JANJI DAN ANCAMAN ALLAH, IMAN, DAN HIDAYAH DALAM TAFSIR AL-MISHBAH, AL-MANAR DAN AL-MARAGHI

Oleh : Amirul Bakhri

A. Pendahuluan
Alquran sebagai kitab suci agama Islam merupakan salah satu sumber bagi umat Islam dalam menapaki kehidupan ini. Sebagai sumber pedoman bagi kehidupan umat, Alquran membutuhkan penjelasan dan penafsiran sehingga Alquran tidak hanya sebagai kitab suci yang tanpa makna. Akan tetapi Alquran bisa menjadi sebuah kitab suci yang membumi dan bermanfaat dalam kehidupan. Berbagai penafsiran telah dilakukan oleh berbagai ulama tafsir baik dari ulama salaf maupun ulama kontemporer. Di antara ulama kontemporer yang berupaya menafsirkan Alquran agar membumi yaitu Rasyid Ridha, al-Maraghi dan Quraish Shihab.
Dalam makalah ini, penulis akan berupaya memaparkan beberapa tafsir Alquran yang terdapat dalam ketiga tafsir yang dihasilkan ketiga mufassir tersebut di antaranya berkaitan dengan janji dan ancaman Allah, iman dan hidayah. Ketiga tema ini berkaitan dengan masalah aqidah seorang muslim. Walaupun demikian, ketiga mufassir tersebut menafsirkan ketiga tema tadi dengan penafsiran yang sangat membumi, atau dalam artian mudah diimplementasikan orang umat Islam dalam kehidupan masyarakat.

B. Tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab
1. Biografi Mufassir
Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada tanggal 16 Februari 1944. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil nyantri di pondok pesantren Darul Hadis al-Fiqihiyyah. Pada tahun 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada tahun 1967, dia meraih gelar Lc (SI) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang tafsir al-Qur’an dengan tesis yang berjudul Al-I’jaz al-Tasyri’iy al-Qur’an al-Karim. Pada tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada tahun 1982, dengan Disertasi berjudul Nazhm al-Durar Li al-Biqa’I, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar Doktor dalam ilmu-ilmu al-Qur’an dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (Mumtaz Ma’a Martabat al-Syaraf Al-‘Ula). Dengan prestasinya itu, dia tercatat sebagai orang pertama di Asia Tenggara yang meraih gelar tersebut. Karir Yang Ditapaki Pengabdian dibidang pendidikan mengantarkannya menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1992-1998. kiprahnya tidak terbatas dilapangan Akademis, beliau juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: ketua Majelis Ulama Indonesia (pusat), 1985-1998, anggota Lajnah Pentashih al-Qur’an Departemen Agama, sejak 1989, anggota Pertimbangan Pendidikan Nasional, sejak 1989, anggota MPR RI 1982-1987 dan 1999-2002 beliau diangkat sebagai Duta Besar RI Republik Arab Mesir, yang berkedudukan di Kairo. Pengabdian utamanya sekarang adalah Dosen (guru besar) Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Direktur Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta.

2. Penafsiran Janji dan Ancaman Allah Dalam Surat al-Nisa` Ayat 173
•           •                
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah (QS. Al-Nisa` ayat 173).

Dalam ayat sebelumnya (ayat 172) menegaskan bahwa kelak di hari kemudian semua dikumpulkan oleh Allah baik yang enggan dan sombong maupun yang tidak enggan, suka atau tidak suka maka di sini akan dikemukakan sanksi dan ganjaran yang menanti masing-masing. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shaleh, sebagai bukti ketidak-engganan mereka menjadi hamba Allah maka Dia yakni Allah akan menyempurnakan pahala mereka di akhirat setelah sebagian dari pahala dan ganjaran itu telah mereka terima sebagai panjar di dunia ini, bahkan bukan hanya ganjaran yang setimpal tetapi Allah juga akan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya yang tidak terhitung itu. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, untuk menjadi hamba Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya, maka Dia yakni Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, akibat kedurhakaan mereka dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka pelindung yang dapat memenuhi panggilan mereka dan tidak juga penolong yang dapat meringankan siksa mereka selain dari Allah yang mereka enggan taati itu.
Kata ( يوفيهم ) yuwaffiihim pada mulanya berarti memberikan sesuatu dengan sempurna, dalam arti melebihi kadar yang seharusnya. Menurut Thâhir bin `Âsyûr, masyarakat ketika turunnya Alquran, mendapatkan kesulitan dalam menetapkan ukuran yang adil karena kurangnya timbangan di kalangan mereka. Dari sini biasanya untuk memberi rasa puas menyangkut kesempurnaan timbangan, mereka melebihkan dari kadar yang dianggap adil dan seimbang, sehingga kata yuwaffiihim pada akhirnya mereka gunakan dalam arti timbangan yang seimbang. Karena itu pula ayat ini menambahkan kalimat akan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Dalam kehidupan dunia, bahkan di alam Barzakh setelah kematian dan sebelum kebangkitan dari kubur, seseorang belum menerima secara sempurna akibat baik atau akibat buruk dari amal-amalnya. Penyempurnaan ganjaran dan sanksi baru akan terjadi di akhirat nanti. Dengan demikian, menurut Quraish Shihab bahwa janji dan ancaman Allah terhadap umatnya baik yang tunduk kepadaNya maupun yang enggan kepadaNya akan diberikan di hari akherat kelak.

3. Iman Yang Bertambah dan Berkurang Dalam Surat al-Imran ayat 172
             •   
Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar (QS. Al-Imran ayat 172).

