ISLAM DAN DEMOKRASI (Suatu Kajian Tentang Demokrasi Pendidikan Dalam Perspektif Islam)

Oleh: Amirul Bakhri (105112007)
A. Pendahuluan
Istilah demokrasi lazim dipahami orang berorientasi pada bidang politik. Namun ketika dianalisis konsep yang terkandung dalam demokrasi itu sendiri justru menyentuh segala aktivitas kehidupan. Secara kebahasaan, demokrasi terdiri dari dua rangkaian kata yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos yang berarti kekuasaan. Secara istilah, kata demokrasi ini dapat ditinjau dari dua segi makna. Pertama, demokrasi dipahami sebagai suatu konsep yang berkembang dalam kehidupan politik pemerintah, yang di dalamnya terdapat penolakan terhadap adanya kekuasaan yang terkonsentrasi pada satu orang dan menghendaki peletakkan kekuasaan ditangan orang banyak (rakyat) baik secara langsung maupun dalam perwakilan. Kedua, demokrasi dimaknai sebagai suatu konsep yang menghargai hak-hak dan kemampuan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa istilah demokrasi ini awalnya berkembang dalam dimensi politik yang tidak dapat dihindari.
Secara historis, istilah demokrasi memang berasal dari Barat. Namun jika melihat dari sisi makna, kandungan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan oleh demokrasi itu sendiri sebenarnya merupakan gejala dan cita-cita kemanusiaan secara universal. Artinya dalam berbagai macam peradaban manusia seperti: Mesir, Cina, India, Persia dan sebagainya sesungguhnya memiliki pemikirannya sendiri dalam memahami dan memperjuangkan hak-hak individu dan kemanusiaan serta memiliki sejarahnya sendiri dalam memerangi otoritarianisme dan kediktatoran. Ini berarti, jika demokrasi itu berjuang pada pembelaan hak dan martabat manusia, maka tidak disangkal bahwa demokrasi merupakan gejala kemanusiaan secara universal.
Dengan berjalannya waktu, paham demokrasi ini masuk di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Walaupun mayoritas di negara Indonesia adalah beragama Islam, namun istilah demokrasi ini sudah diungkapkan oleh oragnisasi Sarekat Islam (SI) sekitar pada tahun 1917. Secara historis, sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, bangsa Indonesia sudah menjalankan tiga bentuk demokrasi yaitu Demokrasi Parlementer (195-1959), Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dan Demokrasi Pancasila (1965-kini). Ini berarti, walaupun negara Indonesia dihuni oleh mayoritas beragama Islam tidak lantas menjadi Islam sebagai sebuah landasan dalam bernegara. Karena memang negara Indonesia terdiri dari berbagai macam agama, suku dan budaya seperti dalam ungkapan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu juga). Sehingga setiap orang punya hak dalam memberikan pendapat dan tidak menjadi kungkungan apakah dia mayoritas, atau minoritas.
Oleh karena itulah, penulis akan menyajikan makalah yang akan mengkaji sebuah ide demokrasi dalam perepdektif Islam dan bagaimana implementasinya dalam pendidikan. Karena unsur demokrasi ini merupakan salah satu unsur yang sampai sekarang ini merupakan unsur ide yang baik, walaupun sebenarnya dalam Islam sendiri telah mengatur bagaimana sebenarnya ide demokrasi ini. Karena Islam bukan merupakan seperti sebuah ensiklopedi yang semuanya ada, akan tetapi kita perlu mencari, mengupas apa sebenarnya isi dan kandungan ajaran-ajaran Islam. Sehingga dengan terus mengkaji Islam terhadap berbagai ide dan paham yang berada dari luar Islam, akan selaku terjadi wacana yang selaras dan saling menerima serta tidak langsung bersikap apatis terhadap paham atau ide yang memang bukan dari ajaran Islam. Hal yang terpenting adalah dengan melihat substansi paham atau ide tersebut dalam ajaran Islam, bukan hanya dari luar kulitnya saja. Selain itu, dalam makalah ini akan mengupas bagaimana demokrasi itu bisa masuk dalam dunia pendidikan yang pada saat sekarang sudah menjadi wacana persaingan global.

