan membakar rumah Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari rakyat Tegalrejo. Beliau bersama rakyat Tegal rejo menuju Gua Selarong untuk membuat daerah pertahanan dan menyusun strategi penyerangan. Pangeran Diponegoro juga mendapat dukungan dari para ulama, bangsawan, dan bupati dari berbagai daerah. Para pendukung Pangeran Diponegoro yang terkenal di antaranya adalah Kiai Maja dan Sentot Prawirodirjo. (Suparman dkk, 2003: 43)
Tentara Pangeran Diponegoro dari Selarong mengepung kota Yogyakarta sehingga Sultan Hamengku Buwana IV yang masih kanak-kanak diselamatkan ke benteng milim Belanda. Pada awal peperangan, pasukan Diponegoro dengan mudah dapat merebut beberapa pos Belanda seperti di Pacitan dan Purwodadi. Daerah lain yang sudah melibatkan perang melawan Belanda semakin luas antara lain Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang, Madiun, dan Kertosono. Belanda sering mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan Diponegoro. Belanda terpaksa mendatangkan pasukan tambahan dari Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan dari negeri Belanda sendiri untuk membantu pasukannya di Jawa. Namun, pasukan tambahan Belanda tersebut juga dapat dihancurkan oleh pasukan Pangeran Diponegoro. (Suparman dkk, 2003: 43)
Dalam periode perang tahun 1825 sampai 1826 M, Belanda mengalami kekalahan. Oleh karena itu, Belanda pada tahun 1827 M mengangkat Jenderal De Kock menjadi panglima seluruh pasukan Belanda. Belanda menggunakan strategi baru, yang dikenal dengan siasat benteng (benteng stelsel) yaitu setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng-benteng untuk mengawasi daerah-daerah sekitarnya. Antara benteng satu dengan lainya dihubungkan dengan pasukan gerak cepat. Dengan siasat benteng ini, daerah gerilya pasukan Diponegoro semakin sempit. Banyak pemimpin pasukan Diponegoro yang tertangkap oleh Belanda, di antaranya Suryo Mataram, Aria Prangwadono, Pangeran Serang dan Notoprojo (1827 M). Di samping itu, Belanda juga terus membujuk para pangeran untuk menghentikan perlawanan dengan janji akan diperlakukan secara baik dan tetap diakui kedudukannya. Oleh karena itu, banyak pangeran yang menyerah kepada Belanda seperti Pangeran Notodiningrat, Pangeran Aria Papak, dan Pangeran Sosrodilogo. Pasukan Sentot Prawirodirjo terus melakukan pertempuran di sebelah barat Yogyakarta. Namun, akhirnya Sentot Prawirodirjo beserta pasukannya menyerah kepada Belanda pada tahun 1829 M. Demikian juga dengan Kiai Maja yang berhasil ditangkap Belanda. Untuk mempercepat selesainya perlawanan, Belanda menawarkan penyelesaian damai melalui perundingan. Dalam perundingan itu, Belanda akan menjamin keamanan, keselamatan, dan kebebasan Pangeran Diponegoro untuk kembali ke medan perang seandainya perundingan itu gagal. Pangeran Diponegoro menerima itu sehingga pada tanggal 25 Maret 1830 M, dilangsungkan perundingan di rumah Residen Magelang. Perundingan itu ternyata tidak membawa hasil. Atas perintah rahasia Jenderal De Kock Pangeran Diponegoro ditangkap. Beliau dibawa ke Batavia dan akhirnya diasingkan ke Manado (3 Mei 1830 M). Selanjutnya, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Makasar (1834 M) hingga wafat (8 Januari 1855 M) dalam usia 70 tahun. Kiai Maja juga diasingkan ke Minahas hingga wafat (20 Desember 1849 M). (Suparman dkk, 2003: 44)