Menurut Quraish Shihab, ayat ini menguraikan peristiwa yang terjadi setelah usai perang Uhud dan kembalinya pasukan kaum muslimin ke Mekkah. Dengan demikian, menempatkan uraian ini setelah selesainya kisah perang Uhud, amat pada tempatnya. Di sisi lain, menurut Quraish Shihab, ada kebiasaan Alquran dalam penempatan ayat-ayatnya yaitu menyebut sesuatu kemudian lawannya atau padanannya seperti menyebut surga lalu neraka, orang mukmin kemudian orang kafir, harta, lalu jiwa dan lain-lain. Pola ini ditemukan juga dalam ayat ini. Kalau ayat sebelum ini mengecam orang-orang munafik yang enggan memperkenankan ajakan Rasul, bahkan kembali dari medan perang tanpa berperang dan tanpa luka sedikitpun, maka di sini pada ayat ini disebutkan lawan dari sikap tersebut yaitu orang-orang yang menaati dengan sepenuh hati perintah Allah dan Rasul yang mengajak mereka kembali menghadapi kaum musyrikin yang mengakibatkan gugurnya sebagian dari rekan-rekan mereka dalam perang Uhud dan sesudah mereka mendapat luka berat dalam peperangan tersebut. Mereka itulah orang-orang yang berbuat ihsan dan bagi orang-orang yang berbuat ihsan lagi yang bertakwa ada pahala yang besar.
Quraish Shihab berpendapat bahwa para Ulama berbeda pendapat tentang peristiwa yang ditunjuk oleh ayat ini. Salah satu pendapat adalah bahwa ketika kaum muslimin telah kembali ke Madinah setelah perang Uhud, beliau mendengar bahwa berita kaum musyrikin bersiap untuk melanjutkan serangan mereka, maka beliau mengumumkan pada hari Minggu sehari setelah perang Uhud, bahwa besuk adalah lanjutan perang Uhud dan mereka yang terlibat dalam perang Uhud itu yang boleh ikut menghadapi musuh. Walau dengan luka yang parah, mereka semua berduyun-duyun memenuhi panggilan itu. Mereka semua menuju ke satu tempat yang bernama Hamra` al-Asad sekitar 8 mil dari kota Madinah. Di sana mereka menanti, tetapi pasukan Abu Sufyan yang memimpin pasukan kaum musyrikin ketika itu enggan melanjutkan rencananya karena Allah telah mencampakkan ke dalam hati mereka rasa takut. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini dan ayat berikut berbicara tentang perang Badar al-Sughra yang juga terjadi setelah perang Uhud. Kisahnya bermula ketika Abu Sufyan bermaksud meninggalkan kota Mekah setelah selesainya perang Uhud. Ketika itu dia menantang dengan berkata: “Mari kita bertemu kembali pada musim yang akan datang di Badar, di sana kita bertempur”. Mendengar tantangan ini Nabi Muhammad saw memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menjawab: “Pertarungan antara kami dan kamu akan terjadi di sana insya Allah”. Setelah tiba masa yang disepakati, Abu Sufyan dan pasukannya bermarkas di satu tempat yang bernama مر الظهران (mar al-dhahran), tetapi hatinya gundah dan dia merasa khawatir. Ketika itu, dia bertemu dengan Nu`aim bin Mas`ud yang baru saja selesai melaksanakan umrah dan memintanya agar menakut-nakuti kaum muslimin. Di Madinah, dia menemukan kaum muslimin sedang bersiap-siap lalu dia melaksanakan apa yang diminta Abu Sufyan. Rupanya sementara kaum muslimin hampir saja terpengaruh dengan perang urat syaraf itu, maka Nabi saw dengan penuh tekad bersabda: “Demi Allah, aku akan berangkat menuju ke tempat yang telah disepakati walau aku seorang diri”, dan memang beliau bersama pasukannya berangkat ke Badar al-Sughra tetapi tidak menemui Abu Sufyan dan pasukannya karena mereka telah meninggalkan mar al-Dhahran kembali ke Mekah.
Kata استجابوا (istajabu) yang terjemahan di atas menaati dengan sepenuh hati menurut Quraish Shihab bukan sekedar menaati, karena huruf sin dan ta` yang ada pada kata tersebut bukan berarti meminta, tetapi bertujuan menguatkan. Begitu juga kata منهم (minhum) pada firmanNya للذين احسنوا منهم (lilladzina ahsanu minhum) tidak tepat diterjemahkan dari mereka sebagaimana dilakukan sementara penerjemah, karena mereka semua pada hakikatnya telah berbuat ihsan. Kata منهم (minhum) seperti tulis pakar bahasa dan tafsir al-Zamakhsari adalah li al-tabyin, yakni penjelasan tentang siapa yang akan meraih maghfirah dan pahala itu. Memang ada juga yang memahami dalam arti sebagian seperti misalnya Thaba`thaba`i, dan ulama-ulama yang berpendapat bahwa bukan semua sahabat Nabi saw memiliki sifat `adalah atau kejujuran yang menjadikan pemberitaan mereka langsung dapat diterima tanpa seleksi. Menurut mereka, tidak semua yang mengikuti Nabi saw baik dalam perang Uhud maupun sesudahnya, benar-benar sepenuh hati berjuang fi sabilillah. Prasangka baik terhadap sahabat Nabi saw menjadikan penulis menolak pendapat ini, walaupun Quraish Shihab mendukung pendapat tentang perlu menyeleksi pemberitaan para sahabat karena boleh jadi ada di antara mereka yang lupa keliru, salah paham dan tentu saja ada yang lebih pandai dan kuat hafalannya dari yang lain. Seleksi itu perlu dilakukan tapi bukan atas dasar kecurigaan terhadap mereka.
Dengan demikian, menurut Quraish Shihab, iman seorang mukmin itu terletak ketika dia menaati dengan sepenuh hati bukan hanya sekedar taat. Hal ini digambarkan ketika terjadi usaha yang dilakukan oleh orang musyrik untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak datang ke medan perang, akan tetapi Nabi saw tetap datang menuju ke tempat perang yang telah ditentukan. Karena itu, bagi mereka yang taat dengan sepenuh hati niscaya akan datang dan ikut berperang bersama Nabi saw menuju ke medan perang karena melaksanakan perintah Allah dan Rasul dengan sepenuh hati. Bagi mereka akan menambah iman mereka yang taat dengan sepenuh hati.

