TELAAH KITAB TAFSIR “AL-HUDA” KARYA BRIGJEN PURN BAKRIE SYAHID

KARYA BRIGJEN PURN BAKRIE SYAHID
Oleh: Amirul Bakhri dan Tabiqul Anang
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk sekalian umat manusia. Al-Qur’an sebagai kalam Allah swt memerlukan sebuah penafsiran agar bisa dipahami dan dipraktekkan oleh manusia. Berbagai penafsiran telah dilakukan baik oleh Nabi saw, sahabat, Tabi’in, dan berbagai golongan yang lain. Penafsiran di Indonesia terjadi ketika abad ke 17, hal ini ditandai dengan munculnya kitab tafsir Tarjuman Mustafid karya al-Sinkili yang dianggap sebagai kitab tafsir pertama di Indonesia. Setelah berkembangnya jaman muncullah berbagai macam kitab tafsir yang terdapat di Indonesia, di antaranya adalah kitab tafsir al-Huda karya Brig Jend Bakrie Syahid yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa latin. Dalam makalah ini akan dikaji tentang kitab tafsir al-Huda ini, agar dapat diketahui seluk beluk kitab tafsir ini dan mungkin bisa menambah perbendaharaan kitab tafsir ini di kalangan masyarakat dengan menggunakannya sebagai bahan pustaka dalam kajian kitab tafsir.

B. BIOGRAFI PENULIS KITAB TAFSIR
Kitab tafsir al-Huda ini ditulis oleh Bakrie Syahid atas permintaan dari orang-orang Suriname. Dia lahir di kampung Suronatan kecamatan Ngampilan kota madya Yogyakarta pada tanggal 16 Desember 1918 M pada hari Senin Wage. Dia merupakan seorang yang multi kemampuan di antaranya militer, akademisi, birokrat, rohaniawan, aktifis.
Adapun tempat Bakrie Syahid mempelajari agama yakni di Kweekschool Islam Muhammadiyah dan selesai pada tahun 1935 M. Kemudian melanjutkan ke H.I.S Muhammadiyah sepanjang Surabaya dan Sekayu, Palembang sampai tahun 1942 M. Pada tahun 1957 M, dia menyelesaikan studinya di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) di Yogyakarta pada tanggal 16 Januari 1963 M. Bersama Jend A. Yani ditugaskan untuk meneruskan pendidikan militer di Amerika Serikat tahun 1964 M di Fort Hamilton, New York, Amerika Serikat.
Karya-karya yang telah dihasilkan Bakrie Syahid antara lain: Tata Negara RI, Ilmu Jiwa Sosial, Kitab Fiqih, Kitab Aqoid, karya-karyanya ini dia tulis ketika menjadi mahasiswa. Selanjutnya buku Pertahanan Nasional dan Ideologi Negara Pancasila, karya-karyanya ini ditulis ketika menjadi pejabat di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga).
Adapun pekerjaan yang dijalaninya antara lain: komandan kompi, wartawan perang no 6 MBT, kepala staff battalion STM Yogyakarta, kepala pedidikan Pusat Rawatan Ruhani Islam Angkaan Darat, wakil kepala PUSROH (Pusat Rohani) Islam di Angkatan Darat dan Asisten Sekretaris Negara RI serta menjadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta dari tahun 1972-1976 dan juga pada tanggal 1 Oktober 1977 dilantik menjadi anggota MPR dari fraksi ABRI.

C. PENERBITAN KITAB TAFSIR
Penerbitan kitab tafsir Al-Huda ini pertama kali diterbitkan yaitu pada tahun 1979 M yang dicetak oleh penerbit Bagus Arafah yang beralamat di H. Agus Salim no 21 Yogyakarta Indonesia no telepon 2476.
Kitab tafsir al-Huda ini adalah kitab tafsir al-Qur’an lengkap 30 juz al-Qur’an yang berukuran panjang 23,5 cm, lebar 15 cm, tebal 5,5 cm dan berjumlah 1 jilid yang terdiri dari 1376 halaman. Adapun letak daftar isinya terletak di halaman belakang dari kitab tafsir al-Huda ini.