b. Perang Paderi (1821-1837 M)
Pagar Ruyung yang dijadikan sebagai pusat kekuasaan Minangkabau yang mana kekuasaannya dipegang oleh penghulu adat sedangkan raja hanya dijadikan sebagai simbol saja. Di akhir abad ke 18 M, situasi dalam masyarakat Minangkabau mengalami pendikotomian antara lain adanya kebiasaan yang menjadi adat seperti perjudian, sabung ayam, minum-minuman keras dan madat. Kebiasaan seperti ini malahan mendapat dukungan dari golongan bangsawan, penghulu, maupun dari raja. Dengan demikian, adat-adat Minangkabau sudah banyak meninggalkan nilai-nilai syara` sehingga menjadikan suatu keprihatinan para ulama`. Sedangkan Tuanku Koto Tuo, seorang yang sangat dihormati, mulai meletakkan dasar pemurnian Islam dan mengajak masyarakat kembali kepada Alquran dan sunah ketika melihat kondisi adat kebiasaan Minangkabau. Akan tetapi pendekatan damai yang dilakukan oleh Tuanku Koto Tuo, tidak bisa diterima oleh murid-muridnya yang lebih radikal terutama Tuanku Nan Ranceh, seorang yang amat berpengaruh dan memiliki banyak murid di daerah Luhah Agam. (Yatim, 2003: 292)
Perpecahan antara guru dan murid inilah awal sesungguhnya dari Gerakan Paderi. Karena dari pihak murid atau kelompok radikal menginginkan dalam penentangan suatu kemaksiatan harus dijalankan dengan kekerasan, sedang dari pihak guru tidak menginginkan kekerasan dalam menjalankan suatu pemurnian ajaran Islam. (Majelis Ulama` Indonesia, 1991: 156) Di daerah Luhah Agam, Tuanku Nan Ranceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luas, Tuanku Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang mengadakan persatuan dan kebulatan tekad untuk menegakkan syara` dan membasmi maksiat. Kedelapan ulama` ini dikatakan sebagai “Harimau Nan Salapan”. Sedangkan kaum Paderi ini dipimpin oleh Tuanku Mensiangan putra dari guru Tuanku Koto Tuo. Pada mulanya, gerakan Paderi ini dilakukan dengan jalan nasehat melalui ceramah-ceramah agama di surau-surau dan masjid. Konflik mulai timbul karena kaum penentang dari kaum adat mengadakan pesta menyabung ayam di kampung Batu Batabuh sehingga mengundang kemarahan kaum Paderi. Peristiwa inilah yang menandai dimulainya perang Paderi melawan kaum adat dengan seragam yang khas yaitu kaum Paderi dengan berpakaian putih-putih sedangkan kaum adat dengan berpakaian hitam-hitam. (Syukur, 2009: 229)
Dalam peperangan ini, kaum adat meminta bantuan kepada pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 21 Februari 1821 M. Untuk menghadapi Belanda, kaum Paderi memperkuat benteng yang tangguh di Bonjol yang telah dibangun ketika Datuk Bandaro memulai gerakan pembaharuannya. Benteng ini juga berfungsi sebagai pusat pengumpulan logistik dan pembuatan senjata api. Benteng Bonjol ini dipimpin oleh Muhammad Sabab yang kemudian bergelar Tuanku Imam Bonjol. Bonjol yang semula merupakan pusat perdagangan perantara dari daerah pedalaman kepesisir dan pusat pendidikan Islam, kini juga berfungsi sebagai pusat militer kaum Paderi. (Syukur, 2009: 229)
Peperangan demi peperangan dihadapi oleh kaum Paderi dengan semangat berkobar yang asalnya perang saudara yang diintervensi pihak asing, sekarang telah sepenuhnya berubah menjadi perang demi kemerdekaan dikarenakan dari pihak kaum adat sudah mulai sadar dan kembali bergabung dengan kaum Paderi untuk sama-sama melawan Belanda. Hal ini dikarenakan kaum adat merasa diperbudak dan ditindas dengan perintah paksa sehingga bergabunglah kaum adat dan kaum Paderi untuk melawan Belanda. Dalam peperangan inipun beberapa kali diadakan perjanjian damai antara kaum Paderi dengan Belanda yang mana perjanjian tersebut hanyalah untuk memperpanjang waktu konsolidasi bagi Belanda. Akan tetapi perjanjian damai tersebut sering kali diingkari Belanda sehingga kaum Paderi mulai tidak percaya terhadap Belanda dengan gerilya dan semangat patriotismenya. Sehingga Belanda merasa kewalahan dan mengadakan perjanjian damai kembali pada tanggal 15 September 1825 M. Perjanjian ini bertujuan untuk mengonsentrasikan kekuatan Belanda dari segi material maupun moral di Jawa untuk menghadapi pangeran Diponegoro. Akan tetapi setelah peperangan pangeran Diponegoro selesai, perjanjian tersebut dikhianati kembali sehingga membuat kaum Paderi marah karena dikhianati oleh Belanda untuk melakukan peperangan kembali secara besar-besaran sehingga pada tanggal 25 Oktober 1833 M, (Majelis Ulama` Indonesia, 1991: 244) Belanda mengumumkan damai yang dikenal dengan Plakat Panjang karena dalam peperangan ini Belanda mengalami kerugian amat besar. Pada Plakat Panjang ini, kaum Paderi tidak percaya lagi dan terus melalukan peperangan. Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1837 M, Belanda berhasil menduduki Benteng Bonjol dan Tuanku Imam Bonjol dijebak dan ditangkap pada tanggal 18 Oktober 1837 M kemudian diasingkan ke Cianjur, ke Ambon dan yang terakhir adalah di Manado. Beliau wafat pada tanggal 6 November 1864 M. (Syukur, 2009: 230)