B. Nilai Demokrasi Dalam Perspektif Alquran
Alquran merupakan wahyu yang diturunkan Allah Swt untuk pedoman hidup manusia sebagai sumber utama dan pertama dalam Islam. Dalam Alquran terdapat banyak ajaran yang berbicara tentang manusia dan nilai keberadaannya, mulai dari siapa itu manusia, apa kedudukannya dan tugasnya, hingga ajaran yang menuntun manusia bagaimana ia bertingkah-laku dan bertindak dalam menjalankan kehidupannya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Isra` ayat 70 disebutkan:
                 
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Penegasan ayat Alquran di atas menampilkan informasi tentang siapa sebenarnya manusia, dan bagaimana ia didudukkan di samping makhluk lain. Begitu juga dengan firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 30 sebagai berikut:
                     •         
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pada ayat di atas menjelaskan informasi tentang kedudukan manusia di bumi. Di antara keutamaan yang Allah Swt berikan kepada manusia dibandingkan dengan makhluk lain dan peletakkan manusia yang berkedudukan sebagai khalifah Allah Swt di bumi seperti yang diinformasikan dalam dua ayat di atas (surat al-Isra` ayat 70 dan surat al-Baqarah ayat 30) mengisyaratkan adanya peranan yang penting yang dapat dilakukan manusia untuk mengatur dunia ini. Di sini lah posisi makna kebebasan yang menjadi salah satu prinsip dan semangat yang dikandung demokrasi yang melekat pada diri manusia baik sebagai individu maupun komunitas sosialnya. Sebagai khalifah (pengganti) Allah Swt di bumi, manusia diberi kekuasaan dan kebebasan untuk mengelola alam. Namun selain berkedudukan sebagai khalifah, manusia adalah hamba Allah Swt sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Dzariyat ayat 56 sebagai berikut:
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Sebagai hamba Allah Swt, manusia yang tadinya dipandang sebagai sebagai makhluk yang memiliki kebebasan justru tetap berorientasi kepada penghambaannya pada Allah Swt. Ini berarti pada hakikatnya, manusia bebas dalam batas ketentuan yang ditetapkan Allah Swt.
Secara sosio historis, istilah hamba dipahami sebagai seseorang yang telah hilang kemerdekaannya, kebebasannya dan dikuasai oleh pemiliknya. Dalam pemahaman seperti itu, maka manusia sebagai hamba Allah Swt adalah makhluk yang sepenuhnya milik Allah Swt yang walaupun manusia itu diberikan kebebasan, maka kebebasan itu adalah kebebasan yang dibatasi oleh aturan Allah Swt. Oleh karena itulah, dapat dimengeti ketika Alquran sangat mengancam segala bentuk penindasan, perampasan, pemerkosaan, dan lain sebagainya yang merugikan orang lain. Karena hal-hal seperti itu selain bertentangan dengan aturan agama, selain itu perbuatan-perbuatan tersebut secara alamiah bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang terbatas, yang pada akhirnya akan mengancam sisi kehidupannya sendiri.
Selain dari dua ayat di atas (surat al-Isra` ayat 70 dan surat al-Baqarah ayat 30), Alquran juga menegaskan tentang persamaan derajat sesama manusia, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut:
 ••           •      •    
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam ayat di atas (surat al-Hujurat ayat 13), dapat dipahami bahwa pada prinsipnya Alquran (Islam) mengakui adanya perbedaan etnis dan bangsa yang merupakan sudah menjadi sunnatullah. Namun perbedaan itu, lantas tidak bermaksud untuk merasa lebih besar dari lainnya. Kemajemukan merupakan realitas kehidupan dan dengan kemajemukan ini, manusia dalam pandangan Allah Swt itu sama. Karena Allah Swt hanya melihat dari segi ketakwaan manusia kepada Allah Swt dalam beribadah.
Dalam hubungannya dengan demokrasi, syura (musyawarah) merupakan salah satu ajaran Islam yang penting dalam Alquran. Secara sederhana, syura diartikan dengan pengambilan keputusan secara bersama dan menghilangkan dominasi perorangan. Apa yang diinginkan dalam syura sebenarnya tidak semata-mata terletak pada bentuk formal dari pengambilan keputusan itu. Akan tetapi lebih kepada landasan ajaran yang bertujuan menjaga semangat kolektivitas di satu sisi dan di sisi lain mengurangi dominasi perorangan dan kesalahan individual yang sering kali terjadi di tengah kehidupan manusia. Dalam syura mensyaratkan adanya kebebasan berpendapat yang dari sini dapat terwujud kebebasan aktualisasi diri. Bahkan ada yang memahami bahwa martabat seseorang akan rendah bila menolak hak untuk memberikan pendapatnya terhadap hal-hal yang sudah diketahui. Pada intinya, syura merupakan syariat memberikan hak kepada individu-individu untuk menegaskan apa saja yang disukai selama tidak menimbulkan kerusakan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt disebutkan tentang syura dalam surat al-Syura ayat 38 sebagai berikut:
           
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.”

