KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI


oleh Amirul Bahri
Bersamaan dengan berputarnya dunia dan kemajuan modernisasi serta pengembangan ilmu pegetahuan yang semakin hari semakin berkembang yang akhir-akhir ini, banyak kita lihat para generasi Islam khusunya sudah kecanduan dan keracunan dengan tidak mengenal para tokoh Islam yang sangat dan dapat memberi pengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan, mereka kadang hanya bisa menghina, meremehkan bahkan mengatakan dimana tokoh Islam?. Ini sebenarnya terjadi karena mereka sangat tidak dan bahkan kurang kenal sama sekali terhadap beberapa tokoh Islam yang telah berhasil mencetak generasi yang tidak kalah hebatnya dengan tokoh pendidikan nonmuslim dalam mencetak generasi yang berakhlaq al- karimah, disiplin dan terhormat, serta bermanfaat untuk kepentingan agama nusa dan bangsa.
Dengan berpandangan pada beberapa hal tersebut mengenal para tokoh pendidikan Islam adalah merupakan salah satu langkah yang seharusnya kita lakukan dan kita miliki dan kita hanyati serta merupakan kebanggaan kita sebagai orang Islam yang dengan semestinya untuk selalu mengangkat dan mensosialisasikannya di kalangan umum. Sehingga generasi penerus Islam bisa bersuara lantang bahwa kita mempuyai tokoh yang pantas untuk dijunjung tinggi, dan salah satu tokoh pendidikan yang tidak kalah tangkas dan metodenya serta konsep dan pemikirannya adalah Al-ghazali.

celana panjang capAl- Ghasali adalah salah satu tokoh muslim yang pemikirannya sangat luas dan mendalam dalam berbagai hal diantaranya dalam masalah pendidikan. Pada hakekatnya usaha pendidikan menurut al- ghazali adalah dengan mementingkan beberapa hal yang terkait dan mewujudkannya secara utuh dan terpadu karena kosep pendidikan yang dikembangkannya berawal dari kandungan ajaran islam dan tradisi islam yang berberprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya. Sehinga dizaman yang moderen ini perlu kiranya untuk mengetahui konsep pendidikan dari tokoh muslim terkemuka ini.

A. Pengertian Konsep Pendidikan
Konsep adalah rancangan sedang pendidikan dalam makna umum dapat diberi arti sebagai komonikasi terorganisasi dan berkelanjutan yang disusun untuk menumbuhkan kegiatan belajar ada juga yang mengatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri , kepribadian , kecerdasan , akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari beberapa pengertian tersebut konsep pendidikan yang dimaksud adalah merupakan suatu rancangan yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

B. Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Tujuan pendidikan menurut al- ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah. Dan bukan hanya untuk mencapai kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Rumusan tujuan pendidikan al-ghazali didasarkan pada firman Allah SWT.
” tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat:56)
Dari hasil study tentang pemikiran alghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan ahir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah, pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan didunia dan diakhirat. karena itu ia bercita- cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran –sasaran pendidikan yang merupakan tujuan ahir dan maksut dari tujuan itu.
Sasaran pendidikan menurut al-ghazali adalah kesempurnaan insani didunia dan diakhirat. Dan manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu, dan menguasai ilmu adalah bagian dari tujuan pendidikan.

produk 4C. Kurikulum
Kurikulum yang dimaksudkan adalah kurikulum dalam arti yang sempit, yaitu seperanngkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik pandangan al-ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandanganny mengenai ilmu pengetahuan, sedang al- ghazali membaggi ilmu pengetahuan kepada beberapa sudut pandang;
1. Berdasarkan pembidangan ilmu dibagi menjadi dua bidang
a) Ilmu syri’ah sebagai ilmu yang terpuji terdiri atas;
(1) Ilmu usul (pokok ) ilmu Al-qur’an, hadis, pendapat sahabat, ijma’
(2) Ilmu furuk (cabang) fiqih, akhlaq
(3) Ilmu pengantar, ilmu bahasa dan gramatika
(4) Ilmu pelengkap, makhrij al khuruf wal lafads, ilmu tafsir, biografi, dan sejarah perjuangan sahabat.

b) Ilmu bukan syari’ah terdiri atas
(1) ilmu yang terpuji;ilmu kedokteran, ilmuberhitung, ilmu perusahaan, khusus ilmu perusahaan dirinci menjadi
(1) pokok dan utama; pertanian,penenunan, pembangunan dan tata pemerintah.
(2) penunjang; pertungan besi
(3) pelengkap;pengolahan pangan
(4) Ilmu yang diperbolehkan; kebudayaan, sastra, puisi
(5) Ilmu yang tercela;sihir

sdc113162. Berdasarkan objek ilmu dibagi kepada tiga kelompok
a) Ilmu yang tercela secara mutlaqbaik sedikitmaupun banyaksihir, ramalan nasib
b) Ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak; ilmu agama,dan ilmu tentang beribadah
3. Berdasarkan status hukum memepelajari yang dikaitkan dengan nilai gunanya dapat digongkan kepada;
a) Fardu ain;ilmu agama dan cabangnya
b) Fardu kifayah;kedokteran, ilmu hitung,pertanian, pertenunan,politik, jahitmenjahit.

D. Pendidik
Dalam suatu proses pendidikan adanya pendidik adalah suatu keharusan dan pendidik sangat berjasa dan berperan dalam suatu proses pendidikan dan pembelajaran, sehingga al-ghazali merumuskan sifat-sifat yaang harus dimiliki oleh pendidik diantaranya adalah guru harus cerdas, sempurna akalnya.dan baik akhlaqnya, dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaq yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.

Selain sifat- sifat umum diatas maka pendidik kendaknya juga memiliki sifat-sifat khususu dan tugas-tugas tertentu diantaranya adalah;
1. Sifat kasih sayang
2. Guru hendaknya mengajar dengan ikhlas dan tidak mengharapkan upah dari muritnya
3. Guru hendaknya mengunkan bahasa yang halus ketika mengajar
4. Guru hendaknya bisa mengarahkan murid pada sesuatu yang sesuai dengan minak, bakat, dan kemampuannya
5. Guru hendaknya bisa menghargai pendapat dan kemampuan orang lain
6. Guru harus mengetahui dan menghargai perbedaan potensi yang dimiliki murid

E. Peserta didik
Peserta didik adalah orang yang menjalani pendidikan dan untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu kesempurnaan insani dengan mendekatkan diri pada allah dan kebahagian didunia dan diakhirat maka jalan untuk mencapainya diperlukan belajar dan belajar itu juga termasuk ibadah, juga suatu keharusan bagi peserta didik untuk menjahui sifat-sifat dan hal-hal yang tercela, jadi peserta didik yang baik adalah peserta didik yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut;
1. peserta didik harus memuliakan pendidik
2. peserta didik harus bersikap rendah hati dan tidak takabbur dan menjahui sifat-sifat yang hina (bersih jiwanya )
3. peserta didik harus meras satu bangunan dengan peserta didik yang lain dan sebagai suatu bangunan maka peserta didik harus saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang sesamanya.
4. peserta didik hendaknya mempelajri ilmu secara bertahap
5. peserta didik hendaknya mendahulukan mempelajari ilmu yang wajib
6. peserta didik tidak hanya mempelajri satu ilmu yang bermamfaat melainkan dia juga harus mempelajari ilmu yang lain dan sungguh-sunguh ketika mempelajarinya
7. peserta didik hendaknya juga mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajrinya

403999_444563052256190_827465723_nF. Metode dan media
Metode dan media yang dipakai menurut al- ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, prakmatis dalam rangka keberhasilan pembelajaran. Metode pembelajran tidak bileh monoton, demikian pula mediayang dipakai.
Beberapa metode dan media pengajaraan yang dikemukakan imam ghazali diantaranya adalah; pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil aqli dan naqli,bimbingan dan nasehat, pujian dan hukuman, dan menciptakan kondisi yang mendukung terwujudnya akhlaq yang mulia.

G. Aspek- aspek pendidikan dalam pandangan al-ghazali
Dalam pandangan al-ghazali aspek-aspek pendidikan tidak hanya dengan memperhatikan aspek akhlaq saja tetapi juga harus memperhatikan aspek- aspek yang lain dan mewujudkan aspek- aspek itu secara utuh dan terpadu. Aspek- aspek tersebut diantanya adalah:
1. Aspek pendidikan keimanan
a. Iman menurut al-ghazali
Iman menurut al-ghazali adalah mengucapkan dengan lidah mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan angauta. dari definisi ini bisa kita fahami bahwa pendidikan keimanan meliputi tiga prinsip;
1) Ucapan lidah atau mulut karena lidah adalh penerjemah dari hati
2) Pembenaran hati, dengan cara i’tiqat dan taqlid bagi orng awam dan manusia pada umumnya, sedang cara kasyaf (membuka hijab hati ) bagi mereka yang khawas (aulia illah)..
3) Amal perbuatan yang dihitung dari sebagian iman, karena ia melengkapi dan menyempurnakan iman sehingga bertambah dan berkurangnya imam seseorang adalah dari amal perbuatan.
Dari beberapa prinsip pendidikan keimanan tersebut semuanya harus didasarkan pada pada syahadatain ( pengesaan pada eksistensi Allah dan pembenaran nabi muhammad sebagai utusan Allah). Al-ghazali juga menegaskan bahwa pendidikan iman harus didasarkan pada empat rukun yang, pertama mengenai ma’rifat kepada dzat allah, sifat-sifat Allah, af’al Allah, syariat Allah.

b. Pendidikan keimanan bagi anak
Al-ghazali menganjurkan agar pendidikan keimanan mengenai aqidah harus diberikan kepada anak sejak dia masih dini supaya dia menghafal, memahami, beriktiqat, mempercayai, kemudian membenarkan sehingga keimanan pada anak akan hadir secara sedikit-demi sedikit hingga sempurna, kokoh dan menjadi fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya dan bisa mempengaruhi segala perilakunya mulai pola pikir, pola sikap, polabertindak, dan pandangan hidupnya.

2. Aspek pendidikan akhlaq
a. Akhlaq menurut Al ghazali
Akhlaq adalah ibarat (sifat atau keadaan )dari perilaku yang konstan (tetap) dan meresap dalam jiwa dari padanya tumbuh perbuatan- perbuatan dengan wajar dan mudah tampa memerlukan pikiran dan pertimbangan. Sedang akhlaq menurut Dr. ahmad Amin ialah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia. Yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau yang batil. Dan ulama’-ulama’ ahli ada yang mendefinisikan akhlaq sebagai berikut, akhlaq adalah gambaran jiwa yang tersembunyi yang timbul pada manusia ketika menjalankan perbuatan –perbuatan yang tidak dibuat- buat atau dipaksa- paksakan.

Dari keterangan diatas dapat kita ketahui bahwa akhlaq adalah sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya,tidak dibuat- buat dan perbuatan yang dapat kita lihat sebenarnya adalah merupakan gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa. Menurut pengertian diatas maka hakikat akhlaq harus mencakup dua syarat:
1) Perbuatan itu harus konstan, yaitu harus dilakukan berulang kali kontinu dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan.
2) Perbuatan konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud reflektif dari jiwanya tampa pertimbangan dan pemikiran.

b. Pendidikan akhlaq bagi anak
Sebelum anak dapat berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan yang buruk, dan mana yang salah dan benar maka latihan-latihan dan pembiasaan, dan penanaman dasar-dasar pendidikan akhlaq yang baik (yang sesuai dengan akal pikiran dan syariat Islam) secara beransur-ansur hingga berkembang menuju kesempurnaan berperan sangat penting.diantara beberapa akhlaq yang baik adalah;
a) Kesopanan dan kesederhanaan
(1) Kesopanan dan kesederhanaan makan
(2) Kesopanan da kesederhanaan pakaian
(3) Kesederhanaan tidur

b) Kesopanan dan kedisiplinan
(1) Kesopanan dan kedisiplinan duduk
(2) Kesopanan dan kedisiplinan berludah
(3) Kesopanan dan kedisiplinan berbicara

c) Pembiasaan dan latihan bagi anak untuk menjahui perbuatan yang tercela
(1) Suka bersumpah
(2) Suka meminta
(3) Suka membangakan diri
(4) Berbuat dengan cara sembunyi-sembunyi
(5) Menjahui segala sesuatu yang tercela

d) Latihan beribadah dan mempejari syariat islam
Bagi anak yang sudah tamyis dan berumur 10 tahun maka anak itu jangan sekali-kali diberi kesempatan untuk meninggalkan bersuci secara agama, salat, puasa dan sebagainya.dan juga al-ghazali menyarankan agar anak anak mepelajari ilmu agama seperti al-qur’an hadist, hikayah dan lain sebagainya.

3. Aspek pendidikan akliyah
Al-ghazali menjelaskan Akal adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Dalam ilmu pengetahuan itu berlaku dari akl sebagaimana berlaku buah dari pohon, sinar dari matahari penglihatan dari mata. Akal dan kemauanlah yang memberkan karakteristik kepada manusia dengan akal pikiran dapat memberikan kepada manusia ilmu pengetahuan yang dipakainya sebagai pedoman dalam usaha dan aktifitas hidunya, sedang kemauan menjadi pendorong perbuatan manusia .dengan demikian antar pendorong perbuatan dan pedoman perbuatan (usaha dan aktivitas hidup) terdapat hubungan yang saling mempengaruhi ‘interktion yang erat sekali. Oleh karena itu pendidikan akliyah sangat erat sekali untuk mengembangkan hazanah ilmu pengetahuan, mencerdaskan pikiran, mengembangkan intelegensi manusia ,secara optima, cakap, mempergunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dan memberikan pedoman pada segala macam perbuatan manusia.

4. Aspek pendidikan sosial
Al-ghazali memberiakan petunjuk kepada orang tua dan para guru agar anak dalam pergaulan memiliki sikap dan sifat yang mulia dan etika pergulan yang baik sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.sifat-sifat itu adalah
a) Menghormati dan patuh kepada kedua orang tua dan orang dewasa lainnya
b) Merendahkan hati dan lemah lembut
c) Membentuk sikap dermawan
d) Membatasi pergaulan anak (kepada anak yang tidak sopan,sombong, dan boros.

5. Aspek pendidikan jasmaniyah
Adapun pendidikan jasmaniyah bagi anak dan orang dewasa yaitu;
a) Pendidikan kesehatan dan kebersihan
b) Membiasakan makan makanan yang baik dan tidak berlebihan
c) Bermain dan berolah raga

Kesimpulan.
Tujuan pendidikan menurut al- ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah. Dan bukan hanya untuk mencapai kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sehingga dengan demikian salah satu yang sangat penting untuk lebih diutamakan dalam mendidik anak menurut al-ghozali adalah pentingnya penanaman dasar-dasar pendidikan akhlaq yang baik yang sesuai dengan akal pikiran dan syariat yang dilakukan secara berangsur-angsur, serta adaya latian-latian dan pembiasaan sehingga berkembang menuju kesempurnaan. Dan dalam prosesnya harus dilakukan sebelum anak dapat berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan yang buruk, dan mana yang salah dan benar
Selain hal tersebut dalam konsep pendidikan Al-ghazali menganjurkan agar pendidikan keimanan mengenai aqidah harus diberikan kepada anak sejak dia masih dini supaya dia dapat menghafal, memahami, beriktiqat, mempercayai, kemudian membenarkan sehingga keimanan pada anak akan hadir secara sedikit-demi sedikit hingga sempurna, kokoh dan menjadi fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya dan bisa mempengaruhi segala perilakunya mulai pola pikir, pola sikap, polabertindak, dan pandangan hidupnya
Dari beberapa konsep dan metode tersebut kiranya tidak salah ketika al-ghazali merumuskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh pendidik diantaranya adalah guru harus cerdas, sempurna akalnya.dan baik akhlaqnya, dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaq yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.

DAFTTAR PUSTAKA
1. Ihsan,Hamdani, Dan A.Fuad Ihsan , Filsafat Pendiddikan islam,Bandung: CV Pustaka Setia,2001
2. May’ari, Anwar, AKhlaq Al-qur’an, Surabaya: PT Bina ilmu, 2007
3. Nata,Abuddin, Pemikiran para tokoh pendidikan islam seri kajian filsafat pendidikan islam, Jakarta: PT raja grafindo persada, 2003
4. Ramayulis dan nizar, Samsul, ensinklopedi tokoh pendidikan islam, ciputat: PT ciputata Press group,2005
5. Redaksi Asa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Am Asa Mandiri, 2006.
6. Sujana S Pendidikan Non Formal, Bandung: Falah Produktion,2004.
7. Zainuddin dkk.,Seluk beluk Pendidikan dari Al-ghazali, Jakarta: Bumi Aksara,1991

Islam Putih di Tanah Jawa


Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan oleh Prof. Hasanu Simon dan telah mendapat izin dari beliau untuk disebarluaskan. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang mungkin masih ada di dalam makalah tersebut, tentunya ini merupakan usaha yang patut didukung oleh da’i-da’i Islam yang lurus dan benar manhajnya.

IKLAN KONVEKSI CV. NORMALPenyelenggara mengundang tiga orang pembicara yangmemang cukup berkompeten pada bidang tersebut bahkan merupakan ahlinya, yaitu Dr. Damarjati Supajar, Dr. Abdul Munir Mulkhan (pengarang buku tersebut) dan Prof. Hasanu Simon (guru besar sosiologi kehutanan dan lingkungan UGM).

Singkat cerita, pada diskusi tersebut dua pembicara pertama, yaitu Dr. Damarjati Supajar dan Dr. Abdul Munir Mulkhan berusaha untuk mendukung ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar. Hal tersebut dibuktikan dengan pembelaaan tanpa cela terhadap syekh tersebut dan juga pengajuan alternatif wacana terhadap para peserta bahwa ajaran tersebut silahkan bila mau diikuti, toh dalam dunia Islam tokoh seperti itu sudah pernah ada, seperti misalnya Al-Hallaj dan tokoh-tokoh sufi lain. Mereka juga memberi pilihan tersebut dengan alasan ajaran-ajaran Islam sendiri pada hakikatnya dipraktekkan sebagai rutinitas dan sebagai tafsir dari para pengikutnya, sehingga sholat dan syariat-syariat lainnya bisa saja diganti dengan bentuk-bentuk lainnya (jelas ini pendapat yang salah). Menurut mereka lagi, syariat dalam ajaran Syekh Siti Jenar itu dipraktekkan oleh orang yang hidup, sedangkan hidup yang sebenarnya bagi manusia itu adalah nanti di akherat. Sedangkan di dunia pada hakekatnya adalah mati. Sehingga sholat,puasa, zakat haji itu tidak perlu.

Ajaran tersebut nampak semakin subur diikuti oleh umat Islam dewasa ini, apalagi dengan pemimpin Indonesia pada saat itu (mantan Presiden Gus dur) termasuk yang menyetujui dan mendukung ajaran tersebut (sufi/kebatinan/kejawen). Pendukung yang lain yang cukup dikenal adalah Anand Khrisna. Bila terus dibiarkan, ajaran tersebut akan semakin mengaburkan Islam sebagai agama yang murni dari kesyirikan dan bid’ah , menjunjung tinggi akal manusia, dan menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai andil dalam pemberantasan penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat), kami tampilkan sebuah tanggapan dalam acara tersebut.

produk 4Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih jurusan Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada Kongres Kehutanan Dunia VII di Jakarta tahun 1978, orientasi system pengelolaan hutan mengalami perubahansecara fundamental. Kehutanan tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi masyarakat. Sebagai dosen bidang itu saya lalu banyak mempelajari hubungan hutan dengan masyarakat sejak zaman kuno dulu. Disitu saya banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan antropologi yang amat menarik. Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejaranh yang amat panjang dan menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial (socialforestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh para ilmuwan.

Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama Het Book van Mbonang, yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti sosiologi dan antropologi. Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia.

Jadi, seandainya tidak ada Het Book van MBonang, kita tidak mengenal sama sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi data obyektif. Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo dan juga tentang Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu, yang berkembang adalah kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syek Siti Jenar yang hari ini akan kita bicarakan.

sdc11316Walisongo Dalam Dunia Mitos

Kisah walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan. Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW. Yang lahir 9 abad sebelum era Walisongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bolpoin ke pasukan majapahit. Begitu dilemparkan bolpoin tersebut, segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberinama keris kolomunyeng, yang oleh kyai Langitan diberikan kepada presiden Gus Dur beberapa bulan lalu yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang sudah digelar dan ternyata tidak ampuh.

Kisah sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal (serpihan potongan kayu) dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi dan heboh ; salah seorang pembantunya dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat cerita ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk elips sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.

Islam juga mengajarkan bahwa Nabi Ibrahim as, yang hidup sekitar 45 abad sebelum era Walisongo yang lahir dari keluarga penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwa untuk anti berhala. Ini menunjukkan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan zaman dibandingkan kisah orang-orang yang menjadi panutannya, padahal selisih waktu hidup mereka sangat jauh.

PRODUK BATIKHet Book van Mbonang yang telah melahirkan dua orang Doktor dan belasan Master bangsa Belanda itu memberikan petunjuk pada saya, pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif. Het Book van Mbonang tidak menghasilkan kisah keris Kolomunyeng, kisah Cagak dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya. Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk menulis tentang Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tetapi niat saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan.

Itulah sebabnya, saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku tentang Syekh Siti Jenar karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu. Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan aqidah Islamiyah, tetapi sudah ketinggalan zaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan.

Secara umum, dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita justru ingin kembali ke belakang ? Kalau kita masih berkutat dengan dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.

Siapa Syekh Siti Jenar Itu

Kalau seorang menulis buku, tentu para pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, minimal bidang keilmuannya. Oleh karena itu, isi buku dapat dijadikan tolak ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata buku itu berwarna kuning, penulisnya juga berwarna kuning. Sedikit sekali seorang yang berpaham atheis dapat menulis buku yang bersifat relijius karena dua hal tersebut sangat bertentangan. Seorang sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi karena bidang pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi, tidak mustahil kalau isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat oleh judulnya. Buku tentang berternak Kambing Ettawa menerangkan tentang seluk beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa. Judul buku karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini adalah : “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar”. Pembaca tentu sudah membayangkan akan memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti Jenar dan bagaimana dia mati. Penulis juga setia dengan ketentuan seperti itu.

545578_444562942256201_1159962145_nBertitik tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai 6 pada bab 1 tidak relevan. Bab 1 diberi judul : “Melongok jalan sufi : Humanisme Islam Bagi Semua”. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak pernyataan yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Pernyataan orang lain mesti disebutkan sumbernya ; oleh karena itu pernyataan yang tidak ada sumbernya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis. Pernyataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak, dan pendapat penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan pendapatnya. Pernyataan-pernyataan di dalam sebuah buku tidak lepas satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya, merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan mesti disusun menurut logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.

Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis kalau didahului dengan uraian tentang asal usul yang empunya ajaran. Ini juga dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan (paragraf 1 bab 1 hal. 3-10). Di dalam paragraf tersebut, diterangkan asal usul Syekh Siti Jenar yang tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shodiq untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang putra raja pendeta dari Cirebon yang bernama Resi Bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.

Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis. Didalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk memvalidasi berita tersebut.

Kejanggalan-kejanggalan itu adalah :

1) Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta yang bernama Resi Bungsu. Istilah raja pendeta ini tidak jelas. Apakah dia seorang raja, atau pendeta. Jadi, beritanya saja sudah tidak jelas sehingga meragukan.

2) Dihalaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar, diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang menganggap agama Hindu dan Budha sama. Padahal ajaran kedua agama itu sangat berbeda dan antar keduanya pernah terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian-pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.

3) Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang raja pendeta yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat menuju agama Islam, tentu hal itu janggal sekali.

4) Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut apa kesalahan tersebut, sehingga sang ayah sampai tega menyihir anaknya menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang raja pendeta menyihir anaknya menjadi cacing ? Ilmu apakah yang dimiliki raja pendeta Resi Bungsu untuk mengubah seorang menjadi cacing ? Kalau begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketentraman batinnya ? Cerita seorang mampu merubah orang menjadi binatang adalah cerita kuno yang mungkin tidak pernah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata) dan Budha (Ramayana).

5) Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menambal perahu Sunan Mbonang yang bocor. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang mengajar ilmu Ghoib kepada sunan Kalijogo. Betapa luarbiasa kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban sedang cacing Syekh Siti Jenar di buang di daerah Cirebon. Di tempat lain, dikatakan bahwa sunan Mbonang mengajar sunan Kalijogo di perahu yang sedang mengapung di sebuah rawa. Adakah orang menambal perahu dengan tanah ? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh tanah yang membawa cacing.

6) Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan Giri mengikuti pelajaran ilmu Ghaib. Tidak pernah diterangkan bagaimana hubungan Hasan Ali dengan sunan Giri yang tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali kemudian merubah dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu Ghaib. Setelah itu Hasan Ali lalu mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu Ghaib dari Sunan Giri, padahal dia sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung ?

Alhasil, seperti dikatakan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan sendiri dan banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak jelas. Karena itu, banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh Siti Jenar itu pernah ada atau tidak. Pertanyaan ini akan saya jawab di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, tempat lahirnya, dimana sebenarnya tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar adalah : Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama, sering dikaitkan dengan tempat tinggal. Dimana letak Siti Jenar atau Lemah Abang tersebut sampai sekarang tidak pernah jelas ; padahal tokoh terkenal yang hidup pada zaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.

Karena keraguan dan ketidakjelasan itu, saya setuju dengan pendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pernah ada. Lalu, apa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu ? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di belakang nanti.

Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada., mengapa kita bertele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi tentang sesuatu yang tidak pernah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka memperbandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits yang jelas asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh kedepan jangkauannya, tinggi muatan IPTEKnya., sakral dan di hormati oleh masyrakat dunia. Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid maka mau tidak mau lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu, sebagai orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an dan kerasulan Muhammad SAW, saya akan berkali-kali mengajak saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang berusaha untuk merusak aqidah Islamiyah ini.

HARGA  HANYA RP. 60.OOO,OOSunan Kalijogo

Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur yang beragama Islam. Silsilah Raden Sahur ke atas adalah Putera Ario Tejo III (Islam), putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal-usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenarnya merupakan versi Jawa. Dua versi lainnya tidak pernah ditulis atau dijumpai dalam media cetak sehingga diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).

Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinal tentang kisah tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati para pengagum dan penentangnya.

Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang salah satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SD, di desa kelahiran ibu saya Palempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan. Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya merupakan kisah hidup yang diangan-angankan sendiri, setelah kurang puas dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut kejawen, yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang fiktif tadi.

Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek (merasa tertipu). Mengapa demikian ? Isi Suluk Linglung ternyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali dalam Serat Dewo Ruci. Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo. Seorang Pegawai Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, ternyata disimpan oleh Ny. Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendiri menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat ternyata Sunan Kalijogo sendiri menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melainkan sholat Da’im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail LC, da’im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da’im dengan membaca Laa ilaaha illallah kapan saja dan dimana saja tanpa harus wudhu dan rukuk sujud . Atas dasar itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Sayang, waktu saya masih banyak terampas (tersita) untuk menyelesaikan buku-buku saya tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo tersebut.

Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjati diri seperti tertulis didalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berpaham manuggaling kawulo gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah dengan tauhid murni, Sunan Kalijogo mengutus muridnya yaitu Joko Katong, yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas hingga sekarang, termasuk Kyai Kasan Bestari (guru R. Ng. Ronggowarsito), Kyai Zarkasi (pendiri PS Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie, termasuk Ny Ainun Habibie.

Walisongo

Sekali lagi, kisah walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa” telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam kisah mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan aqidah islamiyyah. Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua orang temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaya dengan tarian oleh penari putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta’awudz. Yang dimaksudkan, pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka.

Namun para pengagum Walisongo akan kecelek kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinal yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, ternyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan diberbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah. Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim yang beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara (ahli tata negara) dari Turki. Berita ini tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al-Maghribi.

Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:

1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari turki, ahli mengatur negara (ahli tata negara).
2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro dari Mesir.
4) Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko.
5) Maulana Malik Isro’il, dari Turki, Ahli mengatur negara (ahli tata negara).
6) Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7) Maulana Hasanuddin, dari Palestina.
8) Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9) Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni oleh Jin jahat (ahli ruqyah).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Walisongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pernah diekspos, entah oleh Belanda atau siapa saja, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenarnya. Dengan Infromasi baru itu, menjadi Jelaslah apa sebenarnya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam.

403999_444563052256190_827465723_nLatar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar

Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu tulisan saja, yang mula-mula adalah tanpa pengarang. Tulisan yang ada pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan Agung. Buku berjudul “Ajaran Syekh Siti Jenar” karya Raden Sosrowardojo yang menjadi buku induk karya Dr. Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar.

Ki Panji Notoroto memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan adipati seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan klasikal dimasyarakat tidak berkembang sama sekali. Memahami Al-Qur’an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak didasari dengan ilmu. Penafsiran Al-Qur’an tanpa ilmu akan menghasilkan hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo, agama yang dianut kerajaan adalah agama Manuggaling Kawulo Gusti.

Disamping masalah pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu runtuh. Sampai dengan era Singosari, masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha, dan Animisme yang sering disebut agama Jawa. Untuk mencoba meredam pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir Singosari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkatan dari Budha dan Ja mewakili agama Jawa. Nampaknya sintesa itulah yang ditiru oleh politikus besar di Indonesia akhir dekade 1950-an dulu, yaitu Nasakom.

Dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan (sembunyi-sembunyi). Mereka lalu membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal adalah Syekh Siti Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di domplengkan kepada salah satu anggota wali songo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo seperti yang telah disebutkan dimuka. Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi, anti perubahan dari Hindu-Budha-Jawa ke Islam.

Oleh karena itu isi gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya mengambil potongan-potongan ajarannya yang secara sepintas nampak tidak masuk akal. Potongan-potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan tanpa tela’ah (analisis) yang didasarkan pada dua hal, yaitu logika dan aqidah.

siap antarPernyataan-Pernyataan

Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini (Dr. Abdul Munir Mulkhan) telah saya singgung dimuka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim, malah salah seorang tokoh organisasi Islam di Indonesia (Muhammadiyah). Misalnya pernyataan yang menyebutkan “ngurusi Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi, orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya”. Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai Komunis Indonesia yang pernah menggelar kethoprak dengan lakon “Patine Gusti Allah” (matinya gusti Allah) di daerah Magelang pada tahun 1965-an awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang penting berbuat baik untuk kemanusiaan. Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rasulallah SAW juga tidak mengajarkan pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik dan secara ritual saja. Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena kehidupan muslim harus memenuhi dua aspek, yaitu Hablumminallah wa hablum minannas (hubungan mahluk dengan Allah dan hubungan mahluk dengan sesamanya)

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan dengan menulis buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas menyiratkan kepada pembaca bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih baik dibandingkan mempelajari Fiqih atau ilmu agama lainnya. Islam tidak mengkotak-kotakkan antara Fiqih, Sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena begitu kompleknya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar tauhid merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.

Penulis (Dr. Abdul Munir Mulkhan) juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al-Qur’an : “Bukan hanya orang Islam dan orang yang tahu bahasa Arab saja yang boleh mempelajari Al-Qur’an”. Disini nampaknya Dr. Abdul Munir Mulkhan lupa bahwa untuk belajar Al-Qur’an ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu muttaqien (Al-Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi sebenarnya boleh saja siapapun mengkaji Al-Qur’an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belajar Al-Qur’an yang memenuhi kedua syarat tersebut. Jangan belajar Al-Qur’an kepada pengikut ajaran Syekh Siti Jenar, karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah Gerakan untuk Melawan Islam.

Catatan Kecil

Untuk mengakhiri tanggapan saya, saya sampaikan beberapa catatan kecil pada buku Syekh Siti Jenar Karya Abdul Munir Mulkhan ini :

1) Banyak kalimat yang tidak sempurna, tidak mempunyai subyek misalnya. Juga banyak kalimat yang didahului dengan kata sambung.
2) Banyak pernyataan yang terlalu sering diulang-ulang sehingga terkesan mengacaukan sistematika penulisan.
3) Bab 1 diakhiri dengan daftar kepustakaan, bab lain tidak, dan buku ini ditutup dengan Sumber Pustaka. Yang tercantum didalam Daftar kepustakaan Bab 1 hampir sama dengan yang tercantum dalam sumber pustaka.
4) Cara mensitir penulis tidak konsisten, contoh dapat dilihat pada halaman 2 yang menyebut : ……….. sejarah Islam (Madjid, Khazanah, 1984), dan di alinea berikutnya tertulis : …….. Menurut Nurcholis Madjid (Khazanah, 1984, hlm 33).
5) Pada bab 4, seperti diakui oleh penulis, merupakan terjemahan buku karya Raden Sosrowardoyo yang pernah ditulis didalam buku dengan judul hampir sama oleh penulis. Di dalam buku ini, bab tersebut mengambil hampir separoh buku (halaman 179-310). Karena pernah ditulis, sebenarnya di sini tidak perlu ditulis lagi melainkan cukup disitir saja.

Beberapa catatan lain memang kecil, tetapi patut disayangkan untuk sebuah karya dari seorang pemegang gelar akademik tertinggi, Doktor !.

Sunan Kalijaga dan Kejawen


Sunan Kalijaga adalah ulama yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Beliau adalah legenda nyata dari tumbuh dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Sayangnya, namanya sering dikaitkan dengan mistisme Jawa alias Kejawen. Benarkan ‘Kejawenisme’ merupakan buah pemikiran Sunan Kalijaga? Siapakah Sunan Kalijaga? Dari mana nama ‘Kalijaga’ berasal? Mari kita bangun perspektif yang benar tentang sosok ini.

Ada beragam versi tentang nama asli Kalijaga. Sejumlah sumber mengatakan bahwa nama asli Sunan Kalijaga ialah ‘Lokajaya’. Sumber lain ada yang menyebut bahwa nama aslinya ‘Raden Abdurrahman’ atau ada juga yang mengatakan bahwa namanya ialah ‘Raden Joko Said’ atau ‘Raden Jaka Syahid’. Pendapat yang terakhir merupakan riwayat yang paling mashyur. Nama Raden Joko Said ialah nama yang dikenal secara turun-temurun oleh para penduduk Tuban hingga masa kini.

Joko Said dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat.

Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya. Pembangkangan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang.

produk 4Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya.

Riwayat masyhur kemudian menceritakan bahwa setelah diusir dari istana kadipaten, Joko Said berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Sebagai Perampok, Joko Said selalu ‘memilih’ korbannya dengan seksama. Ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat dan sedekah. Dari hasil rampokannya itu, sebagian besarnya selalu ia bagi-bagikan kepada orang miskin. Kisah ini mungkin mirip dengan cerita Robin Hood di Inggris. Namun itulah riwayat masyhur tentang beliau. Diperkirakan saat menjadi perampok inilah, ia diberi gelar ‘Lokajaya’ artinya kurang lebih ‘Perampok Budiman’.

Semuanya berubah saat Lokajaya alias Joko Said bertemu dengan seorang ulama beken, Syekh Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang inilah yang kemudian mernyadarkannya bahwa perbuatan baik tak dapat diawali dengan perbuatan buruk –sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang batil- sehingga Joko Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi perampok. Joko Said kemudian berguru kepada Sunan Bonang hingga akhirnya dikenal sebagai ulama dengan gelar ‘Sunan Kalijaga’.

Dari mana nama ‘Kalijaga’ muncul?

Pertanyaan ini masih menjadi misteri dan bahan silang pendapat di antara para pakar sejarah hingga hari ini. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Ini dihubungkan dengan kebiasaan wong Cerbon untuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya –seperti gelar Sunan Gunung Jati untuk Syekh Syarif Hidayatullah, karena beliau tinggal di kaki Gunung Jati.

Fakta menunjukan bahwa ternyata tidak ada ‘kali’ di sekitar dusun Kalijaga sebagai ciri khas dusun itu. Padahal, tempat-tempat di Jawa umumnya dinamai dengan sesuatu yang menjadi ciri khas tempat itu. Misalnya nama Cirebon yang disebabkan banyaknya rebon (udang), atau nama Pekalongan karena banyaknya kalong (Kelelawar). Logikanya, nama ‘Dusun Kalijaga’ itu justru muncul setelah Sunan Kalijaga sendiri tinggal di dusun itu. Karena itu, klaim Masyarakat Cirebon ini kurang dapat diterima.

Riwayat lain datang dari kalangan Jawa Mistik (Kejawen). Mereka mengaitkan nama ini dengan kesukaan wali ini berendam di sungai (kali) sehingga nampak seperti orang yang sedang “jaga kali”. Riwayat Kejawen lainnya menyebut nama ini muncul karena Joko Said pernah disuruh bertapa di tepi kali oleh Sunan Bonang selama sepuluh tahun. Pendapat yang terakhir ini yang paling populer. Pendapat Ini bahkan diangkat dalam film ‘Sunan Kalijaga’ dan ‘Walisongo’ pada tahun 80-an. Saya sendiri kurang sepaham dengan kedua pendapat ini.

HARGA  HANYA RP. 60.OOO,OOSecara sintaksis, dalam tata bahasa-bahasa di Pulau Jawa (Sunda dan Jawa) dan segala dialeknya, bila ada frase yang menempatkan kata benda di depan kata kerja, itu berarti bahwa kata benda tersebut berlaku sebagai subjek yang menjadi pelaku dari kata kerja yang mengikutinya. Sehingga bila ada frase ‘kali jaga’ atau ‘kali jogo’ berarti ada ‘sebuah kali yang menjaga sesuatu’. Ini tentu sangat janggal dan tidak masuk akal.

Bila benar bahwa nama itu diperoleh dari kebiasaan Sang Sunan kungkum di kali atau karena beliau pernah menjaga sebuah kali selama sepuluh tahun non-stop (seperti dalam film), maka seharusnya namanya ialah “Sunan Jogo Kali” atau “Sunan Jaga Kali”.

Kemudian secara logika, silakan anda pikirkan masak-masak. Mungkinkah seorang da’i menghabiskan waktu dengan kungkum-kungkum di sungai sepanjang hari? Tentu saja tidak. Sebagai da’i yang mencintai Islam dan Syi’ar-nya, tentu ada banyak hal berguna yang dapat beliau lakukan. Riwayat Kejawen bahwa beliau bertapa selama sepuluh tahun non-stop di pinggir kali juga merupakan riwayat yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ulama saleh terus-menerus bertapa tanpa melaksanakan shalat, puasa, bahkan tanpa makan dan minum? Karena itu, dalam pendapat saya, kedua riwayat itu ialah riwayat batil dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pendapat yang paling masuk akal ialah bahwa sebenarnya nama ‘kalijaga’ berasal dari bahasa Arab “Qadli’ dan nama aslinya sendiri, ‘Joko Said’, jadi frase asalnya ialah ‘Qadli Joko Said’ (Artinya Hakim Joko Said). Sejarah mencatat bahwa saat Wilayah (Perwalian) Demak didirikan tahun 1478, beliau diserahi tugas sebagai Qadli (hakim) di Demak oleh Wali Demak saat itu, Sunan Giri.

545578_444562942256201_1159962145_nMasyarakat Jawa memiliki riwayat kuat dalam hal ‘penyimpangan’ pelafalan kata-kata Arab, misalnya istilah Sekaten (dari ‘Syahadatain’), Kalimosodo (dari ‘Kalimah Syahadah’), Mulud (dari Maulid), Suro (dari Syura’), Dulkangidah (dari Dzulqaidah), dan masih banyak istilah lainnya. Maka tak aneh bila frase “Qadli Joko” kemudian tersimpangkan menjadi ‘Kalijogo’ atau ‘Kalijaga’.

Posisi Qadli yang dijabat oleh Kalijaga alias joko Said ialah bukti bahwa Demak merupakan sebuah kawasan pemerintahan yang menjalankan Syariah Islam. Ini diperkuat oleh kedudukan Sunan Giri sebagai Wali di Demak. Istilah ‘Qadli’ dan ‘Wali’ merupakan nama-nama jabatan di dalam Negara Islam. Dari sini sajasudah jelas, siapa Sunan Kalijaga sebenarnya; ia adalahseorang Qadli, bukan praktisi Kejawenisme.

Da’wah Sunan Kalijaga adalah Da’wah Islam, Bukan Da’wah Kejawen atau Sufi-Pantheistik

Kita kembali ke Sunan Kalijaga alias Sunan Qadli Joko. Riwayat masyhur mengisahkan bahwa masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ini berarti bahwa beliau mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit pada 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan hingga Kerajaan Pajang (lahir pada 1546) serta awal kehadiran Kerajaan Mataram. Bila riwayat ini benar, maka kehidupan Sunan Kalijaga adalah sebuah masa kehidupan yang panjang.

Manuskrip-manuskrip dan babad-babad tua ternyata hanya menyebut-nyebut nama beliau hingga zaman Kesultanan Cirebon saja, yakni hingga saat beliau bermukim di dusun Kalijaga. Dalam kisah-kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir dan Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati, namanya tak lagi disebut-sebut. Logikanya ialah, bila saat itu beliau masih hidup, tentu beliau akan dilibatkan dalam masalah imamah di Pulau Jawa karena pengaruhnya yang luas di tengah masyarakat Jawa. Fakta menunjukan bahwa makamnya berada di Kadilangu, dekat Demak, bukan di Pajang atau di kawasan Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya) –tempat-tempat di mana Kejawen tumbuh subur. Perkiraan saya, beliau sudah wafat saat Demak masih berdiri.

Riwayat-riwayat yang batil banyak menceritakan kisah-kisah aneh tentang Sunan Kalijaga –selain kisah pertapaan sepuluh tahun di tepi sungai. Beberapa kisah aneh itu antara lain, bahwa beliau bisa terbang, bisa menurunkan hujan dengan hentakan kaki, mengurung petir bernama Ki Ageng Selo di dalam Masjid Demak dan kisah-kisah lain yang bila kita pikirkan dengan akal sehat nan intelek tidak mungkin bisa masuk ke dalam otak manusia. Kisah-kisah aneh macam itu hanya bisa dipercaya oleh orang gila yang gemar sihir.

Ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dan berbau Hindu-Budha serta Kejawen. Padahal fakta tentang kehidupan Sunan Kalijaga adalah Da’wah dan Syi’ar Islam yang indah. Buktinya sangat banyak sekali. Sunan Kalijaga adalah perancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi peninggalan Sunan Kalijaga. Mana mungkin seorang kejawen ahli mistik mau-maunya mendirikan Masjid yang jelas-jelas merupakan tempat peribadatan Islam.

celana panjang capPaham keagamaan Sunan Kalijaga adalah salafi –bukan sufi-panteistik ala Kejawen yang ber-motto-kan ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikut berada dalam barisan Sunan Giri saat terjadi sengketa dalam masalah ‘kekafiran’ Syekh Siti Jenar dengan ajarannya bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam dzat yang sama.

Kesenian dan kebudayaan hanyalah sarana yang dipilih Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Beliau memang sangat toleran pada budaya lokal. Namun beliau pun punya sikap tegas dalam masalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau menerimanya. Wayang beber kuno ala Jawa yang mencitrakan gambar manusia secara detail dirubahnya menjadi wayang kulit yang samar dan tidak terlalu mirip dengan citra manusia, karena pengetahuannya bahwa menggambar dan mencitrakan sesuatu yang mirip manusia dalam ajaran Islam adalah haram hukumnya.

Cerita yang berkembang mengisahkan bahwa beliau sering bepergian keluar-masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dengan beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukan wayangnya tidak dimintai bayaran, hanya diminta mengucap dua kalimah syahadat. Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara bertahap. Pertama berislam dulu dengan syahadat selanjutnya berkembang dalam segi-segi ibadah dan pengetahuan Islamnya. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa bila Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Lakon-lakon yang dibawakan Sunan Kalijaga dalam pagelaran-pagelarannya bukan lakon-lakon Hindu macam Mahabharata, Ramayana, dan lainnya. Walau tokoh-tokoh yang digunakannya sama (Pandawa, Kurawa, dll.) beliau menggubah sendiri lakon-lakonnya, misalnya Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya memiliki ruh Islam yang kuat. Karakter-karakter wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengan karakter-karakter baru yang memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Keislaman.

1. Istilah ‘Dalang’ berasal dari bahasa Arab, ‘Dalla’ yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang ‘Dalang’ adalah seseorang yang ‘menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang’. Mandalla’alal Khari Kafa’ilihi (Barangsiapa menunjukan jalan kebenaran atau kebajikan kepada orang lain, pahalanya sama dengan pelaku kebajikan itu sendiri –Sahih Bukhari)
2. Karakter ‘Semar’ diambil dari bahasa Arab, ‘Simaar’ yang artinya Paku. Dalam hal ini, seorang Muslim memiliki pendirian dan iman yang kokoh bagai paku yang tertancap, Simaaruddunyaa.
3. Karakter ‘Petruk’ diambil dari bahasa Arab, ‘Fat-ruuk’ yang artinya ‘tingggalkan’. Maksudnya, seorang Muslim meninggalkan segala penyembahan kepada selain Allah, Fatruuk-kuluu man siwallaahi.
4. Karakter ‘Gareng’ diambil dari bahasa Arab, ‘Qariin’ yang artinya ‘teman’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak ke arah kebaikan, Nalaa Qaarin.
5. Karakter ‘Bagong’ diambil dari bahasa Arab, ‘Baghaa’ yang artinya ‘berontak’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berontak saat melihat kezaliman.

Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta seni suara suluk yang diciptakannya merupakan sarana dakwah semata, bukan budaya yang perlu ditradisikan hingga berkarat dalam kalbu dan dinilai sebagai ibadah mahdhah. Beliau memandang semua itu sebagai metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada zamannya. Secara filosofis, ini sama dengan da’wah Rasulullah Saw yang mengandalkan keindahan syair Al Qur’an sebagai metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku-suku Arab yang gemar berdeklamasi.

Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan keluar-masuk kampung dan memberikan hiburan gratis pada rakyat, melalui berbagai pertunjukan seni, pun memiliki nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa dilakukan Khalifah Umar ibn Khattab ra. yang suka keluar-masuk perkampungan untuk memantau umat dan memberikan hiburan langsung kepada rakyat yang membutuhkannya. Persamaan ini memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga adalah pemimpin umat yang memiliki karakter, ciri, dan sifat kepemimpinan yang biasa dimiliki para pemimpin Islam sejati, bukan ahli Kejawen.