4. Hidayah Allah Surat Ali Imran ayat 86
        •           
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka Telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun Telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran ayat 86)

Menurut Quraish Shihab, setelah menjelaskan kerugian yang akan menimpa orang-orang yang menyimpang dari fitrah kesuciannya, membangkang ketetapan-ketetapan Allah serta tidak patuh kepadaNya, bahkan mencari selainNya, setelah sekian banyak bukti-bukti yang dipaparkan, maka ayat ini menjelaskan kewajaran mereka mendapat kerugian itu. Menurut Quraish Shihab sungguh mengherankan sebagaimana dipahami dari awal ayat ini yang menggunakan kata كيف (kaifa / bagaimana), siapa yang keberatan dengan sanksi itu dan berkata: “Mengapa Allah menyiksa mereka di akhirat serta tidak memberi mereka kemampuan untuk dapat melaksanakan tuntunanNya dengan baik”. Keberatan atau pertanyaan seperti itu menurut Quraish Shihab mengherankan, karena bagaimana Allah akan memberi petunjuk yakni kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan petunjuk-petunjuk kepada suatu kaum yang kafir enggan taat sesudah mereka beriman dengan adanya fitrah kesucian yang dianugerahkan Allah kepada setiap manusia, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu Muhammad benar-benar rasul dengan bukti-bukti yang terdapat dalam diri beliau serta bukti-bukti lain yang ada bersama beliau khususnya Alquran dan lagi selain itu keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka melalui para Nabi terdahulu dan termaktub pula dalam kitab Taurat dan Injil. Menurut Quraish Shihab, bagaimana mungkin Allah memberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan tuntunanNya kepada mereka sedang mereka sendiri tidak mau patuh tidak pula ingin memanfaatkan petunjuk-petunjuk yakni potensi dan informasi yang diberikan Allah itu. Allah tidak memaksa manusia melaksanakan petunjukNya karena Allah tidak memberi petunjuk yakni kekuatan dan kemampuanuntuk melaksanakan petunujuk-petunjuk kepada orang-orang zalim yakni yang benar-benar telah mendarah daging dalam dirinya kezaliman.
Menurut Quraish Shihab, هداية (hidayah) dalam berbagai bentuknya mempunyai dua makna. Pertama, penyampaian informasi sesuai dengan harapan atau keadaan siapa yang diberi informasi itu. Jika anda akan ke satu alamat tertentu dan anda tidak mengetahui jalannya, maka siapa yang memberi tahu arah yang hendak anda tuju atau cara untuk mencapai alamat itu, maka yang bersangkutan telah memberi anda petunjuk. Jika anda mengetahui bahwa jalan yang ditempuh seseorang akan membahayakannya, maka anda wajib menyampaikan kepadanya bahwa jalan yang ditelusuri adalah jalan yang keliru, buntu atau berbahaya. Apabila anda mengetahui jalan yang benar, maka anda dituntut untuk memberitahu kepadanya jalan itu serta cara menggapainya. Dengan demikian, makna pertama dari kata hidayah. Selanjutnya, jika anda lebih berbaik hati lagi, maka anda tidak hanya menunjukinya jalan yang benar dan cara yang tepat, tetapi juga memberi kemampuan untuk menelusuri jalan itu, bahkan sampai mengantarkannya sendiri dengan kendaraan anda hingga dia sampai ke jalan yang menjadikan dia tidak akan tersesat dan pasti sampai ke arah yang dituju. Menurut Quraish Shihab, Inilah arti hidayah yang kedua. Dari segi penggunaan bahasa Alquran, biasanya makna pertama ditunjuk dengan kata هداية (hidayah) tetapi disertai dengan idiom الى (ila) sedangkan هداية (hidayah) dalam makna kedua biasanya tanpa menggunakan idiom. Ketika kita berkata اهدنا الصراط المستقيم (ihdina al-shiraa al-mustaqim), menurut Quraish Shihab ini berarti bahwa kita mohon bukan saja sekedar petunjuk dalam arti informasi tentang jalan yang lurus lagi luas, akan tetapi juga kiranya Allah memberi kita kemampuan, bahkan mengantar kita masuk ke jalan luas itu.
Menurut Quraish Shihab, mengapa kata جاء dalam kalimat وجاءهم البينات (wa ja`ahum al-bayyinat) berbentuk mudzakar / maskulin padahal al-bayyinat yang merupakan subjek atau pelaku adalah mu`annats / feminim. Bukankah kaidah bahasa mengharuskan penyesuaian kata mudzakkar dan muannats atau tunggal, dua dan jamak dengan pelaku. Menurut Quraish Shihab yang mengutip pendapat al-Biqai yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa sifat mudzakkar memberi kesan kekuatan dan ketegaran, berbeda dengan muannats / feminim yang menggambarkan kelemah-lembutan. Ayat ini ingin mengisyaratkan bahwa al-bayyinat itu yakni keterangan dan bukti-bukti itu sangat kuat bukan sesuatu yang lemah.
Dengan demikian hidayah menurut Quraish Shihab bukanlah semata-mata pemberian dari Allah. Akan tetapi jika ingin memperoleh hidayah dari Allah adalah dengan mengikuti jalan hidayah tersebut secaya sempurna. Begitu juga jika ingin menunjukkan seseorang menuju hidayah Allah, maka kita tidak hanya menunjukkan hidayah Allah saja akan tetapi kita juga harus menunjukkan dan mengajak bersama-sama berjalan menuju hidayah Allah dengan sebenar-benarnya. Dengan demikian akan tercapai tujuan kita yakni mendapatkan hidayah dari Allah swt.