Dalam surat al-Syura ayat 38 di atas, adalah salah satu dari ayat Alquran tentang syura yang muncul dalam bentuk pujian terhadap kaum beriman terdahulu karena ketaatan mereka dalam menyelesaikan problem kemasyarakatan berdasarkan syura. Ayat ini (al-Syura ayat 38) merupakan ayat makiyyah yang turun sebelum keberadaan Islam dinyatakan terbuka dan luas. Ketika pemerintahan Islam di kota Madinah telah mapan, syura sebagai prinsip penting disampaikan dalam bentuk perintah secara tegas sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 159 sebagai berikut:
                              •    
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Menurut Ibnu Taimiyah yang mengomentari ayat di atas (Ali Imran ayat 159) mengatakan, kalau Allah Swt saja memerintahkan Nabi Muhammad Saw bermusyawarah dengan umatnya, maka perintah itu bermakna lebih tegas untuk generasi muslim selanjutnya yang tidak lagi berjumpa dengan beliau. Oleh karena itu, hendaknya prinsip syura menjadi landasan dalam memutuskan persoalan di tengah-tengah masyarakat kaum muslim.

C. Implementasi Nilai Demokrasi Dalam Pendidikan
Sejak lahir, manusia berada dalam proses interaksi yang terjadi setiap hari dengan lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Beberapa peran yang dijalankan individu seperti cara berpikir, bertindak dan nilai-nilai yang diberikan pada anak, mempunyai andil dalam pembentukan watak dan kerpibadiannya kelak. Secara lebih spesifik, pendidikan keluarga dapat disebut sebagai bagian terpenting dalam pendidikan sosial karena di keluargalah awal adany upaya mengubah anak dari sekedar makhluk biologis menjadi makhluk sosial. Sejak usia dini, anak-anak sudah sangat peka terhadap sikap kasih sayang dan toleran atau sebaliknya bengis dan kejam. Mereka sudah dapat memahami perilaku yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Di sinilah pendidikan orang tua sangat penting, apakah mereka bersikap kasih sayang atau sebaliknya.
Di sisi lain, seperti yang diungkapkan oleh Mushthafa Ahmad Turkey bahwa anak-anak yang berusia (5-8 tahun) mempunyai ketaatan dan kepatuhan terhadap orang tua yang sangat kuat. Jika ungkapan ini benar adanya dan merupakan gejala yang berlaku di mana-mana, maka arahan orang tua menjadi sangat penting adanya. Untuk ha-hal baik, orang tua boleh agak memaksakan kehendaknya bagi si anak, bukan berarti mengurangi kebebasan anak tetapi perlu dipandang bahwa si anak masih buta akan nilai-nilai kebajikan dan oleh karenanya perlu diarahkan oleh orang tua. Begitu juga dengan sosialisasi tentang memahamkan nilai-niali demokrasi juga perlu diajarkan oleh anak ketika masih dalam lingkungan sekolah. Karena proses sosialisasi nilai-nilai demokrasi yang berlangsung di lingkungan baik keluarga atau masyarakat lewat kelompok teman, atau lewat media massa lebih dominan di pendidikan sekolah. Memang dari berbagai penelitian baik di Barat maupun di Indonesia sendiri, menunjukkan bahwa pendidikan sekolah berhasil menanamkan pengetahuan dan kesadaran tentang demokrasi di semua jenjang pendidikan. Maka apabila nilai-nilai yang disosialisasikan di sekolah berbeda dengan apa yang disosialisasikan di keluarga atau di masyarakat, maka akan mengakibatkan sosialisasi di sekolah gagal mencapai tujuan. Sebagai contoh, sejak tahun 1960 pemerintah Amerika Serikat menelorkan undang-undang yang menghapuskan diskriminasi. Sejak itu, sekolah-sekolah melaksanakan equality (persamaan hak) khususnya berdasarkan warna kulit, antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Akan tetapi proses sosialisasi ini belum berhasil. Para siswa khususnya tingkat 10 ke atas (setingkat SMA) memiliki sikap rasialis. Karena di keluarga atau masyarakat tetap berlangsung sosialisasi nilai-nilai rasial berdasarkan warna kulit.
