MAKNA DI BALIK PIDATO ANAS URBANINGRUM TANGGAL 23 FEBRUARI 2013 SERI 2


anasseperti yang telah saya ungkapkan dahulu, bahwa Makna di Balik Pidato Anas akan ada kelanjutannya. dan ini saya berusaha mengungkapkan dan menggali apa sebenarnya makna di balik pidato Anas Urbaningrum. untuk melihat makna di balik pidato Anas sebelumnya, silahkan lihat di sini

 

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang sesungguhnya ini pasti terkait dengan Kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin bercerita lebih panjang. Pada waktunya saya akan bercerita lebih panjang. Tetapi inti dari kongres itu ibarat bayi yang lahir. Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan, saya alami, dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tapi ada konteks yang sangat jelas menyangkut rangkaian-rangkaian peristiwa politik itu.

Dalam pidato ini, Anas berusaha kembali mengingatkan akan peristiwa besar di tubuh partai Demokrat yakni Kongres Partai Demokrat tahun 2010, di mana pada waktu itu ada tiga calon yang maju untuk menduduki kursi panas Ketua Umum Partai Demokrat. Ketiga calon ini antara lain: Marzuki Ali, Andi Alfian Malarangeng dan Anas Urbaningrum. Dalam situs berita online Kompas.com yang mengutip wawancara dengan RCTI, Rabu (27/2/2012), Anas menyebutkan: “Ada dinamika dan tekanan yang kuat. Saya diminta mundur sebagai kandidat ketua umum, termasuk oleh Pak SBY, dan juga ada beberapa politisi Partai Demokrat lainnya juga sempat memintanya untuk mundur”. Lebih lanjut, Anas mengungkapkan bahwa seusai terpilih menjadi pucuk pimpinan Partai Demokrat, dirinya berusaha merangkul Cikeas. Caranya, Anas meminta izin kepada SBY untuk menjadikan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, sebagai sekretaris jenderal partai untuk menghindari kesan adanya situasi yang tidak enak antara ketua dewan pembina dengan ketua umum. Awalnya menurut Anas, SBY tidak setuju Ibas (anak SBY) menjabat sebagai Sekretaris Jendral. Namun, akhirnya SBY mengizinkannya. Pinangan Anas terhadap Ibas juga mendapat restu sebagian anggota tim sukses Anas. Kalo lebih dalam melihat peta pertarungan tiga calon Ketua Umum Partai Demokrat kala itu (tahun 2010), Anas mengalahkan dua kandidat lainnya, yakni Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie. Cikeas disebut-sebut menjagokan Andi Mallarangeng, yang juga mantan juru bicara presiden, sebagai penerus Hadi Utomo, ketua terdahulu. Namun, Andi malah tersingkir di putaran pertama. Pada putaran kedua, Andi Mallarangeng, yang pencalonannya didukung Ibas, memberikan dukungannya kepada Marzuki Alie. Namun, Anas tak terbendung dan berhasil mengalahkan Marzuki.

http://nasional.kompas.com/read/2013/02/27/05565569/Anas.SBY.Pernah.Minta.Saya.Mundur.dari.Kongres.Demokrat

kalau melihat kronologi di atas, patut lah Anas menyatakan dirinya sebagai bayi yang tidak diharapkan lahir. Karena bagaimanapun dari awal, nampaknya ada kubu yang tidak mengharapkan Anas maju menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Namun Anas dengan jiwa besarnya berusaha untuk merangkul semua golongan yang bersebrangan ketika telah terpilih menjadi ketua umum. Ini dibuktikan dengan mengangkat Ibas (Edhi Baskoro Yudhoyono, anak SBY) menjadi Sekretaris Jendral Partai Demokrat. Akan tetapi, di akhir penggalan pidatonya ini, Anas belum akan menyampaikan secara detail. Kita semua akan menunggu apa yang lebih detail ini. Apakah akan membawa prahara atau malah menjadi cerita yang anti klimaks.

 

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat, saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik, tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah, dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal. Dan karena itu, saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya. Maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini. Saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini. Dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya, termasuk dengan risiko dan konsekuensi. Itu hal yang lazim saja. Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh. Apalagi di dalam sistem demokrasi kita yang masih muda, termasuk Partai Demokrat yang tradisinya masih muda.