c. Perang Aceh (1873-1904 M)
Peperangan Aceh timbul akibat adanya perundingan Belanda dan Inggris pada tanggal 2 November 1871 M yang dikenal dengan sebutan Traktat Sumatera yang salah satu isi pasalnya menyebutkan bahwa Belanda diberikan kebebasan untuk memperluas kekuasaannya di seluruh Sumatera, yang berarti bebas melanggar kedaulatan Aceh. Dengan demikian, Aceh yang semula terlindung dari campur tangan Belanda, kini berkat adanya perjanjian London 1824 M mulai terancam. Kontak senjata pertama antara Aceh dengan Belanda terjadi di pesisir sebelah Barat Daya kota pantai Ceruin. Pada tanggal 5 April 1873 M, Belanda mendaratkan pasukannya ke Aceh untuk menyerang keraton dan masjid raya yang dijadikan tempat kekuasaan rakyat Aceh. Akan tetapi dalam penguasaan Belanda terhadap keraton dan masjid Aceh, para Aceh beserta Sultan Aceh sudah meninggalkan tempat dan mengungsi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1874 M, Sultan Aceh meninggal dunia akibat penyakit kolera. Belanda berusaha mengadakan perundingan tetapi tidak ditanggapi oleh rakyat Aceh. Gerakan perlawanan masih terus berlangsung, walaupun pengganti sultan belum ditunjuk dan keraton sudah diduduki Belanda. Pada tahun 1884 M dinobatkanlah sultan baru Aceh dari putra Muhammad Daud. (Suparman dkk, 2003: 50)
Dari peperangan yang sudah berlangsung di Aceh ini, semakin banyak pula para pedagang menyerah kepada Belanda seperti Teuku Muda Baid, Syah Bandar Panglima Tibang, Teuku di Glajal dan Kadi Panglima Polim. Akan tetapi, dengan banyaknya para pejuang yang menyerah pada Belanda, tidak menggoyahkan semangat yang lain. Di Aceh Barat, Teuku Umar dibantu dengan istrinya Cut Nyak Dien tetap mengadakan perlawanan dan pelebaran penyerangan. Dalam bentrokan senjata di dekat Meulaboh guna menyerang pos pertahanan Belanda, Teuku Umar wafat di ujung peluru pasukan Belanda pada tanggal 11 Februari 1899 M dan perjuangannya pun dilanjutkan oleh istrinya. Pada tanggal 3 Januari 1903 M, Sultan Aceh menyerahkan diri karena diancam akan dibuang istri dan anaknya. Meskipun Sultan tertawan dan Panglima Polim menyerah, peperangan terus berlanjut baik secara perorangan maupun kelompok sampai Belanda meninggalkan tanah air tahun 1942 M. (Syukur, 2009: 231)

2. Perjuangan Modern Masa Kolonial Belanda
Pada pergantian abad ini banyak orang-orang Islam Indonesia mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak kolonialisme Belanda. Oleh karena itu, pada permulaan abad ke-19, orang-orang Islam mulai melakukan perubahan dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan dan menegakkan Islam dengan gerakan pendidikan dan sosial serta gerakan politik. (Noer, 1980: 37)
Guna meningkatkan kemakmuran dan kemajuan rakyat tanah jajahan, Belanda menggunakan Politik Etnis yaitu politik balas budi politik yang digunakan agar bangsa Indonesia percaya akan maksud Belanda menguasai Indonesia. Maka pemerintah merumuskan politik pengajaran bagi masyarakat Hindia Belanda khususnya bagi golongan priyayi mulai dari tingkat rendah hingga menengah. Pendidikan yang ingin dikembangkan untuk memenuhi perangkat birokrasi kolonial, malah menimbulkan kelompok baru yang mengancam landasan kolonial itu sendiri. Mereka pun tampil sebagai seorang yang nasionalis yang anti kolonial dan menciptakan terbentuknya bangsa Indonesia di atas tumpukan-tumpukan kesatuan etnis lama. (Syukur, 2009: 232)
Di abad ke-19 ini, peranan Islam sudah tidak lagi terbatas pada tingkat-tingkat rakyat pedesaan. Akan tetapi sudah berkembang di kota-kota yang mendapatkan pengaruh Barat untuk memegang pimpinan dalam gerakan-gerakan politik baru. Islam di kota pun mulai terbentuk dan tumbuh secara revolusi yang mempunyai daya tahan yang lebih kuat dari gejala-gejala politik pada dasawarsa pertama abad ini dan meninggalkan kerangka Islam Indonesia di bawah pemerintah kolonial. Pada masa kolonial Belanda, perjuangan-perjuangan yang dilakukan umat Islam akibat diberlakukannya politik etnis yaitu membentuk suatu organisasi-organisasi Islam guna membendung sepak terjang kolonial Belanda antara lain:
a. Budi Utomo didirikan sebagai suatu perserikatan kebudayaan pada tahun 1908 M. Budi Utomo ini didirikan dengan tujuan mempertahankan harapan-harapan tinggi kaum pembaharuan dengan sebuah program pengembangan diri sendiri yang didasarkan atas gabungan antara nilai-nilai Barat dan nilai-nilai Jawa. (Darmawan, 2005: 11)
b. SDI (Sarekat Dagang Islam) berdirinya organisasi ini dilatar-belakangi dengan persoalan ekonomi khususnya persaingan yang meningkat antara pengusaha batik pribumi dan orang-orang Cina. Haji Samanhudi sebagai pendiri SDI yang didirikan pada tahun 1909 M. Organisasi ini tidak hanya membangkitkan perasaan anti Cina, akan tetapi juga anti kolonial dan para pegawainya yang telah banyak membuat kesulitan bagi rakyat pribumi. (Syukur, 2009: 233)
c. Sarekat Islam didirikan ada tahun 1912 M oleh pedagang-pedagang Islam di Jawa Tengah dengan maksud melawan persaingan pedagang-pedagang Cina. Tujuan lainnya yaitu supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara dan supaya timbul kerukunan dan tolong-menolong satu sama lain antara sekalian kaum muslimin. (Noer, 1980: 127) SI (Sarekat Islam) ini adalah sebagai tindak lanjut dari organisasi SDI yang sudah dibubarkan dan organisasi ini juga yang akan memperluas gerak menjadi partai politik. Pada perkembangannya, SI dibagi menjadi dua kelompok yakni pertama, kelompok yang cenderung reformis baik dalam agama maupun sosial. Kedua, kelompok yang cenderung ideologis yaitu menginginkan SI sebagai penyaluran perjuangan kelas. (Ricklef, 1998: 252)
d. Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 M oleh KH. Akhmad Dahlan yang bertepatan pada tanggal 18 November. Organisasi ini mulai dari embrio kelahirannya, aktivitas dan tujuan pendirinya adalah organisasi pembaharuan. Menurut Abdul Aziz Thaba yang mengutip pendapat Alfian yang menarik kesimpulan bahwa Muhammadiyah sebelum kemerdekaan dalam tiga hal:
a) Muhammadiyah merupakan gerakan pembaharuan Islam yang ide-idenya telah menyumbangkan pemeliharaan Islam sehingga menjadi satu dari unsur-unsur penting Indonesia.
b) Muhammadiyah telah tampil menghadapi berbagai ancaman ideologi politik modern seperti kolonialisme dan sekulerisme.
c) Muhammadiyah tetap bertahan dan memiliki akar kuat dalam masyarakat. (Alfian, 1898: 136)
e. Persatuan Islam (Persis) didirikan pada tahun 1920 M di Bandung. Pelopornya adalah H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Tujuan didirikannya adalah berusaha menyempurnakan kehidupan keagamaan berdasarkan ajaran agama Islam dalam arti yang seluas-luasnya. (Lapidus, 1999: 329)
f. Nahdhatul Ulama` (NU), sebagai reaksi atas pembaharuan dalam Islam Jawa, berdirilah Nahdhatul Ulama` pada tahun 1926 M bertepatan pada tanggal 31 Januari atau 16 Rajab 1345 H pada hari Kamis di Lawang Agung, Ampel Surabaya. Sebab-sebab kelahiran organisasi ini ada dua yaitu:
a) Sebab langsung yaitu seruan kepada penguasa Arab Saudi Ibnu Sa`ud untuk meninggalkan kebiasaan beragama tradisi karena menganut paham wahabisme.
b) Sebab tidak langsung yaitu pemikiran golongan tradisi selalu bertentangan dengan pemikiran golongan pembaharu. (Zahroh, 2004: 15)