D. SEJARAH PENULISAN KITAB TAFSIR
Penulisan kitab tafsir al-Huda ini terjadi ketika Bakrie Syahid menjalani tugas sebagai kayawan ABRI di Sekretaris Negara RI di bidang khusus tahun 1970 M sampai menjabat Rektor IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta tahun 1972-176 M atas permintaan orang-orang Suriname. Dalam penulisan kitab tafsir al-Huda ini, Bakrie Syahid banyak dibantu oleh beberapa orang di antaranya mitra dari Jakarta, teman-teman transmigrasi, dari oranmg-orang Suriname, teman-teman jama’ah haji tahun 1955 dan tahun 1971, saudara di Malaysia, saudara di kediaman Syekh Abdul Manan, teman-teman dari Singapura, Muangthai, Philipina yang berasal dari Jawa05 yang meratau.
Kitab tafsir al-Huda ini bertuliskan bahasa Jawa dengan aksara latin. Adapun tujuan dari penulisan kitab tafsir ini karena adanya permintaan dari orang-orang Suriname, juga adanya keprihatinan pengarang kitab tafsir ini untuk menulis sebuah kitab tafsir dalam bahasa Jawa beraksara latin dan juga adanya tuntutan bacaan kitab tafsir al-Qur’an berbahasa Jawa beraksara latin sehingga memudahkan masyarakat yang membutuhkan keterangan sebuah kitab tafsir al-Qur’an dalam bahasa Jawa latin.

E. TEKNIK PENULISAN KITAB TAFSIR
Dalam penulisan kitab tafsir al-Huda ini, halaman awal diawali dengan cover dari kitab tafsir al-Huda, kemudian diikuti kata sambutan dari menteri agama, tanda tashhih dari panitia pen-tashhih al-Qur’an, sambutan pengarang kitab tafsir, kata sambutan dari penerbit, daftar pustaka rujukan penulisan kitab tafsir al-Huda, translitertasi tafsir, kata sambutan MUI Yogyakarta, kemudian baru tafsir al-Qur’an dari awal surat dalam al-Qur’an yakni surat a-Fatihah sampai akhir surat yakni surat al-Nas, dilanjutkan dengan do’a khatam al-Qur’an yang dituliskan beserta terjemahannya, diakhiri dengan keterangan tentang bab-bab yang menurut pengarang penting dalam kajian Islam yakni bab tentang kitab suci al-Qur’an, rukun Islam, rukun Iman, Syafa’at, kebaikan. Dan juga dalam kitab tafsirnya, Bakrie Syahid memudahkan para pembaca dengan memberikan bab-bab yang terdapat keterangan tentang ayat dalam kitab tafsirnya yang letaknya di semua surat.
Adapun daftar pustaka yang menjadi rujukan pengarang tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an antara lain: al-Mushhaful Musayyar karya Abdul Jalil Isa, kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur’an karya Sayyid Quthub, kitab tafsir al-Maraghi kaya A. Mushthafa al-Maraghi, kitab tafsir al-Manar karya Muh. Rasyid Ridha, kitab tafsir The Holy Qur’an karya A. Yusuf, kitab tafsir al-Nur karya Hasbi Ashshiddiqy, kitab tafsir al-Furqon karya A. Hasan, kitab tafsir al-Qur’an al-Adzim karya Ibn Katsir dan berbagai buku-buku yang lainnya. Dan juga dia dalam menafsirkan ayat al-Qur’an merujuk kepada data-data dari undang-undang RI karena dia merupakan seorang birokrat yang dekat dengan undang-undang.
Sedang dalam penulisan transliterasi, Bakrie Syahid menuliskan transliterasi dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:
Kh: خ H: ه Th: ط “ “ : ع
Dh:ض Q: ق T: ث ‘ : ء
Dz: ذ Sh: ص Zh: ظ
Gh: غ Sy: ش Z: ز
aa: tanda untuk bacaan a yang panjang contoh: al-Qur’aan.
ii: tanda untuk bacaan i yang panjang contoh: muslimiin.
uu: tanda untuk bacaan u yang panjang contoh muslimuun.

