Statistik Pergaulan Bebas Mengancam Anak Dimana-mana di Sekolah, Video Game DLL

Perilaku seks bebas sepertinya sudah menjadi hal biasa di kalangan remaja. Bagaimana tidak, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2010 menyebutkan, sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya pernah berhubungan seks. http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=43601

 

Game Nintendo Wii ‘We Dare’ mengklaim diri sebagai permainan seksi namun memberi rating pemain 12+. Ini berarti permainan tersebut boleh digunakan anak berusia di atas 12 tahun. Batasan tersebut membuat orangtua marah karena dianggap terlalu rendah.

Trailer bergambar sedikit cabul itu mempromosikan permainan dua pasangan yang berada dalam serangkaian situasi seksual. Bahkan, ada pula rekaman yang menunjukkan dua gadis saling berciuman, pasangan yang sedang membuka pakaian satu sama lain dan saling memukul.

Dalam video berdurasi 2 menit yang menampilkan perempuan menari di tiang, ganti pasangan dan pesta seks, setidaknya 150 ribu khalayak menonton itu di YouTube.

Permainan ini akan dirilis di Wii dan Playstation 3 bulan depan dengan kalimat promosi, “Semakin banyak teman yang Anda undang ke pesta maka semakin panas permainan!”

Namun, para orangtua khawatir gambar ini bisa merusak pola pikir anak dan remaja berusia 12 tahun ke atas. “Saya punya anak perempuan berusia 13 tahun dan jika saya tahu ia bermain game seksual eksplisit ini dengan pria, saya akan sangat terkejut,” kata Laura Pearson, 52 tahun, asal Birmingham.

http://teknologi.inilah.com/read/detail/1272922/inilah-kontroversi-game-wii-pesta-seks

 

Pemandangan itu tampak di kawasan Kenjeran Park, Surabaya, Senin (26/4). Pasangan muda-mudi terlihat bermesraan di pojok taman. Ada yang hanya berpegangan tangan saja. Tapi ada pula yang saling berpangku dengan tangan si cowok meraba bagian vital si cewek.

Pemandangan berbeda justru tampak di losmen. Suasana begitu sepi. Hanya tampak sepasang dua pasangan yang booking kamar. “Dari dulu kalau Senin memang sepi, Mas. Meski saat ini perayaan kelulusan SMA enggak pengaruh,” kata Totok, salah seorang pedagang di sekitar losmen.

Diperkirakan sore jelang petang nanti, makin banyak siswa SMA yang akan masuk ke kawasan Kenjeran Park. Sebab, di pintu masuk sudah bergerombol siswa-siswi SMA yang menggenakan seragam sekolah yang sudah dicorat-coret. [beritajatim.com/mut]

http://teknologi.inilah.com/read/detail/489801/siswi-sma-pesta-seks-rayakan-lulus-un

 

JAKARTA – Beberapa pusat lokalisasi yang di bubarkan di Indonesia memang tidak hanya berdampak positif, namun ada juga dampak negatifnya.

Kasubid Kesehatan Seksual Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wahyuni mengaku penutupan lokalisasi juga berdampak buruk terhadap pengawasan, salah satunya penyebaran penyakit.

“Lokalisasi yang dibubarkan terus terang kami sedih karena kontrol kesehatan berkurang,” paparnya saat berbincang dengan okezone di kantornya, Senin (29/11/2010).

Dia menjelaskan, usia prostitusi di dunia itu sudah teramat tua. Dengan demikian urusan sensitif yang satu ini memang agak sulit untuk dihilangkan dari budaya masyarakat. “Paling mereka hanya berpindah tempat. Buat saya, tempat prostitusi yang dibubarin bukan solusi,” imbuhnya.

Seperti di Koja, Jakarta Utara, sambungnya, Kramat Tunggak ditutup dan dijadikan masjid. Namun praktik-praktik prostitusi bukan hilang melalui penutupan lokalisasi.

Lebih lanjut Wahyuni mengkritisi penggunaan kondom. “Kita nggak boleh anjurkan penggunaan kondom. Kondom hanya buat keluarga dan pasangan resmi. Kalau pemakaian kondom di tempat lokalisasi nggak bisa lewat kami. Tapi LSM datang ke lokalisasi. Tujuannya supaya tidak terkena penyakit HIV/AIDS,” bebernya.

http://news.okezone.com/read/2010/11/29/338/398292/penutupan-lokalisasi-persulit-kontrol-kesehatan

 

JAKARTA - Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) soal separuh remaja di Jabotabek tidak perawan dinilai tidak efektif. Yang lebih mendidik, lembaga ini melansir data soal jumlah remaja yang sudah terjangkit HIV/AIDS.

Demikian disampaikan sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Paulus Wirutomo. “Survei (keperawan) itu, tidak bisa dijadikan alat untuk mewaspadai. Yang ada malah orangtua panik,” ujarnya saat berbincang dengan okezone, Senin (29/11/2010).

Seperti diberitakan, data BKKBN 2010 mencatat sebanyak 51 persen remaja di Jabotabek telah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Selain di Jabodetabek, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain seperti Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen.

Menurut Paulus, BKKBN sebagai lembaga resmi milik pemerintah seharusnya bisa lebih cerdas mengumumkan strategi mengarahkan perilaku remaja. “Penelitian tentang pola kehidupan remaja di kota-kota besar misalnya, ini justru lebih efektif,” katanya.

Selebihnya, kata dia, pemerintah bisa bahu-bahu dengan civil society terkait strategi untuk mewaspadai penyebarluasan perilaku menyimpang remaja yang akan berdampak pada penularan panyakit kelamin, termasuk penyakit mematikan HIV/AIDS.

“Justru lebih efektif kalau pemerintah mengumumkan hasil survei remaja yang sudah terinfeksi HIV. Ini bisa diwaspadai oleh orangtua,” tutupnya.

http://news.okezone.com/read/2010/11/29/338/398315/survei-remaja-terinfeksi-hiv-lebih-efektif

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s