PERSEPSI ORANG TUA MEMBENTUK PERILAKU ANAK

(DAMPAK PYGMALION DI DALAM KELUARGA)
Oleh: Amirul Bakhri

A. Pendahuluan
Berdasarkan mitologi Yunani, Rosenthal seorang pakar psikologi telah lama mengajukan pandangan yang dikenal sebagai Pygmalion Effect yang oleh banyak kalangan pendidik serta peneliti bidang psikologi dikenal juga sebagai Rosenthal Effect. Pandangan ini pada intinya adalah persepsi orang tua, baik yang diucapkan tetapi dicamkan di dalam diri mereka, bisa menjadi kenyataan yang sesungguhnya pada diri anak. Masalah yang serius akan timbul jika orang tua terlalu sering mengucapkan “anak nakal”, “anak bandel” atau “anak tidak tahu diuntung” pada putra-putrinya. Karena menurut hasil sejumlah penelitian, cara seperti ini memang menyebabkan anak berperilaku seperti yang diucapkan orang tua mereka. Sehingga mereka benar-benar nakal, bandel dan tidak tahu diuntung.
Buku yang dibahas penulis ini merupakan teori Pygmalion Effect karya Rosenthal yang kemudian diindonesiakan oleh Monty Satiadharma dengan “Dampak Pygmalion”. Maksud buku ini adalah memberikan informasi kepada para orang tua serta pendidik, agar lebih berhati-hati dalam mengembangkan persepsi terhadap anak dan memberikan label-label tertentu pada anak-anak. Pemberian label pada anak dapat berfungsi serupa dengan sugesti pada diri anak bahwa demikianlah peribadinya. Sehingga anak akan mengemban tugas membawa pribadi seperti yang dikehendaki orang tua atau pendidiknya. Di samping itu, pemberian label akan mempengaruhi persepsi orang tua dan pendidik pada anak didiknya sehingga perilaku mereka sendiri dalam melakukan pendekatan pada anak dan anak didiknya akan terpengaruh oleh persepsi mereka sendiri. Akibatnya, reaksi yang mereka berikan sesuai dengan persepsi mereka, dan respon anak serta anak didik juga disesuaikan dengan reaksi tersebut.

B. Melacak Sejarah Kebudayaan Yunani
Munculnya kebudayaan Yunani sampai saat kini belum dapat dipastikan. Akan tetapi penemuan-penemuan arkeologis tentang puncak kebudayaan bangsa Hellenik tersebut menggambarkan bahwa pada periode sekitar 500 sebelum Masehi, masyarakat Yunani telah memiliki tatanan kehidupan sosial yang teratur disertai munculnya kepercayaan pada para Dewa. Misalnya peninggalan bangsa Yunani yang berupa altar Dewa Appolo (Dewa Matahari putra Zeus) diperkirakan didirikan pada sekitar tahun 530 sebelum Masehi, dan kini masih dapat disaksikan di Delphi. Sedangkan kuil Dewa Zeus di Olympus diperkirakan didirikan pada tahun sekitar 460 sebelum Masehi.
Masyarakat Yunani cenderung melukiskan para Dewa sebagai manusia sempurna atau dapat dikatakan bahwa Dewa memiliki gambaran sebagai manusia juga, hanya saja mereka jauh lebih sempurna. Namun kesempurnaan yang dimaksud lebih dititikberatkan pada kesempurnaan fisik sehingga keindahan tubuh, kecantikan dan ketampanan menjadi sentral dalam karya-karya mereka. Adapun aspek psikis tidak tidak memperoleh porsi penggambaran kesempurnaan absolut sekalipun bagi para Dewa. Dewa pun memiliki ketidaksempurnaan psikis seperti nafsu, serakah, keinginan bersaing dan sebagainya. Samalah gambaran para Dewa dengan manusia, hanya saja mereka lebih gagah dan jelita. Uniknya, bangsa Hellenik ini melukiskan perasaan manusia melalui visualisasi atau pelukisan Dewa-Dewi. Misalnya, ada Dewa Asmara, Dewa Kedudukan, Dewa Kesenangan dan lain-lain. Namun, setiap Dewa baik Dewa Emosi, Dewa Perasaan, atau pun Dewa Kejadian (Dewa Hujan, Matahari, Air, dan lain-lain) juga memiliki emosi masing-masing. Yang penting di sini adalah bahwa masyarakat Hellenik mencoba mengkaji perasaan manusia yang sifatnya abstrak tersebut menjadi lebih konkret. Hal ini disertai harapan bahwa banyak orang akan menjadi lebih memahami dinamika perasaan yang mereka alami. Karena, jika gambaran perasaan itu abstrak sifatnya, sukarlah untuk dipahami orang.