F. METODE PENAFSIRAN
Penafsiran yang dilakukan oleh Bakrie Syahid dalam kitab tafsir al-Huda ini dengan cara menuliskan tafsirannya dalam sebuah catatan kaki di kitab tafsirnya. Adapun fungsi dari catatan kaki dalam kitab tafsirnya antara lain:
a. Sebagai tafsiran dari al-Qur’an. Dalam hal ini, pengarang kitab menafsirkan al-Qur’an seperti memberi komentar terhadap perkara-perkara yang menurut pengarang kitab perlu ditafsirkan. Jadi, pengarang kitab tafsir ini tidak menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an.
b. Sebagai inti sari sebuah surat dalam al-Qur’an. Jadi, pengarang kitab tafsir ini ketika di akhir surat, memberikan inti sari dari surat tersebut.
c. Sebagai munasabah antar surat. Pengarang kitab tafsir memberikan munasabah antar surat yang terletak di akhir surat dan di awal surat untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang adanya hubungan antar surat.
d. Sebagai petunjuk keterangan tafsir yang membahas tema yang sama. Jadi, ketika ada tema yang telah ditafsirkan dalam suatu surat kemudian di surat lain ada tema yang sama, maka pengarang kitab tafsir hanya menuliskan petunjuk agar pembaca melihat surat yang telah ditafsirkan di awal surat tanpa menafsirkannya kembali.
Dalam menafsirkan al-Qur’an Bakrie Syahid menggunakan beberapa teknik penafsiran sebagai berikut:
a. Singkat.
b. Membuka ruang informasi keragaman pendapat.
c. Memberikan rincian tentang konsep-konsep tertentu dalam al-Qur’an.
d. Historis-konstektual yakni penarikan historis yang berada dalam keadaan bangsa Arab ke dalam bangsa Indonesia misalnya dalam ayat tentang poligami.
e. Memberikan makna baru dalam teks tertentu, hal ini dalam terlihat tentang penafsiran ayat mas kawin.

G. TEMA-TEMA PENTING DALAM AL-QUR’AN
a. Huruf Muqoththa’ah ( الم dll.)
Alif laam miim (1) Amung Allah piyambak kang priksa maksude. Hanya Allah saja yang mengetahui maksudnya.

Tafsiran: (1) Hikmahipun supados menarik manahing tiyang kepingin nyumerapi wigatosipun. Himahnya untuk member rasa daya tarik bagi orang yang ingin mendalami al-Qur’an.
Dalam menafsirkan huruf-huruf muqaththa’ah, Bakrie Syahid menafsirkan dengan penafsiran sama semua yang diletakkan dalam terjemahan ayat. Akan tetapi ketika menafsirkan Alif laam miim dia member penafsiran “bahwa ayat ini mempunyai hikmah untuk memberi rasa daya tarik bagi orang yang ingin mendalami al-Qur’an” yang diletakkan dalam catatan kaki. Akan tetapi di bagian huruf muqaththa’ah lainnya dia hanya memberi penafsiran di bagian terjemahan al-Qur’an yakni “Amung Allah piyambak kang priksa maksude”.

b. Penciptaan Manusia (al-Nisa’: 1)
 ••                 •       •     
He para manungsa, sira padha wedia ing Allah Pangeran sesembahanira kang anitehake sira kabeh saka awak siji, lan kang uga wus anitehake saka iku awak bojone, (1) sarta kang anyebarsaka sakarone iku priya lan wanita kang akeh cacahe. Lan sira padha wedia marang Allah kang padha sira anggo gegaraning panuwun. (2) lan sira aja padha amedhot sih, sanyata Allah iku tansah Niti pariksa ing sira kabeh. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.