C. Bangsa Jepang Datang Ke Indonesia
Pada tanggal 8 Desember 1941 M, Jepang (Nippon) menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour (Teluk Mutiara) yang menjadikan terjadinya perang Asia-Pasifik yang merupakan bagian dari Perang Dunia II. Dengan Gerak cepat, Jepang melanjutkan serangannya ke daratan Asia termasuk ke Hindia Belanda (Indonesia). Secara berurutan Jepang mulai menguasai Hindia Belanda yang diawali dengan Penaklukan Tarakan Kalimantan Timur (11 Januari 1942 M), Balikpapan (24 Januari 1942 M), Pontianak (29 Januari 1942 M), Samarinda (3 Februari 1942 M), dan Banjarmasin (10 Februari 1942 M). setelah menguasai wilayah luar Jawa, Jepang kemudian memusatkan serangannya ke pulau Jawa. Pada tanggal 1 Maret 1942 M, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat yaitu Teluk Banten, Eretan Wetan (sebelah barat Cirebon), Kragan (Jawa Tengah). Setelah menguasai wilayah tersebut, akhirnya Belanda pada tanggal 5 Maret 1942 M mengumumkan Batavia (Jakarta) sebagai kota terbuka, artinya Batavia tidak akan dipertahankan oleh pihak Belanda. Akhirnya pada tanggal 8 Maret 1942 M Belanda menyerah tanpa syarat terhadap Jepang di Kalijati, Subang. Sejak itu, Indonesia dikuasai oleh Jepang. (Suparman dkk, 2003: 3)
Setelah Jepang menggantikan Belanda, kemunduran-kemunduran kelompok Islam mendapatkan powernya. Jepang berpendapat bahwa organisasi Islam mempunyai massa paling banyak dan patuh karena hanya dengan pendekatan agamalah, penduduk Indonesia dapat dimobilisasi. Oleh karena itu, organisasi besar seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama`, Perserikatan Ulama Majalengka, Majelis Islam A`la Indonesia dan Masyumi diperkenankan untuk meneruskan kegiatannya. Sampai-sampai Masyumi mendirikan barisan Hizbullah, sebuah wadah kemiliteran bagi para santri dan tentara pembela tanah airpun banyak mendominasi dari golongan santri. (Syukur, 2009: 234)
Bertambahnya kekuasaan politik Islam dalam struktur pemerintahan ini memberikan pengalaman berharga. Kusman Singo Dimedjo mengakui kebijaksanaan Jepang mengakomodasi kepentingan golongan Islam berdasarkan fakta bahwa para pemimpin Islam tidak hanya dipandang sebagai pimpinan formal, tetapi juga sebagai pemimpin informal yang mampu menggalang kekuatan massa. Oleh karena itu pada bulan Oktober 1943 M, Jepang membubarkan MIAI (Majelis Islam A`la Indonesia) karena dinilai sebagai gerakan anti Jepang. (Lapidus, 1999: 338) Karena itu Jepang membentuk Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebagai organisasi dengan pendukung utama yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama`. Tidak hanya itu, Jepang pun mendirikan mendirikan Poesat Tenaga Kerja (poetera) dan gerakan tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia) yang dibentuk dari golongan Nasionalis seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH. Mas Mansur. (Syukur, 2009: 235)
Tujuan Jepang membubarkan MIAI dan mendirikan Masyumi satu golongan nasionalis guna merangkul rakyat Indonesia khususnya pemimpin Islam. Dikatakan gagal karena rakyat Indonesia yang sentimen anti Jepang tetap tinggi dibanding dengan yang pro Jepang. Dalam hal ini Kahim menyimpulkan: walaupun melalui pertumbuhan ini Jepang nampaknya telah naikkan semangat nasionalisme rakyat jelata, nampaknya Jepang tidak berjaya menaikkan sentimen anti Jepang. Hampir semua kyai tidak mau menjadikan diri mereka sebagai alat kepada cita-cita Jepang. Perasaan terhadap Jepang telah menyebabkan para kyai berpaling ke arah kemerdekaan Indonesia dari pada segala-galanya dan ini selalu diikuti dengan nada anti Jepang dari pada anti pihak Barat. (Brenda, 1980: 183)