Sebuah pernyataan Anas ini seperti halnya diketahui banyak khalayak ramai, bahwa dunia politik penuh dengan intrik-intrik, fitnah, kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan dan menurut Anas, ini sebuah kelaziman yang tidak aneh. Walau sebenarnya tidak semua partai demikian. Dalam hal ini Anas secara gamblang menyebutkan termasuk partai Demokrat yang masih muda. Berarti di balik pidato ini, dalam tubuh Demokrat dimungkinkan dan diduga banyak intrik-intrik, fitnah dan serangan-serangan yang dialami Anas, karena Anas sebagai Ketua Umum pasti merasakannya.

anas 1
Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum sebagai tersangka, meskipun saya yakin posisi tersangka itu lebih karena faktor non hukum, tetapi saya punya standar etik pribadi. Standar itu mengatakan “kalau saya punya status hukum sebagai tersangka, maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.” Ini bukan soal jabatan atau posisi, ini soal standar etik. Standar etik pribadi saya itu, Alhamdulillah cocok dengan pakta integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri di tempat ini, seminggu lalu kurang lebih, sudah menandatangani pakta integritas. Dengan atau tanpa pakta integritas pun, standar etik pribadi saya mengatakan hal seperti itu: “Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.” Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus pada kader-kader Partai Demokrat. Yang telah memberikan kepercayaan dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015. Saya mohon maaf kalau saya berhenti di awal 2013. Saya tidak merencanakan untuk berhenti di tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh, saya jalankan, saya tunaikan, sebagai ketua umum, sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik partai itu. Tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tapi saya menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius, penuh konsentrasi karena itu bagian dari panggilan jiwa politik saya. Alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun, dua setengah tahun lebih, semuanya saya jalankan dengan penuh kesungguhan dna konsentrasi. Terimakasih pada kader-kader Demokrat yang selama ini sama-sama menjalankan dan menunaikan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas, dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, pengurus DPD, DPC, kader-kader di seluruh Indonesia, Dewan Pembina, Majelis Tinggi, Komisi Pengawas, saya sampaikan terimakasih yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas.

Dalam lanjutan pidato ini, Anas lagi-lagi menyebutkan bahwa kasus yang dituduhkan kepada dirinya adalah sebuah kasus yang non hukum. Ini berarti diartikan bahwa kasus ini adalah sebuah sekenario yang dirancang untuk menyudutkan diri Anas sehingga lengser dari jabatan Ketua Umum. Lanjutan pidato ini sepertinya penegasan dari awal pidato yang telah diungkapkan di atas. Lebih lanjut, dalam pidato ini Anas menyatakan dirinya mundur sebagai ketua umum bukan karena pakta integritas, akan tetapi karena standar etik yang ada dalam diri Anas. Ini terlihat dari ungkapan Anas: “Ini bukan soal jabatan atau posisi, ini soal standar etik. Standar etik pribadi saya itu”. Dan Anas mengungkapkan standar etik dirinya selaras dengan pakta integritas Partai Demokrat. Dalam pidato ini, Anas juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pendukungnya mulai dari: Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, pengurus DPD, DPC, kader-kader di seluruh Indonesia, Dewan Pembina, Majelis Tinggi, Komisi Pengawas. Dari sruktur ungkapan terima kasih ini, Majelis Tinggi dan Komisi Pengawas diletakkan di akhir ini menjadi hal menarik. Kenapa Anas tidak mengungkapkan dari Majelis Tinggi dahulu, kemudian DPP, DPD, DPC dan seluruh kader? Kenapa Majelis Tinggi diletakkan diakhir? Mungkin misteri ini hanya Anas yang mengetahuinya.

 

Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena saya sudah lepas. Tetapi saya menjaminkan satu hal, yaitu ketulusan persahabatan dan persaudaraan. Saya jamin ketulusan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia, apapun nanti tugas langkah yang akan saya tempuh, termasuk saya ada di dalam atau di luar, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukum itu berjalan adil, obyektif, transparan atau tidak, saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi, saya menjamin ketulusan persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat merupakan bagian yang indah dan menyegarkan dalam dinamika politik partai yang kadang-kadang keras dan agak panas. Karena itulah saya yakin betul, saya akan tetap berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum, tetapi sebagai teman dan sahabat. Saya juga berharap siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa menunaikan tugas, bahkan jauh lebih baik dari apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus. Saya yakin pasti akan datang ketua umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya.

