KIAMAT MENURUT PETUNJUK ALQURAN DAN SUNAH NABI

Oleh: Amirul Bakhri
A. Pendahuluan
Hari kiamat merupakan salah satu dari rukun iman dalam agama Islam yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Iman kepada hari akhir merupakan suatu kepercayaan yang mutlak atas kebenaran yang disampaikan Allah swt dalam kitab suciNya yakni Alquran dan juga mempercayai kebenaran yang disampaikan oleh RasulNya tentang peristiwa yang akan terjadi setelah kematian. Iman kepada hari kiamat merupakan salah satu bagian dari akidah. Karena pengertian akidah dalam agama Islam merupakan rangkaian dari rukun iman itu sendiri. Dengan beriman kepada hari kiamat, maka seorang muslim telah mempunyai salah satu akidah yang benar. Karena dengan akidah yang benar, merupakan asas atau pondasi tegaknya agama Islam dan merupakan salah satu dari sah atau diterimanya suatu amalan seorang muslim.
Banyak redaksi yang digunakan dalam Alquran untuk menguraikan hari akhir misalnya yaum al-ba`ats (hari kebangkitan), yaum al-qiyamah (hari kiamat), yaum al-fashl (hari pemisah antara pelaku kebaikan dan kejahatan), dan masih banyak yang lainnya. Alquran menguraikan masalah kebangkitan secara panjang lebar dengan menggunakan beberapa metode dan pendekatan. Kata al-yaum al-akhir (hari pembalasan) terulang sebanyak 24 kali, di samping itu kata akhirat terulang sebanyak 115 kali, belum lagi kata padanannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perhatian Alquran begitu besar dalam permasalalahan ini.
Begitu pula dalam hadis Nabi saw seperti yang diterangkan oleh Amin Muhammad Jamaludin, bahwa banyak hadis tentang kiamat yang telah diriwayatkan oleh banyak mukharrij al-hadîts (ulama yang meriwayatkan hadis dan sekaligus melakukan penghimpunan hadis) baik dalam kitab hadis terkenal seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasai, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah dan lain sebagainya. Ada banyak juga hadis tentang kiamat yang terdapat dalam kitab hadis yang tidak terkenal seperti Shahih Abu Awwanah, beberapa Mu`jam al-Thabari, Sunan Abu Sa`id, Tarikh Ibnu Asakir, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Mu`jam Ibnu Muqri`, dan lain sebagainya.
Dalam tulisan makalah ini, penulis akan berusaha menjelaskan bagaimana “Kiamat Dalam Petunjuk Alquran dan Sunnah Nabi saw” yang tentu saja akan banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya mengingat pembahasan kiamat dalam Alquran dan sunah Nabi saw yang begitu banyak. Walaupun demikian, penulis akan berupaya menjelaskan bagaimanakah hari kiamat dalam petunjuk Alquran dan sunah Nabi saw. Dalam makalah ini, pembahasan tentang hari kiamat ini, penulis menggunakan sumber dari Alquran beserta beberapa kitab tafsir, kemudian hadis Nabi saw yang berkaitan dengan hari kiamat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang merupakan dua kitab yang dipandang sebagai kitab yang paling shahih dari kitab-kitab hadis yang dikarang oleh para mukharrij hadis dengan kitab syarahnya dan juga beberapa buku yang berkaitan dengan masalah hari kiamat untuk mendukung dalam penulisan makalah ini. Kemudian penulis memfokuskan masalah tentang hari kiamat dengan menerangkan bagaimanakah keberadaan hari kiamat tersebut, apakah ada atau tidak. Selanjutnya mengenai waktu terjadinya hari kiamat yang di dalamnya terungkap permasalahan mengenai tanda-tanda akan kemunculan hari kiamat tersebut. Sehingga dari kedua pembahasan tersebut akan jelas bagaimana hari kiamat dalam Alquran dan sunah Nabi saw.