HERMENEUTIKA DAN FAZLUR RAHMAN


A. Latar Belakang Masalah
Berbicara masalah pendidikan tidak akan pernah terlepas dari yang namanya pengaruh luar. Pendidikan bebas dinilai, akan tetapi pendidikan selamanya tidak akan pernah bebas nilai. Pendidikan dipengaruhi oleh siapa yang berbicara mengenai pendidikan tersebut. Dan kepada siapa pendidikan tersebut diperuntukan.
Islam sebagai salah satu agama yang besar perlu menempatkan diri dalam peta perjalanan manusia. Perkembangna islam pun tidak serta merta tumbuh tanpa adanya usaha untuk mencapai hal tersebut. Sebab, semua yang terjadi tidak akan pernah terlepas dari yang namanya ’pendidikan’. Oleh karena itulah dalam rangka mengkonstruksi akan ajaran yang ada pada jati diri islam perlu adanya usaha melacak sejarah akan rekonstruksi yang telah dilakukan oleh pendahulu kita.
Dalam makalah ini kami mengangkat usaha yang dilakukan oleh Fazlur Rahman selaku tokoh pembaharu dalam pendidikan dan pemikiran islam. Dengan melihat dan mempelajari usaha yang telah dilakukan oleh Fazlur Rahman, kita sebagai generasi penerus dari usaha pengembangan islam melalui pendidikan berharap dapat mengambil pelajaran. sehingga nantinya dalam pengembangan tersebut kita tidak berjalan dari ruang hampa, dan dapat lebih terarah langkahnya.

IKLAN KONVEKSI CV. NORMALA. BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN
Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 di daerah Hazara, (anak benua india) yang sekarang terletak di sebelah barat Laut Pakistan. Pertama-tama ia dididik dalam keluarga muslim yang taat beragama. Ayahnya bernama, Maulana Sahab al-Din, ia seorang alim terkenal lulusan Deoband. Pada usia sepuluh tahun, Fazlur Rahman telah hafal al-Qur’an secara keseluruhan. Dari ayahnya ia banyak mendapatkan pelajaran agama. Sedangkan dari ibunya kejujuran, kasih sayang, serta kecintaan sepenuh hati darinya. Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata.
Hal lain yang telah mempengaruhi pemikiran keagamaan Fazlur Rahman adalah bahwa ia dididik dalam keluarga dengan tradisi mazhab Hanafi sebuah mazhab sunni yang banyak menggunakan rasio (ra’yu) dibanding dengan mazhab sunni lainnya. Selain itu, di india ketika itu telah berkembang pemikiran yang agak liberal seperti yang dikembangkan syah Waliullah, Sayid Ahmad Khan, sir Sayid, Amir Ali, dan Muhammad Iqbal.
Kemudian, pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. Pada tahun 1940, ia menyelesaikan B.A.-nya dalam bidang studi Bahasa Arab pada Universitas Punjab. Kemudian, dua tahun berikutnya (1942) ia berhasil menyelesaikan Masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula.
Empat tahun kemudian, tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford. Di bawah bimbingan Profesor S. Van Den Bergh dan H. A. R. Gibb, Fazlur Rahman menyelesaikan program Ph. D.-nya pada tahun 1949, dengan disertasi tentang Ibn Sina.
Setelah selesai kuliah di Oxford, ia tidak langsung pulang ke negerinya, pakistan. Akan tetapi, selama bebereapa tahun ia mengajar di Durham University, Inggris, dan selanjutnya di Intitute of Islamic Studies, McGill University, Canada. Ketika di Durham University, ia berhasil menyelesaikan karya osrisinalnya yang berjudul Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy.
Pada tahun 1960-an, Fazlur Rahman pulang ke negerinya, pakistan. Kemuian dua tahun berikutnya, ia ditunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut. Selain menjabat sebagai direktur lemabag riset islam, pada tahun 1964 Fazlur Rahman ditunjuk sebagai anggota dewan penasehat ideologi islam pemerintah Pakistan.
Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan, Fazlur Rahman hijrah ke Barat. Ketika itu, ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California, Los Angeles, AS. Kemudian, pada tahun1969, ia muai menjabat sebagai guru besaar kajian islam dalam berbagai aspeknya di depertement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Ia menetap di chicago kurang lebih selama 18 tahun, sampai akhirnya Tuhan memanggilya pulang dengan tenang pada tanggal 26 Juli 1988.

B. DASAR PEMIKIRAN DAN KARYA FAZLUR RAHMAN
Perkembangan pemikiran dan karya-karya Fazlur Rahman dapat diklasifikasikan ke dalam tiga periode, yaitu periode pembentukan (formasi), periode perkembangan, dan periode kematangan.
Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Fazlur Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang pulang ke negerinya, pakistan.
Pada periode ini, Fazlur Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya, yaitu: (1) Avecinna’s Psychology, berisikan kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat dalam kitab Kitab al-Najat; (2) Avecinna’s De Anima, being the Psychologycal Part of Kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari Kitab al-Shifa’ ; (3) Prophecy in Islam: Philosophi and Orthodoxy, merupakan karya orisinal Fazlur Rahman yang paling penting pada periode ini. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana Muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap dokrin-dokrin kenabian.
Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Fazlur Rahman mengalami proses menjadi, yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju kematangan. Periode ini dimulai sejak kepulangan Fazlur Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai menjelang keberangkatannya ke Amerika.
siap antarPeriode ini ditandai dengan suatu perubahan yang radikal. Fazlur Rahman secara intens terlibat dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim komtemporer, bagi pakistan khususnya. Ketertlibatan Fazlur Rahman dalam arus pemikiran Islam menghasilkan karya berupa artikel-artikel dia yang diterbitkan dalam bentuk buku, yang berjudul Islamic Methodology in History. Karya ini membahas konsep sunnah, ijtihad, da ijma’. Inti sari dari buku tersebut adalah pemikiran bahawa dalam perjalanan sejarah telah terjadi pergeseran dari otoritas sunnah Nabi mrnjadi sunnah yang hidup dan akhirnya menjadi hadits. Sunnah Nabi merupakan sunnah yang idela, sunnah yang hidup merupakan interpretasi dan implementasi kreatif para sahabat dan tabi’in terhadap sunnah ideal tersebut, sedangkan hadits merupakan upaya penuturan sunnah dalam suatu catatan. Dari sunnah tersebut, ia ingin membangun kembali mekanisme “Sunnah-Ijtihad-Ijma”.
Buku kedua yang dihasilkan Fazlur Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. Buku ini merupakan upaya Fazlur Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan Islam secara umum, yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan Islam. Dalam buku ini, Fazlur Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis, disamping sedikit memberikan harapan dan saran-saran.
Secara epistemologis Fazlur Rahman berhasil menggabungkan pendekatan historis dan normatif menjadi metode yang sistematis dan komprehensif untuk memahami al-Qur’an, yang pada akhirnya disempurnakan menjadi metode suatu gerakan ganda (a double movement).
Periode ketiga disebut dengan periode Kematangan, karya-karya intelektual Fazlur Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (1970) mencakup hampir seluruh kajian Islam normatif maupun historis. Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku; pertama, Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. Buku ini mewrupakan kajian historis Fazlur Rahman terhadap pemikiran Shadr al-Din al-Shirazi (Mulla Sadra). Didalamanya mengungkapkan tentang sanggahan bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali, untuk membantah pandangan sarjana barat modern yang keliru tentang hal tersebut. Disamping itu, didalamya punmembahas tentang hasil penelusuran terhadap pemikiran Shadra. Fazlur Rahman sampaipada kesimpulan bahwa sistem filsafat Shadra sangat kompleks dan orisinal.
Byuku kedua adalah Mayor Themes of Qur’an. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an, yaitu; Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia sebagai anggota Masyarakat, alam semesta, kenabian dan wahyu, eskatologi, setan dan kejahatan, serta lahirnya masyarakat muslim. Melalui karya ini Fazlur Rahman berhasil membangun suatu landasan filosofis yang tegar untuk perenungan kembali makna dan pesan al-Qur’an bagi kaum muslimin komtemporer.
Buku ketiga yang dihasilkan Fazlur Rahman adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intelektual Tardition. Dalam buku ini Fazlur Rahman berbicara ten5tang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Menurut perspektif Fazlur Rahman bahwa yang dimaksud pendidikan bukanlah suatu perlengkapan, peralatan-peralatan fisik ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan intelektualisme Islam, sebab itu merupakan esensi daripendidikan tinggi islam. Ia adalah suatu pertumbuhan pemikiran islam yang asli dan memadai, yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan suatu sistem pendidikanm islam.
Buku terakhir yang dihasilkan oleh Fazlur Rahman adalah Helth and Medicine in Islamic Tradition. Buku ini berusaha memotret kaitan antar organis antara islam sebagai sistem kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Dengan menjelajahi teks-teks al-Qur’an dan Hadits Nabi serta sejarah kaum muslim, Fazlur Rahman memperlihatkan bahwa perkembangan ilmu pengobatan dalam tradisi islam digerakkan oleh motivasi etika agama dan keyakinan bahwa mengobati orang sakit adalah bentuk pengabdian kepada Allah. Disamping itu, Fazlur Rahman juga menunjukan bahwa tegesernya ilmu pengobatan islam oleh ilmu pengobatan barat telah memunculkan problem etis, yaitu hilangnya dimensi religius-spiritual dalam pengobatan manusia.

C. USAHA REKONSTRUKSI FAZLUR RAHMAN TERHADAP PENGETAHUAN
Untuk mengetahui usaha rekonstruksi Fazlur Rahman kita perlu mengetahui Epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman. Pada epistemologi kami akan membahas pengertian, karakteristik, klasifikasi, sumber pengetahuan, proses memperoleh pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Dan pada pembahasan metodolgi akan membhas metode kritik sejarah, metode penafsiran sistematik, dan metode gerakan ganda.

1. Epistemologi Fazlur Rahman
1. Pengertian menurut Fazlur Rahman pengetahuan adalah proses untuk sampai pada keadaan tahu. Pengetahuan itu bukan merupakan suatu cermin kenyataan pasif, melainkan sesuatu proses berkelanjutan. Oleh karena itu pengetahuan dapat diperoleh melalui proses learning, thinking, atau expriencing.
2. Karakteristik pengetahuan menurut Fazlur Rahman ada tiga, yaitu:
a) Pengetahuan diperoleh melalui observasi dan eksperimen,
b) Pengetahuan selalu berkembang dan bersifat dinamis, dan
c) Pengetahuan merupakan kesatuan organik
3. klasifikasi pengetahuan, Fazlur Rahman membagi menjadi tiga jenis, yaitu pengetahuan tentang alam, pengetahuan tentang sejarah, dan pengetahuan temtang manusia.
4. Sumber pengetahuan menurut Fazlur Rahman berdasarkan pada al-Qur’an ada tiga, yaitu: alam, manusia, dan sejarah.
5. Proses memperoleh pengetahuan menurut Fazlur Rahman melalui proses mengindera, berpikir, dan eksperimen.
6. Kebenaran pengetahuan, disini Fazlur Rahman berpendapat bahwa kebenaran ada dua macam. Yaitu: kebenaran wahyu dan kebenaran akal.

produk 42. Medotologi Fazlur Rahman
1. Metode kritik sejarah
Yang ditenmkan dalam metode ini adalah pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam sejumlah data sejarah, bukan peristiwa sejarah itu sendiri.
2. Metode penfasiran sistematik
Metode ini terdiri atas tiga langkah utama, yaitu: pertama, pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quer’an dalam bentangan karier dan perjuangan Nabi. Kedua adalah membedakan antara legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran al-Qur’an denagn memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya.
3. Metode suatu gerakan ganda
Gerakan ganda adalah suatu gerakan dari situasi sekarang ke masa al-Qur’an diturunkan, kemudian gerakan kembali ke masa sekarang. Metode ini bisa dilakukan dengan
a) Membawa problem-problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada al-Qur’an atau
b) Memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproseksikannya kepada situasi sekarang.

KESIMPULAN
A. Pentutup
Dari pemaparan di awal kita dapat menyimpulkan bahwa pemikiran Fazlur Rahman dilihat dari prosesnya, dapat dibedakan ke dalam tiga periode, yaitu periode pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan.
Pemikiran Fazlur Rahman, jika dilihat dari sturktur dasar epistemologisnya, dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas; alat yang digunakan adalah akal dan indera; pendekatannya: historis-filosofis; metodenya: observasi dan eksperimen; klasifikasi pengetahuan: pengetahuan tentang alam, manusia, dan serah; pendukung keilmuannya adalah sejarah dan filsafat. Medotologi Fazlur Rahman dapat digolongkan menjadi kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah, metode penafsiran secara sistematis, dan metode suatu gerakan ganda.

B. Saran
Alhamdulillah kami panjatkan sebagai implementasi rasa syukur kami atas selesainya makalah ini. Namun dengan selesainya bukan berarti telah sempurna, Oleh karena itulah saran serta kritik yang bersifat membangun dari saudara selalu kami nantikan.untuk dijadikan suatu pertimbangan dalam setiap langkah sihingga kami terus termotivasi kearah yang lebih baik tentunya dimasa masa yang akan datang.akhirnya kami ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya.

DAFTAR PUSTAKA
Taufik Adnan Amal, Neo Modernis Islam Fazlur Rahman, Bandung: Mizan, 1987
Dr. Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
Dr. Abd. A’la, Dari Neomodernisme Islam Liberal, Jakarta: Paramadina, 2003
M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman, Yogyakarta: UII Press, 2000
Dr. Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan
Taufik Adnan Amal, Neo Modernis Islam Fazlur Rahman, Bandung: Mizan, 1987, hlm. 13
Dr. Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, hlm.61
Dr. Abd. A’la, Dari Neomodernisme Islam Liberal, Jakarta: Paramadina, 2003, hlm. 33
M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman, Yogyakarta: UII Press, 2000, hlm. 10
Dr. Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, hlm. 63
Ibid. hlm., 19
Ibid. hlm., 22

PERADABAN ISLAM MASA BANI UMAYYAH II (DI ANDALUSIA)


oleh: Amirul Bahri
A. PENDAHULUAN
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan pada periode Islam klasik. Andalusia mencapai puncak keemasannya.Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pegaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, Andalusia juga dikatakan mampu menyaingi Baghdad yang ada di timur. Banyak orang Eropa mendalami studi di Universitas-Universitas Islam disana. Ketika itu bisa dikatakan, Islam telah menjadi guru bagi orang Eropa. Selama delapan abad, Islam pernah berjaya di bumi Eropa (Andalusia) dan membangun peradaban yang gemilang. Namun peradaban yang di bangun dengan susah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin sendiri dan karena keberhasilan Bangsa Barat atau Eropa bangkit dari keterbelakangan. Kebangkitan yang meliputi hampir semua element peradaban, terutama di bidang politik yakni dengan dikalahkannya kerjaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya sampai kemajuan di bidang science dan teknologi.

B. PEMBAHASAN
1. Penaklukan dan Pemerintahan
Al Andalus berarti “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” dan merujuk pada wilayah yang diduduki oleh kerajaan Muslim di Spanyol Selatan yang meliputi kota-kota seperti Almeria, Malaga, Zadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada.
Andalusia terletak di benua Eropa barat daya dengan batas-batas ditimur dan tenggara adalah laut tengah, diselatan benmua Afrika yang terhlang oleh selat Gibraltar, dibarat samudra atlantik dan utara ole teluk Biscy. Pegunungan Pyneria ditimur laut membatasi Andalusia dengan Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islamm bagi daerah yang dikenal dengan senanjung Liberia (kurang lebih 93 % wilayah Spanyol, sisanya Portugal) dan Vadalusia. Sebutan ini berasal dari kata Vandalusia, yang berarti negeri bangsa vandal, karena bagian selatan semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir ke Afrika Utara oleh Bangsa Goth pada abad ke 5 M.
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu,dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyta kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka grap. Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat teritindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.
Penaklukan oleh pasukan atas Andalusia member dampak positif yang luar biasa. Andalusia dijadikan tempat ideal dan pusat pengembangan budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran, obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia, kepada bangsa Vandhal, Goth dan berber. Islam menegakkan keadilan yang belum dikenal sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya sendiri. Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa Muslim dan diberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap toleransi kaum muslim adalah perjanjian damai dengan pihak para penguasa yang telah ditaklukan. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang ditaklukkan itu ikut ambil abgian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para penguasa Muslim. Jadi Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan keyakinan. Saat ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan keadaan umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar dari pada belajar. Eropa sendiri di satu pihak diganggu oleh bangsa Berber Jerman. Sementara itu filsafat Yunani dan ilmu pengetahuan telah lama pindah tempat ke Syria dan Persia.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawha pimpinan Tarif bin Malik pada Ramadhan tahun 91 H/710 M. Ia dan pasukannya mendarat disebuah tempat yang diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil dan tariff kembali ke Afrika Utara membawa banyak ghanimah. Musa bin Nushair, Gubernur Jenderal Al Maghrib di Afrika Utara kala itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ekpsedisi kedua ini mendarat dibukit karang Gibraltar (Jabal At Thariq ) pada tahun 92 H/711 . Diatas bukit itu, Thariq berpidato untuk membangkitkan semngat juang pasukannya, karena tentara musuh yang akan dihadapi jumlahnya 100.000 orang. Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara sehingga total jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang.
Pertempuran pecah didekat muara sungai Salado (Lagend Janda) pada bulan Ramadhan 92 H/19 Juli 711. Pertempuran ini mengawali kemenangan Thariq dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, sampai akhirnya Toledo, ibukota Gothia Barat, dapat direbut pada bulan September tahun itu juga. Bulan Juni 712 M. Musa berangkat ke Andalusia membawa 18.000 orang tentara dan menyerang kota-kota yang belum ditaklukkan oleh Thariq sampai bulan Juni tahun berikutnya. Di kota kecil Talavera, Thariq menyerahkan kepemimpinan pada Musa. Pada saat itu pula Musa mengumumkan Andalusia menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penaklukan selanjutnya diarahkan ke kota-kota bagian utara hingga mencapai kaki pengunungan Pyrenia. Di balik pegunungan itu terbentang tanah Galia dibawah kekuasaan bangsa Prancis. Musa berambisi menaklukkan wilayah dibalik pegunungan itu, namun khalifah al walid tidak merestuinya bahkan ia memanggil Musa dan Thariq untuk pulang ke Damaskus. Sebelum berangkat Musa menyerahkan kekuasaan kepada Abd Al Aziz bin Musa. Abd Aziz berhasil menaklukkan Andalusia sudah jatuh ke tangan umat Islam, kecuali Galicia sebuah kawasan yang terjal dan tandus di bagian barat laut semenanjung itu.
Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai tahun 132 H/ 750 M. Selama periode tersebut, para gubernur Umawiyah di Andalusia berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran Poitiers didekat Tours pada tahun 114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan Abd Al – Rahman Al – Ghafiq di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam diutara pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika daulah Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin Muawiyah, cuvu khalifah Umawiyah kesepuluh hisyam bn Abd Malik, memproklamasikan propinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi itu. Andalusia memasuki babak baru sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah kekuasaan Bani Umayyah II yang beribukota di Codova sampai tahun 422 H/1031.
Sejak pertana kali menginjakkan kaki ditanah Andalusia hingga jatuhny kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat yang dilalui umat Islam di Andalusia dapat dibagi menjadi enam periode :

a. Periode Pertama (711 – 755 M)
Pada periode ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik Andalusia belum tercapai secara sempurna , gangguan – gangguan masih terjadi baik dari dalam maupu luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan, terutama antara Basbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Ara Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkna konflik politik, terutama ketika tidak ada figus penguasa yang tangguh. Itulah sebabnya di Andalusia pada saat itu, tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasannya dalam jangka eaktu yang agak lama.
Gangguan dari luar dari sisa-sisa musuh lama di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Karena seringnya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd AL Rahman Al Dakhil pada tahun 138 H/755 M.

b. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan amir, tetapi tumduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh khalifah abbasiyah di Baghdad. Penguasa Andalusia pada periode ini adalah Abd Al Rahman Al Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al Rahman Al Ausath, Muhammad bin Abd Al Rahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad.
Mengenai Ad Dakhil, diceritakan sewaktu dinasti bani umayyah tumbang oleh dinasti abbasiyah terjadi pembunuhan massal dan pengejaran terhadap sisa-sisa keluarga Umayah. Ia melarikan diri menyusuri Afrika Utara hingga tiba di Meknes. Maroko dan pindah ke Melilla, dekat Ceuta di pesisir laut tangah menghadap semenanjung Liberia. Inilah buat pertama kalinya seorang pangeran Bani Umayyah masuk ke Andalusia, sehingga ia mendapat gelar Ad Dakhil. Setelah melumpuhkan penguasa Andalusia, Yusuf bin Abd Ar Rahman, ia akhirnya berkuasa disana.
Pada periode ini, Andalusia mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang perdaban. Abd Al Rahman Al Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah dikota-kota besar. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan Hukum dikenal sebagai pembaharu dalam bidang militer. Dialah yang memprakasai tentara bayaran di Andalusia. Sedang Abd Al Rahman Al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.
Para periode ini, berbagai ancaman dan kerusakan terjadi. Pada pertengahan abad ke 9 M. Stabilitas munculnya gerakan Kristen fanatic yang mencari kesyahidan (Martydom). Tetapi gerakan ini tidak mendapat simpati dikalangan intern Kristen sendiri, karena pemerintahan Islam kala itu mengembangkan kebebasan beragama. Peribadatan tidak dihilangi, bahkan mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerinthan atau emnajdi karyawan pada intansi militer. Gangguan politik paling serius dating dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota dan bertahan sampai 80 tahun. Disamping itu, sejumlah orang yang tidak puas terhadap penguasa melancarkan revolusi, yang terpenting diantaranya pemberontakan Hafshun dan anaknya yang berpusat dipegunungan dekat Malaga.

c. Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini, Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar ini berawal dari berita bahwa al muktadir. Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Maka Abdurrahman III menilai bahwa keadaan ini menunjukkan suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan moment yang paling tepat untuk mmakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Maka dari itu, gelar khalifah ini mulai dipakai sejak tahun 929 M Khalifah besar yang memerintah pada periode ini yaitu Abd Al Rahman Al Nasir (912-916 M), Hakam II (961-976M) dan Hisyam II (976-1009M).
Pada periode ini, Andalusia mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi Baghdad di timur. Al Nashir mendirikan universitas di cordova yang perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga juga seoreang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.

d. Periode ke empat ( 1013 – 1086)
Pada periode ini.Andalusia terpecah menjadi lebih 20 kerajaan kecil. Masa ini disebut Muluk al – Thawaif (Raja Golongan ) mereka mendirikan kerajaan berdasarkan etnis Barbar. Slovia ata u Andalus yang bertikai satu sama lain sehingga menimbulka keberania umat Kristen di utara untuk menyerang. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, para pihak yangbertikai sering meminta bantuan kepada raja – raja Kristen. Periode ini meskipun terjadi ketidakstabilan tetapi dalam bidang peradaban mengalami kemajuan karena masing – masing ibu kota kerajaan local ingin menyaingi Cordova sehingga muncullah kota –kota besar seperti Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada.

e. Periode ke lima ( 1086 – 1248)
Pada periode ini meskipun Andalusia terpecah – pecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yakni dinasti Murabhitun (1086-1143) dan dinasti Muwahidun (1146-1235 M). murabhitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasytin di afrika utara. Ia masuk ke Andalusia atas undangan penguasa islam disana yang tengah menikul beban berat perjuangan mempertahankan negri dari serangan orang Kristen. Ia dan tentaranya masuk Andalusia pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan castilia. Karena perpecahan dikalangan raja- raja muslim, yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Andalusia dan berhasil. Tetapi sepenggantinya adalah raja – raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir baik di afrika utara maupun Andalusia sendiri.
Sepeninggal murabhitun, muncul-muncul dinasti kecil, tapi berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M, dinasti muwahidun di afrika utara yang didirikan oleh mehammad bin tumart. Dinasti ini datang ke Andalusia dibawah pimpinan abd al mun’im. Antara tahun 1114 dan 1115 M, kota-kota muslim penting di Andalusia seperti cordova. Almeria dan cannada jatuh di bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa decade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan – kekuatan Kristen dapat dipukul mundur akan tetapi, tidak lama setelah itu Muwahhidun mengalami keambrukan. Tentara Kristen, pada tahun 1212 M, mendapat kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan – kekalahan yang dialami oleh Muwahhidun memaksa penguasanya keluar dari Andalusia dan kembali ke afrika utara pada tahun 1235 M. Tahun 1238 M cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh di tahun 1248 M. Seluruh Andalusia kecuali Granada lepas dari kekuasaan islam.

f. Periode ke enam ( 1248 – 1492)
Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada. Dibawah dinasti bani ahmar (1232-1492 M) yang didrikan oleh Muhammad bin Yusuf bin Nasr bin al-Ahmar . peradaban mengalami kemajuan tetapi hanya berkuasa di wilayah yang kecil seperti pada masa kekuasaan Abdurrahman an –Nashir. Namun pada decade terkhir abad 14 M, dinasti ini telah lemah akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan olen kerajaan Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antar Esabella dan Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama – sama merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 menguasai Almeria tahun 1492 menguasai Granada. Raja terakhir Granada, Abu Abdullah, melarikan diri ke afrika utara.
Pada akhir abad ke 14 M pihak Kristen sangat antusias untuk mengkristenkan pemeluk yahudi dan muslim. Pada 1391 yahudi dipaksa menerima Baptisme tahun 1478 program pemaksaan agama diresmikan dan memerintahkan yahudi untuk memilih baptisme atau pengusiran. Tahun 1492 nyaris seluruh pemeluk yahudi diusir dari Andalusia.
Gerakan reconquisa terus berlanjut. Tahun 1499, kerajaan Kristen Granada melakukan pemaksaan orang islam untuk menganut Kristen dan buku – buku tentang islam di bakar. Tahun 1502 kerajaan Kristen ini mengeluarkan perintah supaya orang islam Granada keluar dari negri ini kalau tidak mau menjadi Kristen. Umat islam harus memilih antara masuk Kristen atau keluar dari andalus sebagai orang terusir. Maka banyak orang islam yang menyembunyikan keislamannya dan melahirkan kekristenannya. Timbul pula pembrontakan – pembrontakan. Pada tahun 1596, muslim Granada membrontak dibantu oleh kerajaan usmaniyah. Antara tahun 1609-1614 M kira-kira sekitar setengah juta kaum muslimin Andalusia pindah ke afrika utara. Ini merupakan perpindahan terakhir umat islam Andalusia. Sejak saat itu tak ada lagi umat islam di Andalusia.

