Management Likuiditas Dalam Islam

Semenjak munculnya bank Islam/syari’ah, kebutuhan likuiditas menjadi hal yang terbuka untuk dipertimbangkan. Usaha keterbukaan tersebut telah didesak untuk mengatasi masalah kritikan apakah sistem sebuah bank tersebut Islam atau konvensional .
Manajemen likuiditas adalah bagian dari manajemen resiko bank manapun .Resiko manajenmen adalah alat manajemen untuk memonitor, mengukur dan mengontrol resiko keuangan (financial-risk).
Resiko didefenisikan sebagai kerugian yang akan dialami bank, ia adalah suatu ketidakpastian dan sifatnya potensial (mungkin terjadi).

Apa itu likuiditas ?
Masalah likuiditas bagi bank berupa mis-match (ketidaksesuaian) antara jangka waktu deposito dengan waktu financing. Ini akan mengakibatkan posisi kas idle (menganggur) yang seharusnya diinvestasikan dalam asset yang mendatangkan pendapatan, kas yang akan memerlukan pengturan atau menambah biaya untuk menjembatani kekurangan pembiayaan .
Hal terpenting dari suatu bank adalah Maturity Transformation (perubahan-perubahan batas waktu peminjaman). Yakni mengambil deposito jangka pendek untuk mendapatkan pinjaman jangka panjang. Ini akan menjadikan bank menanggung resiko likuiditas berupa asset jangka panjang untuk mendapatkan obligasi yang baru (current obligation)
Bank konvensional terkadang memelihara mis-match yang positif terutama yang lebih dari jangka waktu satu bulan karena bank akan mengalami mis-match negatif dalam satu bulan tersebut.
Resiko likuiditas berdampak terhadap bank untuk mendapatkan uang dengan biaya yang bisa ditolelir/wajar (reasonable cost) .
Kemampuan bank konvensional membayar kewajiban akan tergantung kepada factor-faktor berikut ini:
a. Faktor pendanaan kebutuhan dan stabilitas yang hampir jatuh tempo
b. Penjadwalan utang yang hampir jatuh tempo
c. Kondisi keuangan
d. Kemampuan membayar utang jangka panjang
Semua faktor diatas mengubah persepsi pasar tehadap bank dan menyebabkan naiknya biaya untuk menarik dana dari deposan .

Bank konvensional mempunyai beberapa macam obligasi :
a. Persyaratan untuk membayar kembali kepada nasabah
b. Dana-dana terikat kontrak dan belum di ambil
c. Persyaratan untuk membuat alat pembayaran yang lain di instrumen balance sheet pembayaran bunga dan biaya lainnya.

Bank konvensional mendapatkan obligasi dari beberapa cara :
a. Dengan cadangan kas atau asset yang layak jual (marketable).
b. Dengan pasar pinjaman antar bank.
c. Dengan memanage arus kas jangka pendek

Problem utama dalam kasus likuiditas adalah :
a. Hilangnya kepercayaan terhadap suatu bank disebabkan adanya kesalahan directur /manajemen senior
b. Terkonsentrasi asset pada satu bidang usaha.
c. Rendahnya kepercayaan dari nasabah deposito jangka panjang
d. Banyaknya deposito jangka pendek yang mengalami mis-match

Kebijakan-kebijakan untuk mengatasi likuiditas :
a. Mengurangi ketergantungan kepada depositor jangka panjang
b. Fasilitas bantuan-bantuan likuiditas
c. Adanya proteksi deposito dan skema asuransi
d. Keterlibatan manajer senior dalam komite manajemen likuiditas
e. Mengatur mis-match arus kas yang besar.