B. Bukti Keberadaan Hari Kiamat
Hari kiamat atau hari kebangkitan merupakan sesuatu yang belum terjadi dan masih dalam alam ghaib (tersembunyi). Dalam kehidupan dunia ini, banyak hukum dalam perkara keadilan yang tidak kunjung dituntaskan secara adil dan benar. Padahal hakikat dari adanya hukum adalah rasa keadilan. Hukum di negara kita Indonesia ini runcing ke bawah akan tetapi tumpul ke atas. Begitu mudah rakyat jelata terkena hukum yang sebenarnya tindakannya sepele. Akan tetapi ketika ada penguasa atau yang punya banyak uang yang melanggar hukum, mereka dapat membeli hukum itu dengan uangnya sehingga bisa lepas dari hukuman seperti yang ramai dibicarakan pada akhir-akhir ini.
Oleh karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sesempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. Itu sebabnya, Alquran menamai kehidupan di hari kiamat sebagai al-hayawan yang berarti hidup sempurna dan kematian dinamai dengan wafat yang arti harfiahnya adalah kesempurnaan. Adapun mengenai firman Allah menyebutkan tentang keberadaan hari kiamat adalah sebagai berikut:
  •             •              

Katakanlah: “kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.” Katakanlah: “kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya (akan hari kiamat) mereka itu tidak beriman. (QS. Al-An`am: 12)

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini merupakan suatu ayat yang menerangkan tentang Allah sebagai Raja alam semesta baik langit maupun bumi dan semua yang berada di dalamnya. Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan kandungan ayat لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ yang merupakan ayat qasam (sumpah) di mana dalam ayat tersebut, Allah benar-benar akan mengumpulkan manusia semuanya yang tidak ada keraguan adanya yang harus diimani oleh setiap muslim. Masih menurut Ibnu katsir, kalimat الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ dijelaskan bahwa orang-orang yang merugi (di hari kiamat) adalah orang yang tidak percaya adanya hati kiamat dan tidak ada rasa takut terhadap apa yang menimpa dirinya di hari kiamat nanti. Ayat ini membuktikan bahwa keberadaan hari kiamat benar-benar ada dan bagi siapa yang ragu akan keberadaan hari kiamat tersebut, maka benar-benar akan rugi karena pada hari itu mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih dari Allah atas apa yang mereka usahakan. Dalam ayat lain disebutkan tentang keberadaan hari kiamat seperti dalam surat al-Nazi`at ayat 34 sebagai berikut:
  •  
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. (QS. Al-Nazi`at: 34)

Dalam ayat ini, al-Maraghi menerangkan bahwa apabila hari kiamat tiba, yang pada hari itu sangat susah sekali. Anak-anak kecil pun bisa beruban kepalanya. Maka neraka ditampakkan kepada umat manusia dan segala kesusahan dilupakan kecuali kesusahan yang sedang mereka hadapi pada hari itu. Semua makhluk diadili di hadapan pengadilanNya. Mereka yang berperilaku baik dan taat dimasukkan ke dalam surga. Dan mereka yang membangkang dan gemar melakukan maksiat, disediakan neraka jahanam sebagai tempat kembali.

C. Waktu Terjadinya Hari Kiamat
Alquran dan hadis Nabi saw yang berbicara panjang lebar tentang hari kiamat dari bermacam-macam aspek, tidak membicarakan sedikitpun tentang masa kedatangan atau terjadinya hari kiamat. Berikut ini adalah ayat Alquran yang menerangkan bahwa hari kiamat merupakan perkara Allah yang menentukan waktunya yang terdapat dalam surat al-A`raf ayat 187 yakni sebagai berikut:
                                        ••   
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “bilakah terjadinya?” katakanlah: “sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”. (QS. Al-A`raf: 187)