2. Kemajuan peradaban

a. Di bidang Ilmu Pengetahuan
Pemisahan Andalusia dari bagdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transisi keilmuwan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim Andalusia yang menuntut ilmu di negri islam belahan timur dan tidak sedikit pula ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia.
Prestasi umat islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan, melainkan dengan kerja keras melauli beberapa tahapan system pengembangan. Mula – mula dilakukan beberapa penerjemah kitab – kitab klasik yunani, romawi, india , Persia. Kemudian dilakukan pensyarahan dan komentar terhadap terjemahan tersebut, sehingga lahir komentator-komentator muslim kenamaan. Setelah itu dilakukan koreksi teori – teori yang sudah ada, yang acap kali melahirkan teori baru sebagai hasil renungan pemikir – pemikir muslim sendiri. Oleh karena itu, umat islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan budaya lama dari zama klasik ke zaman baru. Terlalu banyak teori orisinil temuan mereka yang besar sekali artinya sebagai dasar ilmu pengetahuan modern.
Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak terlepas kaintannya dari kerjasam yang harmonis antara penguaa, hartawan dan ulam. Umat islam di Negara – Negara islam waktu itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaaan umumnya, merupakan salah satu kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan – perpustakaan, disamping mendirikan lembaga – lembaga pendidikan. Sekolah dan perpustakaan umum maupun pribadi banyak dibangun diberbagai penjuru kerajaan, sejak dari kot besar sampai ke desa-desa.
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak ada seorangpun penduduknya yang but huruf. Dalam pada itu, eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertam ilmu pengetahuan, itupun tebatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke Negara-negara eropa Kristen, melalai kelompok – kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di universitas Cordova, Malaga, Granada, sevilla atau lembaga – lembaga ilmu pengetahuan lainnya Andalusia. Yang pada gilirannya kelak akan mengantarkan eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Bidang – bidang ilmu pengetahuan yang paling menonjol antara lain :

a. Filsafat
Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid, tokoh kedua adalah Abu Bakr bin Thufail yang banyak menulis masalh kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang filsafat di Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova. Ia menafsirkan maskah – naskah aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang keserasian filsafat agama.

b. Sains
Ilmu kedokteran , music, matematika, astronomi dan kimia berkembang dengan baik di Andalusia. Ibarhim bin yahya al Naqqash terkenal dalam ilmuastronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan berhasil membuat teropong yang dapat menentukan jarak tata surya dan bintang. Ahmad bin abbas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat – obatan. Umm al-hassan bint abi ja’far dan saudara perempuan al hafidz adalah dua orang dokter dari kalangan wanita.
Di bidang sejarah dan geografi, muncul ibnu jubair yang menulis negri – ngri muslim mediterania dan ibnu batutah yang mengadakan ekspedisi hingga mencapai samudra pasai dan cina. Ibnu al-khatib menyusun riwayat Granada sedang Ibnu khaldun dari tunis adalah perumus filasafat sejarah.

c. Fiqh
Andalusia mayoritas menganut madhzab maliki, yang pertama kali diperkenalkan oleh ziyyad bin abd al-rahman. Ahli – ahli fiqih lainnya diantaranya adalah ibnu yahya, seorang qadhi, kemudian abu bakar al quthiyah, munzir bin sa,if al-baluthi dan ibnu hazim yang terkenal.

d. Musik dan Kesenian
Dibidang ini dikenal seorang tokoh bernama Hasan bin Nafi yang berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu dan sering mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga kemasyhurannya makin meluas.

e. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan islam di Andalusia. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan penduduk asli Andalusia menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab baik ketrampilan bahasa maupun tata bahasa Tokohnya antara lain : Ibnu Sayyidh, Ibn Malik pengarang alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan al-Gharmatti dan muncul banyak karya sastra seperti al-iqd al-farid karya ibn abd rabbib, al-Dzakhirah fii Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam dan kitab al-Qalaid karya al-Fath bin Khaqan.

b. Di bidang pembanguna fisik
Samah bin Malik menjadikan cordova sebagai ibu kota propinsi Andalusia menggantikan sevilla pada tahun 100H/719M. Ia membangun tembok dinding kota, memugar jembatan tua yang dibangun penguasa romawi dan membangun kisaran air. Ketika ad-Dakhil berkuasa, cordova diperindah serta dibangun benteng di sekeliling kota dan istana. Air danau dialirkan melalui pipa-pipa ke istana dan rumah penduduk. Kebanggan cordova lainnya adalah al-Qashr al-Kabir, alRushafa, masjid jami’ cordova, jembatan cordova, al-Zahra dan al-Zahirah
Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa penggantinya. Didalamnya dibangun 430 gedung yang diantaranya merupakan istana – istana megah. Al-Rushafa adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun ad-Dakhil yang masih tgak berdiri hingga sekarang adalah masjid jami’ cordova didirikan tahun 170H/786M dengan dana 80.000dianr. masjid ini memiliki sebuah menara yang tingginua 20 meter terbuat dari marmer dan sebuah kubah besar yang didukung oleh 300 buah pilar yang terbuat dari marmer pula. Ditengah masjid terdapat tiang agung yang menyangga 1000 lentera. Ada Sembilan buah pintu yang dimiliki masjid ini, semuanya terbuat dari tembaga kecuali pintu maqsurah yang terbuat dari emas murni. Ketika cordova jatuh ke tangan Fernando III pada tahun 1236, masjid ini dijadikan gereja dengan nama santa maria, tetapi dikalangan orang Andalusia lebih popular dengan ia mezquita, berasal dari bahasa arab al-Masjid.
Al-Nashir pada tahun 325 H/ 936 M membangun kota satelit dengan nama salah seorang selirnya al-Zahra. Kemegahannya hamper menyamai al-Qashr al-Kabir. Ia dilengkapi taman indah yang disela-selanya mengalir air dari gunung, danau kecil berisi ikan beraneka warna dan sebuah taman margasatwa. Sementara pada tahun 368 H / 978 M Al Manshur membangun kota Al Zairah dipinggir Wadi Al Kabir, tidak jauh dari Cordova. Al Zahirah dilengkapi dengan taman – taman indah, pasar, toko , masjid dan bangunan umum lainnya.

3. Analisis Kemajuan Peradaban Andalusia
Salah Satu mengapa Andalusia mengalami kemajuan pesat di dalam peradabannya menurut penulis salah satunya disebabkan policy dari para penguasanya yang mempelopori berbagai kegiatan ilmiah. Meskipun ada ketegangan politik dengan Baghdad timur tapi tidak selalu terjadi konfrontasi militer. Banyak para sarjana Islam dari wilayah Barat menimpa ilmu di Timur dengan membawa bukum teori dan gagasan pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Jadi meskipun umat islam terpecah secara politik tapi tetap dalam bingkai kesatuan budaya dunia Islam. Perpecahan politik pada periode Al Muluk Al Thawa’if tidak menyebabkan mundurnya ilmu pengetahuan dan peradaban, bahkan setiap penguasa di negeri-negeri kecil tersebut saling berkompetensi dalam ilmu pengetahuan terutama usaha untuk menyaingi Cordova.
Sedang aspek kehancuran Andalusia dari berbagai literature menurut penulis disebarkan karena adanya konflik dengan Kristen. Islami yang terjadi kurang sempurna. Kerajaan – kerajaan Kristen taklukan asal tidak melakukan perlawanan militer dibiarkan mempertahankan hukum dan adat mereka, yang pada gilirannya akan menciptakan kubu komunitas berbeda antara Arab Islam dengan Andalusia Kristen yang memicu adanya nasionalisasi. Pada periode kemunduran Islam, kerajaan-kerajaan Kristen ini akhirnya dapat menghimpun kekuatan untuk mengenyahkan Islam dari Andalusia tertama karena kondisi Andalusia yang yang terpencil secara militer, sehingga sulit mendapat bantuan militer kecuali hanya dari Afrika Utara.
Faktor krusial lainnya didalam intern umat Islam telah terdapat perpecahan. Terutama masalah yang berkaitan dengan etnis dan sosial. Sering dijumpai konflik antara komunitas Arab Utara dan Arab Selatan, antara Barbar dengan arab Selatan, antara Barbar dengan Arab serta problem naturalisasi bagi para mukallaf, yang masih dipandang sebelah mata, terutama dengan pemberian term ibad dan muwalladun yang bertedetensi merendahkan. Yang paling fatal lagi adalah tidak adanya mekanisme yang jelas dalam suksesi kepemimpinan. Sehingga sering menimbulkan gejolak politik yang melemahkan Negara.
Dari aspek pengaruh peradaban Andalusia terhadap kebangkitan Eropa (renaissance) adalah dipicu dengan banyaknya kaum terpelajar Eropa yang belajar di pusat-pusat studi di Andalusia sehingga menyerap berbagai gagasan dan pola pemikiran berbagai tokoh pengetahuan seperti Ibnu Rusyd serta berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui terjemahan Arab yang dipelajari, yang kemudian di konversi ke bahasa latin. Yang pada akhirnya mempercepat terjadinya proses reformasi, rasionalisasi hingga pada fase pencerahan di Eropa.

C. PENUTUP
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad 10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada pertengahan abad ke 12 M , tibalah saatnya masa keruntuhan Islam.

1. http://www.hispanicmuslims.com/andalusia.html
2. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, Cet. Ke 1 , 2007, hlm .227-228
3. Ibid, hlm. 228
4. Ibid,hlm.233-235.
5. P.M.Holt (ed), The Cambridge History Of Islam, Cambridge: Press Syndicate Of The University Of Cambridge, 1970, hlm.406.
6. Ali Shodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004, hlm.79-80.
7. Ibid
8. Ibid, hlm.80 – 81
9. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. ke-1, 1993, hlm.93.
10. Ibid,hlm.94
11. Joesoe Souyb, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997, hlm.9.
12. Badri Yatim, op cit, hlm.95-96
13. Ibid, hlm.96.
14. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004, hlm.120.
15. Badri Yatim, op cit, hlm.99.
16. L,P Harvey, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo Press,1990, hlm.20.
17. Musyrifah Sunanto, op cit, hlm. 122-123.
18. Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999,hlm.598.
19. Ibid
20. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.95-96.
21. Badri Yatim, op cit, hlm.101-103.
22. Philip K Hitti, History Of Arabs, London : MacMillan and Co Ltd,Cet. Ke 10, 1970, hlm.567.
23. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.84-87.

DAFTAR PUSTAKA
Bullet, Ricard W, Conversion to Islam In The Medieval Period, Massachusetts : President and Fellow Of Harvard College, 1979.
Harvey, L,P, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo,1990.
Hitti, Philip K, History Of Arabs, London : Mac Millan and co LTD,Cet. Ke 10, 1970.
Holt,P.M dkk (ed), The Cambridge History Of Islam, New York : Cambridge University Press, 1970.
Karim, Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, CetKe 1 , 2007.
Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999.
Shodiqin, Ali dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004.
Souyb, Joesoe, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997.
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. Nke-1, 2006.

Zaman prasejarah Bali


Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.

Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba, Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian

[sunting] Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di Bedulu, Gianyar.

Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden). Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.

Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.
[sunting] Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.
[sunting] Masa bercocok tanam

Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.
[sunting] Masa perundagian
Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.
[sunting] Masuknya Agama Hindu
Gua Gajah (sekitar abad XI), salah satu peninggalan masa awal periode Hindu di Bali.

Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata “Walidwipa”. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.

Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914, badan ini disebut dengan istilah “panglapuan”. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah “pakiran-kiran i jro makabaihan”. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.

Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.

Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja.
[sunting] Masa 1343-1846

Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343.
[sunting] Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada

Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Dari sinilah berawal wangsa Kepakisan.
[sunting] Periode Gelgel

Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel (dibaca /gɛl’gɛl/). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).
[sunting] Zaman Kerajaan Klungkung

Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.
[sunting] Kerajaan-kerajaan pecahan Klungkung

Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.

[sunting] Masa 1846-1949

Pada periode ini mulai masuk intervensi Belanda ke Bali dalam rangka “pasifikasi” terhadap seluruh wilayah Kepulauan Nusantara. Dalam proses yang secara tidak disengaja membangkitkan sentimen nasionalisme Indonesia ini, wilayah-wilayah yang belum ditangani oleh administrasi Batavia dicoba untuk dikuasai dan disatukan di bawah administrasi. Belanda masuk ke Bali disebabkan beberapa hal: beberapa aturan kerajaan di Bali yang dianggap mengganggu kepentingan dagang Belanda, penolakan Bali untuk menerima monopoli yang ditawarkan Batavia, dan permintaan bantuan dari warga Pulau Lombok yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasanya (dari Bali).
[sunting] Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda

Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Perang Buleleng (1846)
Perang Jagaraga (1848–1849)
Perang Kusamba (1849)
Perang Banjar (1868)
Puputan Badung (1906)
Puputan Klungkung (1908)

Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.
[sunting] Zaman Penjajahan Belanda

Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.

Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.
[sunting] Lahirnya Organisasi Pergerakan

Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama “Suita Gama Tirta” yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama “Shanti” pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama “Shanti Adnyana” yang kemudian berubah menjadi “Bali Adnyana”.

Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama “Suryakanta” dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama “Suryakanta”. Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama “Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok” yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studiefonds.
[sunting] Zaman Pendudukan Jepang

Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.

Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.
[sunting] Zaman Kemerdekaan

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.

Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI menggunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.

Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan “Long March”. Selama diadakan “Long March” itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.
[sunting] Puputan Margarana

Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan “Puputan” atau perang habis-habisan di desa margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 november 1946 di kenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.
[sunting] Konferensi Denpasar

Pada tanggal 7 sampai 24 Desember 1946, Konferensi Denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Hubertus Johannes van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makassar (Ujung Pandang).

Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.
[sunting] Penyerahan Kedaulatan

Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.

Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia – Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia Adalah Peradaban Atlantis Yang Telah Hilang


Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus. Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur. Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang. Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:

“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”

Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan: “Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”

Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.

Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan, mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang berbuat kesalahan yang sama? (misteridunia.wordpress.com)

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN KINERJA GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA SD NEGERI (SDN) DESA ROWOSARI KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2011


Oleh: Amirul Bakhri (105112007)
A. Latar Belakang
Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan, antara lain: guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan, kurikulum. Dari beberapa faktor tersebut, guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor penunjang yang lain, guru sebagi subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan itu sendiri. Studi yang dilakukan Heyneman & Loxley pada tahun 1983 di 29 negara menemukan bahwa di antara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana dialami oleh negara-negara sedang berkembang. Lengkapnya hasil studi itu adalah : di 16 negara sedang berkembang, guru memberi kontribusi terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18% dan sarana fisik 26%. Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu belajar 22% dan sarana fisik 19% (Dedi Supriadi, 1999: 178). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nana Sudjana (2002: 42) menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kemampuan guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%.
Guru sebagai ujung tombak dalam meningkatkan mutu pendidikan perlu meningkatkan diri mereka Berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru lahirlah Surat Keputusan Mendikbud Nomor 0854/U/1989 tanggal 30 Desember 1989 yang merupakan upaya peningkatan kualitas kemampuan sumber daya manusia (SDM) pada dunia pendidikan. Berdasarkan Surat Keputusan tersebut tersurat bahwa prasyarat bagi guru Sekolah Dasar (SD) di masa mendatang diharapkan memiliki ijazah Diploma 2 (D2) atau yang disetarakan dengan D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dewasa ini guru SD menyadari pentingnya meningkatkan SDM dalam pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari semangat mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Fenomena tersebut bisa kita lihat dari semangat dan banyaknya guru yang sedang menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan mereka sanggup untuk mengeluarkan biaya sendiri yang tidak sedikit jumlahnya. Dengan meningkatnya kualitas guru yakni peningkatan pendidikan mereka dan meningkatnya kinerja guru dalam mengajar akan berpengaruh terhadap motivasi siswa SD dalam belajar di kelas.

B. Pembatasan Masalah
Mengingat adanya berbagai macam keterbatasan yang ada pada peneliti, maka penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh tingkat pendidikan dan kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SD Negeri (SDN) Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Tahun 2011.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dalam penelitian dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Adakah pengaruh positif dan signifikan dari tingkat pendidikan guru terhadap motivasi belajar siswa SD Negeri (SDN) Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Tahun 2011.
2. Adakah pengaruh positif dan signifikan dari kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SD Negeri (SDN) Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Tahun 2011.
3. Adakah pengaruh positif dan signifikan dari tingkat pendidikan guru dan kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SD Negeri (SDN) Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Tahun 2011.
D. Kajian Teori
1. Tingkat Pendidikan Guru SD
Latar belakang pendidikan para guru SD terdiri dari beberapa jenjang pendidikan. Di antaranya adalah D2, Sarjana Muda dan Sarjana (S1). Berdasarkan kurikulum SD, beberapa jenis tingkat pendidikan kurang sesuai dengan bidang tugas sebagai guru kelas di SD. Program penyetaraan D2 adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualifikasi guru SD bagi mereka yang masih berpendidikan setingkat SLTA menjadi setingkat D2 lewat Program Penyetaraan D2 PGSD. Melalui program ini diharapkan para guru SD dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan profesi guru melalui peningkatan akademis dari setingkat SLTA menjadi setara D2 tanpa meninggalkan tugas sehari-hari sebagai seorang guru.
Dengan demikian, walaupun mereka ditugaskan untuk belajar tetapi masih tetap diwajibkan untuk melaksanakan tugas, atau dengan kata lain tidak meninggalkan tugas sebagai guru. Mereka diharapkan mengikuti program ini tanpa mengganggu dan meninggalkan tugas pokok sehari-hari, oleh karena itu program ini menggunakan pendekatan pendidikan belajar jarak jauh (Depdikbud, 1992). Pelaksanaan proses belajar mengandalkan pada proses belajar mandiri dengan didukung oleh kegiatan tutorial. Sasaran dari program penyetaraan adalah meningkatkan kualitas dan kemampuan guru SD agar dapat melaksanakan tugas sesuai dengan pola hidup dan pola pikir manusia yang selaras dengan perkembangan ilmu dan teknologi (Depdikbud, 1993 :44).
Sementara itu, latar belakang pendidikan S1 di SD pada saat ini masih banyak yang belum relevan dengan bidang pengajaran di SD. Pendidikan S1 (bukan S1 PGSD) kurikulumnya tidak mengacu pada pendidikan dasar, tetapi mengacu pada pendidikan menengah. Mereka hanya mempunyai satu keahlian bidang studi, misalnya sosial politik, Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Bimbingan dan Penyuluhan (BP), Ekonomi, Sejarah, Bahasa Indonesia, Matematika, Administrasi Pendidikan, atau Geografi. Pendidikan ini memang tidak mempersiapkan sebagai guru kelas melainkan sebagai guru bidang studi pada pendidikan menengah. Kurikulum jenjang pendidikan ini sebenarnya untuk mendidik guru profesional jenjang sekolah menengah (Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP) & Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA) dengan spesialis pada bidang studi tertentu (Gaffar, 1994: 45).