Di atas telah dikemukakan bahwa pada periode sekitar 500 tahun sebelum Masehi peradaban Yunani telah demikian tinggi. Pada kisaran tahun-yahun itulah muncul berbagai kisah para Dewa seperti yang sampai kini banyak dikenal orang seperti Zeus (pimpinan para Dewa yang bertahta di gunung Olympus), Amor atau Eros serta Venus (Dewi Kecantikan). Para Dewa-Dewa ini memiliki tugas sendiri untuk menata kehidupan manusia. Contohnya Mars sebagai Dewa Perang, Neptunus sebagai Dewa Lautan. Di antara kisah para Dewa tersebut, bermunculan pula sejumlah legenda, salah satunya yaitu legenda Pygmalion, Sang Pematung.

C. Legenda Pygmalion
Pygmalion adalah seorang pematung kelas satu yang sulit dicari tandingannya. Sayangnya ia telah memutuskan untuk tidak menikah dan hidup seorang diri. Keputusannya ini diambil karena ia merasa bahwa terlalu banyak hal negatif yang terdapat pada diri perempuan. Akibatnya, lambat laun ia pun merasa takut melakukan hubungan seksual dan sebaiknya memutuskan membujang dan menyibukkan dirinya dengan menciptakan karya-karya patung yang indah. Namun tanpa disadarinya, sebagai seorang manusia ia tetap memiliki birahi, hanya sayangnya kini atas keputusannya ia tidak lagi memiliki cukup keberanian untuk menikah dengan siapapun. Akibatnya, energi sensualitasnya disalurkan sepenuhnya ke dalam berbagai karya ciptaannya dan salah satunya yang terindah yaitu Galatea.
Galatea adalah sebuah patung gading karya agung Pygmalion yang demikian indah serta sempurna, sesempurna seorang perempuan khayalannya yang tidak pernah dijumpainya. Ikal rambut serta cemerlang paras wajah Galatea tidak tertandingi oleh perempuan manapun di daratan Yunani. Demikian pula lekuk tubuh dan kehalusan kulitnya yang terbuat dari gading dikisahkan selembut sutera jika disentuh. Pygmalion pun sehari-hari hanya menghabiskan waktu untuk menatap dan bercengkrama dengan karya ciptaannya yang penuh dengan kesempurnaan bentuk namun tidak mengandung kehidupan. Ia mengalungi Galatea dengan untaian bunga, membalut selendang sutera serta meriasnya dengan menikam permata dan mutiara di sekujur tubuhnya. Bahkan ketika matahari mulai tenggelam ia membawa Galatea ke peraduan dan meletakkan kepala Galatea pada bantalan bulu angsa yang lembut di atas sofa bertilam sutera seindah bangsa Tyrian, masyarakat legendaris Laut Tengah yang terkenal dengan rajutan suteranya.tibalah saatnya diselenggarakan pesta rakyat tahunan di Cyprus untuk memuja Venus (Dewi Keindahan), di mana masyarakat berkumpul untuk memberikan persembahan memohon untuk memperoleh berkah di dalam hidup mereka. Pygmalion pun turut serta di dalam pesta rakyat tersebut. Di dalam kesunyian di hadapan altar persembahan ia berujar di dalam keraguan dan ketakutan: “Oh Dewata, engkau yang mampu melakukan segala sesuatu, berikan kepadaku melalui doa dan persembahan ini demi istriku yang satu yang tampak seperti perawan gading”. Pygmalion tidak berani mengatakan “patung perawan gading”, namun menyatakan “tampak seperti perawan gading”. Ia justru menyangkal realitas yang ada dan berujar seolah-olah impiannya itulah realitas. Ucapan ini yang kemudian didengar oleh Sang Dewi Venus yang dapat merasakan sepinya kehidupan sang seniman. Venus pun dengan seizin Jupiter (Zeus) menghembuskan api asmara sehingga tampaklah kobaran kidah api besar sebanyak tiga kali di atas altar tempat Pygmalionmemberikan persembahan. Venus telah memberikan kekuatan hidup bagi Galatea tanpa sepengetahuan Pygmalion.