Kata الساعة secara bahasa berarti bagian kecil dari sesuatu yang tidak jelas dalam pengertian waktu. Dalam istilah ilmu falak berarti 24 jam yang menunjukkan waktu sehari semalam. Adapun dalam pengetian istilah Arab, الساعة merupakan waktu yang menunjukkan hari akhir atau dengan kata lain sama pengertiannya dengan القيامة yang berarti hari kiamat. Rasyid Ridha mengatakan bahwa ayat ini merupakan penjelasan tentang kaum musyrikin yang selalu bertanya kepada Rasul saw tentang hari kiamat dengan pertanyaan yang mengandung cemoohan dan keingkaran terhadap hari itu (kiamat). Ada kemungkinan apa yang mereka (kaum Musyrikin) pertanyakan hanyalah kapan terjadinya. Pertanyaan mereka tentang hal ini selalu terngiang di telinga rasul saw sehingga beliau berharap sekiranya bisa menjawab pertanyaan mereka. Rasul saw sungguh amat mengharapkan keislaman mereka dan untuk itu beliau tetap berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka bisa sadar. Tetapi Allah swt melarangnya berharap sesuatu yang tidak diizinkan olehNya.
Kemudian Allah menegaskan kepada beliau bahwa hal itu tidak perlu dilakukan olehnya. Cukup Allah sajalah yang mengetahuinya (hari kiamat). Engkau (Muhammad) hanya ditugaskan untuk memberi peringatan yang takut pada hari itu (hari kiamat) dan menyadarkan mereka dari kelalaian agar sebelum datangnya waktu itu, mereka telah mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk menyambut kedatangan hari itu yang kelak mereka akan diadili di hadapanNya. Adapun mereka yang sesat dan tidak mau beriman, maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya dan engkau tidak perlu memikirkan jawaban pertanyaan mereka. Apabila hari kiamat telah tiba saatnya, mereka akan merasakan bahwa sejak mereka diciptakan hingga terjadinya hari kiamat waktu tersebut tidak lebih hanyalah setengah hari saja lamanya. Jadi, belum genap sehari mereka melewati waktu, tiba-tiba mereka sudah dikejutkan dengan datangnya hari kiamat yang dalam hal ini mereka belum mempunyai persiapan untuk menyambutnya. Menurut al-Qurthubi, makna ayat يسئلونك عن الساعة أيان مرسيها merupakan suatu penjelasan bagi umat karena memang tidak ada yang mengetahui masalah kapan terjadinya hari kiamat, dan juga sebagai pertanda untuk menyenangkan kepada manusia bahwa hari kiamat bukanlah perkara manusia akan tetapi hanya merupakan hak prerogratif dari Allah swt yang mengetahui hakikat dari hari kiamat tersebut.
Adapun mengenai waktu terjadinya hari kiamat dalam hadis Nabi saw, juga tidak menyebut kapan waktu terjadinya hanya menyebutkan tentang tanda-tanda mendekati hari kiamat. Berikut ini adalah salah satu hadis yang menerangkan tentang tanda-tanda hari kiamat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim karya Muslim ibn al-Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî:
عَنْ عُمَرُ بِنِ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذَ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يَرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى الَّنِبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَاسْنَدَ رَكْبَتَيْهِ إِلَى رَكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقاَلَ: يَا مُحَمَّدْ! أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ؟ فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَتُقِيْمُ الصَّلاَةِ وَتُؤْتِي الزَّكاَةِ وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ اْلبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قاَلَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قاَلَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ؟ قاَلَ: أَنْ تُؤمِنُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِاْلقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قاَلَ: صَدَقْتَ. قاَلَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ؟ قاَلَ: أَنْ تَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ؟ قَالَ: مَا اْلمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قاَلَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا؟ قاَلَ: أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى اْلحُفَاةَ اْلعَرَاةَ اْلعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي اْلبُنْيَانِ. ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَتْ مَلِياً ثُمَّ قاَلَ لِي: ياَ عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائلِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمْ. قاَلَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلَ أَتَاكُمْ يُعَلّمُكُمْ دِيْنَكُمْ (رواه مسلم)
Dari Umar bin Khaththab berkata: pada suatu hari, Rasulullah saw muncul di antara kaum muslimin sorang laki-laki yang berpakaian putih bersih, berambut sangat hitam, tidak ada salah satupun yang melihat dari mana dia datang, tidak ada yang mengetahui dari mana dia berasal lalu duduk di hadapan Nabi saw kemudian meletakkan lututnya (menempel) di lututnya Nabi saw, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya dan bertanya (kepada Nabi saw): wahai Rasulullah saw, apakah Islam itu? Rasulullah saw menjawab: Islam adalah engkau bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad itu utusan (Rasul) Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan mengerjakan ibadah haji apabila engkau mampu. Orang itu berkata: engkau (Rasulullah saw) benar. Maka kami (para sahabat) terkejut, orang itu bertanya akan tetapi ketika sudah dijawab, langsung membenarkan jawaban Nabi saw. Kemudian orang itu bertanya kembali: wahai Rasulullah, apakah iman itu? Rasulullah saw menjawab: engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya, hari berbangkit (hari kiamat), dan beriman kepada qadarNya walaupun baik dan buruk. Orang itu berkata: engkau (Rasulullah saw) benar. Orang itu kembali bertanya: wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw menjawab: engkau beribadah kepada Allah swt seolah-olah engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw menjawab: orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Orang itu bertanya lagi: wahai Rasulullah, ceritakanlah bagaimana tanda-tandanya (hari kiamat)? Rasulullah saw menjawab: apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya. Apabila para penduduk gurun pasir dan lainya yang sangat fakir dan miskin saling bermegah-megahan dengan gedung (menginginkan kekayaan yang melimpah ruah dan sombong akan kekayaan mereka). Kemudian orang itu pun pamit dan pergi meninggalkan Rasulullah saw dan para sahabat. Selang beberapa saat, Rasulullah saw pun bertanya kepada saya (Umar bin Khaththab): wahai Umar! Apakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi? Maka saya (Umar)pun berkata: Allah swt dan Rasulullah saw yang lebih mengetahui. Rasulullah saw bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan kalian masalah agama kalian. (HR. Muslim)