Bagaimana Bank Islam mengatur resiko likuiditas?
Manajemen likuiditas dalam bank Islam adalah salah satu masalah terbesar yang diperdebatkan. Kelangsungan bank tersebut sangat bergantung kepada aturan-aturan yang tepat menurut IAH (Investment Account Holders) yang menggunakan kontrak mudharobah system syari’ah tidak terikat ,kebiijaksanaan ini bagi bagi bank Islam membuat satu pasar bagi IAH .Disamping itu badan pengawas akan selalu memonitor posisi likuiditas dalam bank Islam untuk memastikan/menjamin bahwa bank tersebut berhak mengajukan obligasi/surat utang .
Kerusakan/gangguan dalam suatu bank akan berdampak terhadap baiknya keuntungan funding (keuangan) bank tersebut karena hal itu akan menyebabkan larinya para deposit.
Untuk memahami resiko dalam memanage likuiditas sebuah Bank Islam, adalah penting untuk menyatakan bahwa dalam mayoritas Pemilik Rekening Investasi Bank Islam, adalah sumber dana utama, dan dana mereka digunakan untuk membiayai jenis asset berikut:
1. Akad jual beli, seperti Murabaha, Salam dan Istisna
2. Persewaan asset, melalui operasi sewa atau Ijara Wa Iktina:
3. Akad persekutuan, Musharaka’, dan
4. Akad pembiayaan. Mudaraba..
Pembiayaan Murabaha: terdiri dari investasi dalam komoditas internasional melalui bank konvensional dengan rating tinggi yang bertindak sebagai agen dan suatu penjamin kepada Bank Islam. Bank Islam melakukan investasi dalam pasar komoditas sebagai pasar utama, yang mengijinkan Bank Islam untuk membubarkan asset jatuh tempo singkat, resiko rendah. Oleh karena itu, investasi dalam uang memberikan persenan yang signifikan terhadap asset mayoritas Bank Islam di Bahrain.
Bagaimanapun, investasi dalam uang memberikan margin keuntungan sangat rendah kepada Bank Islam dibandingkan dengan instrumen investasi lain. Ini mempengaruhi Bank Islam terhadap keseluruhan laba dan pendapatan yang dialokasikan kepada Pemilik Rekening Investasi ( IAH).
Bank Islam juga menawarkan Murabaha melalui penjualan dan pembiayaan asset perdagangan, jenis pembiayaan ini juga memberikan risiko kredit dan resiko likuiditas terhadap Bank Islam. IAH menginvestasikan dana mereka melalui Bank Islam untuk suatu (investasi) jangka pendek, karenanya mayoritas pembiayaan Murabaha berbentuk kontrak sewa jangka pendek.
Persewaan dan Ijara Wa Iktina adalah Bank Islam menawarkan kontrak sewa-menyewa melalui pembelian suatu barang kemudian menjualnya ke investor dengan pengeluaran unit atau saham. Bank Islam bertindak sebagai Mudarib yaitu orang yang akan menyewakan. Investor mendapatkan pendapatan dari persewaan dari asset setelah Bank Islam mengambil bagian sahamnya sebagai Mudarib.
Ketidakhadiran dari pasar sekunder akan membolehkan pemilik dari unit untuk menjualnya, Bank Islam bertindak sebagai pembuat pasar dengan penebusan unit manakala investor ingin menjualnya. Peran ini dapat membantu Bank Islam menghadapi tekanan resiko likuiditas berkala.
Kontrak persekutuan. Musharaka: pada umumnya terjadi dalam investasi jangka panjang. Karena pendeknya jangka waktu deposito Bank Islam dan adanya potensi resiko dari Musharaka seperti kesukaran penjualan bagian sahamnya, Kontrak musharakah kirang menjadi prioritas.
Bank Islam tidak termotivasi untuk menawarkan pembiayaan mudaraba karena pertimbangan berikut :
1. Mudaraba memiliki resiko lebih tinggi dibanding pembiayaan lain.
2. Mudharaba memerlukan penilaian mendalam terhadap kondisi keuangan dari peminjam dan ini mungkin menimbulkan biaya tambahan bagi bank
3. Mudharaba memerlukan waktu lebih panjang bagi bank untuk memulihkan investasinya dan mulai memperoleh laba dibanding pembiayaan lain.

Teknik Manajemen Likuiditas:
1. Pemisahan Total antara dana milik Bank dengan IAH:
Beberapa Bank Islam menetapkan suatu pemisahan antara pemegang saham mereka sendiri dengan IAH. Kebijakan ini untuk memisahkan hak dan kewajiban pemegang saham dari hak dan kewajiban dari IAH. Di sini bank mengatur likuiditas dari IAH secara terpisah dari dana kepunyaan bank. Lagipula, untuk monitoring likuiditas keseluruhan bank (kepunyaan bank + IAH), bank menambahkan dana sendiri dan IAH untuk menentukan komitmen keseluruhannya seperti arus kas dananya. Pemisahan ini sama dengan pemisahan antara asset bank konvensional dengan gadainya, rekening.
2. Pemisahan secara parsial antara dana pemegang saham Bank dan IAH:
Walaupun beberapa jenis pemisahan antara dana milik Bank dan IAH untuk memanage likuiditasnya.
3. Penyatuan Total dana pemegang saham dan IAH:
Di sini bank mengatur likuiditasnya seperti halnya bank lain dengan mencampur pemegang saham dengan IAH.
Dalam memanage likuiditas, point (1) berbeda dengan point (2) dan point (3) menggunakan kebijakan yang sama dalam memanage likuiditas mereka, di samping mengikuti kebijakan gabungan berbeda.