C. Tafsir al-Manar Karya Muhammad Rasyid Ridha
1. Biografi Mufassir
Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun, suatu kampung sekitar 4 km dari Tripoli, Lebanon, pada 27 Jumadil ‘Ula 1282 H. Dia adalah bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Husain, Putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Putri Rasulullah saw. Disamping orang tuanya sendiri, Rasyid Ridha belajar juga kepada sekian banyak guru. Di masa kecil ia belajar di taman-taman pendidikan di kampungnya yang ketika itu dinamai al-Kuttab, di sana diajarkan membaca al-Qur’an, menulis, dan dasar-dasar berhitung. Setelah tamat, Rasyid Ridha dikirim oleh orang tuanya ke Tripoli, Lebanon untuk belajar di Madrasah Ibtidaiyah yang mengajarkan Nahwu, Sharaf, Aqidah, Fiqh, Berhitung, dan Ilmu Bumi. Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah tersebut adalah bahasa Turki, mengingat Lebanon pada saat itu berada di bawah kekuasaan Ustmaniyah. Mereka belajar di sana dipersiapkan untuk menjadi pegawai-pegawai pemerintah. Karena itu, Rasyid Ridha tidak tertarik untuk belajar di sana. Setahun kemudian, yatu pada tahun 1299 H/1822 M, ia pindah ke Sekolah Islam Negri, yang merupakan sekolah terbaik pada saat itu dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, disamping diajarkan pula bahasa Turki dan Prancis. Sekolah ini didirikan oleh ulama besar Syam ketika itu, yakni Syaikh Husain al-Jisr. Syaikh inilah yang kelak mempunyai andil sangat besar terhadap perkembangan pemikiran Rasyid Ridha, karena hubungan antara keduanya tidak terhenti walaupun kemudian sekolah itu ditutup oleh pemerintah Turki. Syaikh Husan al-Jisr juga yang memberi kesempatan kepada Rasyid Ridha untuk menulis di beberapa surat kabar Tripoli, kesempatan itu kelak mengantarnya memimpin majalah al-Manar.
Pada saat Rasyid Ridha memulai perjuangan di kampung halamannya, baik melalui pengajian-pengajian untuk kaumpria dan wanita maupun tulisan-tulisannya di media masa, Muhammad Abduh memimpin pula gerakan pembaruan di Mesir. Majalah al-‘Urwah al-Wutsqa yang diterbitkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh di Paris, yang tersebar ke seluruh dunia Islam, ikut dibaca pula oleh Rasyid Ridha dan memberi pengaruh sangat besar terhadap jiwanya, sehingga mengubah sikap pemuda yang berjiwa sufi ini menjadi pemuda yang penuh semangat.Kekagumannya kepada Muhammad Abduh bertambah mendalam sejak Abduh kembali ke Beirut untuk kedua kalinya pada 1885 M dan mengajar sambil mengarang. Pertemuan antar keduanya terjadi ketika Syaikh Muhammad Abduh berkunjung ke Tripoli untuk menemui temannya, Syaikh Abdullah al-Barakah, yang mengajar di sekolah al-Khanutiyah. Berkat inilah mereka berdua bertemu untuk pertama kali. Pertemuan kedua terjadi pada tahun 1312 H/1894 M, juga di Tripoli. Kali ini Rasyid Ridha menemani Abduh sepanjang hari, sehingga banyak kesempatan bagi Rasyid Ridha untuk menanyakan sesuatu yang masih kabur baginya. Setelah lima tahun dari pertemuan kedua, maka baru pada 23 Rajab 1315 H / 18 Januari 1898 M terjadi pertemuan ketiga di Kairo, Mesir. Sebulan setelah pertemuan ketiga ini, Rasyid Ridha mengemukakan keinginannya untuk menerbitkan suatu surat kabar yang mengolah masalah-masalah sosial, budaya dan agama. Pada mulanya Abduh tidak menyetujui gagasan ini, karena pada saat itu di Mesir sudah cukup banyak media massa, apalagi persoalan yang akan diolah kurang menarik perhatian umum. Namun Rasyid Ridha menyatakan tekadnya, walaupun harus menanggung kerugian selama satu sampai dua tahun setelah penerbitan itu. Akhirnya Abduh merestui dan memeilih nama al-Manar dari sekian banyak nama yang diusulkan Rasyid Ridha. Akhirnya al-Manar melangsungkan launching pertamanya pada 22 Syawwal 1315 H / 17 Maret 1898 M berupa Mingguan sebanyak delapan halaman dan mendapat sambutan hangat, bahkan bukan hanya di Mesir atau Negara-negara Arab sekitarnya saja, tetapi sampai ke Eropa bahkan ke Indonesia.
Setelah suksesnya penerbitan majalah al-Manar, kemudian Rasyid Ridha menghimpun dan menambah penjelasan seperlunya dalam sebuah kitab tafsir yang juga diberi nama al-Manar, kitab tafsir ini mengandung pembaruan dan sesuai denga perkembangan zaman. Ia berusaha menghubungkan ajaran-ajaran al-Qur’an dengan kehidupan masyarakat, disamping membuktikan bahwa Islam adalah agama yang memiliki sifat universal, umum, abadi dan cocok bagi segala keadaan, waktu dan tempat. Dalam perjalanan pulang dari kota suez di Mesir, setelah mengantar pangeran Sa’ud al-Faisal, mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan dan ia menderita gegar otak. Selama dalam perjalanan, Rasyid Ridha hanya membaca al-Qur’an, walau ia telah sekian kali muntah. Setelah memperbaiki posisinya, tanpa disadari oleh orang-orang yang menyertainya, tokoh ini wafat dengan wajah yang sangat cerah dan disertai senyuman, pada 23 Jumadil ‘Ula 1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935 M.