Dalam hadis riwayat Imam Muslim di atas, Rasulullah saw menjelaskan tentang iman, islam, ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Kalimat وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ bermakna bahwa orang itu (Jibril) menaruh telapak tangannya di atas pahanya kemudian duduk di hadapan Nabi saw dengan duduk yang rupawan. Kemudian kalimat فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ bermakna bahwa terkejut di sini disebabkan karena hal ini berbeda hari adat atau kebiasaan yang dilakukan orang-orang yang bertanya yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan sendiri. Di samping itu, keterkejutan ini karena pada waktu itu tidak ada satupun orang yang mengetahui tentang permasalahan yang ditanyakan Jibril tadi selain Nabi saw. Sedangkan makna kalimat أَمَارَتِهَا adalah tanda-tandanya (hari kiamat).
Menurut pendapat Ya`in al-Sarari yang dikutip oleh Muhyiddîn al-Nawâwî mengatakan bahwa makna رَبَّتَهَا adalah سيدها (tuannya), atau مالكها (pemimpin, rajanya). Adapun pengertian dari kalimat (العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان ) di mana العالة berarti seorang yang sangat fakir atau miskin, kemudian رعاء الشاء يتطاولون في البنيان berarti bahwa para penduduk gurun pasir dan sejenis mereka yang fakir dan miskin yang menginginkan kekayaan yang melimpah ruah dan sombong akan kekayaan mereka. Hadis ini menunjukkan di antara beberapa tanda-tanda hari kiamat akan menjelang yaitu:
a. apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya.
b. Apabila para penduduk gurun pasir dan lainnya yang sangat fakir dan miskin saling bermegah-megahan dengan gedung (menginginkan kekayaan yang melimpah ruah dan sombong akan kekayaan mereka).
Dalam hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari yang mirip dengan hadis di atas menyebutkan sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الإِيمَانُ قَالَ: الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ. قَالَ مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ، وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ. قَالَ مَا الإِحْسَانُ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ) الآيَةَ. ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ: رُدُّوهُ. فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا. فَقَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ. (رواه البخارى)
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah saw muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: engkau beriman kepada Allah swt, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-RasulNya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw menjawab: engkau beribadah kepada Allah swt seolah-olah engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya: Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw membaca firman Allah swt: sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw bersabda: panggillah ia kembali. Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (HR. al-Bukhari).

Dalam hadis riwayat al-Bukhari di atas redaksi hadis memang agak mirip dengan redaksi hadis riwayat Mulim. Mengenai makna وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا, Ibnu hajar al-Asqalani menjelaskan, kata الأَمَةُ berarti pemimpin atau raja sedangkan رَبَّهَا berarti tuan. Adapun maksud dari وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا adalah seorang pemimpin atau tuan yang berbuat berbagai macam kejelekan dan kerusakan. Sedangkan makna kalimat تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِى الْبُنْيَانِ menurut Ibnu Hajar al-Asqalani adalah bermegah-megahannya orang-orang yang sangat miskin ketika mereka telah mencapai kekayaan kemudian melakukan pemborosan dari hasil kekayaannya tanpa peduli kepada yang lainnya. Masih menurut Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengutip pendapat al-Qurthubi mengatakan bahwa tanda-tanda hari kiamat itu ada dua: pertama adalah tanda-tanda yang biasa (kecil) seperti dalam tanda-tanda di hadis ini, kedua adalah tanda-tanda yang selain pertama (besar) seperti terbitnya matahari dari Barat yang merupakan tanda yang menunjukkan dekatnya dengan hari kiamat.