Tafsiran: (1) miturut ngendikaning jumhur ahli tafsir, gusti Allah nitahaken tiyang estri (ibu Hawa) punika saking kadadosan iga pungkasanipun tiyang jaler (Nabi Adam) alasan hukum riwayat Bukhari Muslim. Saweneh ulama anerangaken kadadosan saking unsure ingkang sami kados heyang Nabi Adam inggih punika asti lempung ing sakawit kacipta. Maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah bahwa Allah menjadikan Hawa dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam diciptakan.
(2) Tradisi tiyang Arab ingkang positp sae, manawi nyuwun pitulung ngasanes punika ngangge tetembung: “as aluka billah”, artosipun kula nderek pitaken, utawi nyuwun pitulung kalawan asma Allah. Kados tra4disi bangsa kita ingkang sade ngendika: “inggih kula nyade karana Allah”, dene ingkang tumbas inggih ikrar: “inggih kula tumbas karana Allah”. Sumangga ahli sosiologi punika unsur panaliti. Menurut kebiasaan orang Arab yang positif, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti: “As aluka billah” artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah. Sedang dalam tradisi bangsa kita ketika melakukan jua;l beli kita mengatakan: “kita melakukan jual beli karena Allah”. Begitulah peneliti ahli sosiologi berkata.
Dalam menafsirkan ayat tentang keterciptaan Hawa, Bakrie Syahid mengutip pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari Muslim. Dia juga mengungkapkan ada sebagian ulama yang menjelaskan keterciptaan Hawa sama seperti Adam yaitu berasal dari tanah yang sama ketika Allah menciptakan Adam.

c. Poligami (al-Nisa’: 3)
                              
Manawa sira kuwatir ora bakal tumindak adil ana ing bandhane bocah yatim, mangka sira nikaha para wanita kang dadi condhonging atinira, loro, telu utawa papat. Dene Manawa sira padha kuwatir ora bakal adil, (1) sira nikaha wanita siji bahe. Utawa wong wadon tukon kang dadi darbekira, kang mangkono iku luweh cerak marang laku ora nganiyaya. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Tafsiran: (1) Tumindak adil ing griya, giliran, sandhang, pangan, lan ubarampe bale griya sanes-sanesipum wajib dipun tetepi adil sahestu, manawi boten saged, inggih anggarwa satunggal kemawon. Miturut undang-undang perkawinan negari Indonesia antawisipun poligami kedah mawi izin kaserat dening isteri sepisan, ing negari Mesir lan Turki ugi mekaten. Berlaku adil ialah dalam tempat, giliran, pakaian, makanan dan lain-lain yang bersifat lahiriyah juga harus dipenuhi. Apabila tidak sanggup, maka beristeri cukup satu saja. Menurut undang-undang perkawinan Negara Indonesia poligami itu haruslah mendapat izin dari isteri yang pertama. Peraturan ini juga terdapat di negeri Mesir dan Turki.
Adil menurut Bakrie Syahid adalah adil dalam rumah (tempat tinggal), giliran, pakaian, makanan dan lain sebagainya yang bersifat lahiriyah. Apabila tidak bisa, maka nikahlah dengan satu orang wanita saja. Dia juga mengungkapkan bahwa dalam undang-undang perkawinan Negara Indonesia poligami itu haruslah mendapat izin dari isteri yang pertama. Peraturan ini menurutnya juga terdapat di negeri Mesir dan Turki.

d. Mas Kawin (al-Nisa’: 4)
               
Lan sira padha menehna marang wanita mau mas kawine kang minangka dadi paweneh tanda-katresnan.(1) Ananging menawa dheweke angrilakake sabagean saka mas kawin ing mau marang sira, becik sira padha mangana sarana enak kepenak. Dan kalian semua berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Tafsiran: (1) inggih punika mas kawin ingkang katetepaken kathah sakedhikipun dipun putusakaen kalih pihak, sarana ikhlas. Pemberian itu adalah maskawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, Karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.
Dalam penetuan mas kawin, Bakrie Syahid menafsirkan bahwa mas kawin hendaknya diputuskan oleh kedua belah pihak yang mengadakan pernikahan dengan disertai rasa keikhlasan.