D. Peradaban Islam pada masa penjajahan
1. Birokrasi Keagamaan
Seperti yang diungkapkan Badri Yatim yang mengutip Ibnu Batuthah, Sultan kerajaan Samudra Pasai yakni Sultan al-Malik al-Zahir dikelilingi oleh ulama dan mubaligh Islam dan raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai masalah keagamaan. Raja-raja Aceh mengangkat para ulama menjadi penasehat dan pejabat di bidang keagamaan. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) mengangkat Syekh Syamsuddin al-Sumatrani menjadi mufti (qadhi) kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M) mengangkat Syekh Nuruddin al-Raniri menjadi mufti kerajaan dan Sultanah Saefuddin Syah mengangkat Syekh Abdur Rauf Singkel.
Kedudukan ulama` sebagai penasehat raja terutama dalam bidang keagamaan terdapat juga di kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Di Demak, penasehat Raden Fatah raja pertama Demak adalah para wali terutama Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) bahkan di samping berperan sebagai guru agama dan muballigh juga langsung berperan sebagai kepala pemerintahan. Di Ternate, Sultan dibantu oleh sebuah badan penasehat atau lembaga adat. Pada umumnya, badan tersebut beranggotakan sekelompok ulama` yang selain menjadi penasehat badan peradilan juga memberi nasehat kepada raja kalau melanggar aturan. (Yatim, 2003: 229-230)
2. Pendidikan
Belanda sangat aktif dalam pendirian sekolah-sekolah baru bagi bangsa Indonesia. Pendidikan Belanda atas Indonesia bermula sejak awal abad ke-19 M ketika kalangan aristokrat Indonesia belajar di rumah-rumah pemukim Belanda. Sekolah Belanda yang pertama untuk melatih warga Indonesia untuk beberapa pekerjaan pamong praja didirikan tahun 1848 M. Pada tahun 1851 M, terdapat sejumlah sekolah untuk pegawai juru tulis dan kesehatan yang melatih kalangan priyayi rendahanan untuk menjadi pegawai pemerintah. Kemudian antara tahun 1902 sampai 1908 M sejumlah sekolah teknik didirikan untuk melatih pegawai Indonesia. Sebuah sekolah pertanian dibuka pada tahun 1903 M, sekolah kedokteran dan kehewanan didirikan pada tahun 1907 M, sebuah sekolah hukum dibuka pada tahun 1908 M. Pada tahun 1914 M, pola pendidikan barat dikembangkan sampai tingkat menengah pertama dan menengah atas, di mana pelajar Indonesia diperkenalkan dengan sebuah kurikulum meliputi pelajaran bahasa Belanda, bahasa Inggris, sains, matematika, dan pelajaran menggambar. Pada tahun 1920-an dibuka sekolah permesinan, dan beberapa pekerjaan administratif. (Lapidus, 1999: 317-318)
Adapun mengenai pendidikan agama, Karel A. Steenbrink mengungkapkan bahwa ada lima macam golongan guru pengajar agama:
a. Guru ngaji Alqur`an
Tugas guru ini mengajar huruf Arab, rukun Islam yang lima, khusus shalat dan membaca Alqur`an terbatas sampai juz `amma saja. Pendidikan ini tidak diberikan ijazah formal, tetapi pada akhir pendidikan diadakan upacara “tamatan” yang sering diikuti dengan khitanan.
b. Guru kitab
Di pulau Jawa pendidikan yang lebih mendalam adalah pendidikan di pesantren. Di Sumatra Barat sering disebut Surau, dan di Aceh sering disebut dengan meunasah. Tugas pesantren di sini sebenarnya tidak mendidik santri agar menjadi pegawai atau petugas tertentu. Akan tetapi diharapkan setelah tamat, santri tersebut bisa menjadi guru pesantren atau guru ngaji Alqur`an, imam masjid, atau penghulu, tetapi kebanyakan hanya mencari ilmu untuk bekal pribadi.
c. Guru tarekat
Hubungan murid dan guru yang sudah dibina kuat pada pengajian Alqur`an dan lebih erat lagi dalam pengajian kitab, akan menjadi erat sekali pada pengajian tarekat. Setiap orang berilmu dapat mendirikan pesantren asal mempunyai murid. Tetapi untuk mengajar tarekat diperlukan ijazah. Dalam ijazah tersebut disebutkan silsilah guru sampai pendiri tarekat.
d. Guru ilmu ghaib, penjual jimat
Kemampuan ini sering dikuasai oleh guru kitab dan guru tarekat di samping itu dipraktekkan juga oleh orang yang tidak termasuk dalam dua golongan tersebut. Tetapi banyak guru agama yang berpendapat bahwa praktek-praktek ini tidak sesuai dengan agama Islam.