Pendidikan sekolah merupakan sistem yang mampu membantu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki manusia. Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan pendidikan sekolah banyak mengalami problem. Padahal peranan pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan manusia. Pendidikan Islam sebagai salah satu agen perubahan sosial juga harus mampu menerjang problem yang bergerak dinamis dan proaktif untuk kemajuan dan perbaikan umat Islam. Pendidikan yang dipandang kurang humanis juga sering terjadi dalam proses pendidikan yang berdampak pada perkembangan peserta didik. Tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan dan harus diwujudkanpun jauh dari harapan. Demokratisasi pendidikan dianggap mampu sebagai solusi dalam mewujudkan pendidikan Islam yang humanis. Pendidikan yang tidak membenarkan adanya intimidasi, pengekangan dan pembatasan terhadap kreatifitas guru dan murid dapat diwujudkan dengan upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara guru dan murid. Suasana humanis dalam pendidikan akan mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan Islam.
Dalam pandangan Mc Grath pendidikan merupakan aspek paling penting bagi upaya menumbuhkan sikap dan perilaku demokratis maka perlu adanya demokratisasi pendidikan. Dalam hal ini tujuannya adalah bagaimana mendidik siswa berfikir kritis. Senada dengan Russel yang menyebutkan bahwa adanya kebebasan dalam pendidikan akan mengakibatkan dan mewujudkan demokratisasi pendidikan. Upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara pendidik dan peserta didik. Demokratisasi yang dibangun oleh pemikir pendidikan Islam di Indonesia merupakan upaya untuk membangun dasar-dasar persamaan, kebebasan, keadilan, keterbukaan dan anti diskriminasi. Demokratisasi yang digagasan Freire adalah sistem pendidikan yang mengusung pendekatan dialog yang berusaha menempatkan subjek pendidikan (baik guru maupun murid) sebagai manusia yang memiliki jati diri masing-masing dan perlu berkembang secara bersama-sama. Selain itu, Freire menawarkan pengajaran sistem pendidikan multikultural, dimana seluruh siswa diajari untuk senantiasa menghargai dan menghormati keanekaragaman atau kemajemukan yang terjadi di sekolah.
Ahmad D. Marimba mengimplementasikan beberapa konsep pendidikan setelah menggabungkan gagasan Freire sebagai berikut:
1. Hakikat dan tujuan pendidikan Islam hakikatnya yakni sebagi proses untuk membina dan mengembangkan dan mengoptimalkan kompetensi manusia selaku hamba Allah sedangkan tujuannya adalah mewujudkan manusia sempurna yang dapat memenuhi kebutuhan materil dan spiritualnya.
2. Konsep guru dan murid: guru sebagai pelaksana pendidikan yang menentukan, guru sebagi fasilitator, guru dan siswa sebagi subjek pendidikan yang sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar bersama.
3. Metode Pendidikan: metode pembelajaran yang menyenangkan, mampu membangkitkan dan mengembangkan kompetensi siswa, sehingga siswa tidak hanya pintar membaca teks tapi juga pintar membaca konteks.