2. Kinerja Guru
Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah variabel guru. Guru mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran, karena gurulah yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas, bahkan sebagai penyelenggara pendidikan di sekolah. Menurut Dedi Supriadi (1999: 178), di antara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Faktor guru yang paling dominan mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah kinerja guru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nana Sudjana (2002: 42) menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kemampuan guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%. Menurut Cruickshank, kinerja guru yang mempunyai pengaruh secara langsung terhadap proses pembelajaran adalah kinerja guru dalam kelas atau teacher classrroom performance (Cruickshank, 1990: 5).
Berdasarkan pendapat tersebut di atas diketahui bahwa kinerja guru merupakan faktor yang dominan dalam menentukan kualitas pembelajaran. Artinya kalau guru yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran mempunyai kinerja yang bagus, akan mampu meningkatkan sikap dan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran, begitu juga sebaliknya. Kinerja guru yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa adalah kinerja guru dalam kelas. Meningkatnya kualitas pembelajaran, akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dipahami karena guru yang mempunyai kinerja bagus dalam kelas akan mampu menjelaskan pelajaran dengan baik, mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa dengan baik, mampu menggunakan media pembelajaran dengan baik, mampu membimbing dan mengarahkan siswa dalam pembelajaran sehingga siswa akan memiliki semangat dalam belajar, senang dengan kegiatan pembelajaran yang diikuti, dan merasa mudah memahami materi yang disajikan oleh guru.
Istilah kinerja dimaksudkan sebagai terjemahan dari istilah “performance”. Menurut Kane (1986:237), kinerja bukan merupakan karakteristik seseorang, seperti bakat atau kemampuan, tetapi merupakan perwujudan dari bakat atau kemampuan itu sendiri. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa kinerja merupakan perwujudan dar kemampuan dalam bentuk karya nyata. Kinerja dalam kaitannya dengan jabatan diartikan sebagai hasil yang dicapai yang berkaitan dengan fungsi jabatan dalam periode waktu tertentu (Kane, 1986:237). Suryadi Prawirosentono (1999: 2) mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi dalam rangka upaya mencapai tujuan secara legal. Menurut Muhammad Arifin (2004: 9), kinerja dipandang sebagai hasil perkalian antara kemampuan dan motivasi. Kemampuan menunjuk pada kecakapan seseorang dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu, sementara motivasi menunjuk pada keingingan (desire) individu untuk menunjukkan perilaku dan kesediaan berusaha. Orang akan mengerjakan tugas yang terbaik jika memiliki kemauan dan keinginan untuk melaksanakan tugas itu dengan baik.
Berdasarkan ungkapan tersebut di atas berarti kinerja guru (teacher performance) berkaitan dengan kompetensi guru, artinya untuk memiliki kinerja yang baik guru harus didukung dengan kompetensi yang baik. Tanpa memiliki kompetensi yang baik seorang guru tidak akan mungkin dapat memiliki kinerja yang baik. Sebaliknya, seorang guru yang memiliki kompetensi yang baik belum tentu memiliki kinerja yang baik. Kinerja guru sama dengan kompetensi plus motivasi untuk menunaikan tugas dan motivasi untuk berkembang. Oleh karena itu, kinerja guru merupakan perwujudan kompetensi guru yang mencakup kemampuan dan motivasi untuk menyelesaikan tugas dan motivasi untuk berkembang. Sementara itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru untuk mendemontrasikan berbagai kecakapan dan kompetensi yang dimilikinya (Depdiknas, 2004 : 11). Esensi dari kinerja guru tidak lain merupakan kemampuan guru dalam menunjukkan kecakapan atau kompetensi yang dimilikinya dalam dunia kerja yang sebenarnya. Dunia kerja guru yang sebenarnya adalah membelajarkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Menurut pasal 28 ayat 3 PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan pasal 10 ayat 1 UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi guru terdiri dari: a) kompetensi pedagogik; b) kompetensi kepribadian; c) kompetensi profesional; dan, d) kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Keempat kompetensi tersebut yang mempengaruhi kinerja guru dalam kelas secara langsung adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disusun rumusan kompetensi guru SD yang mempengaruhi kinerja guru dalam kelas. Rumusan tersebut difokuskan pada kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Adapun rumusan kompetensi guru SD yang mempengaruhi kinerja guru dalam kelas adalah:
a. menguasai bidang studi atau bahan ajar,
b. memahami karakteristik peserta didik,
c. menguasai pengelolaan pembelajaran,
d. menguasai metode dan strategi pembelajaran,
e. menguasai penilaian hasil belajar siswa.

3. Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar siswa memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap keberhasilan proses maupun hasil belajar siswa. Salah satu indikator kualitas pembelajaran adalah adanya semangat maupun motivasi belajar dari para siswa. Ormrod menguraikan bagaimana pengaruh motivasi terhadap kegiatan belajar sebagai berikut.
Motivation has several effect on students’ learning and behavior:It directs behavior toward particular goal.It leads to increased effort and energy. Itincreases initiation of, and persistence in activities.It enhances cognitive processing. It lead to improved performance (Ormrod, 2003: 368 -369).

Motivasi memiliki pengaruh terhadap perilaku belajar siswa, yaitu motivasi mendorong meningkatnya semangat dan ketekunan dalam belajar. Motivasi belajar memegang peranan yang penting dalam memberi gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar yang pada akhirnya akan mampu memperoleh prestasi yang lebih baik.
Dalam pengertian umum, motivasi merupakan daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Woolfolk & Nicolich (1984: 270), menyatakan bahwa motivasi pada umumnya didefinisikan sebagai sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. McClelland dalam Teevan dan Birney (1964: 98) mengartikan motif sebagai suatu dorongan yang menggerakan, mengarahkan dan menentukan atau memilih perilaku. Pengertian tersebut memandang motif dan motivasi dalam pengertian yang sama karena definisinya mengandung pengertian sebagai konsep, sebagai pendorong serta menggambarkan tujuan dan perilaku. Manullang (1991: 34) menyatakan bahwa motif adalah suatu faktor internal yang menggugah, mengarahkan dan mengintegrasikan tingkah laku seseorang yang didorong oleh kebutuhan, kemauan dan keinginan yang menyebabkan timbulnya suatu perasaan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan.
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motif merupakan suatu potensi yang ada pada individu yang sifatnya laten atau potensi yang terbentuk dari pengalaman, sedangkan motivasi adalah kondisi yang muncul dalam diri individu yang disebabkan oleh interaksi antara motif dengan kejadian-kejadian yang diamati oleh individu, sehingga mendorong mengaktifkan perilaku menjadi tindakan nyata.
McClelland (1977: 13 – 30) mengemukakan empat model motif, yaitu: 1) the survival motive model, 2) the stimulus intensity model, 3) the stimulus pattern model, dan 4) the affective arousal model. The survival motive model atau motif yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Motif ini bersumber pada kebutuhan-kebutuhan individu untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan biologis, seperti makan dan minum. Kebutuhan seperti itu akan dapat mendorong individu aktif berbuat untuk memenuhinya. The stimulus intensity model merupakan motif yang bersumber pada tingkat rangsangan yang dihadapi individu. Teori ini mengatakan bahwa motif atau dorongan untuk berbuat timbul karena adanya rangsangan yang kuat. Ini berarti agar timbul dorongan untuk berbuat harus ada rangsangan yang kuat.
The stimulus pattern model merupakan motif yang didasarkan pada pola rangsangan di dalam suatu situasi. Teori ini menyatakan bahwa motif timbul bila rangsangan situasi selaras dengan harapan dan tantangan organisme, dan bilamana rangsangan situasi berlawanan dengan harapan individu, maka akan menimbulkan pertentangan respon yang mengarah pada kekecewaan. The affective arousal model adalah teori motif yang mendasarkan diri pada pembangkitan afeksi, rangsangan atau situasi yang dihadapi individu dipasangkan dengan keadaan afeksi individu. Motif muncul karena adanya perubahan situasi afeksi individu. McClelland berasumsi bahwa setiap orang memiliki situasi-situasi afeksi yang menjadi dasar dari semua motif.
Lebih lanjut, McClelland (1977: 28) menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat berkaitan dengan harapan (expectation). Harapan seseorang terbentuk melalui belajar. Suatu harapan akan selalu mengandung standar keunggulan (standard of exellence). Standar tersebut bisa berasal dari tuntutan orang lain atau lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Oleh karena itu, standar keunggulan dapat merupakan kerangka acuan bagi seseorang pada saat ia belajar, mengerjakan suatu tugas, memecahkan masalah maupun mempelajari suatu kecakapan.
McClelland (1987: 4) mengembangkan teori motivasinya sampai pada bentuk-bentuk pengembangan motivasi berprestasi (N-Ach) yang sangat populer, khususnya di kalangan enterpreneur. McClelland berhasil merumuskan ciri–ciri operasional perilaku individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan individu dengan motivasi berprestasi rendah. Mereka yang memiliki motivasi tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi, 2) menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, 3) berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja, 4) memiliki tanggung jawab secara pribadi atas kinerjanya, 5) menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif untuk peningkatan kinerjanya, 6) inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk peningkatan kinerjanya.

E. Kerangka Pikir
Tingkat pendidikan dan kinerja guru dalam kelas merupakan faktor yang dominan dalam menentukan motivasi belajar siswa serta kualitas pembelajaran. Artinya kalau guru yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi dan kinerja yang bagus, akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, begitu juga sebaliknya. Hal ini dapat dipahami karena guru yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi dan kinerja bagus dalam kelas akan mampu menjelaskan pelajaran dengan baik, mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa dengan baik, mampu menggunakan media pembelajaran dengan baik, mampu membimbing dan mengarahkan siswa dalam pembelajaran sehingga siswa akan memiliki semangat dan motivasi dalam belajar, senang dengan kegiatan pembelajaran yang diikuti, dan merasa mudah memahami materi yang disajikan oleh guru.

F. Hipotesis
Dari data-data di atas, guru SD yang berpendidikan tinggi atau setara, maka akan mempengaruhi motivasi belajar siswa. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara tingkat pendidikan guru dengan motivasi belajar siswa. Begitu juga dengan kinerja guru, dengan adanya kinerja guru yang meningkat akan mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh kepemimpinan guru terhadap kualitas mengajar.

G. Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang. Pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Dari sejumlah kelas yang ada kemudian diundi untuk menentukan kelas sampel. Berdasarkan hasil undian diperoleh hasil kelas 8 sebagai kelas sampel, yang terdiri dari kelas1, 3 dan, kelas 5. Adapun dari ketiga kelas tersebut diperoleh 130 siswa sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket. Angket digunakan untuk mengungkap data tentang kinerja guru dan motivasi belajar siswa. Angket yang digunakan adalah model angket tertutup, artinya responden tinggal memilih alternatif yang telah disediakan. Responden pengumpulan data adalah siswa, baik untuk tingkat pendidikan guru, kinerja guru maupun motivasi belajar siswa. Penggunaan siswa sebagai responden untuk pengumpulan data tingkat pendidikan dan kinerja guru didasarkan pada asumsi bahwa proses pembelajaran dianggap sebagai sebagai sebuah produk jasa pendidikan yang harus berorientasi pada kepuasan konsumen (customer satisfaction). Konsumen dalam jasa pendidikan salah satunya adalah siswa. Siswa dianggap sebagai pihak yang paling banyak mengetahui tentang kinerja guru dalam kelas. Untuk memperoleh data tersebut, digunakan kuesioner dalam bentuk skala Likert, yang dikirim ke masing-masing responden. Skala ini berisi seperangkat pernyataan yang merupakan merupakan pendapat mengenai objek. Pertanyaan-pertanyaan ini sebagian besar mengandung pendapat positif dan negatif. Responden diminta untuk menyatakan kesetujuan atau tidak kesetujuannya terhadap isi pertanyaan dalam lima macam kategori jawaban yaitu sangat tinggi (ST), tinggi (T), tidak tahu (TT), rendah (R), sangat rendah (SR). Setiap jawaban yang diberikan, akan mendapatkan nilai sesuai dengan arah pernyataan sebagaimana dalam tabel berikut:

Arah Pernyataan ST T TT R SR
Positif 5 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4 5

Validitas instrumen dalam penelitian ini digunakan validitas konstruk (construct validity) atau ada juga yang menyebut dengan istilah logical validity. Pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor dengan cara menghitung koefisien korelasi (r) antara skor butir dengan skor total. Kriteria yang dijadikan dasar untuk melihat valid tidaknya sebuah butir instrumen adalah dengan melihat besarnya nilai ”r” antara skor butir dengan skor total dengan ketentuan, apabila nilai ”r” >0,3 berarti nomor butir tersebut dinyatakan valid (Fernandes, 1984:28). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa dari 47 butir instrumen 3 butir dinyatakan tidak valid.
Uji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan pengujian internal consistency dengan teknik Alpha Cronbach. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai koefisien Alpha Cronbach, sekurang-kurangnya 0,7 (Kaplan, 1982: 106). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan instrumen dinyatakan valid karena memiliki Koefisien Alpha lebih besar dari 0,7. Instrumen kinerja guru memiliki Koefisien Alpha = 0,9299, instrument motivasi belajar siswa memiliki Koefisien Alpha = 0,8965.

H. Hasil Penelitian
Hasil penelitian tentang pengaruh antara tingkat pendidikan guru dan kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang, dapat dilihat dalam tabel-tabel di bawah ini yaitu sebagai berikut:

1. Statistik Deskriptif
Variable N Ter-tinggi Teren-dah Re-rata Va-rian Sim-pang Baku Ga-lat Baku
Motivasi Belajar (Y) 50 5,000 1,000 3,780 1,644 1,282 0,181
Tingkat Pendidikan (X1) 50 5,000 3,000 4,240 0,553 0,744 0,105
Kinerja (X2) 50 5,000 3,000 4,620 0,322 0,567 0,080

2. Koefisien Regresi
Model b t d.k. t-Kritis pada taraf signf. 50% Kesimpu-lan
Konstan (a) -3,484
X1 0,805 4,139 47 2,012 Signifikan
X2 0,833 3,266 47 2,012 Signifikan

3. Persamaan Regresi
Y’= a + b1.X1 + b2.X2
= -3,484 + 0,805 X1 + 0,833 X2
Y’ = nilai Y yang diprediksikan dari nilai X1 dan X2
a = intersep (nilai Y bila nilai X = 0)
b1 = slop / regresi (nilai kenaikan / penurunan Y, bila nilai X1 naik satu tingkat)
b2 = slop / regresi (nilai kenaikan / penurunan Y, bila nilai X2 naik satu tingkat)

4. Rangkuman Analisis Varian
Sum-ber Jumlah Kua-drat (JK) Derajat Kebeba-san (DK) Rerata Kua-drat (RK) F F-Kritis Pada Taraf Signifik-ansi 50% Kesimpu-lan
Regresi 34,663 2 17,331 17,740 3,195 Signifikan
Residu 45,917 47 0,977
Total 80,580 49
Variable Dependen (Y) : Kualitas Mengajar

5. Sumbangan Pada Varian “Motivasi Belajar”
Sumbangan Variable R Kua-drat F F-Kritis Pada Taraf Signifi-kansi 50% Kesimpulan
Tingkat Pendidikan 0,301 20,653 4,043 Signifikan
Kinerja 0,222 13,376 4,043 Signifikan
Tingkat Pendidikan dan Kinerja 0,430 17,740 3,195 Signifikan
Kinerja Setelah Tingkat Pendidikan 0,129 10,668 4,047 Signifikan
Tingkat Pendidikan Setelah Kinerja 0,208 10,668 4,047 Signifikan

I. Kesimpulan
Dari penelitian tentang pengaruh tingkat pendidikan guru dan kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SDN seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Adanya pengaruh yang sanagt tinggi antara tingkat pendidikan guru terhadap motivasi belajar siswa SDN seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang yaitu sebesar 20%.
2. Adanya pengaruh yang tinggi antara kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SDN seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang sebesar 13%.
3. Adanya pengaruh yang cukup tinggi antara tingkat pendidikan guru dan kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa SDN seluruh desa Rowosari kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang sebesar 17%.

J. Daftar Rujukan
Cruickshank, D.R. (1990). Research That Informs Teachers and Teacher Educators. Bloomington: Phi Delta Kappa Educational Foundation.
Dale, Timpe A. (1987). The Art and Science of Bussiness Management Leadership. New York: Kend Publishing Inv.
Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Pengembangan Perangkat Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Ditjen Dikti, Bagian Proyek P2TK.
Depdikbud. (1993). Panduan Pemantapan Pengalaman Lapangan, Program Penyetaraan D-II Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.
G. Yulk. (1999). Leadership in Organization (Kepemimpinan Dalam Organisasi). Terj. Udaya. Jakarta: Prentice Hall Inc.
Gaffar, F. (1994). Menyongsong Hari Esok. Edisi 4. Bandung: University Press.
Gregor,Mc. (1960). The Human Side of Interprises. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Kane, J.S. (1986). Performance Distribution Assessment. Dalam Berk, R.A. (Eds). Performance assessment (pp. 237-273). Baltimore: The Johns Hopkins University Press
Manullang. (1991). Pengembangan Motivasi Berprestasi. Jakarta: Pusat Produktivitas Nasional. Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia.
McClelland, D.C. (1977). The Achieving Society. New York: McMillan Publishing Co. Inc.
Muhammad Arifin Ahmad. (2004). Kinerja Guru Pembimbing Sekolah Menengah Umum. Disertasi doktoral, tidak diterbitkan. Universitas Negeri Jakarta.
Nana Sudjana. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Ormrod, J.E. (2003). Educational Psychology, Developing Learners. (4d ed.). Merrill: Pearson Education, Inc.
Sahertian, P.A., & Sahertian, I.A. (1990). Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Program Inservice Education. Jakarta: Rineka Cipta.
Soelaiman, D.A. (1979). Pengantar Teori dan Praktek Pengajaran. Semarang: IKIP Semarang Pers.
Usman, M.U. (1992). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
W. Bennis, dan Nanus B. (1985). Visionary Lead, San Fransisco: Jossey Bass Publisher.
Wolfolk A.E. & Nicolich, Cune L. (1984). Educational Psychology For Teachers. Englewood Cliffs : Prentice Hill Inc.

ISLAM DAN DEMOKRASI (Suatu Kajian Tentang Demokrasi Pendidikan Dalam Perspektif Islam)


Oleh: Amirul Bakhri (105112007)
A. Pendahuluan
Istilah demokrasi lazim dipahami orang berorientasi pada bidang politik. Namun ketika dianalisis konsep yang terkandung dalam demokrasi itu sendiri justru menyentuh segala aktivitas kehidupan. Secara kebahasaan, demokrasi terdiri dari dua rangkaian kata yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos yang berarti kekuasaan. Secara istilah, kata demokrasi ini dapat ditinjau dari dua segi makna. Pertama, demokrasi dipahami sebagai suatu konsep yang berkembang dalam kehidupan politik pemerintah, yang di dalamnya terdapat penolakan terhadap adanya kekuasaan yang terkonsentrasi pada satu orang dan menghendaki peletakkan kekuasaan ditangan orang banyak (rakyat) baik secara langsung maupun dalam perwakilan. Kedua, demokrasi dimaknai sebagai suatu konsep yang menghargai hak-hak dan kemampuan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa istilah demokrasi ini awalnya berkembang dalam dimensi politik yang tidak dapat dihindari.
Secara historis, istilah demokrasi memang berasal dari Barat. Namun jika melihat dari sisi makna, kandungan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan oleh demokrasi itu sendiri sebenarnya merupakan gejala dan cita-cita kemanusiaan secara universal. Artinya dalam berbagai macam peradaban manusia seperti: Mesir, Cina, India, Persia dan sebagainya sesungguhnya memiliki pemikirannya sendiri dalam memahami dan memperjuangkan hak-hak individu dan kemanusiaan serta memiliki sejarahnya sendiri dalam memerangi otoritarianisme dan kediktatoran. Ini berarti, jika demokrasi itu berjuang pada pembelaan hak dan martabat manusia, maka tidak disangkal bahwa demokrasi merupakan gejala kemanusiaan secara universal.
Dengan berjalannya waktu, paham demokrasi ini masuk di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Walaupun mayoritas di negara Indonesia adalah beragama Islam, namun istilah demokrasi ini sudah diungkapkan oleh oragnisasi Sarekat Islam (SI) sekitar pada tahun 1917. Secara historis, sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, bangsa Indonesia sudah menjalankan tiga bentuk demokrasi yaitu Demokrasi Parlementer (195-1959), Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dan Demokrasi Pancasila (1965-kini). Ini berarti, walaupun negara Indonesia dihuni oleh mayoritas beragama Islam tidak lantas menjadi Islam sebagai sebuah landasan dalam bernegara. Karena memang negara Indonesia terdiri dari berbagai macam agama, suku dan budaya seperti dalam ungkapan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu juga). Sehingga setiap orang punya hak dalam memberikan pendapat dan tidak menjadi kungkungan apakah dia mayoritas, atau minoritas.
Oleh karena itulah, penulis akan menyajikan makalah yang akan mengkaji sebuah ide demokrasi dalam perepdektif Islam dan bagaimana implementasinya dalam pendidikan. Karena unsur demokrasi ini merupakan salah satu unsur yang sampai sekarang ini merupakan unsur ide yang baik, walaupun sebenarnya dalam Islam sendiri telah mengatur bagaimana sebenarnya ide demokrasi ini. Karena Islam bukan merupakan seperti sebuah ensiklopedi yang semuanya ada, akan tetapi kita perlu mencari, mengupas apa sebenarnya isi dan kandungan ajaran-ajaran Islam. Sehingga dengan terus mengkaji Islam terhadap berbagai ide dan paham yang berada dari luar Islam, akan selaku terjadi wacana yang selaras dan saling menerima serta tidak langsung bersikap apatis terhadap paham atau ide yang memang bukan dari ajaran Islam. Hal yang terpenting adalah dengan melihat substansi paham atau ide tersebut dalam ajaran Islam, bukan hanya dari luar kulitnya saja. Selain itu, dalam makalah ini akan mengupas bagaimana demokrasi itu bisa masuk dalam dunia pendidikan yang pada saat sekarang sudah menjadi wacana persaingan global.

B. Nilai Demokrasi Dalam Perspektif Alquran
Alquran merupakan wahyu yang diturunkan Allah Swt untuk pedoman hidup manusia sebagai sumber utama dan pertama dalam Islam. Dalam Alquran terdapat banyak ajaran yang berbicara tentang manusia dan nilai keberadaannya, mulai dari siapa itu manusia, apa kedudukannya dan tugasnya, hingga ajaran yang menuntun manusia bagaimana ia bertingkah-laku dan bertindak dalam menjalankan kehidupannya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Isra` ayat 70 disebutkan:
                 
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Penegasan ayat Alquran di atas menampilkan informasi tentang siapa sebenarnya manusia, dan bagaimana ia didudukkan di samping makhluk lain. Begitu juga dengan firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 30 sebagai berikut:
                     •         
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pada ayat di atas menjelaskan informasi tentang kedudukan manusia di bumi. Di antara keutamaan yang Allah Swt berikan kepada manusia dibandingkan dengan makhluk lain dan peletakkan manusia yang berkedudukan sebagai khalifah Allah Swt di bumi seperti yang diinformasikan dalam dua ayat di atas (surat al-Isra` ayat 70 dan surat al-Baqarah ayat 30) mengisyaratkan adanya peranan yang penting yang dapat dilakukan manusia untuk mengatur dunia ini. Di sini lah posisi makna kebebasan yang menjadi salah satu prinsip dan semangat yang dikandung demokrasi yang melekat pada diri manusia baik sebagai individu maupun komunitas sosialnya. Sebagai khalifah (pengganti) Allah Swt di bumi, manusia diberi kekuasaan dan kebebasan untuk mengelola alam. Namun selain berkedudukan sebagai khalifah, manusia adalah hamba Allah Swt sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Dzariyat ayat 56 sebagai berikut:
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Sebagai hamba Allah Swt, manusia yang tadinya dipandang sebagai sebagai makhluk yang memiliki kebebasan justru tetap berorientasi kepada penghambaannya pada Allah Swt. Ini berarti pada hakikatnya, manusia bebas dalam batas ketentuan yang ditetapkan Allah Swt.
Secara sosio historis, istilah hamba dipahami sebagai seseorang yang telah hilang kemerdekaannya, kebebasannya dan dikuasai oleh pemiliknya. Dalam pemahaman seperti itu, maka manusia sebagai hamba Allah Swt adalah makhluk yang sepenuhnya milik Allah Swt yang walaupun manusia itu diberikan kebebasan, maka kebebasan itu adalah kebebasan yang dibatasi oleh aturan Allah Swt. Oleh karena itulah, dapat dimengeti ketika Alquran sangat mengancam segala bentuk penindasan, perampasan, pemerkosaan, dan lain sebagainya yang merugikan orang lain. Karena hal-hal seperti itu selain bertentangan dengan aturan agama, selain itu perbuatan-perbuatan tersebut secara alamiah bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang terbatas, yang pada akhirnya akan mengancam sisi kehidupannya sendiri.
Selain dari dua ayat di atas (surat al-Isra` ayat 70 dan surat al-Baqarah ayat 30), Alquran juga menegaskan tentang persamaan derajat sesama manusia, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut:
 ••           •      •    
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam ayat di atas (surat al-Hujurat ayat 13), dapat dipahami bahwa pada prinsipnya Alquran (Islam) mengakui adanya perbedaan etnis dan bangsa yang merupakan sudah menjadi sunnatullah. Namun perbedaan itu, lantas tidak bermaksud untuk merasa lebih besar dari lainnya. Kemajemukan merupakan realitas kehidupan dan dengan kemajemukan ini, manusia dalam pandangan Allah Swt itu sama. Karena Allah Swt hanya melihat dari segi ketakwaan manusia kepada Allah Swt dalam beribadah.
Dalam hubungannya dengan demokrasi, syura (musyawarah) merupakan salah satu ajaran Islam yang penting dalam Alquran. Secara sederhana, syura diartikan dengan pengambilan keputusan secara bersama dan menghilangkan dominasi perorangan. Apa yang diinginkan dalam syura sebenarnya tidak semata-mata terletak pada bentuk formal dari pengambilan keputusan itu. Akan tetapi lebih kepada landasan ajaran yang bertujuan menjaga semangat kolektivitas di satu sisi dan di sisi lain mengurangi dominasi perorangan dan kesalahan individual yang sering kali terjadi di tengah kehidupan manusia. Dalam syura mensyaratkan adanya kebebasan berpendapat yang dari sini dapat terwujud kebebasan aktualisasi diri. Bahkan ada yang memahami bahwa martabat seseorang akan rendah bila menolak hak untuk memberikan pendapatnya terhadap hal-hal yang sudah diketahui. Pada intinya, syura merupakan syariat memberikan hak kepada individu-individu untuk menegaskan apa saja yang disukai selama tidak menimbulkan kerusakan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt disebutkan tentang syura dalam surat al-Syura ayat 38 sebagai berikut:
           
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.”