Pidato ini mengungkapkan bahwa Anas mempunyai loyalitas kepada kader-kader yang mendukung Anas, dan Anas menjaminnya. Ini seperti dalam isi pidatonya: “saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi, saya menjamin ketulusan persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat merupakan bagian yang indah dan menyegarkan dalam dinamika politik partai yang kadang-kadang keras dan agak panas.” Ini merupakan jawaban kepada para loyalis Anas, bahwa Anas akan tetap bersama mereka (loyalis Anas) walau sudah tidak sebagai Ketua Umum Patai Demokrat. Dan nampaknya, ini membuahkan respon yang beragam di tubuh Demokrat yang menjadi loyalis Anas mulai dari Tri Dianto, Ketua DPC Demokrat Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dan Wakil Direktur Eksekutif DPP Demokrat, М. Rahmat yang secara terang-terangan mengundurkan diri. Pidato ini membuktikan, Anas masih punya power dan kekuatan untuk melawan kekuatan misterius seperti diungkapkan Anas di awal pidatonya, yang menyebabkan dirinya menjadi tersangka.

 
Selanjutnya, saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan peningkatan dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya. Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus. Hari-hari ini dan ke depan, akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas, dan santun. Akan diuji oleh sejarah apakah Demokrat partai yang bersih atau tidak bersih. Partai yang bersih atau korup. Akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas. Partai yang solutif menawarkan gagasan cerdas dan bernas atau partai yang tidak seperti itu. Juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun dan sadis. Apakah yang akan terjadi kesantunan politik atau sadisme politik? Tentu ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan.

Dalam penggalan pidato ini, Anas berusaha mengungkapkan sebuah rencana besar di masa yang akan datang yang akan dia lakukan. Sebuah rencana yang seperti Anas sebuatkan: “memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan peningkatan dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia”. Ini lah janji dari ungkapan Anas dalam pidatonya yang akan membuat Indonesia makin baik dan bagus. Nampaknya akan ada sebuah rencana yang membahagiakan bagi Indonesia, akan tetapi akan menyedihkan bagi sebagian golongan. Ini nampak dalam lanjutan pidatonya: “ke depan, akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas, dan santun. Akan diuji oleh sejarah apakah Demokrat partai yang bersih atau tidak bersih. Partai yang bersih atau korup. Akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas. Partai yang solutif menawarkan gagasan cerdas dan bernas atau partai yang tidak seperti itu. Juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun dan sadis. Apakah yang akan terjadi kesantunan politik atau sadisme politik?”. Sebuah misteri ini diungkapkan Anas, apakah ini menjadi sebuah tantangan, perlawanan sebagaimana yang diungkapkan Nazarudin untuk membongkar berbagai macam kasus yang pada akhirnya sudah banyak yang terjerat jeruji besi KPK. dan nampaknya Anas sebagai pucuk pimpinan mengetahui berbagai macam hal busuk yang ada ditubuh partai Demokrat yang akan dia ungkapkan untuk menjadikan Indonesia ke depan lebih baik.

 
Tetapi yang paling penting saya garis bawahi, bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut siapapun kader-kader Partai Demokrat. Di atas segalanya, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini, saya nyatakan ini baru permulaan. Hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini saya nyatakan ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama. Tentu untuk kebaikan kita bersama. Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen berikhtiar memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, demokrasi kita. Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama.

Akhir pidato Anas ini menjadi sebuah akhir yang penuh misteri dan menggemparkan, mendebarkan terutama bagi kalangan partai Demokrat. Mungkin sebagian kader menganggap bahwa dengan ditetapkannya Anas jadi tersangka, maka akan berkesudahanlah duri yang melekat di diri Partai Demokrat yang menyebabkan elektabilitasnya menurun drastis. Tapi Anas menyatakan dengan tegas dan penuh penekanan: “Hari ini, saya nyatakan ini baru permulaan. Hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini saya nyatakan ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama….Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama.” Ini lah yang nampaknya badai di Partai Demokrat belum akan berakhir. Nampaknya Anas akan bersikap seperti Nazarudin yang tidak mau merasakan jeruji besi sendirian. Tidak mau merasakan getirnya penjara KPK sendirian. Ini masih halaman pertama. Dan kita semua berharap, Anas membuka halaman Daftar Isi, dimana semua akan tampak jelas ini buku yang menjadi dan akan bermakna baik bagi kepentingan pemberantasan korupsi di Indonesia. Akhir pidato ini nampak seperti ancaman dan ungkapan perang yang dilakukan Anas, walau Anas menyatakan ini dengan tanpa rasa kemarahan dan kebencian. Namun “halaman buku yang akan di buka dan di baca ini” akan menjadikan sebuah buku best seller yang akan ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia.