Ukuran untuk Meningkatkan Manajemen Likuiditas Bank Islam
Ketidakhadiran Sharia’ sebagai suatu instrumen jangka pendek yang dapat menjadi alternatif, Bank Islam cenderung menjadi over liquid (kelebihan asset lancar) dan menginvestasikan bagian penting dari asset mereka dalam pasar uang internasional. Kondisi Bank Islam ini memperoleh kerugian dibandingkan bank konvensional.
Suatu usaha untuk menanggapi masalah ini, baru-baru ini Agen Moneter Bahrain menandatangani nota kesepakatan dengan Labuan (Otoritas Jasa Keuangan Lepas Pantai dan IDB untuk mendirikan suatu pasar uang atau dan pasar deposit antar Bank Islam, kita berharap menawarkan kesempatan bagi Bank Islam untuk mengatur likuiditasnya untuk mendapatkan keuntungan yang terbaik, dan mengambil peran dari pemberi pinjaman dari alternatif bagi Lembaga Keuangan Islam.

Bagaimana Agen Moneter Bahrain memonitor likuiditas Bank Islam
Kami (Agen) menggunakan pendekatan mis-match untuk menilai arus kas masuk dengan arus kas keluart dalam jeda waktu yang berbeda (8 hari-satu bulan, satu bulan-6 bulan, 6 bulan-satu tahun, satu tahun dan lebih satu tahun). Agen tersebut menilai likuiditas Bank Islam sebagai sebuag asumsi ketika sumber pembiayaannya sudah dihentikan dan IAH-nya (nasabah/DPK) dan pemilik rekening/giro menarik dana mereka.
Dalam monitoring dan mengawasi likuiditas Bank Islam, langkah pertama, kami menerapkan pendekatan ketidaksesuaian jatuh tempo (maturity mis-match) terhadap assets dan kewajiban bank tidak termasuk Rekening Investasi yang Terbatas. Dalam rangka menilai likuiditas keseluruhan bank, pendekatan yang sama akan digunakan untuk menilai likuiditas, situasi penambahan rekening investasi yang terbatas kepada kewajiban dan asset bank.
Untuk monitoring sumber pembiayaan Islam Bank, kami meminta semua bank Islamic menurunkan asset yang dibiayai oleh pemegang saham, asset yang dibiayai oleh IAH dan asset yang dibiayai oleh yang lain.
Ini akan memungkinkan kami mengatur kebijakan investasi bank dan tingkat resiko dari dana pemegang saham dan asset yang dari dana IAH.
Ini perlu dicatat bahwa otorisasi yang diberi kepada bank Islam oleh pemilik rekening investasi (UIAH) dan hak untuk menggabungkan dana mereka sendiri dengan dana dari UIAH memerlukan kami mempertimbangkan kebijakan investasi dari bank. Contoh, untuk memastikan bahwa bank Islam tidak memindahkan asset yang tidak baik kepada UIAH dan bagian bagi Mudarib dalam suatu kontrak Kita juga menilai kebijakan bank terhadap alokasi laba antara pemegang saham dan IAH.
Sekarang kita (Agen) sedang mengembangkan laporan baru agar sejalan dengan standard ketercukupan modal yang telah dikeluarkan oleh AAOIFI’S (Panitia Ketercukupan Modal untuk Bank Islam), dan sejalan dengan standard akuntansi yang dikeluarkan oleh AAOFI.
Kita yakin bahwa dengan mengadopsi ketercukupan modal yang baru yang sama dengan standard akuntansi AAOFI’S akan memungkinkan bank sentral untuk mengawasi dan mengatur bank Islam lebih efektif
Aku (penulis) menyimpulkan bahwa dalam rangka menyelaraskan usaha dari semua pengatur perbankan, kita harus mengkoordinir antara satu sama lain untuk mengembangkan peraturan yang bisa diberlakukan bagi semua bank Islam dengan ketentuan bahwa peraturan ini mempertimbangkan dengan seksama karakteristik dari bank Islam. Pengembangan peraturan yang mengarah pada meningkatkan kredibilitas bank Islam lokal dalam sektor keuangan global dan kemudian meningkatkan kedudukan dan rating mereka dan kita (agen) sangat ingin berbagi pengalaman dalam semangat ini dengan rekan pendamping kami (pembaca).

Iklan

2 thoughts on “Management Likuiditas Dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s