Ketika sang pematung kembali ke rumah dan mencium bibir patung gadingnya ada kehangatan di bibir Galatea yang selama ini terasa dingin sedingin gading. Terkejut dengan perasaan yang dialaminya, dan disertai rasa keingin tahu ia kembali mencium bibir Galatea sambil menyentuh tubuhnya. Tidak hanya rasa hangat yang dirasakan, tetapi juga kelembutan kulit Galatea dapat dirasakannya. Terhenyak dari kenyataan yang dialaminya seperti di dalam mimpi, kembali ia mengulangi perbuatannya dan ia mencoba menggigit bibirnya sendiri untuk membuktikan bahwa ia tidak bermimpi. Galatea pun perlahan-lahan membuka matanya, pipinya bersemu kemerahan dan ia mulai bangkit dari sofa pembaringannya. Akhirnya Galatea memang sungguh hidup dan menjadi istri Pygmalion dan dari keduanya lahirlah Paphos yang kelak namanya diabadikan menjadi nama sebuah kota tempat bangsa Hellenik merayakan pesta besar-besaran untuk memuja Venus.

D. Makna Kisah Pygmalion
Pygmalion merupakan gambaran dari seorang yang mendambakan kesempurnaan secara berlebihan sehingga ia menjadi seorang yang perfeksionis. Ia digambarkan sebagai seorang seniman yang mampu membuat karya patung yang sempurna dan di dalam pelukisan tokoh ini bahkan ia digambarkan mampu membuat karya jauh lebih sempurna dari manusia lainnya. Sebagai contoh, karya seni patung perawan gadingnya, Galatea dilukiskan demikian indahnya sehingga tak tertandingi oleh perempuan manapun. Demikian pula karakteristik pribadi Pygmalion sendiri dilukiskan sebagai karakter perfeksionis, karena Pygmalion sulit menerima perempuan manapun di dalam hidupnya karena ia menganggap semua perempuan memiliki sisi negatif di dalam kepribadiannya, dan ia hanya bisa menerima perempuan sesuai dengan citranya sendiri. Hal ini menggambarkan bahwa ia adalah seorang yang sulit menerima relitas karena di dalam relitas terkandung banyak ketidak-sempurnaan. Sebaliknya, ia hanya menganggap dirinya lah yang sempurna dan benar dan ia lebih memilih menyendiri diselimuti oleh khayalannya sendiri dari pada hidup secara realistis di tengah masyarakat sosial.
Di dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita sulit menerima pandangan orang lain. Bukan berarti senantiasa ingin menjadi perfeksionis, tetapi kiranya setiap individu cenderung menilai dirinyalah yang paling benar sehingga tidak begitu mudah untuk menerima pandangan dari orang lain. Di samping itu, setiap individu memiliki idealisme spesifik yang sangat individual pula sifatnya, dan perilakunya terarah pada upaya untuk memperoleh idealismenya tersebut walaupun kadang kala tidak sama dengan realitas yang ada. Selama ia mampu menerima realitas yang ada sekalipun tidak sama dengan idealismenya, ia akan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan hidup di tengah masyarakat sosialnya. Namun, jika ia tidak bisa menerima realitas yang ada serta ingin memaksakan idealismenya, besar kemungkinan ia hanya akan menjadi seorang pemimpi. Demikianlah Pygmalion akhirnya cenderung menyendiri bahkan menarik diri dari lingkungan sosialnya, bermimpi untuk bisa hidup bersama dengan karya ciptanya, dengan idealismenya sendiri, Galatea.