D. Kesimpulan
Istilah demokrasi telah dikenal sejak abad ke 5 Masehi yang pada awalnya sebagai respon terhadap pengalaman buruk monarki dan kediktatoran di negara-negara Kota Yunani Kuno. Pada waktu itu, demokrasi dipraktikkan sebagai sistem di mana seluruh warga negara membentuk lembaga legislatif. Hal ini dimungkinkan oleh kenyataan jumlah penduduk negara-negara kota kurang lebih 10.000 jiwa dan bahwa wanita dan anak-anak serta budak tidak mempunyai hak politik. Tidak ada pemisahan kekuasaan saat itu, dan semua pejabat bertanggung jawab sepenuhnya kepada Majelis Rakyat yang memenuhi syarat untuk mengontrol berbagai persoalan eksekutif yaitu yudikatif dan legislatif.
Namun jika melihat dari sisi makna, kandungan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan oleh demokrasi itu sendiri sebenarnya merupakan gejala dan cita-cita kemanusiaan secara universal seperti dalam pandangan Islam. Dalam Alquran (sebagai sumber pertama dalam Islam) terdapat banyak ajaran yang berbicara tentang nilai-nilai dalam demokrasi seperti dalam firman Allah Swt di surat al-Isra` ayat 70, surat al-Baqarah ayat 30, surat al-Hujurat ayat 13, surat al-Syura ayat 38 serta berbagai surat lain. Inti dari semua ayat-ayat tersebut membicarakan bagaimana manusia itu merupakan makhluk menghargai perbedaan, kebebasan berkehendak, mengatur tentang musyawarah dan lain sebagainya yang merupakan unsur-unsur dalam demokrasi yang di kembangkan dalam dunia Barat.
Pendidikan Islam sebagai salah satu agen perubahan sosial juga harus mampu menerjang problem yang bergerak dinamis dan proaktif untuk kemajuan dan perbaikan umat Islam. Pendidikan yang dipandang kurang humanis juga sering terjadi dalam proses pendidikan yang berdampak pada perkembangan peserta didik. Tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan dan harus diwujudkanpun jauh dari harapan. Demokratisasi pendidikan dianggap mampu sebagai solusi dalam mewujudkan pendidikan Islam yang humanis. Pendidikan yang tidak membenarkan adanya intimidasi, pengekangan dan pembatasan terhadap kreatifitas guru dan murid dapat diwujudkan dengan upaya dalam menciptakan demokrasi pendidikan ditandai dengan adanya proses belajar-mengajar yang terbuka dan penuh dialog yang sehat dan bertanggungjawab antara guru dan murid. Suasana humanis dalam pendidikan akan mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan Islam.

E. Daftar Pustaka
Abdillah, Masykuri. Demokrasi di Persimpangan Makna (Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi (1966-1993), Alih bahasa oleh Wahib Wahab dari judul Responses of Indonesian Muslim Intelectuals to The Consept od Democracy (1966-1993). Cet. 2. Yogyakarya: PT. Tiara Wacana, Juni 2004.
Abdullah, Taufik. Sejarah Ummat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991.
Kamali, Muhammad Hasyim. Kebebasan Berpendapat Dalam Islam, Alih bahasa Eva Nukman dan Fathiyyah B. Bandung: Mizan, 1996.
Lewis, Bernard. Islam Liberal Demokrasi (Membangun Sinergi Warisan Sejarah, Doktrin dan Konteks Global). Alih bahasa: Mun`im Sirry. Cet. 1. Jakarta Selatan: Paramadina, Oktober 2002.
Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, cet 4, (Bandung: al-Ma`arif 1986.
Morris, William (Ed.). Dictionary of The English Language. Volume I. USA: Houngton Miffin Company, 1979.
Rahman, Fazlur. Major Themes of The Qur`an. Chicago: Bibilothece Islamice, 1980.
Taimiyyah, Ibnu. Al-Siyasah al-Syar`iyah. Kairo: Darul Kutub al-Islamiyah, 1975.
Turkey, Mushthafa Ahmad. “Perilaku Demokrasi” Jurnal Dase. Kairo: ICMI Orsat Kairo, September 1995.
Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi, (Yogyakarta: BIGRAF Publishing, Januari 2001), h. 33-34.

Iklan

5 thoughts on “ISLAM DAN DEMOKRASI (Suatu Kajian Tentang Demokrasi Pendidikan Dalam Perspektif Islam)

  1. Nice post. I used to be checking constantly this blog and I’m impressed! Very useful information specifically the last section 🙂 I handle such information a lot. I was seeking this particular information for a long time. Thanks and best of luck.

  2. The variations can easily be adapted to envelop
    stir-fry with an oriental flavor, curries for Indian fare and used to serve spinach and other dips for family gatherings
    and parties. Cut the red bell pepper into 1 inch
    pieces, chop the red onion, and shred the carrots into the mixing bowl with the other vegetables and chicken.
    Waldorf salad is one such salad that is an amalgamation of celery, apples, walnuts,
    and mayonnaise.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s