Dalam surat al-Syura ayat 38 di atas, adalah salah satu dari ayat Alquran tentang syura yang muncul dalam bentuk pujian terhadap kaum beriman terdahulu karena ketaatan mereka dalam menyelesaikan problem kemasyarakatan berdasarkan syura. Ayat ini (al-Syura ayat 38) merupakan ayat makiyyah yang turun sebelum keberadaan Islam dinyatakan terbuka dan luas. Ketika pemerintahan Islam di kota Madinah telah mapan, syura sebagai prinsip penting disampaikan dalam bentuk perintah secara tegas sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 159 sebagai berikut:
                              •    
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Menurut Ibnu Taimiyah yang mengomentari ayat di atas (Ali Imran ayat 159) mengatakan, kalau Allah Swt saja memerintahkan Nabi Muhammad Saw bermusyawarah dengan umatnya, maka perintah itu bermakna lebih tegas untuk generasi muslim selanjutnya yang tidak lagi berjumpa dengan beliau. Oleh karena itu, hendaknya prinsip syura menjadi landasan dalam memutuskan persoalan di tengah-tengah masyarakat kaum muslim.

C. Implementasi Nilai Demokrasi Dalam Pendidikan
Sejak lahir, manusia berada dalam proses interaksi yang terjadi setiap hari dengan lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Beberapa peran yang dijalankan individu seperti cara berpikir, bertindak dan nilai-nilai yang diberikan pada anak, mempunyai andil dalam pembentukan watak dan kerpibadiannya kelak. Secara lebih spesifik, pendidikan keluarga dapat disebut sebagai bagian terpenting dalam pendidikan sosial karena di keluargalah awal adany upaya mengubah anak dari sekedar makhluk biologis menjadi makhluk sosial. Sejak usia dini, anak-anak sudah sangat peka terhadap sikap kasih sayang dan toleran atau sebaliknya bengis dan kejam. Mereka sudah dapat memahami perilaku yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Di sinilah pendidikan orang tua sangat penting, apakah mereka bersikap kasih sayang atau sebaliknya.
Di sisi lain, seperti yang diungkapkan oleh Mushthafa Ahmad Turkey bahwa anak-anak yang berusia (5-8 tahun) mempunyai ketaatan dan kepatuhan terhadap orang tua yang sangat kuat. Jika ungkapan ini benar adanya dan merupakan gejala yang berlaku di mana-mana, maka arahan orang tua menjadi sangat penting adanya. Untuk ha-hal baik, orang tua boleh agak memaksakan kehendaknya bagi si anak, bukan berarti mengurangi kebebasan anak tetapi perlu dipandang bahwa si anak masih buta akan nilai-nilai kebajikan dan oleh karenanya perlu diarahkan oleh orang tua. Begitu juga dengan sosialisasi tentang memahamkan nilai-niali demokrasi juga perlu diajarkan oleh anak ketika masih dalam lingkungan sekolah. Karena proses sosialisasi nilai-nilai demokrasi yang berlangsung di lingkungan baik keluarga atau masyarakat lewat kelompok teman, atau lewat media massa lebih dominan di pendidikan sekolah. Memang dari berbagai penelitian baik di Barat maupun di Indonesia sendiri, menunjukkan bahwa pendidikan sekolah berhasil menanamkan pengetahuan dan kesadaran tentang demokrasi di semua jenjang pendidikan. Maka apabila nilai-nilai yang disosialisasikan di sekolah berbeda dengan apa yang disosialisasikan di keluarga atau di masyarakat, maka akan mengakibatkan sosialisasi di sekolah gagal mencapai tujuan. Sebagai contoh, sejak tahun 1960 pemerintah Amerika Serikat menelorkan undang-undang yang menghapuskan diskriminasi. Sejak itu, sekolah-sekolah melaksanakan equality (persamaan hak) khususnya berdasarkan warna kulit, antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Akan tetapi proses sosialisasi ini belum berhasil. Para siswa khususnya tingkat 10 ke atas (setingkat SMA) memiliki sikap rasialis. Karena di keluarga atau masyarakat tetap berlangsung sosialisasi nilai-nilai rasial berdasarkan warna kulit.
Pendidikan sekolah merupakan sistem yang mampu membantu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki manusia. Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan pendidikan sekolah banyak mengalami problem. Padahal peranan pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan manusia. Pendidikan Islam sebagai salah satu agen perubahan sosial juga harus mampu menerjang problem yang bergerak dinamis dan proaktif untuk kemajuan dan perbaikan umat Islam. Pendidikan yang dipandang kurang humanis juga sering terjadi dalam proses pendidikan yang berdampak pada perkembangan peserta didik. Tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan dan harus diwujudkanpun jauh dari harapan. Demokratisasi pendidikan dianggap mampu sebagai solusi dalam mewujudkan pendidikan Islam yang humanis. Pendidikan yang tidak membenarkan adanya intimidasi, pengekangan dan pembatasan terhadap kreatifitas guru dan murid dapat diwujudkan dengan upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara guru dan murid. Suasana humanis dalam pendidikan akan mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan Islam.
Dalam pandangan Mc Grath pendidikan merupakan aspek paling penting bagi upaya menumbuhkan sikap dan perilaku demokratis maka perlu adanya demokratisasi pendidikan. Dalam hal ini tujuannya adalah bagaimana mendidik siswa berfikir kritis. Senada dengan Russel yang menyebutkan bahwa adanya kebebasan dalam pendidikan akan mengakibatkan dan mewujudkan demokratisasi pendidikan. Upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara pendidik dan peserta didik. Demokratisasi yang dibangun oleh pemikir pendidikan Islam di Indonesia merupakan upaya untuk membangun dasar-dasar persamaan, kebebasan, keadilan, keterbukaan dan anti diskriminasi. Demokratisasi yang digagasan Freire adalah sistem pendidikan yang mengusung pendekatan dialog yang berusaha menempatkan subjek pendidikan (baik guru maupun murid) sebagai manusia yang memiliki jati diri masing-masing dan perlu berkembang secara bersama-sama. Selain itu, Freire menawarkan pengajaran sistem pendidikan multikultural, dimana seluruh siswa diajari untuk senantiasa menghargai dan menghormati keanekaragaman atau kemajemukan yang terjadi di sekolah.
Ahmad D. Marimba mengimplementasikan beberapa konsep pendidikan setelah menggabungkan gagasan Freire sebagai berikut:
1. Hakikat dan tujuan pendidikan Islam hakikatnya yakni sebagi proses untuk membina dan mengembangkan dan mengoptimalkan kompetensi manusia selaku hamba Allah sedangkan tujuannya adalah mewujudkan manusia sempurna yang dapat memenuhi kebutuhan materil dan spiritualnya.
2. Konsep guru dan murid: guru sebagai pelaksana pendidikan yang menentukan, guru sebagi fasilitator, guru dan siswa sebagi subjek pendidikan yang sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar bersama.
3. Metode Pendidikan: metode pembelajaran yang menyenangkan, mampu membangkitkan dan mengembangkan kompetensi siswa, sehingga siswa tidak hanya pintar membaca teks tapi juga pintar membaca konteks.

D. Kesimpulan
Istilah demokrasi telah dikenal sejak abad ke 5 Masehi yang pada awalnya sebagai respon terhadap pengalaman buruk monarki dan kediktatoran di negara-negara Kota Yunani Kuno. Pada waktu itu, demokrasi dipraktikkan sebagai sistem di mana seluruh warga negara membentuk lembaga legislatif. Hal ini dimungkinkan oleh kenyataan jumlah penduduk negara-negara kota kurang lebih 10.000 jiwa dan bahwa wanita dan anak-anak serta budak tidak mempunyai hak politik. Tidak ada pemisahan kekuasaan saat itu, dan semua pejabat bertanggung jawab sepenuhnya kepada Majelis Rakyat yang memenuhi syarat untuk mengontrol berbagai persoalan eksekutif yaitu yudikatif dan legislatif.
Namun jika melihat dari sisi makna, kandungan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan oleh demokrasi itu sendiri sebenarnya merupakan gejala dan cita-cita kemanusiaan secara universal seperti dalam pandangan Islam. Dalam Alquran (sebagai sumber pertama dalam Islam) terdapat banyak ajaran yang berbicara tentang nilai-nilai dalam demokrasi seperti dalam firman Allah Swt di surat al-Isra` ayat 70, surat al-Baqarah ayat 30, surat al-Hujurat ayat 13, surat al-Syura ayat 38 serta berbagai surat lain. Inti dari semua ayat-ayat tersebut membicarakan bagaimana manusia itu merupakan makhluk menghargai perbedaan, kebebasan berkehendak, mengatur tentang musyawarah dan lain sebagainya yang merupakan unsur-unsur dalam demokrasi yang di kembangkan dalam dunia Barat.
Pendidikan Islam sebagai salah satu agen perubahan sosial juga harus mampu menerjang problem yang bergerak dinamis dan proaktif untuk kemajuan dan perbaikan umat Islam. Pendidikan yang dipandang kurang humanis juga sering terjadi dalam proses pendidikan yang berdampak pada perkembangan peserta didik. Tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan dan harus diwujudkanpun jauh dari harapan. Demokratisasi pendidikan dianggap mampu sebagai solusi dalam mewujudkan pendidikan Islam yang humanis. Pendidikan yang tidak membenarkan adanya intimidasi, pengekangan dan pembatasan terhadap kreatifitas guru dan murid dapat diwujudkan dengan upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara guru dan murid. Suasana humanis dalam pendidikan akan mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan Islam.

E. Daftar Pustaka
Abdillah, Masykuri. Demokrasi di Persimpangan Makna (Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi (1966-1993), Alih bahasa oleh Wahib Wahab dari judul Responses of Indonesian Muslim Intelectuals to The Consept od Democracy (1966-1993). Cet. 2. Yogyakarya: PT. Tiara Wacana, Juni 2004.
Abdullah, Taufik. Sejarah Ummat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991.
Kamali, Muhammad Hasyim. Kebebasan Berpendapat Dalam Islam, Alih bahasa Eva Nukman dan Fathiyyah B. Bandung: Mizan, 1996.
Lewis, Bernard. Islam Liberal Demokrasi (Membangun Sinergi Warisan Sejarah, Doktrin dan Konteks Global). Alih bahasa: Mun`im Sirry. Cet. 1. Jakarta Selatan: Paramadina, Oktober 2002.
Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, cet 4, (Bandung: al-Ma`arif 1986.
Morris, William (Ed.). Dictionary of The English Language. Volume I. USA: Houngton Miffin Company, 1979.
Rahman, Fazlur. Major Themes of The Qur`an. Chicago: Bibilothece Islamice, 1980.
Taimiyyah, Ibnu. Al-Siyasah al-Syar`iyah. Kairo: Darul Kutub al-Islamiyah, 1975.
Turkey, Mushthafa Ahmad. “Perilaku Demokrasi” Jurnal Dase. Kairo: ICMI Orsat Kairo, September 1995.
Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi, (Yogyakarta: BIGRAF Publishing, Januari 2001), h. 33-34.

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA MUTU (Studi Multi Kasus di Madrasah Terpadu MAN 3 Kota Malang, dan MAN Malang I)


Oleh: Amirul Bakhri (105112007)
A. Pendahuluan
Salah satu isu penting dalam penyelenggaraan pendidikan saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan, dalam undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 4 ayat 6 menegaskan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Akan tetapi realitas saat ini menunjukkan kemerosotan mutu pendidikan baik di tingkat pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Salah satu indikator kemerosotan mutu pendidikan ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa madrasah dengan jumlah relatif kecil. Hal ini terjadi karena pengelolaan pendidikan yang dilakukan lebih menitikberatkan pada aspek kualitas, di samping itu juga kurangnya perhatian pada upaya untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar serta perbaikan kualitas manajemen madrasah atau manajemen pengelolaan pendidikan.
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan atau mutu pendidikan atau mutu madrasah, setiap lembaga pendidikan akan selalu berusaha untuk meningkatkan mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil jika pendidikan atau madrasah dapat menghasilkan lulusan yang bermutu akan tetapi tidak melalui proses pendidikan yang bermutu. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen pelaksana dan kegiatan pendidikan yang disebut sebagai mutu total (total quality). Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa yakni istitusi yang memberikan pelayanan sesuai yang diinginkan oleh pelanggan.
Manajemen pendidikan mutu terpadu berlandaskan pada kepuasan pelanggan sebagai sasaran utama. Pelanggan jasa pendidikan dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, pelanggan internal yaitu pelanggan jasa pendidikan yang bersifat cenderung permanen yaitu pengelola pendidikan, meliputi kepala madrasah dan pembantunya, tenaga kependidikan, dan tenaga administrasi pendidikan. Kedua, pelanggan eksternal yaitu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap jasa layanan madrasah tetapi sifatnya masih tentatif yang meliputi siswa, orang tua (wali siswa), masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Oleh karena itu, untuk memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa, maka institusi pendidikan tersebut hendaknya memenuhi standar mutu, baik mutu sesungguhnya (quality in fact) maupun mutu persepsi (quality in perseption). Standar mutu produksi dan pelayanan diukur dengan kriteria sesuai dengan spesifikasi, cocok dengan pembuatan dan pengguna, tanpa cacat dan selalu baik sejak awal. Mutu dalam persepsi diukur dari kepuasan pelanggan, meningkatnya minat, dan harapan pelanggan. Dalam penyelenggaraannya, quality in fact merupakan profil lulusan institusi pendidikan sesuai dengan kualifikasi tujuan pendidikan, yang berbentuk standar kemampuan dasar berupa kualifikasi akademik minimal yang dikuasai peserta didik. Sedangkan quality in perseption pendidikan adalah kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap lulusan institusi pendidikan.
Madrasah sebagai salah satu lembaga penyedia jasa pendidikan harus mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Apalagi telah jelas ditegaskan dalam undang-undang sitem pendidikan nasional bahwa madrasah memiliki kedudukan dan peran yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya (persekolahan). Namun demikian, perhatian pemerintah terhadap keberadaan madrasah dirasakan masih kurang. Berdasarkan data yang dikeluarkan Center for Informatics Data and Islamic Studies (CIDIES) Departemen Agama dan Data Base EMIS (Education Management System) Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama, jumlah madrasah (Madrasah Ibtidaiyah / MI) mencapai 23.517 lembaga yang 93% di antaranya berstatus lembaga swasta, (Madrasah Tsanawiyah / MTs) ada 12.054 dengan 90% di antaranya adalah swasta, dan (Madrasah Aliyah / MA) sebanyak 4.678 dengan 86% swasta. Kondisi status kelembagaan madrasah ini dapat digunakan untuk membaca kualitas madrasah secara keseluruhan, seperti keadaan guru, siswa, fisik, dan fasilitas dan sarana pendukung lainnya karena keberadaan lembaga-lembaga pendidikan dasar, dan menengah di tanah air pada umumnya tergantung pada pemerintah. Namun demikian, madrasah bagi masyarakat Indonesia tetap memiliki daya tarik. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah siswa madrasah dari tahun ke tahun rata-rata sebesar 4,3% sehingga berdasarkan data CIDIES pada tahun 2006 / 2007 diperkirakan jumlah siswanya mencapai 5,5 juta orang dari sekitar 67 juta penduduk usia sekolah di Indonesia.
Seiring dengan itu, tuntutan terhadap madrasah yang bermutu dari masyarakat luas akan semakin tinggi, mencakup keefektifan, efesiensi dan akuntabilitas manajemen secara menyeluruh. Madrasah yang bermutu tentu dipimpin oleh kepala madrasah yang mempunyai komitmen yang kuat pada mutu. Kepemimpinan kepala madrasah juga memberi peran penting pada terbentuknya budaya madrasah yang kuat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan madrasah yang ternyata belum banyak dilakukan. Kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan budaya mutu merupakan upaya untuk mensinergikan semua komponen organisasi untuk berkomitmen pada mutu madrasah. Kepemimpinan kepada madrasah dalam pengembangan budaya mutu meliputi dua unsur utama yaitu 1) bangunan budaya meliputi visi, misi, tujuan, nilai dan keyakinan, sistem penghargaan, hubungan emosional dan sosial serta desain organisasi. 2) bangunan pribadi berupa pemodelan peran meliputi perilaku pribadi, perilaku pemimpin dan tindakan adminintrasi.
Menurut Mulyadi, ada beberapa hal menarik dirinya untuk mengadakan penelitian di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, dan MAN Malang I yaitu: 1) adanya perbedaan manajemen madrasah, 2) perbedaan visi dan misi, 3) perbedaan simbol-simbol madrasah, 4) kemampuan manajerial kepala madrasah untuk menciptakan madrasah bermutu cukup tinggi. Secara sekilas menurut Mulyadi, yang menjadi ukuran lembaga-lembaga tersebut bermutu adalah dilihat dari output madrasah tersebut yang banyak diterima di perguruan tinggi negeri dan banyaknya prestasi siswa madrasah dalam perlombaan akademik maupun non akademik mulai tingkat lokal, regional dan nasional serta terakreditasi A.
Madrasah terpadu MAN 3 Malang merupakan salah satu dari lima madrasah model di Jawa Timur dengan surat keputusan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. E. IV / Pembinaan. oo. 6 / KEP / 17.A / 1998 tanggal 20 Februari 1998 dan juga merupakan salah satu madrasah terpadu dari delapan madrasah terpadu se-Indonesia. Sebagai madrasah model, MAN 3 Malang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan mutu input, proses, dan output pendidikan dan pengajaran sehingga mampu berfungsi sebagai model atau percontohan dalam keunggulan dan mampu berfungsi sebagai pusat belajar bersama dalam pengembangan dan inovasi bagi madrasah sekitarnya. Beberapa prestasi yang diraih madrasah terpada MAN 3 Malang antara lain: dalam tiga tahun terakhir nilai UAN tahun 2005 / 2006 nilai tertinggi kelas IPA nilai 10, kelas IPS nilai 9,17 dan kelas BHS nilai 9,50, tahun 2006 / 2007 nilai tertinggi kelas IPA nilai 10, kelas IPS nilai 9,80 dan kelas BHS nilai 9,60 dan tahun 2007 / 2008 nilai tertinggi IPA nilai 10, kelas IPS nilai 9,60 dan kelas BHS nilai 10. Sedangkan prestasi non akademik dalam tiga tahun terakhir yaitu tahun 2005 / 2006 adalah 130 prestasi, tahun 2006 / 2007 adalah 156 prestasi dan tahun 2007 / 2008 adalah 137 prestasi. Adapun MAN I Malang mempunyai tenaga akademik yang handal dalam pemikiran, memiliki manajemen yang kokoh mampu menggerakkan seluruh potensi yang mengembangkan kreativitas civitas akademika dan memiliki kemampuan antisipasi masa depan dan proaktif. Dalam tiga tahun terakhir banyak prestasi yang dicapai guru MAN I Malang antara lain: tahun 2006 juara I nasional lomba writing contest, dan juara I guru tauladan tingkat Jawa Timur serta tahun 2007 juara II nasional lomba penelitian tindakan kelas.
Dalam makalah ini, penulis berupaya menyajikan sebuah Desertasi karya Dr. Muyadi tentang “Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Studi Multi Kasus di MAN 3 Malang dan MAN Malang I)” yang diselesaikan dalam Program Doktoral Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2009. Dalam makalah ini, penulis tidak menyuguhkan semua isi Desertasi Dr. Mulyadi tersebut. Akan tetapi penulis akan sedikit menggambarkan bagaimana Desertasi beliau sebagai berikut: 1) latar belakang desertasi yang terungkap dalam awal pendahuluan makalah, 2) kajian tentang kepemimpinan dan budaya mutu yang terdiri dari kepemimpinan kepala madrasah, budaya mutu madrasah, dan kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan budaya mutu (dalam Desertasi, bab ini termuat dalam bab II), 3) kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan budaya mutu (suatu kajian empirik) terhadap kedua madrasah (MAN 3 Malang dan MAN Malang I) yang berkaitan dengan langkah-langkah kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan budaya mutu, serta berkaitan dengan kepemimpinan kepala madrasah dalam membina hubungan dengan staf (dalam Desertasi, bab ini termuat dalam bab IV). Walaupun tidak selengkap seperti dalam isi Desertasi Dr. Mulyadi, namun substansi dari isi Desertasi tersebut penulis coba tuangkan dalam menelaah Desertasi Dr. Mulyadi ini. Sehingga akan menjadi pengetahuan dan inspirasi bersama tentang bagaimana memajukan manajemen kepemimpinan madrasah dalam upaya mengembangkan budaya mutu.