Kesendirian adakalanya memang menghasilkan penemuan imajinatif sehingga membawa seseorang untuk menciptakansuatu karya kehidupan yang indah. Pygmalion pun demikian, namun Galatea yang diciptakan Pygmalion menurut citranya sendiri sesungguhnya tidak memiliki hidup, dingin, dan tidak memiliki emosi. Hal ini memberikan gambaran bahwa jika seseorang bersifat terlalu dominan pada orang lain dan bersikap memaksakan kehendak pada orang lain, maka ia hanya memperoleh reaksi yang dingin dari orang yang diperintah. Kalaupun orang tersebut kemudian mengikuti perintahnya, hal ini hanya merupakan tindakan mekanistis saja tanpa disertai adanya pemahaman serta kesadaran akan tindakan yang diharapkan untuk dilakukan.
Venus sang Dewi Kecantikan memang melukiskan keindahan sensualitas, ada kalanya sebagian orang menganggapnya sebagai Dewi Cinta. Namun, pelukisan Venus tidaklah setulus cinta Psyche. Cinta Venus seringkali bercampur dengan rasa iri di samping gairah. Bahkan Venus pernah menyuruh putranya, Cupido untuk membunuh Psyche yang memiliki kecantikan sejati. Psyche adalah simbolisasi jiwa manusia yang penuh kasih dilukiskan sebagai seorang perempuan cantik bersayap lembut. Psyche juga berarti kupu-kupu sebagai lambang jiwa dan nurani. Venus dilukiskan sebagai Dewi sensualitas dengan porsi tubuh yang ideal disertai paras muka yang cantik, sensual namun mengandung kecerdasan tinggi. Venus juga sebagai lambang birahi dan nafsu yang merupakan salah satu dasar perilaku manusia. Napas kehidupan yang dihembuskan kepada Galatea merupakan bentuk visualisasi dorongan keinginan yang demikian kuat pada diri seseorang bahwa impiannya akan terwujud. Kuatnya dorongan imajinasi dalam diri Pygmalion membuat karyanya menjadi hidup, sehingga pada akhirnya ia daapt menemukan kehidupan di dalam karyanya tersebut.

E. Pygmalion Dalam Keluarga
Adanya kenyataan tentang Pygmalion bisa mempengaruhi persepsi sikap orang tua terhadap anak-anak mereka, demikian juga mempengaruhi pembentukan label atribut yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Adanya label dan atribut tertentu yang disandang oleh anak-anak merangsang orang-orang di sekeliling mereka untuk memanggil mereka sesuai dengan label serta atribut yang mereka sandang pula. Adakalanya label atribut positif sifatnya sehingga anak-anak tersebut menyandang hal-hal positif yang lambat laun akan berkembang secara positif pula di dalam diri mereka. Namun adakalanya label dan atribut tersebut negatif sifatnya sehingga hal-hal negatif itupun secara bertahap akan tumbuh dengan subur untuk menjadi bagian dari perkembangan keperibadian mereka. Bukanlah sesuatu hal yang langka jika kita mendengar orang tua mendengar anaknya yang tengah kelelahan dan enggan belajar dengan kata-kata “dasar pemalas, percuma saja dikasih tahu saja tetap pemalas”. Dengan melakukan hal tersebut, orang tua dengan jelas telas memiliki persepsi negatif terhadap upaya mereka dalam memperbaiki sikap anaknya yaitu dengan mensugesti diri bahwa upaya mereka “percuma”. Jadi, orang tua kini berperan sebagai Pygmalion dan anaknya berperan sebagai Galatea, hanya saja kini peristiwanya bersifat negatif dan bukan romantis seperti mitologi Yunani. Orang tua memberikan label “pemalas” kepada anak serta label “percuma” pada usahanya sendiri, dan selanjutnya anak kemudian mengambil alih label ini sebagai bagian dari dirinya sehingga mereka benar-benar pemalas dan mereka juga ingin menyelaraskan keinginan orang tua bahwa usaha mereka memang percuma.