e. Soal Masuk Surga (al-Baqarah: 62)
•     •                   
Satemene wong kang padha Mu’min, lan wong Yahudi, lan wong Nashrani lan wong Shabi’in sapa bae kang percaya ing Allah lan dina akhir,(1) serta padha nindakake kabecikan wong mau bakal nampa ganjaran ana ngarsane pangerane, lan dheweke ora padha susah.(2) Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Tafsiran: (1) tetiyang Mukmin, Yahudi, Nashrani, Shabi’in ingkang pitados ing Allah sarta iman ing Nabi Muhammad saw, dinten akhir, amal shaleh sadaya kemawon badhe nampi ganjaran saking ngarsanipun Allah. Orang-orang mu’min, Yahudi, Nashrani, Shabi’in yang taat kepada Allah serta iman kepada Nabi Muhammad saw, hari kiamat, beramal shaleh semuanya akan mendapat balasan dari Allah.
(2) amal shaleh ingkang dipun dhawuhaken agami Islam, babagan utawi sanesipun. Amal shaleh yang terdapat dalam agama Islam baik dari segi agama atau yang lainnya.
Dalam menafsirkan golongan-golongan yang mendapat balasan pahala dari Allah di akherat kelak, Bakrie Syahid menafsirkan bahwa orang-orang Mu’min, Yahudi, Nashrani, Shabi’in akan mendapat balasan dari Allah yaitu dengan syarat sebagai berikut: taat kepada Allah, serta iman kepada Nabi Muhammad saw, kepada hari akhir, dan beramal shaleh. Adapun mengenai golongan Yahudi, Nashrani, Shabi’in ini, penulis belum mengetahui apakah yang dimaksud oleh Bakrie Syahid mereka adalah orang-orang sebelum Nabi Muhammad saw ataukah keberadaan mereka setelah Nabi Muhammad saw.

f. Hubungan Antar Umat Beragama (al-Mumtahanah: 7-9)
         ••                           •                           
7. Muga-muga Allah andadekake antaranira lan para mungsuhira iku dadi sagolongan kang padha sih-sinihan sarana andedakake dheweke padha gelem iman, Allah iku kuwasa anggolongake wong kang padha pepisahan, lan Allah iku maha paring pangaksama lan maha murah.
8. Allah ora nyegah sira kabeh gawe becik lan tumindak adil marang wong-wong kafir kang ora merangi sira kabeh ing prakara, lan ora nundhung sira saka negaranira. Satemene Allah iku rena marang wong kang tumindak adil.
9. Nanging Allah nyegah sira kabeh aja sih-sinihan karo wong-wong kafir kang merangi sira ing babagan agama. Lan padha nundhung sira saka negaranira. Sing sapa asih marang wong-wong kafir mau, temen wong iku padha nganiyaya awake dhewe.
7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
9. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Dalam ayat ini, Bakrie Syahid tidaklah memberikan penafsiran tentang ayat ini. Hal ini dimungkinkan bahwa permasalahan tentang ayat ini belum muncul pada zaman itu. Namun Bakrie Syahid memberikan terjemahan dari ayat tentang hubungan sesama manusia ini, sepertinya dia lebih mengutamakan pendekatan yang baik kepada semua golongan. Dengan demikian menurut dia itu semua merupakan sarana untuk menjadikan mereka (semua golongan) dalam keadaan beriman.

g. Agama Islam (al-Imran: 19)
•                            
Sanyata agama mungguhing Allah iku mung agama Islam, lan ora padha pasulayan wong-wong kang wus padha diparingi kitab kajaba sawuse katekanan ilmu, pamrihe mung dreken-drekenaken ana ing antaranewong-wong mau. Dene sapa bae kang padha kafir ayat-ayating Allah, sanyata Allah iku rikat pangitunge. Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitabkecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Menyangkut ayat tentang kebenaran agama Islam ini, Bakrie Syahid tidak memberi penafsiran dalam kitab tafsirnya. Hal ini dimungkinkan pada saat itu masalah tentang hal ini belum muncul sehingga ayat ini terlewat begitu saja tanpa ada penafsirannya.