e. Guru yang tidak menetap di satu tempat
Kyai pada umumnya menetap di satu tempat dan umat nanti datang untuk belajar, minta nasehat, doa dan lain sebagainya. Walaupun demikian, ditemukan juga beberapa kyai yang berkeliling. Golongan ini masih mengikuti kebiasaan lama sebagai pertapa pergi dari suatu goa ke goa lain bersama dengan beberapa orang murid pilihan. (Steenbrink, 1984: 152-154)

3. Ulama dan Perannya
Menurut Fatah Syukur, ulama merupakan sangat penting sekali peranannya dalam penyebaran agama dan partisipasinya dalam dunia pendidikan. Peran ulama ini menurut Fatah Syukur dibagi menjadi dua cara yakni:
a. Membentuk kader sebagai ulama
Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan istilah pesantren atau langgar di Jawa, dayah di Aceh dan suarau di Minangkabau. Biaya santri adalah kerelaan yang berupa uang atau bahan makanan. Lama belajar tidak tentu, ada yang setahun sampai sepuluh tahun atau lebih. Waktu belajar setiap hari dan setiap saat sesuai dengan kondisi pesantren masing-masing. Mata pelajaran yang terpenting adalah Ushuluddin, Ushul Fiqh, Fiqh dan Ilmu Arabiyah. (Muthallib dkk, 1995: 387)
Kondisi pendidikan semacam itu berlangsung dan berkembang terus menerus dari tahun ke tahun sampai sesudah 1900-an, di mana usaha-usaha (bukan dari pemerintah atau bukan milik dinas) berlangsung dengan giatnya. Para pemimpin pergerakan nasional pada waktu itu dengan sadar ingin mengubah keadaan yang susah. Mereka insyaf bahwa pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukkan ke dalam program perjuangannya. Maka lahirlah sekolah-sekolah istimewa atas usaha perintis kemerdekaan. Sekolah itu mula-mula bercorak sesuai dengan tuntutan agama (Islam) seperti sekolah Sarekat Islam, sekolah Muhammadiyah, sekolah Nahdhatul Ulama` dan lain sebagainya. Sebagai perkembangan dari pesantren yang didirikan ulama`, berdiri pula sekolah yang dinamakan madrasah. Madrasah ini pada tahun 1931-an M, terjadi perubahan besar yakni mulai dimasukkan pengetahuan umum. Ciri madrasah ini memiliki daftar rencana pelajaran berkelas, mempunyai administrasi. (Syukur, 2009: 270-271)

b. Melalui hasil karya ulama`
Karya-karya ulama` mencerminkan perkembangan pemikiran dan ilmu keagamaan di Indonesia pada waktu itu. Pada abad ke-16 dan ke-17, lahir karya-karya ulama dalam bidang kalam dan tasawuf di mana tradisi pemikiran Islam di Indonesia tersebut di pusat dunia Islam telah mapan. Dunia pemikiran yang berkembang di Indonesia bagaimanapun berakar pada tradisi pemikiran yang telah berkembang di pusat dunia Islam sebelumnya. Di antara ulama`-ulama` Indonesia pertama yaitu:

a) Hamzah Fansuri
Seorang sufi terkemuka yang berasal dari Fansur (Barus) Sumatra Utara. Karyanya yang terkenal berjudul Asrarul Arifin fi Bayan ila Suluk wa al-Tauhid, suatu uraian tentang sifat dan inti ilmu kalam menurut teologi Islam.
b) Syamsuddin al-Sumatrani
Beliau adalah murid Hamzah Fansuri. Ia mengarang buku berjudul Mira`atul Mu`minin (cermin orang-orang beriman) pada tahun 1601 M yang merupakan kitab berisi tentang tanya jawab seputar ilmu kalam.
c) Nuruddin al-Raniri
Ia berasal dari India keturunan Arab Hadramaut. Ia tiba di Aceh tahun 1637 M. Ia dikenal sebagai orang yang giat membela ajaran ahlus sunah wal jama`ah. Karyanya di antaranya yaitu al-`Ianah fi Tafkir man Qala bi Khalq al-Qur`an yang merupakan bantuan terhadap pendapat Hamzah Fansuri bahwa Alquran itu makhluk.
d) Abdur Rauf Singkel
Ia mendalami ilmu pengetahuan di Mekah dan Madinah. Ia menghidupkan kembali ajaran tasawuf yang sebelumnya dikembangkan oleh Hamzah Fansuri melalui Tarekah Syatariyah. (Syukur, 2009: 272)
Pemikiran Islam pada abad ke-16 dan ke-17 di Indonesia memang banyk sekali diwarnai oleh pemikiran tasawuf. Pada abad ke-19 M, pemikiran tasawuf mulai tergeser ke pemikiran fiqh seperti tergambar dalam karya-karya ulama sebagai berikut:
a) Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) dari Kalisasak. Karyanya di antaranya yaitu Husunul Mathalib, Asnal Maqasid, dan sebagainya yang umumnya membahas Ushuluddin, Fiqh, dan Tasawuf.
b) Syekh Nawawi al-Bantani yang menulis kurang lebih 26 buku, diantaranya yang terkenal adalah al-Tafsir al-Munir. (Yatim, 2003: 302-303)
c) Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916 M), di antara karyanya yaitu Izharul Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhim bi al-Shadiqin yang berisi tentang tantangan terhadap ajaran tarekat. (Steenbrink, 1984: 139)
d) Ahmad Rifa`i.
Ia dilahirkan tanggal 13 November 1786 M atau 9 Muharram 1200 H di desa Tempuran, Kendal dan meninggal di Ambon pada tanggal 11 Juni 1869 M atau 25 Rabi`ul Awal 1286 H. Di antara karya-karya beliau yaitu Syarih al-Iman yang berkaitan dengan ketauhidan, Riayah al Himmah yang berkitan dengan Ushul Fiqh dan Tasawuf. (Hafied, 2006: 94)