B. Kajian Tentang Kepemimpinan dan Budaya Mutu
1. Kepemimpinan Kepala Madrasah
a. Konsep Dasar Kepemimpinan
Secara khusus Yulk menyatakan bahwa memahami kepemimpinan sebagai sebuah proses mempengaruhi dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan orang secara bersama. Hal ini dapat dipahami dari penjelasan berikut: kepemimpinan didefinisikan secara luas sebagai proses-proses yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau orang, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas tersebut untuk mencari sasaran, pemeliharaan hubungan, kerjasama dan teamwork, serta peroleh dukungan dan kerjasama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau orang.
Menurut Willer Lane seperti yang dikutip oleh Hanson mengatakan bahawa kepemimpinan memiliki dimensi sosial budaya seperti yang dijelaskannya sebagai berikut: kebiasaan kelompok mengadakan relasi serta kepentingan kelompok tertentu masih menjadi kendala utama bagi pemimpin dalam sebuah organisasi. Lebih jelasnya, permasalahan-permasalahan, dilema dan ketidak-konsistenan sebuah organisasi termasuk masyarakat merupakan persoalan yang dihadapi para pemimpin. Dari kutipan ini dapat dipahami bahwa pemimpin hendaknya berupaya untuk membangun tradisi kelompok melalui hubungan kerja dengan anggota organisasi dengan berupaya memecahkan masalah-masalah masyarakat.
b. Karakteristik Dasar Kepemimpinan
Bennis W. dan Nanus B. mengungkapkan bahwa kepemimpinan efektif mempunyai beberapa kompetensi yaitu: manajemen makna pemimpin: mampu memahami tujuan lembaga dan dapat mengelola simbol-simbol organisasi untuk tujuan, perhatian: kemampuan pemimpin mengajak para staf mengarahkan perhatian tenaga dan bakat untuk mencapai tujuan lembaga, manajemen kepercayaan: berupaya menumbuhkan kepercayaan orang lain, para staf dan menerapkan gaya kepemimpinan kondisional, manajemen diri: pemimpin mengenal dan memahami dirinya. Menurut Mc. Gregor ada empat aspek yang mempengaruhi kepemimpinan: karakteristik kepribadian pemimpin, sikap kebutuhan dan karakteristik pribadi pengikut, karakteristik organisasi: tujuan, struktur, sifat tugas yang harus dilaksanakan, keadaan lingkungan sosial, ekonomis dan politis.
Perilaku pemimpin efektif berhubungan dengan rangkaian kepemimpinan yang dilakukan dalam mengelola organisasi. Menurut Yulk: meliputi rangkaian yang terencana dan sistematis untuk meningkatkan mutu dan produktivitas sebagai berikut: mengertikulasi visi yang menarik, meningkatkan komitmen pengikut, meningkatkan upaya pengikut, meningkatkan mutu dan produktivitas, meningkatkan penjualan dan laba.
Kepemimpinan kepala madrasah untuk menciptakan budaya mutu menurut Timpe menuntut adanya pemimpin transformasional yang jika diadaptasi dari Timpe diidentifikasi dan diasosiasikan memiliki kemampuan menciptakan penciptaan bayangan masa depan yaitu memiliki gambaran masa depan madrasah yang ideal dan madrasah yang efektif yang dapat memuaskan seluruh stakeholders. Mampu memobilisasi komitmen seluruh warga madrasah untuk mewujudkan bayangan madrasah yang ideal dan efektif serta memuaskan pelanggan tersebut menjadi sebuah kenyataan dan mampu melembagakan perubahan.

2. Budaya Mutu Madrasah
a. Mutu Madrasah
1) Pengertian Mutu
Definisi mutu memiliki pengertian yang bervariasi. Ada beberapa pendapat yang merumuskan tentang definisi mutu yaitu:
a) Menurut Juran, mutu adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
b) Menurut Crosby, mutu adalah conformance to requirement yaitu sesuai dengan yang disyaratkan dan distandarkan.
c) Menurut Deming, mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen.
d) Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya.

2) Dasar Ajaran Islam Tentang Mutu
Menurut Muhaimin, dasar ajaran Islam tentang mutu adalah sebagai berikut:
a) Setiap orang dinilai dari hasil kerjanya, seperti yang dijelaskan dalam Alquran surat al-Najm (53) ayat 39:
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya”

b) Seseorang dituntut untuk memiliki dinamika yang tinggi, komitmen terhadap masa depan, memiliki kepekaan terhadap perkembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bersikap istiqomah sebagaimana dalam firman Allah di surat al-Syarh (94) ayat 7-8:
“Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”

b. Budaya Madrasah
Secara rinci, Noor Rahman Hadjam menjelaskan masing-masing budaya memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan ciri-ciri untuk mendeteksi keadaan di lapangan (madrasah):
1) Budaya adaptif, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kreatif, berani melakukan eksperimentasi, berani mengambil resiko, mandiri, dan responsif.
2) Budaya kekeluargaan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: mengedepankan kerjasama, penuh pertimbangan, persetujuan bersama, kesetaraan, dan keadilan.
3) Budaya prestasi, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: berorientasi kepada persaingan dan kompetisi, mengumpulkan kesempurnaan, agresif, aktif dan rajin, serta mendorong munculnya inisiatif anggota.
4) Budaya birokrasi, didominasi dengan ciri-ciri sebagai berikut: formalitas hubungan di dalam maupun dengan pihak luar madrasah, mementingkan efesiensi, menekankan rasionalitas, teratur dan berjenjang, serta menuntut adanya kepatuhan dari pihak-pihak di bawah pimpinan.

c. Budaya Mutu Madrasah
Budaya mutu menurut Nursya`bani Purnama adalah sistem nilai organisasi yang menghasilkan lingkungan yang kondusif untuk keberlangsungan dan keberlanjutan perbaikan mutu. Budaya mutu terdiri dari nilai-nilai, tradisi, prosedur, dan harapan tentang promosi mutu. Menurut Woods yang dikutip oleh Kamaruddin, terdapat enam budaya mutu yang menjadi dasar sebuah organisasi atau institusi dalam usaha menetapkan budaya kualitas serta menyeluruh yaitu meliputi: 1) kami semua adalah bersama (organisasi, pembekal dan pelanggan), 2) tiada orang bawah atau atasan dibenarkan, 3) terbuka dan perhubungan yang ikhlas, 4) pekerja boleh capai maklumat yang diperlukan, 5) fokus kepada proses, 6) tiada kejayaan atau kegagalan tetapi pembelajaran dari pada pengalaman.
John West Burnham mengidentifikasikan beberapa faktor yang mempengaruhi mutu di madrasah yang meliputi: 1) nilai-nilai dan misi madrasah, 2) struktur organisasi, 3) komunikasi, 4) pengambilan keputusan, 5) lingkungan kerja, 6) rekrutmen dan seleksi, 7) perencanaan kurikulum, 8) manajemen sumber daya dan anggaran, 9) disiplin, 10) hubungan masyarakat.

3. Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu
a. Makna Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu
Menurut Owens tentang pengaruh kepala madrasah dalam membangun budaya madrasah yang kuat merupakan sebagai upaya-upaya untuk mengartikulasikan tujuan dan misi madrasah, nilai-nilai madrasah, keunikan madrasah, sistem simbol madrasah, imbalan yang memadai, ikatan organisatoris berdasarkan saling percaya dan komitmen antar guru, siswa dan masyarakat.
Menurut Dwyer yang dikutip oleh Sergiovanni dijelaskan bahwa kepala madrasah pada budaya menunjukkan pada upaya-upaya kepala madrasah melakukan inovasi, perhatian menyeluruh terhadap lingkungan madrasah, hubungan masyarakat, pendidikan guru, prestasi siswa, dan kemajuan siswa.
Menurut Asrin dalam desertasinya dikatakan bahwa unsur utama tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam pengembangan mutu madrasah sebagai berikut:
1) Kepala madrasah mengartikulasikan visi dan misi madrasah
2) Mengartikulasikan nilai-nilai dan keyakinan dalam organisasi madrasah
3) Menciptakan simbol yang dapat memperkuat keunikan madrasah
4) Membangun sistem reward yang sesuai dengan norma dan nilai yang ada di madrasah
5) Membangun hubungan sosial dan emosional antara siswa, guru, dan masyarakat atas dasar komitmen dan misi organisasi madrasah
6) Menciptakan desain dan struktur organisasi dalam madrasah.

b. Strategi (Langkah-Langkah) Dalam Melakukan Pengembangan Budaya Mutu Madrasah
Untuk mengembangkan budaya mutu madrasah, kepala madrasah dituntut untuk terus mengadakan perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan atau berkesinambungan. Berikut ini adalah langkah-langkah Siklus Deming dalam upaya perbaikan mutu yang berkesinambungan:
1) Mengadakan riset pelanggan dan menggunakan hasilnya untuk perencanaan produk pendidikan (plan)
2) Menghasilkan produk pendidikan melalui proses pembelajaran (do)
3) Memeriksa produk pendidikan melalui evaluasi pendidikan atau evaluasi pembelajaran, apakah hasilnya sesuai rencana atau belum (check)
4) Memasarkan produk pendidikan dan menyerahkan lulusannya kepada orang tua atau masyarakat, pendidikan lanjut, pemerintah dan dunia usaha (action)
5) Menganalisis bagaimana produk tersebut diterima di pasar, baik pada pendidikan lanjut ataupun di dunia usaha dalam hal kualitas, biaya, dan kriteria lainnya (analyze).
Adapun menurut Kurt Lewin yang dikutip oleh Wibowo, tahapan pengembangan budaya mutu adalah sebagai berikut:
1) Proses pengembangan menyangkut mempelajari sesuatu yang baru seperti tidak melanjutkan sikap, perilaku atau praktek organisasional yang masih berlaku sekarang.
2) Pengembangan tidak akan terjadi sampai terdapat motivasi untuk berkembang.
3) Manusia merupakan pusat dari semua pengembangan organisasional. Setiap pengembangan, baik dalam bentuk struktur, proses kelompok, sistem penghargaan, arau rancangan kerja memerlukan individu untuk berkembang.
4) Resistensi untuk berkembang dapat ditemukan, bahkan meskipun tujuan pengembangan sangat diinginkan.
5) Pengembangan yang efektif memerlukan penguatan perilaku baru, sikap, dan praktek organisasional.

C. Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Suatu Kajian Empirik)
1. Studi Kasus Individu Madrasah Terpadu MAN 3 Malang
a. Langkah-Langkah Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu
1) Artikulasi Visi dan Misi Madrasah Terpadu MAN 3 Malang
Kepala sekolah dalam memimpin madrasah berupaya untuk memberikan pemahaman mendasar tentang visi dan misi madrasah kepada semua guru, karyawan, siswa, orang tua dan komite madrasah. Visi dan misi inilah yang hendaknya dihayati dan diimplementasikan kepada semua komponen madrasah sehingga terwujud dalam bentuk budaya madrasah yang kuat. Untuk itulah dalam setiap kesempatan kepala madrasah mengingatkan kepada semua komponen madrasah tentang pentingnya visi dan misi madrasah sebagai ikatan moral terhadap madrasah terpadu MAN 3 Malang.
Secara tegas dan lugas, visi dan misi madrasah terpadu MAN 3 Malang disebutkan dalam dokumen sebagai berikut: Visi madrasah: terwujudnya madrasah model sebagai pusat keunggulan dalam kualitas akademik dan non akademik serta akhlaq karimah. Sejalan dengan visi tersebut, Imam Sujarwo (kepala madrasah) menegaskan sebagai berikut:
“Visi madrasah sebelumnya adalah unggul, islami dan populis. Karena adanya pengaruh perkembangan iptek dan kebutuhan stakeholder, maka visi madrasah kita kembangkan menjadi: terwujudnya madrasah model sebagai pusat keunggulan dalam kualitas akademik dan non akademik serta akhlaq karimah. Kita senantiasa melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada semua guru dan karyawan serta siswa siswi tentang misi ini. biasanya visi dan misi madrasah disosialisasikan pada awal tahun pelajaran kepada siswa dan siswi baru dan orang tua. Otomatis semua orang tua yang memasukkan anaknya ke madrasah ini akan mengetahui ke mana, apa yang dilakukan oleh siswa berupa hak dan kewajibannya. Untuk itulah mereka dituntut untuk memahami visi madrasah.”

Sedangkan misi madrasah terpadu MAN 3 Malang yang tertuang dalam dokumen madrasah adalah sebagai berikut:
a) Menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan lulusan berkualitas akademik dan non akademik serta berakhlak karimah.
b) Membangun budaya madrasah yang membelajarkan dan mendorong semangat keunggulan.
c) Mengembangkan sumber daya manusia (SDM) madrasah yang kompeten.
d) Mengembangkan sistem dan manajemen madrasah yang berbasis penjaminan mutu.
e) Menciptakan dan memelihara lingkungan yang sehat, kondusif, dan harmonis.
f) Meningkatkan peran serta stakeholder dalam pengembangan madrasah.
g) Mewujudkan madrasah yang memenuhi standar nasional pendidikan.
h) Mewujudkan madrasah yang berorientasi pada standar internasional.
Sejalan dengan misi madrasah terpadu MAN 3 Malang tersebut, Imam Sujarwo (kepala madrasah) menjelaskan sebagai berikut:
“Misi kami yaitu mendidik anak berakhlak karimah, keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK atau keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ. Menerapkan sistem manajemen berbasis mutu dengan meningkatkan SDM madrasah yang berkompeten dan peran serta stakeholder untuk mewujudkan madrasah memenuhi standar nasional pendidikan yang berorientasi standar internasional. Sebagai kepala madrasah kami bersama guru-guru membangun budaya belajar dan unggul. Karena motivasinya menuntut ilmu menurut Islam adalah wajib sesuai dengan sabda Nabi:
Tuntutlah ilmu mulai dari dalam kandungan sampai liang lahat.
Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”

Dalam merumuskan visi, misi dan nilai-nilai kepemimpinan, kepala madrasah melibatkan seluruh komponen madrasah yaitu pimpinan madrasah, guru, karyawan komite madrasah, wali murid dan pelanggan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Dalam merumuskan visi, misi, tujuan, program dan nilai-nilai kepemimpinan madrasah, kami selalu melibatkan semua stakeholder yang ada di madrasah ini. kami juga melibatkan orang tua, komite madrasah, guru, karyawan, perwakilan kepala MTS dan kepala SMP. Semua kita undang dalam sebuah forum dalam sebuah simposium selama tiga hari di sebuah hotel untuk menggagas madrasah lima tahun ke depan. Apa, bagaimana, dan ke arah mana madrasah ini kita kembangkan. Nah, dalam forum inilah kami menyampaikan visi, misi, tujuan, program, dan nilai-nilai kepemimpinan madrasah termasuk nilai-nilai keunggulan madrasah. Semua hal ini kita bicarakan bersama-sama sehingga semuanya mempunyai rasa memiliki terhadap madrasah ini. setelah simposium selesai menghasilkan suatu draf, kemudian kami membentuk tim perumus yang terdiri dari WAKASEK dan LITBANG untuk menyempurnakan atau merumuskan visi madrasah, misi madrasah, tujuan madrasah, program madrasah, dan nilai-nilai budaya mutu madrasah.”

2) Upaya Kepala Madrasah Dalam Mengeliminir Resistensi
Resistensi terjadi karena pimpinan dan staf memandang perubahan yang terjadi di madrasah dari sudut pandang yang berbeda. Resistensi guru dan karyawan di madrasah terpadu MAN 3 Malang setiap terjadi perubahan sangat kecil, hal ini sebagaimana dikatakan Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Kami sadar kalau ada seratus orang, maka ada seratus keinginan, seratus masalah, seratus perbedaan, begitu seterusnya. Maka perlu strategi untuk mengatasi hal tersebut dan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut. Oleh karena itu, dalam merumuskan visi, misi, tujuan, program dan nilai-nilai budaya mutu madrasah, kami melibatkan seluruh komponen madrasah termasuk seluruh guru dan karyawan dalam suatu forum workshop sehingga sangat kecil terjadi resistensi dan kalau ada biasanya yang merasa senior tidak mau dilibatkan dalam kepanitiaan atau kegiatan-kegiatan madrasah di luar jam mengajar sehingga beliau dapat mengajar di luar madrasah pada jam kerja kantor yaitu mulai jam 06.30 s/d jam 15.00.”

Upaya kepala madrasah dalam mengeliminir resistensi pengembangan madrasah bersifat preventif maupun kuratif , sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Sebagaimana yang kami katakan tadi, bahwa untuk mencegah resistensi pengembangan madrasah kami melibatkan seluruh komponen madrasah termasuk seluruh guru dan karyawan dalam membahas mengembangkan madrasah lima tahun ke depan, agar mereka semua memahami, merasa memiliki dan komitmen terhadap pengembangan madrasah ke depan lebih baik. Tetapi apabila ada seorang atau dua orang yang apatis (resistensi) terhadap pengembangan madrasah, kami adakan pendekatan personal terhadap mereka atau minta bantuan terhadap orang lain yang mereka sungkani agar mereka memiliki komitmen bersama untuk membangun madrasah ke depan baik dan apabila masih terjadi resistensi, maka kami gunakan pendekatan formal dengan tahapan yaitu teguran, tertulis, hukuman, dalam bentuk mutasi.”

3) Realitas Budaya Mutu Madrasah
a) Ikhlas Beramal
Kepala madrasah dalam memajukan madrasah, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan popularitas, pujian atau untuk mencari keuntungan materiil, namun adalah mencari ridha Allah Swt. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Tujuan hidup harus ditata dan meningkatkan pengabdian pada profesi guru. Harus memberi contoh dalam membangun sarana fisik madrasah tanpa mengambil fee sepeserpun dari dana pembangunan tersebut. Oleh karena itu, maka kita tata tujuan hidup kita dengan jaminan surga. Sudah sering kami katakan kepada teman-teman guru kalau kita sudah menginfaqkan tenaga untuk menjadi guru harus ikhlas. Jika ikhlas, akan memperoleh kekayaan di akhirat dan insya Allah Swt mendapat jaminan surga. Tetapi jika jadi guru dengan tujuan ingin kaya, adalah salah alamat. Kalau ingin kaya, jadilah pengusaha. Ketika jadi guru harus menerima kondisi ini. kalau ikhlas, insya Allah Swt kita kaya di akhirat. Sebaliknya, jika tidak ikhlas, kita tidak jaminan surga, juga tidak jaminan akan kaya. Oleh karena itu, tujuan hidup harus ditata agar dapat meningkatkan pengabdian pada profesi. Bagi kami, yang terpenting adalah beribadah dengan ikhlas tetap dikedepankan. Alhamdulillah berdasarkan pengamatan kami, teman-teman guru dan karyawan di madrasah ini juga melakukan seperti itu.”

b) Dedikasi Yang Tinggi (Jihad)
Nilai Jihad atau dedikasi menjadi landasan budaya organisasi madrasah. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Jihad atau dedikasi yang tinggi terhadap tugas menjadi landasan organisasi madrasah ini karena dedikasi merupakan suatu perintah agama yang ditunjukkan kepada setiap orang yang beriman. Alquran memerintahkan untuk berjuan dengan harta dan jiwa (QS. Al-Baqarah (2) ayat 189-192). Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam secara umum sangat tertinggal dengan sekolah umum dan ini harus dibalik bahwa madrasah harus lebih baik kualitasnya dengan sekolah umum. Hal ini bisa dicapai apabila seluruh komponen madrasah memiliki dedikasi yang tinggi untuk membangun madrasah.”

c) Disiplin Tinggi
Disiplin mulai dirintis kepala madrasah dengan melakukan pembinaan disiplin kepada semua komponen madrasah yaitu guru, karyawan dan siswa. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Disiplin sangat penting bagi pemimpin, guru, karyawan dan siswa untuk mencapai visi, misi, dan tujuan madrasah. Tanpa kedisiplinan semua komponen madrasah, maka visi, misi, dan tujuan madrasah tidak akan tercapai maksimal. Oleh karena itu, saya membagi tugas dengan wakil kepala madrasah untuk membina dan mengontrol secara rutin kedisiplinan guru, karyawan dan siswa baik dengan pendekatan formal maupun informal.”

d) Amanah (Tanggung Jawab)
Amanah merupakan nilai yang diyakini kepada madrasah memimpin organisasi madrasah. Rasa tanggung jawab yang tinggi atas jabatan kepala madrasah tentu akan mempengaruhi kepemimpinan kepala madrasah di MAN 3 Malang. Oleh karena itu, kepala madrasah mengembangkan tugas selama empat tahun dan melaksanakan tanggung jawab untuk memmimpin madrasah dengan tanggung jawab yang tinggi. Dalam wawancara yang dilakukan Mulyadi dengan Imam Sujarwo (kepala madrasah) menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi sebagai kepala madrasah sebagai berikut:
“Memang dalam bekerja di madrasah dibutuhkan sifat amanah. Kepala madrasah dituntut bersifat amanah atas jabatan yang diberikan kepada dirinya. Wakil kepala madrasah harus amanah atas jabatannya. Guru harus amanah pada tugas-tugas pembelajaran di madrasah. Karyawan hendaknya amanah pada tugas-tugasnya. Artinya bagaimana kami melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan madrasah. Sikap amanah semua pihak akan mendukung peningkatan mutu madrasah.”

e) Keberanian Melakukan Inovasi
Kepala madrasah menerapkan nilai keberanian melakukan inovasi dengan membuka kelas MABI (Madrasah Aliyah Bertaraf Internasional) berorientasi Timur Tengah dan dalam pembelajaran guru diwajibkan melakukan kontrak pembelajaran dengan siswa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Madrasah terpadu MAN 3 Malang secara berkesinambungan terus berpacu dalam peningkatan kualitas pelayanan dan pelaksanaan pendidikan agar peserta didik memiliki kemantapan akidah, kekhusu`an ibadah, keluasan IPTEK dan keluhuran akhlak, sehingga dapat berprestasi dalam rangka mengembangkan tugas sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi. Dalam rangka mewujudkan tersebut, dan sejalan dengan program full day scholl, maka kami menyediakan kelas khusus MABI (Madrasah Aliyah Bertaraf Internasional) berorientasi Timur Tengah. Keberadaan MABI sangat strategis sebagai jawaban atas masih banyaknya anggapan bahwa lembaga madrasah sebagai lembaga nomor 2 yang tidak mampu bersaing dan berprestasi secara nasional, apalagi internasional. Padahal madrasah terpadu MAN 3 Malang sendiri sudah mulai membuktikan diri dan mapu bersaing dengan sekolah umum dalam banyak kegiatan baik lingkup kota, nasional maupun internasional. Dalam pembelajaran, kami melakukan inovasi dengan mengharuskan guru membuat kontrak belajar pembelajaran siswa dan para guru di madrasah ini kami wajibkan menjadi guru pembimbing atau penasehat akademik agar siswa dapat berkembang dengan optimal dan agar masalah-masalah siswa dapat terpecahkan.”

f) Nilai Unggul
Nilai unggulan (excellent) merupakan nilai universal yang menjadi tujuan banyak orang termasuk lembaga pendidikan. Madrasah terpadu MAN 3 Malang merupakan lembaga pendidikan Islam, memiliki nilai-nilai keunggulan sebagaimana dikatakan Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Madrasah terpadu MAN 3 Malang telah ditetapkan sebagai MAN model di Indonesia dan sekaligus sebagai madrasah terpadu yang terdiri dari MIN Malang I, MTsN Malang I dan madrasah terpadu MAN 3 Malang, secara berkesinambungan terus-menerus berpacu dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan pendidikan. Madrasah terpadu MAN 3 Malang mendapatkan mandat untuk mengembangkan amanah sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam, mengemban amanah sebagai madrasah model dan mengemban amanah sebagai madrasah yang mengembangkan aspek akademik, non akademik dan akhlak karimah. Sedangkan nilai-nilai keunggulan yang dikembangkan oleh madrasah terpadu MAN 3 Malang ini adalah: nilai keunggulan keimanan, kebenaran, kebaikan, kecerdasan, kebersamaan, dan keindahan.”

b. Berkaitan Dengan Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Membina Hubungan Dengan Staf
Kemampuan kepala madrasah dalam meningkatkan hubungan sosial dan emosional dengan semua komponen madrasah sebagai berikut:

1) Ketauladanan
Sikap ketauladanan kepala madrasah terpadu MAN 3 Malang merupakan bentuk hubungan sosial dan emosional dengan guru, karyawan, dan siswa-siswi. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Ketauladanan bagi saya nomor satu. Kepala harus menjadi panutan dan wibawa bukan karena pemimpin keras, tapi ketauladanan dari pimpinan. Misalnya kehadiran, saya datang lebih awal dan pulang paling akhir. Dan akhirnya wakil kepala madrasah dan staf lainya mengikuti apa yang saya katakan.”