D. Penutup
Iman kepada hari kiamat merupakan salah satu bagian dari akidah. Karena pengetian akidah salam agama Islam merupakan rangkaian dari rukun iman itu sendiri. Dengan beriman kepada hari kiamat, maka seorang muslim telah mempunyai salah satu akidah yang benar. Karena dengan akidah yang benar, merupakan asas atau pondasi tegaknya agama Islam dan merupakan salah satu dari sah atau diterimanya suatu amalan seorang muslim. Hari kiamat atau hari kebangkitan merupakan sesuatu yang belum terjadi dan masih dalam alam ghaib (tersembunyi). Walaupun demikian, kita sebagai seorang muslim harus mengimaniNya karena iman kepada hari kiamat merupakn salah satu dari enam rukun iman dalam agama Islam.
Tidak ada dalil yang pasti yang menyebutkan kapan hari kiamat akan datang. Karena hari kiamat merupakan hak prerogatif Allah swt yang mengetahui hakikatnya. Walaupun demikian, dalam hadis-hadis Nabi saw tentang hari kiamat yang banyak perawi hadis di antaranya al-Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa Nabi saw menyebutkan tanda-tanda-tanda dari hari kiamat tersebut dengan dua macam yaitu:
a. Tanda-tanda kiamat kecil:
i. seperti yang tertera dalam hadis di atas yakni apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya. Sedangkan yang kedua, Apabila para penduduk gurun pasir dan lainnya yang sangat fakir dan miskin saling bermegah-megahan dengan gedung (menginginkan kekayaan yang melimpah ruah dan sombong akan kekayaan mereka).
ii. Terjadi berbagai macam fitnah.
iii. Terjadi berbagai macam perbuatan zina dan lain sebagainya.
b. Tanda-tanda kiamat besar:
i. Keluarnya Dajjal.
ii. Turunnya Nabi Isa a.s.
iii. Munculnya Imam Mahdi dan lain sebagainya.

E. Daftar Pustaka
Al-`Ashqolânî, Ahmad ibn `Alî ibn Hajar. Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Bukhâri. Jilid 1. Bairut: Dâr al-Fikr, 1991.
Al-Bukhârî, Abû Abdullâh Muhammad ibn `Ismâ`îl. Shahîh al-Bukhârî. Juz 1, Cet. 1. Bab Pertanyaan Jibril Kepada Nabi Tentang Iman, hadis nomor: 50. Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1992.
Al-Dimasyqi, Abu al-Fidâ` `Isma`îl bin `Umar bin Katsir al-Qurasyiyyi. Tafsîr Al-Qur`an al-`Adhîm. Cet. 2. Juz 3. T.tp: Dâr Thayyibah, 1999.
Gontor, Tim Penyusun. Al-Tauhid. Jilid 2. Untuk Kelas 5 KMI. Ponorogo: Darussalam Press, Januari 2001.
__________________. Al-Tauhid. Jilid 1. Untuk Kelas 4 KMI. Ponorogo: Darussalam Press. Mei 2002.
Jamaludin, Amin Muhammad. Harmajiddun (Akhir Ya Ummat al-Islam). Terj. Abu Adam dengan judul Huru Hara Akhir Zaman (Penjelasan Terakhir Untuk Umat Muslim). Cet. 4. Kartasura: Gonilan, Oktober 2003.
Al-Karim, Nashir bin `Abd. Mabahits fi `Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ`ah. Cet. 1. Riyadh: T.tp., T.th.
A-Maraghi, Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im. Tafsir al-Maraghi. Juz 30. Mesir: Maktabah al-Mushthafa al-Halbi, 1946.
Al-Naisâbûrî, Muslim ibn al-Hajjâj al-Qusyairî. Shahîh Muslim. Juz 1. Bairut: Dâr al-Fikr, 1992.
Al-Nawâwî, Muhyî al-Dîn. Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj. Jilid 1. Bairut: Dâr al-Ma’rifah, 1995.
Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Manar. Cet. 2. Juz 9. Kairo: Dar al-Manar, 1947.
Sasongko, Wisnu. Armageddon (Peperangan Akhir Zaman Menurut Alquran, Hadis, Injil, dan Taurat). Cet. 2. Jakarta: Gema Insani, Januari 2004.
Shihab, Quraish. Wawasan Alquran (Tafsir Maudhu`I Atas Berbagai Persoalan Umat). Cet. 8. Bandung: Mizan, November 1998.
Al-Syahawi, Majdi Muhammad. Sepuluh Tanda Detik-Detik Hari Kiamat. Terj. Muhammad Ladzi Safroni. Surabaya: Bintang Timur, 1993.
Al-Qurthubî, Syamsuddin. Tafsîr al-Qurthubî. Terj. Fathurrahman dkk. Juz 3, cetakan 1. Jakarta: Pustaka Azzam, April 2008.

2 gagasan untuk “KIAMAT MENURUT PETUNJUK ALQURAN DAN SUNAH NABI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s