4. Hukum
Keadaan pengadilan agama pada permulaan abad ke-19 belum banyak diketahui. Menurut Van de Velde yang dikutip Karel Steenbrink mengungkapkan bahwa di wilayah Indonesia pengadilan terbagi menjadi tiga:
a. Daerah yang tidak membedakan pengadilan menurut adat dan pengadilan agama, seperti Gayo, Alas, Batak, sebagian Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Minahasa dan Batavia.
b. Daerah di mana hakim agama diangkat sebagai pegawai khusus di bidang ini seperti di Aceh, Jambi, Sambas, Pontianak, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Ternate.
c. Daerah Jawa di mana kepala atau penghulu masjid agung pada mulanya juga ditugaskan pada pengadilan agama. (Steenbrink, 1984: 213)

5. Haji
Kebijakan penguasa dalam ibadah haji ke Mekah tidak konsisten. Mereka melakukan praktik monopoli pelayaran dan perdagangan, serta pelaksanaan ibadah haji dengan mengharuskan menumpang kapal laut dagang Belanda. Namun lebih banyak calon jama`ah haji yang dianggap tidak menguntungkan dilarang menumpang kapal-kapal dagang Belanda walaupun bukan dengan alasan agama, melainkan praktik monopoli Belanda. (Hafied, 2006: 133)
Pengawasan terhadap kegiatan ibadah haji adalah larangan turun ke darat bagi haji Bugis bersama orang Arab yang berkeliling sebagai pedagang dan da`i yang berkunjung di Jawa pada tahun 1664 M dengan alasan mereka (orang Arab) merupakan pengikut Muhammad yang sangat berbahaya dan penggerak kerusuhan. (Hafied, 2006: 133)

6. Bidang Militer
Situasi perang Asia-pasifik pada awal tahun 1943 M mulai berubah. Pukulan Sekutu di daerah Asia-Pasifik mulai dirasakan Jepang. Ekspansi Jepang berhasil dihentikan Sekutu dan beralih ke sikap bertahan. Jepang menyadari bahwa mereka harus memiliki dukungan dari penduduk setiap daerah dalam bentuk dukungan personil tentara guna melawan Sekutu. Beberapa kesatuan yang telah dibentuk tentara Jepang:
a. Barisan Pemuda (Seinendan)
Seinensan dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943 M. Anggotanya terdiri dari para pemuda umur 14 sampai 22 tahun.
b. Barisan Pembantu Polisi (Keibondan)
Anggota Keibondan terdiri dari pemuda berumur 23 sampai 25 tahun. Dibnetuk pada tanggal 29 April 1943 M.
c. Barisan Wanita (Fujinkai)
Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus tahun 1943 M. Anggotanya terdiri dari kaum wanita yang berusia 15 tahun ke atas. (Suparman dkk, 2003: 8)

7. Seni dan arsitektur
Dalam hal seni arsitektur, terutama dalam bangunan sarana peribadatan seperti masjid, mushalla bahkan rumah-rumah di Indonesia banyak yang berseni Islam seperti terdapatnya tulisan Arab (kaligrafi Islam) yang terpajang pada bangunan-bangunan, rumah-rumah penduduk dan sebagainya yang merupakan hiasan yang sangat bagus. Hal ini dikarenakan karena imbas dari hubungan perdagangan dengan pedagang dari daerah timur tengah (Arab). Dalam hal seni bangunan, di antara bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah yaitu masjid Demak, Sendang Duwur Agung Kesepuhan di Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman di Aceh dan lain sebagainya. (Syukur, 2009: 274)