Hal seperti inilah yang kiranya diwaspadai para orang tua. Sikap reaktif dan bukan responsif terhadap perilaku anak adakalanya membawa dampak negatif ke dalam diri anak. Tentu saja tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang ke arah yang negatif. Tetapi mereka mungkin kurang menyadari bahwa reaksi-reaksi yang mereka berikan kepada anak-anak memiliki bentuk-bentuk sugesti sehingga secara langsung dan bertahap mempengaruhi perkembangan kepribadian anak kelak. Dapat pula dipahami bahwa di dalam kehidupan sehari-hari para orang tua sudah cukup lelah dengan berbagai beban tugas dan pekerjaan di luar rumah sehingga mereka puntidak jarang mengalami beban psikologis sehari-hari yang cukup besar. Sementara itu, anak-anak dengan segalabentuk perilakunya sering kali menambah beban tugas orang tuanya. Tetapi bukankah salah satu tugas dari orang tua adalah mendidik anak-anak mereka.
Memang hal lumrah bahwa orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh berkepribadian indah seindah dan sesempurna karya Pygmalion. Pygmalion pun dalam mencipta karyanya Galatea banyak merenung dan berupaya dengan segenap hatinya. Ia mengorbankan hari-harinya untuk karya besarnya tersebut, sampai-sampai ia kurang bersosialisasi sehingga ciptaannya pun hanya untuk hiburan bagi dirinya sendiri saja, karena memang hanya sesuai dengan citra dirinya. Lumrah jika para orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan standar kerangka persepsi mereka. Karenanya, kalaupun dipaksakan mungkin saja anak-anaknya akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan format orang tua mereka. Akan tetapi perlu juga direnungkan bahwa anak-anak kelak harus tumbuh di tengah masyarakat sosial yang memiliki kerangka persepsi dan perilaku yang tidak sepenuhnya sama dengan kerangka acuan orang tua masing-masing keluarga. Karenanya perilaku anak-anak yang sesuai dengan tuntutan orang tua mereka tidak selamanya menjamin bahwa perilaku mereka kelak sesuai dengan tuntutan sosial yang ada.
Hal lain yang perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam mensiasati perkembangan kepribadian anak adalah bahwa anak-anak memiliki pola pikir yang tidak sama dengan orang tua. Galatea di dalam kisah Pygmalion adalah patung anorganik artinya ia tidak hidup sebelum diberi kehidupan oleh Dewi Venus, lain halnya dengan anak-anak. Anak-anak memiliki hak hidup sebagai anak-anak, mereka berpikir, berperasaan, dan berperilaku sebagai anak-anak yang tentunya sangat berbeda dengan cara orang tua berpikir, berperasaan, dan berperilaku. Harapan orang tua agar anak-anak dapat berpikir seperti halnya orang tua tidak dapat dipaksakan untuk terjadi secara instan atau segera. Dunia anak dan dunia orang tua berbeda, kegiatan mereka pun berbeda pula. Anak-anak bermain masak-masakan, perang-perangan dan lain sebagainya sedangkan orang tua melakukan kegiatan memasak dan berperang sesungguhnya.
Demikian lama Pygmalion berharap agar Galatea hidup seperti harapannya. Demikian lama pula waktu yang dibutuhkan orang tua agar anak-anak dapat hidup sesuai dengan ketentuan serta tuntutan yang diberikan kepada mereka. Pygmalion pun tidak bisa membuat Galatea menjadi teman hidupnya dengan segera. Berbagai upaya harus diusahakan namun dengan tidak memaksakan kehendak. Berbedanya pola pikir, perasaan serta perilaku orang tua dengan anak-anak akan menyebabkan usaha pemaksaan berakhir dengan sia-sia. Karena bahasa yang digunakan dan perkembangan daya nalar mereka berbeda. Sehingga apa yang dikemukakan oleh orang tua tidak akan terlalu mudah dipahami oleh anak-anak. Kebutuhan dan perangkat rumah tangga boleh jadi merupakan salah satu sasaran orang tua untuk dapat dimiliki. Akan tetapi anak-anak lebih mengutamakan kebutuhan bermain dan perangkat mainan.