2. Penafsiran Janji dan Ancaman Allah Dalam Surat al-Nisa` Ayat 173
•           •                
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah (QS. Al-Nisa` ayat 173)

Menurut Rasyid Ridha, ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah akan memberikan pahala kepada mereka (yang beriman dan beramal baik) secara utuh dan sempurna atas keimanan dan perbuatan baik mereka sebagaimana yang seharusnya menjadi hak mereka. Sesuai dengan sunnatullah, mereka akan memperoleh pahala tersebut sesuai dengan bobot pengaruh keimanan dan amal mereka itu terhadap diri mereka. Allah juga akan memberikan tambahan kepada mereka sebagian dari karunia dan kemurahanNya dari 10 kali lipat sampai 100 kali lipat bahkan sampai kepada yang Dia kehendaki. Sebaliknya kata Ridha, Allah juga akan menyiksa mereka (yang enggan menyembah Allah dan takabur) dengan siksaan yang pedih sebagaimana yang seharusnya mereka terima dan tidak bertentangan dengan sunahNYa. Namun, siksaan tersebut tidak melebihi dari pada siksaan yang semestinya mereka terima. Sebab, rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya. Tegasnya, Allah akan membalas orang yang berbuat baik dengan balasan yang setimpal ditambah bonus dan menghukum orang yang berbuat jahat hanya dengan balasan yang setimpal.
Dengan demikian, menurut Rasyid Ridha janji Allah diberikan kepada siapa saja yang beramal shalih. Imbalan yang diberikan Allah ini bisa berlipat-lipat sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Adapun mengenai ancaman Allah, Rasyid Ridha mengatakan bahwa ancaman atau siksaan yang diberikan Allah sesuai dengan amalnya atau setimpal dengan amal jelek yang diperbuatnya.

3. Iman Yang Bertambah dan Berkurang Dalam Surat al-Imran ayat 172
             •   
Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar (QS. Al-Imran ayat 172)

Rasyid Ridha menjelaskan bahwa para pejuang muslim telah ditakut-takuti oleh sementara orang munafik bahwa pihak musuh sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang kaum muslim. Namun informasi yang dipublikasikan oleh orang-orang munafik itu tidak menciutkan dan menggetarkan hati mereka. Bahkan sebaliknya, informasi tersebut telah membuat keimanan mereka semakin bertambah dan semangat juang mereka tinggi untuk menghadapi musuh. Menurut Rasyid Ridha, bertambahnya iman tergantung pada bertambahnya masalah yang diimani oleh seorang mukmin. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah ditegaskan: Iman itu 78 cabang, yang tertinggi adalah mengakui bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan.
Masalah-masalah yang biasa disebut syu`ab al-iman (cabang-cabang iman) itu tidak akan dapat dilaksanakan semuanya secara serentak tetapi dapat dilaksanakan secara bertahap. Setiap kali orang beriman dapat melaksanakan suatu masalah atau cabang iman, berarti imannya semakin bertambah. Bertambahnya iman tersebut tidak hanya terjadi pada orang kafir yang memeluk Islam, tetapi juga terjadi pada orang yang lahir dari keluarga beriman. Masalah-masalah yang dapat menambah keimanan seseorang itu tidak hanya melalui pengenalan nash tetapi juga melalui pengenalan terhadap sunnatullah yang berlaku pada makhlukNya. Bukankah Alquran sudah mendorong kita untuk memikirkan dan meneliti alam semesta ini agar kita dapat menambah iman kita, mengambil pelajaran dan manfaatnya. Karena itu, memperoleh petunjuk yang berkenaan dengan rahasia alam dan sunnatullah yang berlaku pada makhlukNya melalui kajian dan penelitian, maka ilmu kita tentang Allah semakin bertambah, yang tentunya iman kita kepadaNya juga ikut bertambah.
Dengan demikian, iman menurut Rasyid Ridha dapat bertambah tergantung pada bertambahnya masalah yang diimani oleh seorang mukmin. Selain itu, masalah yang dapat menambah keimanan seseorang itu tidak hanya melalui pengenalan nash tetapi juga melalui pengenalan terhadap sunnatullah yang berlaku pada makhlukNya. Semakin seseorang mengimani masalah yang terjadi pada sunnatullah, semakin bertambah juga keimanan seseorang tersebut.

4. Hidayah Allah Surat Ali Imran ayat 86
        •           
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka Telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun Telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran ayat 86)

Menurut Rasyid Ridha, ayat yang menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang kafir dan zalim ini sudah sesuai dengan sunahNya pada manusia. Sunnatullah dalam memberikan petunjuk kepada manusia adalah di samping mengemukakan berbagai argumen dan keterangan, juga menjauhkan berbagai kendala sehingga mereka dapat melihat dan melacaknya dengan cara yang dapat memberikan hasil yang diharapkan. Itulah sebabnya mereka itu pada mulanya beriman, namun karena takabur dan benci kepada Rasulullah, mereka kemudian menjadi orang yang kufur terhadap Allah dan RasulNya. Dengan kata lain, Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang kafir itu mengingat sebelumnya mereka sudah beriman kepada Allah dan mengakui kebenaran RasulNya serta berbagai argumen dan keterangan yang jelas mana yang benar dan yang salah, mana yang membimbing dan mana yang menyesatkan telah pula sampai kepada mereka. Namun, semuanya itu tidak ada gunanya untuk mereka lantaran rasa permusuhan, kedengkian dan rasa benar sendiri telah menguasai diri mereka. Dengan demikian mereka telah melakukan kezaliman terhadap diri mereka sendiri. Padahal sudah menjadi sunnatullah bahwa orang zalim tidak akan pernah mendapat petunjuk Allah. Dengan demikian, menurut Rasyid Ridha Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang kafir dan zalim sesuai dengan sunahNya pada manusia. Karena itu, hidayah menurut Rasyid Ridha harus sesuai dengan sunahNya dan orang tersebut tidaklah takabur kepadaNya, niscaya orang tersebut akan beroleh hidayah dariNya.