2) Silaturrrahmi
Kepala madrasah melakukan silaturrahmi ini sebagai sarana untuk meningkatkan keharmonisan organisasi madrasah. Dengan tingginya tingkat silaturrahmi, maka pimpinan kepala madrasah akan lebih efektif dan efesien untuk menciptakan visi, misi dan tujuan madrasah. Hal ini diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Sebagai kepala madrasah, saya melakukan silaturrahmi. Dan silaturrahmi ini merupakan ajaran agama untuk membangun hubungan antar sesama. Dengan melakukan silaturrahmi, maka masalah yang muncul di madrasah dapat diselesaikan atau dipecahkan dengan baik. Selaturrahmi ini yang kita lakukan dalam bentuk pertemuan-pertemuan rutin tiap minggu pada hari Senin kepada staf, dan setiap satu minggu sekali setiap hari Sabtu jam 13.00 kepada semua guru-guru dan karyawan. Di samping itu, kami mengadakan pengajian dan arisan keluarga guru dan karyawan serta komite madrasah setiap dua bulan di minggu pertama. Bentuk lain adalah rekreasi bersama setiap akhir semester, berkunjung ke guru atau karyawan yang sakit, melakukan halal bi halal dan lain sebagainya.”

3) Kesejawatan
Hubungan kesejawatan kepala madrasah merupakan hubungan profesi untuk meningkatkan mutu madrasah. Kepala madrasah sebagai pemimpin madrasah sebagai pemimpin madrasah memberikan bimbingan kepada guru dan karyawan untuk mencapai visi, misi dan tujuan madrasah sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sujarwo (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Saya selalu memeriksa presensi guru dan karyawan, jurnal guru dan memeriksa sarana penunjang pelaksanaan proses belajar mengajar. Di samping itu, saya bertukar pikiran dengan wali kelas, pembina OSIS, guru bimbingan konseling.”

4) Penghargaan di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang
Penghargaan terkait bagaimana kepala madrasah menciptakan sistem imbalan baik berupa materi maupun non materi kepada guru, dan karyawan mana kala mereka melakukan tugasnya dan mempunyai prestasi di madrasah. Wujud penghargaan ini antara lain sebagai berikut:

a) Kenaikan karir
Peran kepala madrasah untuk membuka kesepakatan kepada semua guru untuk meningkatkan karirnya sangat terbukan di madrasah terpadu MAN 3 Malang. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kompetisi guru yang sehat untuk mencapai golongan yang lebih tinggi. Keterbukaan kepala madrasah dalam seleksi jabatan tertentu seperti wakil kepala madrasah dilakukan melalui mekanisme yang disepakati bersama dan profesional.

b) Pemberian Gaji dan Insentif
Pemberian gaji guru dan karyawan yang berstatus negeri berlangsung sebagaimana peraturan pemerintah. Bagi guru dan karyawan negeri mendapatkan gaji sesuai dengan golongan dan masa kerja kepegawaian dalam peraturan yang berlaku. Selain itu, guru dan karyawan mendapat gaji tambahan yang diberikan kepada guru dan pegawai yang mempunyai tambahan atau jam mengajar lebih dari jam mengajar wajib.
2. Studi Kasus Individu MAN Malang I
a. Langkah-Langkah Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu
1) Artikasi Visi dan Misi MAN Malang I
Dari dokumen yang diperoleh, MAN Malang I memiliki visi: “Terwujudnya insan yang berkualitas tinggi dalam IPTEK, religius dan humanis”. Secara lebih rinci, Zainal Mahmudi (kepala madrasah) menjelaskan sebagai berikut:
“Visi MAN Malang I adalah berkualitas, religius dan humanis dengan indikatornya sebagai berikut:
• Berkualitas adalah mempunyai kemampuan yang tinggi dalam penguasaan IPTEK dan IMTAQ serta mempunyai daya saing tinggi.
• Religius adalah memiliki ketaqwaan dan kesalehan serta selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
• Humanis adalah mempunyai kepedulian terhadap diri dan lingkungan serta dapat diterima dan dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat.
Visi tersebut sudah dipahami oleh seluruh warga madrasah dan dijabarkan dalam misi serta diimplementasikan dalam bentuk program madrasah baik program jangka pendek maupun jangka panjang.”
Visi ini secara rinci dijabarkan dalam misi yang dirumuskan seperti yang diungkapkan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Misi dari MAN Malang I adalah menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi kepada mutu lulusan baik secara keilmuan maupun secara moral dan sosial, sehingga mampu menyiapkan dan mengembangkan sumber daya insani yang unggul di bidang IPTEK dan IMTAQ. Sedangkan misi dari penyelenggaraan pembelajaran dan pendidikan di MAN Malang I adalah sebagai berikut:
• Menumbuhkan semangat belajar untuk pengembangan IPTEK dan IMTAQ.
• Mengembangkan penelitian untuk mendapatkan gagasan baru yang berorientasi masa depan.
• Mewujudkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan inovatif.
• Menumbuh-kembangkan semangat penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
• Mewujudkan warga madrasah yang memiliki kepedulian terhadap diri, lingkungan dan berestetika tinggi.”

Dalam perumusan visi, misi dan nilai-nilai kepemimpinan ideal yang diinginkan dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di madrasah serta mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan masyarakat seperti yang dijelaskan oleh Arif Djunaidi (wakil kepala madrasah bidang kurikulum) sebagai berikut:
“Kami menyusun visi, misi nilai-nilai kepemimpinan dan RKM (rencana kerja madrasah) 1 tahun dan 4 tahun melibatkan semua guru, karyawan, komite madrasah dan perwakilan dari siswa dalam forum workshop. Darf hasil workshop kemudian dirumuskan oelh tim dua belas yang ditugaskan oleh kepala madrasah.”

2) Upaya Kepala Madrasah Dalam Mengeliminir Resistensi
Salah satu bentuk resistensi yang pernah muncul di MAN Malang I sekaligus upaya kepala madrasah dalam mensikapi dan membuat kebijakan terkait munculnya resistensi ini seperti yang diungkapkan Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Awal menjadi kepala madrasah di sini kami menerapkan kebijakan budaya inovasi yaitu semua guru dan karyawan harus mampu menggunakan IT atau komputer dan mampu berbahasa Inggris dan Arab karena kami merancang di sini ada kelas madrasah bertaraf internasional. Kebijakan kami diprotes oleh dua orang guru. Setelah kami dekati secara personal dan kami ajak dialog, maka satu guru menerima dan satu guru tetap menolak bahkan berupaya mempengaruhi guru lain. Akhirnya berdasarkan rapat pimpinan, guru tersebut kami limpahkan ke KANDEPAG dan sekarang guru tersebut dimuttasi di SMU 7.”
Selain itu, ada beberapa strategi yang dilakukan MAN Malang I dalam mengatasi munculnya resistensi di madrasah seperti yang diungkapkan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Untuk mengatasi guru atau karyawan yang melakukan resistensi yaitu pertama, dengan melibatkan mereka dalam setiap acara-acara atau program-program sekaligus dapat mengemong mereka dan mencari tahu apa keinginan dan kesenangan mereka sebenarnya, agar supaya kami dapat menempatkan mereka pada posisi yang sesuai. Kedua, kami mengajak berdialog kepada mereka dan bertanya kepada mereka apakah mereka mempunyai konsep atau program yang lebih baik atau tidak terhadap pengembangan madrasah ini. Jika ada, konsep-konsep dari mereka yang dianggap baik, maka konsep-konsep itu akan kami akomodir, kemudian dipilih yang paling baik kemudian kami realisasikan. Dalam perealisasian tersebut, mereka diajak untuk terlibat secara penuh dalam acara tersebut. Jadi, di sini kami memberikan kepercayaan tanggung jawab kepada mereka. Dengan begitu mereka lebih termotivasi lagi dan merasa diorangkan untuk mengembangkan madrasah ini. Demikianlah pendekatakan yang kami lakukan cenderung kepada pendekatan kekeluargaan untuk bisa merangkul mereka semua.”

3) Realitas Budaya Mutu Madrasah
a) Budaya Disiplin dan Tertib
Budaya tertib dan disiplin yang dikembangkan di MAN Malang I telah dirancang sedemikian rupa disertai dengan berbagai bentuk sosialisasi untuk dapat dilaksanakan oleh semua komponen di madrasah, apakah itu pimpinan, guru, karyawan dan juga siswa. Arif Djunaidi (wakil kepala madrasah bidang kurikulum) menjelaskan sebagai berikut:
“Untuk budaya kedisiplinan, di madrasah ini ada tiga bentuk kedisiplinan, yaitu untuk siswa, untuk guru dan untuk tenaga kependididikan. Peraturan penegakkan kedisiplinan untuk siswa telah dibuat, sedangkan ketertiban untuk guru dan tenaga kependidikan sementara ini masih kami rancang. Untungnya, di madrasah ini para guru mempunyai kesadaran akan kebersamaan yang tinggi suatu contoh seorang guru tidak bisa mengajar karena berhalangan, maka dengan suka rela guru lain akan menggantikan mengajar, walaupun mungkin ada satu-dua guru yang kurang kesadaran kebersamaan ini.”

b) Ikhlas Beramal
Budaya ikhlas beramal ini merupakan orientasi moral yang harus dimiliki oleh semua guru dan karyawan serta siswa di madrasah, di samping orientasi duniawi (kerja dan belajar), maka kesemuanya tersebut harus diarahkan untuk kepentingan akhirat seperti yang dijelaskan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah):
“Kami sebagai kepala madrasah selalu mengajak teman-teman membudayakan ikhlas beramal yang merupakan motto departemen agama. Jadi bekerja bukan sekedar iming-iming materi, tetapi kelanjutannya sampai besok di akhirat. Dengan catatan asal kita ikhlas. Itu yang kami tumbuhkan. Itu menurut kami yang sangat penting sekali dan merupakan prioritas utama. Walaupun secara finansial kesejahteraan guru dan karyawan juga kami perhatikan.”

c) Tanggung Jawab Terhadap Tugas
MAN Malang I juga menganggap penting budaya tanggung jawab terhadap tugas yang seharusnya diemban, seperti yang dijelaskan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Menurut kami, tanggung jawab merupakan nilai yang kehadirannya dapat dikatakan bersamaan dengan nilai pelayanan. Dengan adanya motivasi transendental untuk memberikan pelayanan kepada siapa saja, maka dalam pelayanan yang diberikan tersebut disertai dengan nilai tanggung jawab atau dapat disebut dengan komitmen. Kami sebagai kepala madrasah selalu mengingatkan nilai tanggung jawab kepada seluruh guru dan karyawan, karena nilai tanggung jawab berkaitan dengan peningkatan pelayanan. Alhamdulillah berdasarkan penilaian kami, seluruh guru dan karyawan di sini memiliki rasa tanggung jawab atau komitmen terhadap tugas yang diembannya.”

d) Keberanian Melakukan Inovasi
Dalam pandangan Zainal Mahmudi (kepala madrasah), inovasi merupakan sebuah keharusan ketika seseorang melihat perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Beliau (Zainal Mahmudi) menjelaskan rencana dan realisasi program yang sudah dan yang akan dilaksanakan di MAN Malang I sebagai berikut:
“Seperti tahun pertama, kami mempunyai program perbaikan layanan dan fasilitas yang ada di madrasah ini. seperti peningkatan layanan dan fasilitas yang ada di UKS dengan mengadakan kerja sama dengan PUSKESMAS dan dr. Bandi. Kemudian layanan dan fasilitas perpustakaan, IT dan sebagainya, juga termasuk juga peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan.
Kemudian tahun kedua, kami mengadakan program yang belum pernah ada di madrasah manapun di Indonesia. Kami melakukan terobosan dengan mengadakan kursus IT yang sertifikatnya setara dengan D1 serta mengadakan kerja sama dengan perusahaan Microsoft dalam bidang IT tersebut. Agar program tersebut dapat diketahui oleh masyarakat, maka kami mengundang beberapa media seperti dari Malang Post, Radar Malang, Media Pendidikan, majalah MPA, dan juga stasiun TV seperti JTV, dan TV Batu. Ternyata langkah semacam ini banyak sekali tanggapan positif dari masyarakat bahkan sudah tersiar sampai ke negeri Malaysia. Kami memandang IT ini sudah merupakan kebutuhan bagi masyarakat, terutama siswa-siswi di madrasah pada zamannya nanti. oleh karena itu, kami sudah mempersiapkan program IT itu sejak dini agar nantinya output kami benar-benar laku di masyarakat.
Kemudian juga kami membuka kelas akselerasi, karena ternyata kami mempunyai siswa-siswi yang Iqnya di atas 130, bahkan ada yang mencapai 150. Untuk kelas akselerasi ini kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk juga guru yang nantinya akan menjadi pendamping bagi kelas ini.
Sedangkan untuk program tahun ketiga, kami mengadakan program peningkatan SDM bagi guru-guru di sini terutama bilingual. Untuk itu, kami telah mengajukan proposal dana ke DEPAG. Ketika dana dari DEPAG sudah turun, maka dana itu dipergunakan untuk mengadakan kursus bilingual bahasa Arab dan Inggris bagi guru. Sehingga ketika SDM guru di sini sudah bagus, maka tahun depan kami akan membuka rintisan madrasah bertaraf internasional. Di samping itu, kami juga akan membuka rintisan ma`had bagi para siswa.
Dan untuk tahun depan, selain sudah ada 4 guru yang kuliah s2, kami juga akan membantu menyekolahkan guru-guru lain yang mempunyai grade yang tinggi dengan dibantu oleh pihak komite madrasah. Sehingga target kami 2 sampai 4 tahun ke depan, sudah ada 40% sampai 50% dari guru-guru di sini yang menyandang gelar s2. Sehingga diharapkan SDM guru dan ketenagaan di madrasah ini dapat lebih baik.”

e) Keterbukaan dan Kebersamaan
Gaya kepemimpinan yang dijalankan terlihat mengakomodasi wacana, pemikiran, dan ide dari bawahan untuk kemudian dijadikan kebijakan lembaga yang dikeluarkan oleh kepala madrasah, sebagaimana yang diungkap oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) seperi berikut ini:
“Masukan-masukan yang kami terima akan kami akomodir, dan kami tidak memandang siapa yang memberi masukan, tapi kami melihat masukan apa yang dia berikan. Dan ini terbuka untuk semua komponen yang ada di madrasah ini, bahkan untuk tukang kebun sekalipun. Selama masukan tersebut baik dan masuk skala prioritas, maka masukan tersebut akan kami masukkan dalam program pada kepemimpinan mendatang. Dengan cara seperti ini akhirnya terjalin komunikasi dan hubungan yang baik.”

f) Budaya Unggul
Mutu yang dikembangkan di MAN Malang I ini haruslah menunjukkan keunggulan, sebagaimana dipaparkan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Madrasah ini mempunyai empat keunggulan yang dicita-citakan yaitu 1) unggul dalam prestasi, baik akademik maupun non akademik, 2) unggul bidang bahasa yaitu bahasa Arab dan Inggris, 3) unggul dalam bidang IT, dan 4) unggul dalam bidang agama.”

b. Berkaitan Dengan Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Membinan Hubungan Dengan Staf
Kemampuan kepala madrasah dalam meningkatkan hubungan sosial dan emosional dengan semua komponen madrasah sebagai berikut:

1) Silaturrahmi
Di MAN Malang I, ada berbagai cara yang dilakukan untuk menguatkan tali silaturrahmi sebagaimana dijelaskan oleh Zainal Mahmudi (kepala madrasah) sebagai berikut:
“Untuk meningkatkan tali silaturrahmi ini, kami mengadakan sebuah program kekeluargaan yaitu selama dua bulan sekali mengajak seluruh keluarga untuk berkunjung dan silaturrahmi ke rumah guru-guru secara bergiliran. Dengan demikian, di antara kami akan tercipta hubungan dan ukhuwah yang kuat. Ada juga program penggalangan dana sosial di antara kami semua, dialokasikan untuk keperluan yang mendesak di antara kami seperti bantuan untuk khitanan, pernikahan, bantuan untuk keluarga yang meninggal dunia dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga studi banding dan refreshing kami adakan setiap satu tahun sekali. Seperti kemarin, kami mengadakan studi banding ke Jogja. Kemudian untuk program refreshing atau rekreasi untuk guru, dan karyawan, kami bekerja sama dengan koperasi guru dan karyawan yang ada di madrasah ini.”

2) Ketauladanan
Mengenai ketauladanan ini, Zainal Mahmudi (kepala madrasah) menjelaskan sebagai berikut:
“Dalam memajukan madrasah, harus melibatkan seluruh staf dengan saling bahu membahu. Pimpinan madrasah khususnya kami sebagai kepala madrasah harus memberi uswah hasanah kepada seluruh staf madrasah bukan hanya memberi perintah, tapi harus memberi contoh. Misalnya kedisiplinan, kami mengundang guru-guru rapat jam 13.00, maka kami hadir tepat waktu. Ketauladanan ini membawa dampak kepada guru-guru kalau diundang rapat, semuanya hadir tepat waktu. Kami sering mengatakan kepada pimpinan madrasah yaitu para WAKA dan KTU harus memberi uswah hasanah dalam memajukan madrasah ini. Begitu juga para guru harus memberi uswah hasanah kepada siswa-siswinya.”

3) Perhatian Kepada Staf dan Membangun Hubungan Komunikasi Dengan Staf
Mengenai perhatian pimpinan kepada para staf, Arif Djunaidi (wakil kepala bidang kurikulum) mengatakan sebagai berikut:
“Menurut saya, bapak kepala madrasah sangat peduli terhadap guru, karyawan dan siswa-siswi. Kita ini kan lembaga yang tidak terlalu besar, jadi kita kenal baik satu dengan yang lain yang ada di sini, sehingga kalau ada sesuatu dengan bawahan kita, pasti kita tahu dan kemudian kita akan berusaha untuk menyelesaikannya bersama-sama. Demikian juga dengan bapak kepala madrasah, sering kali harus memberikan perhatian sampai ke pekerjaan-pekerjaan detail.”

4) Penghargaan di MAN Malang I
Penghargaan terkait bagaimana kepala madrasah menciptakan sistem imbalan baik berupa materi maupun non materi kepada guru, dan karyawan mana kala mereka melakukan tugasnya dan mempunyai prestasi di madrasah. Wujud penghargaan ini antara lain sebagai berikut:

a) Kenaikan Karir
Penghargaan terhadap staf dalam bentuk pelayanan terbaik diberikan Zainal Mahmudi (kepala madrasah) yaitu salah satunya dalam bentuk kenaikan karir bagi yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana yang di jelaskan beliau (Zainal Mahmudi) yaitu:
“Dalam karir terutama kenaikan pangkat guru dan karyawan, kami memberikan kemudahan tetapi tetap mengacu kepada aturan yang berlaku. Kenaikan pangkat guru rata-rata dua tahunan dengan memenuhi persyaratan yang berlaku misalnya pemenuhan angka kredit dan karyawan empat tahun. Oleh karena itu, guru kalau sudah waktunya naik pangkat, kami mengingatkannya melalui surat pemberitahuan.”

b) Pemberian Gaji dan Insentif
Pemberian gaji dan insentif, tidak dilakukan Zainal Mahmudi (kepala madrasah) dengan pertimbangan pribadi, akan tetapi jumlah honor dan insentifnya berdasarkan hasil kesepakatan rapat yang disesuaikan dengan anggaran dana yang ada. Sebagaimana dijelaskan oleh Shohib (wakil kepala madrasah bidang humas) sebagai berikut
“Insya Allah kesejahteraan yang diberikan sudah memenuhi UMR yang ada. Berbagai langkah telah ditempuh berkaitan dengan kesejahteraan ini. di antaranya adalah sistem pemerataan jam mengajar pada guru-guru kontrak supaya dapat menambah kesejahteraan guru-guru kontrak tersebu. Selain itu, selain PNS, guru-guru kontrak juga mendapatkan insentif lauk pauk walau tidak sebesar yang diterima oleh PNS. Semua itu juga disesuaikan dengan anggaran yang ada di madrasah.”

D. Daftar Pustaka
Asrin. 2006. Peran kepemimpinan madrasah pada budaya mutu di Sekolah Menengah (Studi Multi Kasus Pada SMAN dan SMAI Kartini di Kota Bunga), Desertasi IAIN Sunan Ampel.
BJ., Caldwell dan Spink JM. 1992. Leading The Self Managing School. London: The Falmer Press.
Burnham, John West. 1997. Managing Quality in Schools (Effektive Strategies for Quality-Based School Improvement). London: Prentice Hall.
Daft, Rita Byvelds. “Understanding Change”, http:// http://www.omafra.gov.on.ca / english / rural / fact / 91-014.html.
Dale, Timpe A. 1987. The Art and Science of Bussiness Management Leadershi, (New York: Kend Publishing Inv.
Danin, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Djunaidi, Arif. Wawancara oleh Mulyadi, di MAN Malang I tanggal 9 Juni 2008 dan 26 Juni 2008.
EM., Hanson. 1991. Educational Administration and Organizational Behaviour. Newton.
G., Bounds. 1994. Beyond Total Quality Management Toward the Emerging Paradigm. New York: Mc Graw Hill Inc.
G., Yulk. 1999. Leadership in Organization (Kepemimpinan Dalam Organisasi). Terj. Udaya. Jakarta: Prentice Hall Inc.
Gregor, Mc. 1960. The Human Side of Interprises. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Mahmudi, Zainal. Wawancara oleh Mulyadi, di MAN Malang I tanggal 2 Juni 2008 dan 23 Juni 2008.
MN., Nasution. 2001. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), (Jakarta: Ghalia Indonesia.
Muhaimin. 2005. Manajemen Penjaminan Mutu di Universitas Islam Negeri Malang. Malang: t.tp.
Mulyadi. Desember 2010. Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Studi Multi Kasus di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, Man Malang I dan MA Hidayatul Mubtadiin Kota Malang). Jakarta: Badan LITBANG dan Diklat Kementerian Agama RI.
Owens, Robert G. 1991. Organizations Behaviour in Education. Englewood Cliffs New Jersey: Prentice Hall.
Penyusun, Tim. 2003. Undang-undang Replublik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Purnama, Nursya`bani. 2006. Manajemen Kualitas Perspektif Global. Yogyakarta: PT. Ekonisia.
Sergiovanni, Thomas J. 1991. Educational Government of Administration, (New Jersey: Prentice Hall.
Sohib. Wawancara oleh Mulyadi, di MAN Malang I tanggal 5 Juni 2008 dan 24 Juni 2008.
Supriyoko, Ki. 17 Maret 2008. “Problema Besar Madrasah”. Kompas.
Tobroni. 2007. “Percepatan Peningkatan Mutu Madrasah”. Jurnal Pendidikan Network.
Umaedi. 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Umum.
W., Bennis dan Nanus B. 1985. Visionary Lead. San Fransisco: Jossey Bass Publisher.
Wibowo. 2006. Manajemen Perubahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Yusuf, Kamaruddin Mohammad dkk. 2006. Budaya Kualiti dan Amalan Perguruan Institusi Pengajian Tinggi di Malaysia. Malaysia: Pusat Pembangunan Akademik Universiti Kebanggaan Malaysia.
Sujarwo, Imam. wawancara Dr. Mulyadi di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang tanggal 5 Mei 2008 dan 26 Mei 2008.