E. Kesimpulan
Bangsa Eropa pada permulaan abad pertengahan (500 M) sudah mengenal hasil bumi dari Dunia Timur. Perjalanan bangsa Eropa ke Dunia Timur ini bermula ketika kekhalifahan Turki Usmani mempersulit kedatangan para pedagang Eropa, sehingga bangsa Eropa mulai melakukan pelayaran samudra. Kedatangan Belanda ke Indonesia terjadi pada tahun 1596 M di Banten. Pada mulanya Belanda datang dengan maksud berdagang, akan tetapi lama-kelamaan mereka berupaya juga untuk menjajah bumi Indonesia. Karena inilah, berbagai perlawanan datang dari rakyat mulai dari perlawanan secara klasik yakni perlawanan yang bersifat kedaerahan hingga perlawanan modern dengan mendirikan berbagai macam organisasi baik organisasi sosial maupun politik.
Setelah tidak kurang tiga setengah abad menjajah bumi Indonesia, akhirnya Belanda dapat diusir oleh Jepang yang membawa misi tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia). Pada masa penjajahan Jepang ini, organisasi Islam mendapat dukungan dari Jepang karena organisasi Islam inilah yang dapat memobilisasi massa, sehingga ketika Jepang membutuhkan tenaga pribumi untuk melawan tentara sekutu (Amerika) mereka dapat menggunakan tentara dari rakyat pribumi.
Dari penjajahan Belanda dan Jepang ini berbagai peradaban telah didapatkan, walaupun sebenarnya ketika melihat kondisi ekonomi rakyat yang sangat menyedihkan akibat penjajahan Belanda dan Jepang dengan berbagai macam kerja paksa dan tanam paksa yang diperintahkan kepada rakyat. Di antara berbagai macam peradaban yang diperoleh yaitu:
1. Birokrasi Keagamaan. Para ulama pada masa penjajahan Belanda ini diberi kedudukan sebagai penasehat di bidang keagamaan oleh berbagai sultan di kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia seperti Syekh Syamsudin Sumatrani yang diangkat oleh Sultan Iskandar Muda.
2. Pendidikan. Pada zaman penjajahan Belanda ini, pendidikan yang dibangun oleh Belanda hanya sebagai pengisi kantor-kantor pemerintahan Belanda seperti sekolah teknik, sekolah pertanian, sekolah kedokteran. Pendidikan yang didirikan pun hanya untuk kaum priyayi saja, sehingga rakyat biasa tidak bisa mendapatkan pendidikan dari Belanda tersebut. Adapun selain pendidikan Belanda, hanya sekedar pendidikan agama yang berada di pesantren dan madrasah yang didirikan oleh para ulama`.
3. Ulama dan peranannya. Para ulama pada zaman penjajahan ini banyak peranannya dalam pembangunan pendidikan bangsa yang sedang mengalami masa penjajahan. Di antara buku-buku yang berhasil dikarang oleh para ulama tersebut yaitu: al-`Ianah fi Tafkir man Qala bi Khalq al-Qur`an, Asrarul Arifin fi Bayan ila Suluk wa al-Tauhid, dan sebagainya.
Dan masih banyak lagi peradaban lagi yang sudah penulis paparkan dalam makalah di atas. Oleh karena itulah, sebagai generasi bangsa Indonesia tidak mengalami masa seperti masa penjajahan, hendaklah kita selalu ingat bahwa peradaban yang kita peroleh sekarang merupakan hasil jerih bangsa Indonesia nenek moyang kita para pahlawan bangsa.

F. Daftar Pustaka
Alfian. 1989. Muhammadiyah (The Political Behavior of a Muslim Modernist Organisation Under Dutch Colonialism). Yogyakarta: UGM Press.
Brenda, Harry J. 1985. Bulan Sabit dan Matahari Terbit (Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang). Cet. 2. Jakarta: Dunia Pustika Jaya.
Darmawan, Bagus. 2005. Sejak Indische Sampai Indonesia. Jakarta: Kompas Press.
Hafied, Ismawati. Desember 2006. Continuity and Change (Tradisi Pemikiran Islam di Jawa Abad ke-19 sampai ke-20). Cet. 1. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.
Lapidus, Ira M. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam. Terj. Ghufron A. Mas`adi. Bagian ke tiga. Cet. 1. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Majelis Ulama` Indonesia. 1991. Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: t.tp.
Muthallib, Abdul, dkk. 1995. Materi Pokok Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.
Noer, Deliar. Desember 1996. Gerakan Modern Islam di Indonesia Tahun 1900-1942. Cet. 8. Jakarta: LP3ES.
Ricklef. September 1998. Sejarah Indonesia Modern. Cet. 6. Yogyakarta: UGM Press.
Sagimun. 1960. Pahlawan Diponegoro Berjuang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sewang, Ahmad M. September 2003. Islamisasi Kerajaan Gowa Abad ke-16 sampai ke-17. Cet. 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suparman dkk. 2003. Sejarah Nasional dan Umum. Cet. 2. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Streenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Cet. 1. Jakarta: Bulan Bintang.
Syukur, Fatah. November 2009. Sejarah Peradaban Islam. Cet. 1. Semarang: Pustaka Riski Putra.
Thohir, Mudjahirin. Februari 2006. Orang Islam Jawa Pesisiean. Cet. 1. Semarang: Fasindo Press.
Ya`qub, Ismail. 1984. Sejarah Islam Indonesia. Jakarta: Wijaya.
Yatim, Badri. Juni 2003. Sejarah Peradaban Islam. Cet. 14. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Zahroh, Ahmad. Oktober 2004. Tradisi Intelektual NU (Lajnah Bahtsul Masa`il 1926-1999). Cet. 1. Yogyakarta: LKIS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s