D. Tafsir al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa al-Maraghi
1. Biografi Mufassir
Nama lengkapnya adalah Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi. Kadang-kadang nama tersebut diperpanjang dengan kata Beik, sehingga menjadi Ahmad Musthafa al-Maraghi Beik. Ia berasal dari keluarga yang sangat tekun dalam mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan dan peradilan secara turun-temurun, sehingga keluarga mereka dikenal sebagai keluarga hakim. Beliau lahir di kota Marāghah, sebuah kota kabupaten di tepi barat sungai Nil sekitar 70 Km. di sebelah selatan kota Kairo, pada tahun 1300 H./1883 M. Nampaknya, kota kelahirannya inilah yang melekat dan menjadi nisbah bagi dirinya, bukan keluarganya. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa nama al-Maraghi tidak mutlak menunjukkan kepada dirinya. Ia wafat pada usia 69 tahun (1371 H./1952 M.) di Hilwan, sebuah kota kecil di sebelah selatan kota Kairo.
Ayahnya mempunyai 8 orang anak. Lima di antaranya laki-laki, yaitu Muhammad Musthafa al-Maraghi, Ahmad Musthafa al-Maraghi, Abdul Aziz al-Maraghi, Abdullah Musthafa al-Maraghi, dan Abdul Wafa’ Mustafa al-Maraghi. Hal ini perlu dijelaskan sebab seringkali terjadi salah kaprah tentang siapa sebenarnya penulis tafsir al-Maraghi di antara kelima putra Mustahafa itu. Hal yang sering membingungkan karena Musthafa al-Maraghi juga terkenal sebagai seorang mufassir. Memang benar bahwa sebagai mufassir Muhammad Musthafa juga melahirkan sejumlah karya tafsir, hanya saja ia tidak berhasil menafsirkan al-Qur’an secara menyeluruh. Ia hanya berhasil menulis tafsir beberapa bagian al-Qur’an, seperti surat al-Hujurat dan lain-lain. Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud di sini adalah Ahmad Musthafa al-Maraghi, adik kandung dari Muhammad Musthafa al-Maraghi.
Masa kanak-kanaknya dilalui dalam lingkungan keluarga. Pendidikan dasarnya ia tempuh pada sebuah Madrasah di desanya, tempat di mana ia mempelajari al-Qur’an, memperbaiki bacaan, dan menghafal ayat-ayatnya, sehingga sebelum mencapai umur yang ke-13 tahun ia sudah menghafal seluruh ayat al-Qur’an. Di samping itu, ia juga mempelajari ilmu tajwid dan dasa-dasar ilmu agama yang lain. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1314 H./1897 M, al-Maraghi melanjutkan pendidikannya ke Universitas al-Azhar di Kairo atas persetujuan orang tuanya, di samping mengikuti kuliah di Universitas Darul ‘Ulum Kairo. Dengan kesibukannya belajar di dua perguruan tinggi ini, al-Maraghi dapat disebut sebagai orang yang beruntung, sebab keduanya berhasil diselesaikan pada saat yang sama, tahun 1909 M.
Pada perguruan tinggi tersebut, al-Maraghi mendapatkan bimbingan langsung dari tokoh-tokoh ternama dan ahli di bidangnya masing-masing pada waktu itu, seperti: Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait al-Muthi’i, Ahmad Rifa’i al-Fayumi, dan lain-lain. Merekalah antara lain yang menjadi narasumber bagi al-Maraghi, sehingga ia tumbuh menjadi sosok intelektual muslim yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.
Setelah menamatkan pendidikannya di Universitas al-Azhar dan Darul ‘Ulum, ia terjun ke masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pengajaran. Beliau mengabdi sebagai guru di beberapa madrasah dengan mengajarkan beberapa cabang ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya. Beberapa tahun kemudian, ia diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu’allimin di Fayum, sebuah kota setingkat kabupaten yang terletak 300 Km. sebelah barat daya kota Kairo. Dan, pada tahun 1916, ia diminta sebagai Dosen Utusan untuk mengajar di Fakultas Filial Universitas al-Azhar di Qurthum, Sudan, selama empat tahun.
Pada tahun 1920, setelah tugasnya di Sudan berakhir, ia kembali ke Mesir dan langsung diangkat sebagai dosen Bahasa Arab di Universitas Darul ‘Ulum serta dosen Ilmu Balaghah dan Kebudayaan pada Fakultas Bahasa Arab di Universitas al-Azhar. Pada rentang waktu yang sama, al-Maraghi juga mengajar di beberapa madrasah, di antaranya Ma’had Tarbiyah Mu’allimah, dan dipercaya memimpin Madrasah Utsman Basya di Kairo. Karena jasanya di salah satu madrasah tersebut, al-Maraghi dianugerahi penghargaan oleh raja Mesir, Faruq, pada tahun 1361 H. Dalam menjalankan tugas-tugasnya di Mesir, al-Maraghi tinggal di daerah Hilwan, sebuah kota satelit yang terletak sekitar 25 Km. sebelah selatan kota Kairo. Bahkan, ia menetap di sana sampai akhir hayatnya. Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota tersebut. Al-Maraghi adalah salah seorang tokoh terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia Islam. Dalam usianya yang terbentang selama 71 tahun, ia telah melakukan banyak hal. Selain mengajar di beberapa lembaga pendidikan yang telah disebutkan, ia juga memberikan sumbangsih yang besar terhadap umat ini lewat beragam karyanya. Salah satu di antaranya adalah Tafsīr al-Marāghi, sebuah kitab tafsir yang beredar di seluruh dunia Islam sampai saat ini. Adapun karya-karyanya yang lain, yaitu:
a. Al-Hisbat fi al-Islâm
b. Al-Wajîz fi Ushûl al-Fiqh
c. ‘Ulûm al-Balâghah
d. Muqaddimat at-Tafsîr
e. Buhûts wa Ārâ’ fi Funûn al-Balâghah
f. Ad-Diyânat wa al-Akhlâq dan lain sebagainya.