h. Mengikuti Pemerintah atau Penguasa (al-Nisa’: 59)
                              
He para wong Mu’min, sira padha angestokna marang Allah, lan angestokna marang rasul, sarta angestokna wong kang ngasta pamerintah saka sira kabeh.(1) Dene Manawa sira padha pasulayan ana ing sawijining perkara, supaya sira padha ambalekake perkara iku marang Allah (al-Qur’an), lan rasul (sunnahe) yen nyata sira iku padha iman ing Allah, kang mangkono iku luweh becik sarta luweh prayoga akibat-kandadekane. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Tafsiran: (1) Tiyang ingkang ngasta pemerintahan punika wajib iman ing Allah, iman dhumateng rasulullah sarta nindhakake sadaya tatanan lan aturan agami Islam, menawi boten, tangeh lamun badhe saged damel adil-makmur, mteriil lan spiritual, karaharjan donya lan akherat. Bab punika cocok sanget kados ingkang kasebat ing “wulang reh” yasan dalem ingkang sinuhun Paku Buwono IV: “lamun ana wong micareng ngelmi, lan mufakat ing patang perkara, aja sira age- age anganggep nyatanipun, limbangen kang patang perkara rumuhun, dalil, hadis, lan ijmak, qiyase. papat iku salah siji ana kang mufakat”. Tegesipun ilmu pengetahuan utawi kawicaksanaan paprentahan punika kedah cocok boten kenging nyimpang saking dalil (al-Qur’an), hadis rasulullah saw, ijmak lan qiyas. Pramila kedah dipun teliti, sampun nilar anger-angering agama. Orang-orang yang ada di pemerintahan wajib baginya untuk beriman kepada Allah, beriman kepada rasulullah saw dan menjalankan aturan-aturan agama Islam. Seandainya jika tidak ada, haruslah yang membawa keadilan dan kemakmuran baik dari segi materi maupun sprituil baik di dunia maupun di akherat. Masalah ini sangat cocok seperti yang tersebut dalam kitab “wulang reh” yang disampaikan Paku Buwono IV: “adapun ada orang yang mencari ilmu harus selaras dengan empat perkara jangan terburu-buru menganggap mudah dan harus sepakat dengan dalil, hadis, ijmak dan qiyas”. Yang berarti ilmu pengetahuan ataupun kebijaksanaan pemerintah harus selaras dan tidak menyimpang dari dalil (al-Qur’an), hadis rasulullah saw, ijma’ dan qiyas. Karena itu haruslah diteliti terlebih dahulu yang sesuai dengan ajaran agama.

i. Keterciptaan Alam Semesta (al-Baqarah: 29)
    •                
Allah wus nitahake isen-isening bumi kabeh kanggo sira, nuli Allah nyampurnakake langit dadi pitung sap, lan Allah iku maha Wikan ing sakabehing barang. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Dalam menafsirkan ayat ini, Bakrie Syahid tidak memberi penafsiran dalam kitab tafsirnya. Hal ini dimungkinkan karena dia merupakan bukan ahli dalam bidang sains ataupun mungkin juga masalah tentang keterciptaan alam semesta pada zaman itu bukanlah masalah yang muncul pada zaman itu.

H. PENUTUP
Kitab tafsir al-Huda karya Bakrie Syahid merupakan kitab tafsir yang ditulis dengan bahasa Jawa beraksara latin. Berbagai rujukan digunakan oleh Bakrie Syahid dalam menafsirkan kitab tafsirnya ini, sehingga menghasilkan sebuah kitab tafsir yang sangat layak untuk menjadi rujukan bagi kita semua dalam memahami penafsiran ayat al-Qur’an.

I. DAFTAR PUSTAKA
Syahid, Bakrie. Kitab Tafsir al-Huda, cet 1, (Yogyakarta: Bagus Arafah). 1979.

Iklan

One thought on “TELAAH KITAB TAFSIR “AL-HUDA” KARYA BRIGJEN PURN BAKRIE SYAHID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s