F. Kesimpulan
Dalam proses tumbuh kembang anak, sesuatu yang terlihat sederhana ternyata akan memiliki akibat yang serius. Yang terjadi bisa perkembangan positif bisa pula perkembangan negatif, tergantung stimultan yang diberikan. Meski tidak ada seorangpun orang tua yang ingin anaknya berkembang ke arah negatif, tetapi hal ini bisa saja terjadi. Ini sering terjadi tanpa disadari dan sangat mungkin karena kurangnya informasi yang diperoleh para orang tua.
Monty P. Satiadarma menjelaskan bahwa ada suatu gejala psikologis yang terjadi di dalam lingkungan keluarga yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai The Pygmalion Effect ( Efek Pygmalion ). Efek Pygmalion ini pada intinya adalah persepsi dari orang tua baik yang diucapkan dengan menggunakan lebel-lebel tertentu pada anak atau yang tidak diucapkan tetapi dicamkan di dalam diri mereka bisa menjadi kenyataan yang sesungguhnya pada diri anak. Terjadinya gejala negatif dari Efek Pygmalion di dalam keluarga ini biasanya disebabkan karena unsur ketidaksengajaan sebagai akibat dari ketidaktahuan.
Penyebab munculnya gejala negatif dari Efek Pygmalion adalah kebiasaan dari orang tua dalam memberikan lebel negatif pada anak-anaknya. Contoh yang sering terjadi adalah dengan menyebut anaknya pemalas, bodoh, nakal, bandel dan lebel-lebel negatif yang lain. Atribut ini secara bertahap akan tumbuh subur dan menjadi bagian dari perkembangan kepribadian anak. Anak akan tersugesti dan mengembangkan kepribadian sesuai dengan lebel yang disandangkan. Kebiasaan lain yang akan menimbulkan perasaan sakit bagi anak-anak adalah membandingkan, mencaci, memaki dan memukul. Kerena merasa selalu salah dan disalahkan maka akibat yang terjadi kemudian adalah mereka akan diam saja, tidak berani bertanya, tidak berani mengutarakan apa-apa dan kreativitasnya pun terbenamkan.
Dalam perjalanan hidupnya, di lingkungan keluargalah pertama kali anak mulai belajar. Belajar bersosialisasi, merespon, beradaptasi, mengembangkan kemampuan penalaran dan berimajinasi. Dalam keluarga pula kepribadiannya akan terbentuk. Berikut ini adalah pendekatan yang harus dihindari oleh orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, yaitu pendekatan dengan kecemasan, dengan kekerasan, dengan ketidak berdayaan, dengan ketergantungan, dan dengan ketidak pedulian. Sementara itu, pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan dengan keterbukaan, dengan kasih sayang dan dengan kreativitas.
Dengan demikian, sudah selayaknya bagi para orang tua untuk memahami bahwa anak-anak memiliki hak hidup sebagai anak-anak. Mereka berpikir, berperasan dan berperilaku sebagai anak-anak yang tentunya akan berbeda dengan cara orang tua berpikir, berperasaan dan berperilaku.

G. Daftar Pustaka
Http://achilles79.multiply.com/journal/item/42/PYGMALION_Sekali_lagi_koreksi_atas_mitologi_Yunani diakses pada tanggal 06 Januari 2011.
Http://bennyshukaku.blogspot.com/2009/12/hukum-pygmalion-hukum-berpikir-positif.html diakses pada tanggal 06 Januari 2011.
Http://sholahuddin.edublogs.org/2010/03/24/pygmalion-effect-untuk-pendidikan/ diakses pada tanggal 06 Januari 2011.
Http://zapuzapu.wordpress.com/2009/06/18/pygmalion-efek/ di akses pada tanggal 06 Januari 2011.
http://www.cuwelamomang.com/pygmalion-berpikirlah-positif/ di akses pada tanggal 06 Januari 2011.
Monty P. Satiadarma, Persepsi Orang Tua Membentuk Anak (Dampak Pygmalion Di Dalam Keluarga), cet. 1, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), h. IX.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s