2. Penafsiran Janji dan Ancaman Allah Dalam Surat al-Nisa` Ayat 173
•           •                
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah (QS. Al-Nisa` ayat 173)

Menurut al-Maraghi, orang-orang yang beramal shalih akan diberikan pahala atau imbalan yang sangat berlipat ganda yang merupakan balasan dari iman mereka kepada Allah dan juga berdasarkan amal perbuatan mereka yang sesuai dengan sunnahNya yang disesuaikan dengan kadar keimanan dan usaha mereka dalam meraih pahala tersebut dan juga berdasarkan kebersihan diri mereka dari perbuatan jelek dan nista. Adapun orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih sesuai dengan sunnahNya. Akan tetapi siksaan yang mereka terima sesuai dengan perbuatan mereka, siksaan mereka tidak dilipatgandakan. Mereka sendiri tidak akan mendapatkan seorang penolongpun kecuali dari Allah sendiri yang merupakan penolong dalam setiap permasalahan mereka. Dan pada hari akhir nanti, mereka tidak akan mendapatkan penolong yang akan menolong mereka dari azdab yang mereka derita. Dengan demikian, al-Maraghi menganggap bahwa janji Allah akan diberikan kepada siapa yang beriman kepadaNya dan beramal shalih. Imbalan yang akan diberikan kepada mereka yang beriman kepadaNya dan beramal shalih akan diberikan dengan imbalan yang berlipatganda. Akan tetapi bagi mereka yang enggan dan menyombongkan diri, maka mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih sesuai dengan sunnahNya. Akan tetapi siksaan yang mereka (yang enggan dan menyombongkan diri) sesuai dengan kadar perbuatan yang mereka lakukan. Inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia.

3. Iman Yang Bertambah dan Berkurang Dalam Surat al-Imran ayat 172
             •   
Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar (QS. Al-Imran ayat 172)

Menurut al-Maraghi, orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang menjawab atau memenuhi perintah dakwahNya, mengerjakan amal shalih dengan sepenuh hati (ikhlas), dan bertakwa terhadap musibah yang terjadi pada dirinya baik susah maupun duka, niscaya mereka ini akan mendapat pahala atau imbalan yang besar dari Allah atas apa yang telah mereka usahakan. Dalam suatu riwayat disebutkan ketika Abu Sufyan bermaksud meninggalkan kota Mekah setelah selesainya perang Uhud. Ketika itu dia menantang dengan berkata: “Mari kita bertemu kembali pada musim yang akan datang di Badar, di sana kita bertempur”. Mendengar tantangan ini Nabi Muhammad saw memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menjawab: “Pertarungan antara kami dan kamu akan terjadi di sana insya Allah”. Setelah tiba masa yang disepakati, Abu Sufyan dan pasukannya bermarkas di satu tempat yang bernama مر الظهران (mar al-dhahran), tetapi hatinya gundah dan dia merasa khawatir. Ketika itu, dia bertemu dengan Nu`aim bin Mas`ud yang baru saja selesai melaksanakan umrah dan memintanya agar menakut-nakuti kaum muslimin. Di Madinah, dia menemukan kaum muslimin sedang bersiap-siap lalu dia melaksanakan apa yang diminta Abu Sufyan. Rupanya sementara kaum muslimin hampir saja terpengaruh dengan perang urat syaraf itu, maka Nabi saw dengan penuh tekad bersabda: “Demi Allah, aku akan berangkat menuju ke tempat yang telah disepakati walau aku seorang diri”, dan memang beliau bersama pasukannya berangkat ke Badar al-Sughra tetapi tidak menemui Abu Sufyan dan pasukannya karena mereka telah meninggalkan mar al-Dhahran kembali ke Mekah. Inilah sebab turun (asbab nuzul) ayat ini yang kemudian peperangan ini dinamakan perang khamra` al-asad. Dengan demikian, al-Maraghi menafsirkan ayat ini bahwa yang dimaksud dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang menjawab atau memenuhi perintah dakwahNya, mengerjakan amal shalih dengan sepenuh hati (ikhlas), dan bertakwa terhadap musibah yang terjadi pada dirinya baik susah maupun duka, niscaya mereka ini akan mendapat pahala atau imbalan yang besar dari Allah atas apa yang telah mereka usahakan.

4. Hidayah Allah Surat Ali Imran ayat 86
        •           
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka Telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun Telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran ayat 86)

Menurut al-Maraghi, bagaimana Allah akan memberi mereka jalan petunjuk (hidayah) seperti jalan orang yang mendapat hidayah dan orang yang selalu memujiNya sedangkan mereka kafir setelah datangnya hidayah iman itu dan setelah mereka bersaksi bahwa Muhammad itu Rasul Allah serta berimana kepada kitab Alquran. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka (yang ingkar) akan jauh dari hidayah Allah karena melanggar sunnatullah. Bagian dari sunnatullah dalam hal hidayah adalah mendirikan atau mengerjakan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan iman mereka. Ayat (وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ) menurut al-Maraghi, sesungguhnya Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang dhalim pada diri mereka dengan mengenyampingkan jalan kebenaran dan meninggalkan hidayah akal, pikiran yang dengan akal tersebut dapat mengetahui cahaya kenabian dan kebenaran. Dengan demikian, menurut al-Maraghi bahwa hidayah itu harus diperoleh dengan adanya iman, meninggalkan kedholiman pada diri manusia, serta menggunakan akal sebagai karunia dari Allah.