 
Inilah saudara-saudara sekalian, beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini. Saya akan terus menjadi sahabat-sahabat kalian. Karena banyak buku yang akan kita baca bersama. Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif yang ngeres, tetapi positif dan konstruktif, kebaikan dan kemaslahatan yang lebih besar. Itulah yang menjadi titik orientasi kita. Saya akan melepas jaket biru kebesaran, dan saya akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Bukan berarti selama ini tidak bebas dan merdeka. Tapi tentu ini ada maknanya secara etik dan organisatoris. Selamat berjuang kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia, berjuang sesuai pilihan yang merdeka.

Di akhir penutupan pidatonya ini, akan sekali lagi menegaskan: “Karena banyak buku yang akan kita baca bersama”. Sekali lagi menyebutkan buku, dan di buku itu akan terdapat banyak halaman yang akan diungkap. Sebagaimana ungkapan Anas, ini sebagai langkah yang konstruktif, kebaikan dan kemaslahatan yang lebih besar. Di akhir penutupan, dua buah kalimat yang nampaknya bermakna dahsyat: 1) saya akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka, 2) Selamat berjuang kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia, berjuang sesuai pilihan yang merdeka. Kemerdekaan telah dirasakan Anas dengan tidak menjadi ketua umum menurut Anas sendiri. Yang menjadi masalah adalah kadernya, apakh ini menjadi sebuah kalimat ajakan untuk para kader juga agar menjadi merdeka? Ini menjadi misteri lagi. Nampaknya pidato Anas ini ada yang mengungkap secara gamblang dan jelas, ada yang masih misterius yang patut ditunggu seri selanjutnya.

MAKNA DI BALIK PIDATO ANAS URBANINGRUM TANGGAL 23 FEBRUARI 2013 SERI 1


anas

Anas Urbaningrum sosok politikus putera  kelahiran Blitar 15 Juli 1969 yang merupakan mantan ketua Partai Demokrat memberikan pidato usai penetapan dirinya yang berstatus tersangka oleh KPK. Dalam hal ini, terungkap bagaimana sebenarnya (unek-unek) pikiran Anas terhadap penetapan dirinya sebagai tersangka. Dan nampaknya membawa hawa pertempuran terbuka terhadap sosok misterius yang diungkap Anas dalam pidatonya. Berikut ini adalah isi pidato Anas dan makna dibalik pidatonya menanggapi penetapan dirinya sebagai tersangka oleh KPK:

“Assalamualaikuam warrahmatullahi wabarukatuh.

Terima kasih dan selamat datang kepada rekan-rekan wartawan. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikiran dan pandangan terkait status sebagai tersangka. Seperti diketahui bersama tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil dan obyektif dan transparan, kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan. Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif, dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar, saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan, bukan berdasarkan prinsip kekuasaan.”

Dari awal pidatonya, Anas Urbaningrum secara lugas dan langsung memberikan statement, bahwa pidato yang dia bawakan pada hari itu (23 Februari 2013 – red) merupakan sebuah pidato untuk menanggapi status dirinya yang telah dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK pada hari jumat 22 Februari 2013. Nampaknya hari Jumat seakan-akan menjadi hari kramat bagi KPK untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka, walau tidak selalu demikian. Selain itu, Anas juga menyatakan dirinya untuk mematuhi proses hukum yang berlaku. Dengan ini rakyat bisa memahami bahwa Anas akan menjalani proses ini, tidak kabur ke luar negeri seperti yang dilakukan mantan bendaharanya dahulu Nazarudin. Nampaknya Anas begitu menjadi sosok yang gagah berani dalam menghadapi kasus hukumnya dan tidak gentar sedikitpun. Hal ini bisa dilihat dari ekspresinya saat membawakan pidato. Dengan mengikuti jalur hukumlah, Anas berharap kebenaran akan terungkap karena dia menganggap negeri ini berdasarkan hukum dan keadilan bukan berdasarkan kekuasaan.

“Yang kedua, saudara-saudara sekalian, lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-baiknya. Dan lewat proses hukum itu, berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredibel, saya meyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. Ini saya tegaskan karena sekali lagi, sejak awal, saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tak berdasar itu. Saya meyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul mengalahkan fitnah dan rekayasa, sekuat apapun dibangun, sehebat apapun itu dibangun, serapi apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya.”

