Tempat Terjemah Bahasa Inggris yang Handal dan Terpercaya

Di era sekarang, komukasi bahasa yang dianggap mendunia dan bisa dijadikan pedoman berbahasa ketika mengunjungi luar negeri yaitu bahasa arab dan inggris.

Karena itulah membutuhkan sebuah terjemahan.

Di sini kami menawarkan jasa penerjemahan atau pembuatan artikel dengan diterjemahkan ke dalam bahasa asing yakni arab dan inggris.

Ini Salah Satu Terjemahan dari buku “Theory of Textuality : The Logic and Epistemology” karya Jeorge Gracia :

Note that what is at stake here is much more than simply the extension of universals to individuals not thought about by the

historical authors of texts. Consider a sign such as ‘human being.’ When I understand ‘human being’ I understand that a human

being is a rational animal and I may imagine some examples of individuals who fall into the category. Now, if someone else

comes along and, upon being confronted with the sign, imagines some human beings I did not imagine when I thought of the

meaning of ‘human being,’ they might say that she is understanding the meaning of ‘human being’ differently. But this is not

very significantindeed, individual instances of the category are not essential to the meaning of ‘human being.’ For, when

someone thinks of human beings differently than I think about them, they think not just of instances I did not think about, but of

features of human beings I had not thought of.

To make sense of the question we have been addressing we must conceive the meaning of certain texts as having very broad

boundaries, or even as openended, so that many different understandings of the texts are possible. This is so because in these

cases the author is not taken as the determiner of meaning but as the creator of a locus of understanding. In such cases the

responsibility for determining the meaning rests not with the author alone, but includes other factors as established by the

cultural function of the text. Most literary critics think of all texts in this way and thus miss an important aspect of textuality. 83

But others think of texts in just the opposite way, making the author the sole determiner of meaning, and they also miss

important aspects of textuality. The source of the mistake of both groups is that they look at texts by using as paradigms certain

cultural types of texts rather than accepting the luxuriant variety of the category.

Catatan bahwa apa yang menjadi taruhan di sini adalah sangat lebih sederhana dari pada  pandangan luas dunia tentang individu-individu yang tidak cukup hanya mengenal sejarah penulis (pengarang) teks (bacaan). Mengingat bahwa tanda sebagai “manusia”. Ketika saya paham manusia, maka saya paham manusia adalah hewa yang berakal (rasional) dan saya mungkin berimajinasi berbagai macam contoh individu-individu yang dimasukkan dalam kategori tersebut. Sekarang, jika seseorang yang lain datang dan kemudian dihadapkan dengan tanda dan imajinasi seorang manusia, saya tidak bisa berimajinasi (membayangkan) kapan saya harus berpikir tentang arti “manusia”. Mereka mungkin mengatakan bahwa perempuan bisa memberikan arti yang berbeda tentang arti “manusia”. Akan tetapi ini sungguh-sunggu sangat tidak berarti. Mengkategorikan individu tidaklah menjadi sebuah dasar penting tentang arti “manusia”. Karena itulah, ketika seseorang berpikir tentang manusia secara berbeda, yang kemudian saya berpikir tentang mereka, di mana mereka tidak hanya berpikir tentang peristiwa yang saya tidak pikirkan, akan tetapi tentang beraneka macam manusia yang saya tidak pikirkan tersebut.

Untuk membuat pengertian tentang pertanyaan yang telah kita tunjukkan, kita harus memahami arti beberapa teks (bacaan) sebagaimana mempunya banyak wanita yang punya batasan-batasan atau tidak terbatas. Karena itulah berbagai macam makna dan arti pemahaman akan teks (bacaan) bisa dimungkinkan. Di sinilah, karena dalam kasus ini, pengarang tidak bisa diambil sebagai penentu makna akan tetapi sebagai pembuat tempat pemahaman. Dalam beberapa kasus, tanggung jawab penentu sandaran makna tidak hanya pengarang semata, akan tetapi meliputi banyak faktor sebagai penetapan dengan fungsi budaya teks (bacaan). Banyak sekali kritikus leteratur yang menganggap semua teks (bacaan) dengan jalan ini saja dan melupakan pentingnya aspek pemaknaan tekstual. Akan tetapi banyak juga yang berpikir tentang teks dengan jalan yang berbeda, membuat pengarang menjadi satu-satunya penentu makna, dan mereka juga melupakan tentang pentingnya aspek pemaknaan tekstual. Sumber kesalahan kedua kelompok ini bahwa mereka melihat teks dengan beberapa pandangan paradigma tipe budaya teks yang cukup menerima kekayaan berbagai macam kategori.

Apabila Anda menginginkan naskah nya untuk diterjemahkan,

silahkan hubungi kami:

Amirul Bahri, MSI
08988290729
081575878246

atau melalui E-MAIL kami:
amirulbahri1986@gmail.com
bahri_amir@ymail.com

atau melalui Sosial Media ku:
facebook: http://www.facebook.com/amirul.elbasyary

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s