E. Kesimpulan
Mengenai penafsiran ketiga tafsir tentang “janji dan ancaman allah dalam surat al-nisa` ayat 173″, menurut Quraish Shihab bahwa janji dan ancaman Allah terhadap umatnya baik yang tunduk kepadaNya maupun yang enggan kepadaNya akan diberikan di hari akherat kelak. Sedangkan menurut Rasyid Ridha, janji Allah akan diberikan kepada siapa saja yang beramal shalih. Imbalan yang diberikan Allah ini bisa berlipat-lipat sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Adapun mengenai ancaman Allah, Rasyid Ridha mengatakan bahwa ancaman atau siksaan yang diberikan Allah sesuai dengan amalnya atau setimpal dengan amal jelek yang diperbuatnya. Adapun menurut al-Maraghi bahwa janji Allah akan diberikan kepada siapa yang beriman kepadaNya dan beramal shalih. Imbalan yang akan diberikan kepada mereka yang beriman kepadaNya dan beramal shalih akan diberikan dengan imbalan yang berlipatganda. Akan tetapi bagi mereka yang enggan dan menyombongkan diri, maka mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih sesuai dengan sunnahNya. Akan tetapi siksaan yang mereka (yang enggan dan menyombongkan diri) sesuai dengan kadar perbuatan yang mereka lakukan. Inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia.
Kemudian mengenai penafsiran ketiga tafsir tentang “iman yang bertambah dan berkurang dalam surat al-imran ayat 172″, menurut Quraish Shihab, iman seorang mukmin itu terletak ketika dia menaati dengan sepenuh hati bukan hanya sekedar taat. Hal ini digambarkan ketika terjadi usaha yang dilakukan oleh orang musyrik untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak datang ke medan perang, akan tetapi Nabi saw tetap datang menuju ke tempat perang yang telah ditentukan. Karena itu, bagi mereka yang taat dengan sepenuh hati niscaya akan datang dan ikut berperang bersama Nabi saw menuju ke medan perang karena melaksanakan perintah Allah dan Rasul dengan sepenuh hati. Bagi mereka akan menambah iman mereka yang taat dengan sepenuh hati. Sedangkan menurut Rasyid Ridha, iman dapat bertambah tergantung pada bertambahnya masalah yang diimani oleh seorang mukmin. Selain itu, masalah yang dapat menambah keimanan seseorang itu tidak hanya melalui pengenalan nash tetapi juga melalui pengenalan terhadap sunnatullah yang berlaku pada makhlukNya. Semakin seseorang mengimani masalah yang terjadi pada sunnatullah, semakin bertambah juga keimanan seseorang tersebut. Adapun menurut al-Maraghi yang dimaksud dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang menjawab atau memenuhi perintah dakwahNya, mengerjakan amal shalih dengan sepenuh hati (ikhlas), dan bertakwa terhadap musibah yang terjadi pada dirinya baik susah maupun duka, niscaya mereka ini akan mendapat pahala atau imbalan yang besar dari Allah atas apa yang telah mereka usahakan.
Sedangkan mengenai penafsiran ketiga tafsir tentang “hidayah allah surat ali imran ayat 86″, menurut Quraish Shihab, hidayah bukanlah semata-mata pemberian dari Allah. Akan tetapi jika ingin memperoleh hidayah dari Allah adalah dengan mengikuti jalan hidayah tersebut secaya sempurna. Begitu juga jika ingin menunjukkan seseorang menuju hidayah Allah, maka kita tidak hanya menunjukkan hidayah Allah saja akan tetapi kita juga harus menunjukkan dan mengajak bersama-sama berjalan menuju hidayah Allah dengan sebenar-benarnya. Dengan demikian akan tercapai tujuan kita yakni mendapatkan hidayah dari Allah swt. Sedangkan menurut Rasyid Ridha, Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang kafir dan zalim sesuai dengan sunahNya pada manusia. Karena itu, hidayah menurut Rasyid Ridha harus sesuai dengan sunahNya dan orang tersebut tidaklah takabur kepadaNya, niscaya orang tersebut akan beroleh hidayah dariNya. Adapun menurut al-Maraghi bahwa hidayah itu harus diperoleh dengan adanya iman, meninggalkan kedholiman pada diri manusia, serta menggunakan akal sebagai karunia dari Allah.

F. Daftar Pustaka
Http://tafsirbetawie.wordpress.com/2009/08/13/m-quraish-shihab-dan-tafsirnya/, di akses pada tanggal 31 Desember 2010.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im. Tafsir al-Maraghi. Cet 2. Juz 5, dan 6. Kairo: Maktabah Mushthafa al-Halbi, 1946.
Ridha, Rasyid. Tafsir al-Manar. Cet. 2. Juz 3, dan 4. Kairo: Dar al-Manar, 1947.
Shihab, M.Quraish. Tafsir al-Mishbah. Volume 2. Cet 6. Jakarta: Lentera Hati, Juni 2006.
________________. Studi Kritis Tafsir al-Manar. Bandung: Pustaka Hidayah, 1994.
Al-Syirbashi, Ahmad. Sejarah Tafsir al-Qur’an. Jakarta: Firdaus, 2001.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s