Penjelasan dengan penuh penekanan dilakukan oleh Anas Urbaningrum melanjutkan pidatonya, bahwa dia akan mengikuti proses hukum yang sedang dialaminya. Hal ini dibuktikan dengan ungkapan pidatonya bahwa dia akan menyiapkan berbagai macam pembelaan dengan bukti yang kredibel dan saksi-saksi. Penekanan yang paling dahsyat dari Anas adalah keyakinannya bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus Hambalang. Hal ini nampaknya selaras dengan ungkapan beliau saat diwawancarai oleh wartawan: “Jika Anas korupsi satu sen pun, gantung Anas di Monas”. Hal ini menjadi sebuah pembuktian dan penekanan yang tegas oleh Anas, bahwa dirinya yakin betul tidak melakukan korupsi di Monas. Dengan ini, publik yang tadinya berharap ungkapan Anas “gantung di Monas” disanggah betul pada pidatonya, bahwa dia tekankan sejak awal dirinya tidak bersalah. Karena kasus yang dihadapinya menurutnya adalah fitnah dan rekayasa dan dia meyakini adanya kebenaran dan keadilan yang akan mengungkap kasusnya.

“Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan, sejak awal saya meyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu.”

Ungkapan pidato Anas selanjutnya begitu berbalik terhadap opini publik selama ini yang menganggap Anas tersangka kasus Hambalang. Karena sebagai mana yang telah terungkap, kasus ini berawal dari ungkapan Nazarudin yang membawa dampak luar biasa terhadap partai Demokrat dan dampak yang luar biasa, bahwa korupsi di negeri Indonesia ini telah begitu mengenaskan. Anas dari awal berkeyakinan dirinya tidak bersalah dan ini berbeda dengan ungkapan Nazarudin yang menyatakan bahawa Anas ikut terlibat. Dari pidatonya ini juga Anas masih meyakini bahwa KPK adalah lembaga yang independen yang tidak akan ditekan oleh “kekuatan sebesar apapun”. Kekuatan sebesar apapun ini dijawab oleh Anas dalam pidato selanjutnya.

anas 1

“Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. “Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah.” Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan, saya menjadi yakin, saya menjadi tersangka setelah saya dipersilakan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. Ketika saya dipersilakan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum yang dimaksud, yaitu tersangka. Apalagi saya tahu, beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, hakkul yakin, Anas menjadi tersangka. Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai sprindik (surat perintah penyidikan). Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan. Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh. Sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya. Dan tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum dengan mudah membaca dan mencermati itu.”

Dari pidato ini, nampaknya Anas sudah menyakini betul bahwa dirinya akan dijadikan tersangka oleh KPK. Dia mengungkapkan berbagai kronologis peristiwa secara berani, gamblang dan jelas menurut keyakinan dirinya yang mengantarkan dirinya atau mendesak dirinya agar KPK menetapkan sebagai tersangka. Hal ini dengan ungkapan dirinya kata-kata: “Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah”, kata-kata ini dengan jelas publik dapat memahaminya bahwa kata-kata tersebut diungkapkan oleh petinggi Partai Demokrat yakni Susilo Bambang Yudoyono dalam sebuah pidato di Jeddah, Arab Saudi pada Senin 4 Februari 2013 lalu. Begitu juga dengan ungkapan yang dilontarkan Anas: “saya dipersilakan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK”. Ungkapan ini juga publik sudah jelas, diungkapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada konferensi pers di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Jumat 8 Februari 2013) malam. Kemudian kemuculan dokumen Sprindik (surat perintah penyidikan) di publik. Ketiga rentetan ini diungkap oleh Anas bahwa penetapan dirinya sebagai tersangka karena ada intervensi kepada KPK yang dilalukan oleh kekuasan besar (yakni presiden dan dewan pembina Susilo Bambang Yudhoyono – red). Ungkapan Anas tetang intervensi ini begitu jelas dan tegas yang mengungkapkan bahwa rakyat pun bisa melihat kejadiannya dengan mudah. Memang hal aneh bisa dirasakan masyarakat, kenapa Susilo Bambang Yudhoyono “repot-repot” menyatakan agar Anas di tegaskan “statusnya”, kenapa Boediono yang diungkap-ungkap dalam kasus Century tidak dilakukan untuk memberikan ketegasan status. Hal ini lah yang menjadi kegusaran dan keyakinan Anas terhadap penetapan dirinya sebagai tersangka.

Bersambung..

Terus ikuti makna dibalik penetapan Anas Urbaningrum jadi tersangka…bakal lebih seru…^_^

Untuk membaca MAKNA DI BALIK PIDATO ANAS URBANINGRUM TANGGAL 23 FEBRUARI 2013 SERI 2, silahkan baca: di sini